Cekricek.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika membuka data cuaca dan kondisi laut pada empat insiden kapal penumpang yang terjadi sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Angka-angka itu dipaparkan di hadapan Komisi V DPR RI dan kini menjadi bahan mentah bagi evaluasi keselamatan pelayaran nasional.
Menurut siaran pers yang dimuat bmkg.go.id, Kamis, 20 Agustus 2026, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan analisis teknis kondisi atmosfer dan laut di sekitar lokasi kejadian dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V DPR RI. Analisis itu mencakup kondisi cuaca, angin, tinggi gelombang laut, serta arus permukaan pada jam kejadian.
Baca juga: Menhub: Data Tak Valid, Izin Berlayar Tidak Diterbitkan
“Data ini kami hadirkan sebagai dukungan faktual untuk mendukung proses evaluasi dan koordinasi keselamatan pelayaran,” kata Faisal.
Empat Lokasi Cerah, tetapi Laut Tidak Seragam
Temuan yang paling menonjol justru bertolak belakang dengan asumsi umum bahwa kecelakaan laut selalu didahului cuaca buruk. Di keempat lokasi, BMKG mencatat kondisi cuaca cerah hingga berawan dan tidak terpantau adanya hujan. Yang membedakan satu lokasi dengan lokasi lain adalah angin, gelombang, dan arus permukaan.
Pada insiden KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, 2 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 WIB, citra radar cuaca Surabaya pada pukul 06.03 hingga 07.33 WIB tidak menangkap hujan di sekitar lokasi. Angin berada pada kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan 15 sampai 20 knot dari arah timur-tenggara, sedangkan tinggi gelombang berkisar 1,25 sampai 1,5 meter. Arus permukaan tercatat 0,6 sampai 1,6 knot dan bergerak dominan ke arah barat hingga barat laut — parameter yang menurut BMKG dipakai untuk menyusun perencanaan operasi pencarian dan pertolongan.
Kondisi paling berat justru terekam di Pantai Sekotong, perairan Lombok, tempat KMP Putri Yasmin mengalami insiden pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 04.15 WITA. Citra satelit Himawari pukul 04.00 WITA menunjukkan langit cerah hingga berawan tanpa hujan, tetapi tinggi gelombang mencapai 2 sampai 3 meter dan arus permukaan berada pada kategori kencang hingga sangat kencang dengan kecepatan 2 sampai 4 knot ke arah selatan hingga barat. Angin sendiri tergolong sedang, 5 sampai 15 knot dari tenggara.
Selayar dan Samarinda
Baca juga: Radar Cuaca C-Band Muara Teweh Beroperasi, Jangkauan 250 Kilometer untuk Pantau Karhutla
Insiden KMP Nurul Salsa terjadi lebih awal, yakni di perairan Pulau Kalatoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 15 Juli 2026 sekitar pukul 11.10 WITA. Citra Himawari pukul 11.00 WITA memperlihatkan cuaca cerah hingga cerah berawan. Angin bertiup 15 sampai 20 knot dari timur laut hingga timur, gelombang 1,25 sampai 2,5 meter, dan arus permukaan 0,9 sampai 1,6 knot menuju barat daya hingga barat.
Adapun kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, mengalami insiden pada 1 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WITA dalam kondisi angin paling tenang di antara keempatnya, hanya 4 sampai 5 knot dari timur hingga tenggara. BMKG menegaskan bahwa sebelum kejadian, prakiraan cuaca maritim untuk wilayah-wilayah tersebut sudah disebarluaskan kepada pemangku kepentingan melalui media elektronik, situs web, media sosial, WhatsApp, dan Instagram.
Batas Kewenangan Ada di KNKT
Faisal menutup paparannya dengan pembatasan yang tegas soal sejauh mana data itu boleh dibaca.
Baca juga: Pasaman Barat Diminta Waspada Hujan Lebat, Sumbar Berawan sampai 11 Agustus
“Informasi ini menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada saat, waktu, dan lokasi kejadian, dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan penyebab terjadinya kecelakaan. Untuk penetapan penyebab kecelakaan, tentunya menjadi kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk KNKT,” tegasnya.
Rangkaian insiden itu sebelumnya sudah menyeret Kementerian Perhubungan. Dalam keterangan yang dimuat dephub.go.id, 4 Agustus 2026, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, “Yang terjadi sekarang ini akan menjadi bahan evaluasi agar hal-hal serupa tidak terjadi lagi.” Keterangan yang sama mencatat KMP Mutiara Sentosa II mengangkut 238 orang penumpang dan awak, dengan lima orang meninggal dunia, sebelum operasi SAR khusus dialihkan menjadi operasi rutin kesiapsiagaan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan.
Untuk KMP Putri Yasmin, keterangan Kementerian Perhubungan pada 12 Agustus 2026 mencatat manifes 114 penumpang di luar awak kapal, dengan 172 orang selamat dan satu orang meninggal dunia hingga malam hari kejadian.
BMKG sendiri, seperti disebut dalam paparannya, terlibat dalam rapat yang dipimpin langsung Menteri Perhubungan, rapat koordinasi tindak lanjut pencarian dan pertolongan, hingga koordinasi operasi SAR gabungan untuk insiden-insiden tersebut.
















