Kapal Uap Reijnst, Bangkai yang Dikira Milik VOC

A A

Kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran yang juga mengoperasikan Reijnst. (Foto: KITLV/Wikimedia Commons)

Cekricek.id — Dini hari 22 Januari 1891, pukul 03.45, sebuah kapal uap melaju kencang di perairan dekat Pulau Kabaena. Namanya Reijnst. Sudah sepuluh mil lambungnya menyapu gugusan terumbu karang ketika angin barat yang kencang dan gelombang tinggi menghantam badannya. Lambung itu bocor. Penumpang dan awak menurunkan sekoci, lalu menjauh ke arah Pulau Talaga dan Kabaena. Kapal itu baru berumur beberapa bulan.

Adegan itu disusun kembali oleh Dwi Sumaiyyah Makmur, M.Hum, arkeolog dari Universitas Khairun, dalam artikel Identifikasi Situs Kapal Uap di Perairan Pulau Sagori Tahun 1980 yang dimuat Jurnal Pusaka Vol. 4 No. 2 terbitan 2024. Ia menyusunnya dari dua bahan yang jarang dipertemukan: catatan koran-koran Belanda tahun 1891 dan hasil penyelaman di sebuah situs bawah air di Perairan Pulau Sagori, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Daftar Isi
  1. Kapal yang Baru Berumur Satu Tahun Ketika Menabrak Gusung Karang
  2. Empat Penyelam Turun Dua Kali dan Cerobong yang Menyembul Saat Air Surut
  3. Lima Kapal Layar VOC pada 1650 dan Alasan Kelimanya Tidak Cocok

Kapal yang Baru Berumur Satu Tahun Ketika Menabrak Gusung Karang

Guntingan iklan lelang berbahasa Belanda berjudul Verkooping van het Wrak van het Stoomschip Reijnst
Iklan lelang bangkai kapal uap Reijnst yang terbit pada 1891. (Sumber: guntingan surat kabar, domain publik)

Reijnst dibangun pada 1890 untuk Koninklijke Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran kerajaan yang berbadan hukum di Amsterdam tetapi menjalankan kantor pusat operasinya di Batavia. Perusahaan itu mulai beroperasi pada 1888. Pada 12 Juli 1890 Reijnst menuntaskan pelayaran uji coba navigasi sejauh 11,8 mil dengan hasil yang disebut sukses. Enam bulan kemudian kapal itu sudah berada di dasar laut.

Rutenya tercatat rapi. Pada 17 Januari 1891 Reijnst meninggalkan Makassar dan berlayar melalui pelabuhan di Teluk Bone menuju Tanjung Priok. Pada 21 Januari 1891 pukul 10.30 kapal itu melanjutkan pelayaran dari Palopo melewati Buton. Lalu dini hari 22 Januari, kecepatan tinggi bertemu perairan dangkal, dan sisa perjalanan berhenti di situ.

Akibatnya tidak berhenti pada kapal. Makmur menulis, “Kapal Uap Reijnst mengalami kerugian dan Nahkoda Reijnst kemudian diberhentikan oleh KPM setelah kapal tersebut karam di Pulau Sagori dekat Pulau Kabaena akibat menabrak gusung karang.” Nama nakhoda itu tidak disebutkan dalam artikelnya. Yang tersisa adalah keputusan perusahaan dan berita di surat kabar.

Baca juga Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali

Berita itu tersebar di beberapa koran Belanda: Java-bode, De locomotief edisi 13 Februari 1891, Bataviaasch Nieuwsblad edisi 11 Februari 1891, dan Soerabaijasch Handelsblad edisi 3 Desember 1891. Kisahnya muncul lagi jauh kemudian di majalah internal KPM, Personeels-En Voorlichting Orgaan, terbitan 15 Februari 1951 pada halaman 10. Dari lembar-lembar itulah bentuk, jenis, dan fungsi kapal bisa dicocokkan dengan yang tergeletak di dasar laut.

Empat Penyelam Turun Dua Kali dan Cerobong yang Menyembul Saat Air Surut

Pengumpulan data lapangan dilakukan pada Desember 2017. Penyelaman dikerjakan dua kali dengan empat penyelam, masing-masing memegang tugas berbeda supaya waktu di bawah air tidak terbuang. Mereka merekam deskripsi situs, mengukur, menggambar kapal, memotret dan merekam video bagian-bagian kapal, termasuk biota laut dan terumbu karang di sekelilingnya.

Situsnya tidak dalam. Bangkai itu berada pada kedalaman tiga sampai lima meter dari permukaan, dengan jarak pandang di bawah air lima sampai tujuh meter. Posisinya sekitar satu mil dari garis pantai Pulau Sagori dan sekitar 2,5 mil dari Pelabuhan Sikeli di Kabaena Barat, ditempuh 40 sampai 45 menit dengan kapal atau perahu lokal. Badan kapal membujur dari timur laut ke barat daya.

Kapal itu sudah terbelah dua. Bagian pertama haluan, bagian kedua ruang mesin sampai buritan. Haluan yang terlepas dari badan kapal panjangnya 16 meter. Tiang mast dari kayu terukur sekitar 28 meter. Ada dua palka, masing-masing panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter. Lunasnya berbentuk segi empat, lebar sekitar 30 sentimeter dengan ketebalan satu meter. Jarak antartulang gading sekitar 170 sentimeter.

Ruang mesin terbagi tiga: dudukan mesin, badan mesin, dan bagian atas mesin. Ketelnya ada tiga bentuk dengan ukuran berbeda. Baling-baling menyerupai daun dengan panjang sekitar satu meter. Linggi dari besi kuningan tertimbun pasir. Tangga kapal ditemukan di belakang haluan dan di samping dinding lambung. Buritannya berbentuk v, tinggi sekitar dua meter dari permukaan pasir.

Yang tersisa memang tidak banyak. Bagian atas kapal habis; yang masih bisa dijumpai adalah sisa cerobong uap, kerangka, dan bagian dasar kapal. Makmur mencatat kondisi kapal sudah tidak utuh sekitar 25 persen, sebagian tertimbun pasir, sebagian lain berkarat dan ditumbuhi karang. Ketika air laut surut, haluan dan cerobong itu menyembul sampai setinggi dua meter di atas permukaan.

Karang yang tumbuh di badan kapal diidentifikasi sebagai Acropora digitifera, Acropora hyacinthus, Acropora rosaria, Acropora latistella, dan Acropora elegantula. Di sekitarnya ditemukan ikan dasar, ikan kerapu, ular laut yang disebut warga erabu, dan biota lain. Baja buatan 1890 itu, pelan-pelan, berubah menjadi rumah.

Baca juga Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno

Ada takarannya. Daya dukung lingkungan perairan sebuah situs dianggap bernilai penting bila tutupan terumbu karangnya berada pada kisaran 50 sampai 74,9 persen, kriteria bagus, dan lebih dari 75 persen, kriteria sangat bagus, sehingga situs itu layak dimanfaatkan di tempatnya. Makmur menyebut banyaknya ikan dan biota di Sagori berpotensi menjadi daya tarik penyelam dan wisata bahari.

Penelitian atas situs ini pun bukan yang pertama. Makmur mencatat kajian terhadap Kapal Uap Reijnst telah dilakukan sejak 2008 hingga 2017, baik oleh perorangan maupun lembaga, sehingga lokasi itu ia sebut berpotensi besar dipakai untuk penelitian lanjutan. Skripsinya sendiri tentang situs kapal karam di Perairan Pulau Sagori diselesaikan pada 2017 di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Lima Kapal Layar VOC pada 1650 dan Alasan Kelimanya Tidak Cocok

Pulau Sagori bukan tempat yang sepi dari peristiwa. Ia disebut menyimpan banyak jejak sejarah jalur rempah dan pernah menjadi persinggahan armada Belanda pimpinan Peter Bot ketika menyerang Kesultanan Buton. Warisan budaya bawah airnya tersebar dari sisi barat sampai selatan pulau. Di perairan seperti itu, satu bangkai mudah sekali dititipi cerita yang bukan miliknya.

Bertahun-tahun penduduk setempat dan sejarawan lokal meyakini bangkai itu peninggalan VOC. Dasarnya sebuah naskah Belanda tentang kecelakaan armada VOC di perairan Pulau Kabaena, Maret sampai Mei 1650, yang diterjemahkan Horst H. Liebner. Lima kapal disebut kandas beriringan: Tijger, Borgen op Zoom, Luijpaert, Aechtekercke, dan De joffer. Kelimanya berlayar dari Batavia menuju Ternate membawa serdadu, perlengkapan, dan perbekalan.

Naskah itu ditulis dari atas kapal Tijger, hari demi hari. Isinya kesengsaraan awak kapal, juga pertolongan yang datang dari warga Pulau Sagori dan Sultan Buton. Para pelaut kemudian membangun kembali kapal dari sisa-sisa bangkai kelima kapal sambil menunggu bantuan Laksamana de Vlamingh. Peristiwa itu dibenarkan oleh sejarawan Buton, Dr. L. M. Budi Wahidin, M.Pd.

Baca juga Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng

Penelusuran resmi juga sudah lama berjalan. Direktorat Bawah Air memulainya pada 2008, dilanjutkan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan pada 2010, lembaga yang kini bernama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX. Pada 2016 pengecekan di sekitar Pulau Sagori menemukan 64 bola meriam yang sudah ditumbuhi karang namun masih dapat dikenali, ditambah ballast stone atau batu pemberat penyeimbang kapal.

Namun bangkai di depan para penyelam itu bercerita lain. Ia terbuat dari baja, bercerobong, digerakkan mesin uap dan baling-baling. Dua palka di lambungnya menandai fungsi sebagai kapal barang dan penumpang. Bentuknya disandingkan dengan rancangan SS Great Britain karya insinyur Inggris Isambard Kingdom Brunel pada 1836 sampai 1837. Kapal VOC sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-18 adalah kapal layar berbahan kayu.

Perbedaannya, menurut Makmur, terletak pada tahun pembuatan, konstruksi, jenis kapal, jumlah kapal, dan sebab karamnya. Tidak satu pun konstruksi di situs itu identik dengan kapal VOC dalam naskah Belanda. Kesimpulan ini tidak menghapus peristiwa 1650; ia hanya memisahkan dua peristiwa yang selama ini ditumpuk menjadi satu di perairan yang sama.

Makmur menandai sendiri batas pekerjaannya. Ia menyatakan objek kapal karam ini masih perlu diteliti lebih lanjut dari perspektif arkeologi perkapalan, dan sebagian besar tubuh kapal memang sudah hilang atau tertimbun pasir sehingga tidak semua bagian dapat diukur. Bola-bola meriam yang ditemukan pada 2016 pun tidak ia tautkan dengan Reijnst. Satu situs yang teridentifikasi bukan berarti seluruh dasar laut Sagori sudah terbaca.

Undang-Undang Cagar Budaya menakar nilai penting sumber daya arkeologi dari manfaatnya bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Reijnst berumur lebih dari 50 tahun, syarat untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Kedalaman yang dangkal dan air yang jernih membuat Makmur mengusulkan situs itu dipakai sebagai tempat praktik kuliah lapangan arkeologi bawah air.

Di Perairan Pulau Sagori air tetap bening sampai lima hingga tujuh meter. Ikan kerapu berputar di sela tulang gading. Ketika air surut, cerobong uap yang dibangun di Amsterdam pada 1890 itu muncul lagi setinggi dua meter, lalu tenggelam kembali.

Bagikan

Baca Juga

Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali
Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali
Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno
Ilustrasi bangkai kapal besi tua tergeletak di dasar laut berpasir gelap dengan lambung tertutup terumbu karang, lubang-lubang robekan pada dinding, kemudi dan baling-baling di buritan, serta seorang penyelam di kejauhan
Kapal Karam Jepang Sangihe dan Luka yang Menghadap Keluar
Haluan bangkai Kapal Toshimaru mencuat dari perairan dangkal Pantai Sosol, Malifut, Halmahera Utara
Toshimaru di Pantai Sosol, Tinggal Enam Puluh Persen
Barisan pramusaji membawa piring hidangan rijsttafel di ruang makan Hotel Homann, Bandung
Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Pulau Galang, Pulau Singgah Manusia Perahu Vietnam
Pulau Galang, Pulau Singgah Manusia Perahu Vietnam