Serangan Semalam Rusia Tewaskan 12 Orang, Zelenskyy Sebut Rudal Korea Utara Dipakai

A A

Bangunan bertingkat yang rusak akibat serangan di Kyiv, Ukraina. Foto arsip ini bukan foto kejadian di Zaporizhzhia. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Sedikitnya 12 orang tewas dalam gelombang serangan Rusia yang berlangsung semalaman di sejumlah wilayah Ukraina, Selasa dini hari. Sebuah rumah sakit anak di Kyiv ikut rusak, sementara korban terbanyak jatuh di Zaporizhzhia.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), serangan itu menggunakan rudal jarak jauh sebagai bagian dari kampanye Moskow untuk membanjiri pertahanan udara Ukraina, yang tengah kekurangan rudal pencegat Patriot.

Kepala administrasi militer wilayah Zaporizhzhia Ivan Fedorov menyebut wilayahnya dihantam serangan “masif” dengan rudal dan bom udara. Ia melaporkan serangan itu “menewaskan enam orang dan melukai 19 orang”, dengan bangunan serta kendaraan terbakar dan pemadaman listrik di sejumlah titik.

Rumah Sakit Anak di Kyiv Ikut Rusak

Di ibu kota, serangan rudal balistik merusak sebuah rumah sakit anak di Distrik Shevchenkivskyi dan memicu kebakaran gudang. Satu orang terluka, menurut layanan darurat negara Ukraina. Di Mykolaiv, serangan drone melukai seorang perempuan berusia 75 tahun. Enam korban jiwa lainnya jatuh di wilayah Dnipropetrovsk dan Donetsk.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan semalam itu menyasar “fasilitas industri pertahanan dan pusat logistik transportasi” di Kyiv dan Zaporizhzhia.

Serangan balik juga terjadi. Di wilayah Voronezh, Rusia, serangan drone Ukraina menewaskan satu orang dan melukai dua orang lain serta memicu kebakaran di fasilitas pergudangan, menurut Gubernur Alexandr Gusev.

Tuduhan soal Persenjataan Korea Utara

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Zaporizhzhia dihantam dengan senjata yang sebagian berasal dari Korea Utara. “Kota itu dihantam rudal balistik Korea Utara, Zircon, dan bom udara berpemandu. Itu serangan keji, diperhitungkan untuk menimbulkan kerusakan maksimum khususnya pada infrastruktur sipil,” katanya.

Zelenskyy menempatkan serangan tersebut dalam pola yang lebih luas. “Setiap langkah yang diambil Rusia — menambah produksi rudal balistik, mendatangkan peralatan Korea Utara, bersiap untuk mobilisasi — semuanya menunjukkan bahwa Moskow sedang bersiap bukan untuk perdamaian, melainkan untuk eskalasi,” ujarnya.

Menurut Zelenskyy, Moskow menerima tambahan proyektil balistik dan pasukan dari Korea Utara. Ia juga menilai Rusia sengaja memanfaatkan kelangkaan rudal pencegat Patriot yang dihadapi Kyiv.

Pola Serangan yang Berulang Sepekan Terakhir

Gelombang serangan ini melanjutkan rentetan yang sudah berlangsung sepekan terakhir. Pada awal pekan lalu, serangan Rusia menewaskan empat orang di Kyiv, termasuk seorang balita, ketika Ukraina hanya sanggup mencegat 135 dari 151 drone yang datang. Sehari sesudahnya, serangan rudal balistik di dekat Kyiv menewaskan tiga orang, salah satunya anak-anak.

Ukraina membalas dengan menyasar simpul energi jauh di dalam wilayah Rusia. Pekan lalu, drone Ukraina menyerang kota kilang minyak Nizhnekamsk yang berjarak sekitar 1.200 kilometer dari perbatasan, dan otoritas setempat menyebut 12 orang tewas.

Zaporizhzhia sendiri berada di garis depan sejak awal invasi. Kota itu menjadi pusat administrasi wilayah bernama sama yang sebagian besar dikuasai pasukan Rusia, dan menampung puluhan ribu warga yang mengungsi dari daerah pendudukan.

Rentetan serangan ini juga berlangsung ketika ruang politik di dalam Rusia sendiri kian menyempit bagi suara yang menolak perang. Sehari sebelumnya, Mahkamah Agung Rusia mencoret Yabloko, satu-satunya partai resmi penentang perang, dari daftar peserta pemilihan parlemen bulan depan.

Bagi Kyiv, persoalan yang paling mendesak tetap soal persediaan. Serangan bertubi-tubi dengan rudal jarak jauh dirancang untuk menguras jaringan pertahanan udara, dan setiap malam tanpa pasokan pencegat baru memperlebar jarak antara jumlah sasaran yang datang dan jumlah yang sanggup dijatuhkan.

Bagikan

Baca Juga

Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas