<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>metafora - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/metafora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>metafora - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas</title>
		<link>https://cekricek.id/mars-sastra-unhas-metafora-irama/</link>
					<comments>https://cekricek.id/mars-sastra-unhas-metafora-irama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dina Adriana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Mars Sastra Unhas]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[Pragmatik]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Hasanuddin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272880</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/mars-sastra-unhas-metafora-irama/" title="Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Danau dan pepohonan di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin, Makassar" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas 1"></a><p>Penelitian pragmatik Universitas Hasanuddin menemukan metafora dalam lirik Mars Sastra Unhas bekerja sebagai tindak tutur dan implikatur kolektif, bukan sekadar hiasan bahasa upacara.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/dinaadriana/">Dina Adriana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/mars-sastra-unhas-metafora-irama/" title="Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Danau dan pepohonan di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin, Makassar" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-danau-unhas-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Setiap upacara resmi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dibuka dengan satu larik yang terdengar sederhana: &#8220;Kita bersua dalam irama.&#8221; Tidak ada musik baru yang dimainkan saat larik itu diucapkan bersama, tidak ada pertemuan fisik yang benar-benar terjadi di detik itu. Namun ratusan mahasiswa yang menyanyikannya tetap merasa sedang benar-benar berkumpul, seolah kata-kata itu membangun sesuatu yang tidak kelihatan mata.</p>
<p>Kejanggalan itulah yang dibedah Kasmawati dan Andi Meirling, dua peneliti dari Universitas Hasanuddin, Makassar, dalam artikel <em>Analisis Daya Tutur Metafora dalam Lirik Lagu Mars Sastra Unhas: Perspektif Pragmatik</em>, yang terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026. Alih-alih membaca lirik Mars Sastra Unhas sebagai puisi belaka, keduanya menelusuri bagaimana kalimat yang tampak deskriptif itu sebenarnya bekerja sebagai tindakan lewat ucapan, bukan sekadar penyampai informasi.</p>
<p>Bahasa lagu, tulis keduanya mengutip penelitian-penelitian terdahulu, memang punya kemiripan dengan puisi karena sama-sama menonjolkan musikalitas dan gaya figuratif. Arifianto (2024) bahkan menyebut karya sastra berbentuk lagu bisa dipandang sebagai bentuk puisi, sementara Telaumbanua (2023) menemukan metafora sebagai unsur dominan yang menimbulkan daya imajinatif dalam lirik. Bedanya, penelitian-penelitian itu umumnya berhenti pada estetika bahasa, sedangkan Kasmawati dan Andi Meirling justru bertanya apa yang sebenarnya dilakukan lirik itu terhadap pendengarnya, pertanyaan yang jarang diajukan pada lagu-lagu institusional semacam mars kampus.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Cara Kerja di Balik Kalimat yang Tampak Biasa</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w.webp" alt="Bunga tabebuya merah muda mekar di taman kampus Universitas Hasanuddin" class="wp-image-273241" title="Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-tabebuya-unhas-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tabebuya di taman Universitas Hasanuddin. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Penjelasannya bertumpu pada teori tindak tutur John R. Searle dan pragmatik Yule, yang membedakan apa yang diucapkan dari apa yang sesungguhnya dilakukan lewat ucapan itu. Ketika larik &#8220;Barisan mahasiswa Fakultas Sastra&#8221; dinyanyikan, kalimat itu bukan cuma menggambarkan barisan fisik di lapangan upacara. Ia bekerja sebagai tindak tutur representatif, cara penutur menegaskan sesuatu yang diyakininya benar, dalam hal ini bahwa mahasiswa Sastra adalah komunitas akademik yang solid dan memiliki tujuan kolektif. Larik &#8220;Sastra filsafat&#8221; bekerja dengan cara serupa: ia menggambarkan dua disiplin ilmu yang berpadu menjadi satu landasan keilmuan fakultas, bukan sekadar menyebut nama dua jurusan yang berdiri sendiri-sendiri.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/resiliensi-akademik-mahasiswa-unhas/">84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655</a></p>
<p>Mekanisme berubah pada larik &#8220;Kita sepakat jalan bersama,&#8221; &#8220;Mandaki puncak tinggi,&#8221; dan &#8220;Arungi laut dalam.&#8221; Ketiganya memakai kata kerja tindakan, mandaki dan arungi, disertai subjek jamak &#8220;kita,&#8221; yang menurut Kasmawati dan Andi Meirling menandakan tindak tutur direktif: usaha penutur mendorong pendengar melakukan sesuatu, meski dibungkus sebagai ajakan dan bukan perintah langsung. Larik ini tidak menyuruh secara eksplisit, tetapi menggerakkan lewat nada persuasif dan motivatif, jenis direktif yang menurut Rahardi lazim hadir dalam ajakan simbolik ketimbang instruksi terbuka.</p>
<p>Untuk sampai pada pembacaan seperti itu, Kasmawati dan Andi Meirling memakai metode padan dan metode agih yang dikembangkan Sudaryanto (2015): metode padan menelaah makna metafora berdasarkan konteks sosial tempat lirik itu dipakai, sementara metode agih membedah struktur kebahasaannya kata demi kata. Kombinasi keduanya yang membuat frasa sesederhana &#8220;mandaki&#8221; dan &#8220;arungi&#8221; tidak dibaca sebagai instruksi mendaki gunung atau berlayar, melainkan sebagai penanda kebahasaan dari tindak tutur direktif, lengkap dengan subjek jamak yang menegaskan siapa yang diajak bergerak bersama.</p>
<p>Kerangka ini sejalan dengan pandangan Wibowo dan Sekarsari (2025), yang menegaskan bahwa ekspresi metaforis dalam lagu sejenis sering bekerja sekaligus sebagai assertive information, directive invitation, dan expression of wonder, tergantung konteks pemakaian bahasanya. Larik &#8220;Kita bangunkan rona cemerlang&#8221; menunjukkan pola itu: menurut Kasmawati dan Andi Meirling, larik ini menegaskan komitmen fakultas untuk membangun reputasi positif sekaligus menyarankan secara implisit agar mahasiswa ikut mewujudkan kejayaan itu. Satu larik, dua fungsi sekaligus.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Rasa Bangga dan Janji Ditanamkan Lewat Kata</h2>
<p>Dua tindak tutur lain bekerja pada lapisan emosi dan komitmen, bukan pada lapisan fakta atau ajakan. Larik &#8220;Puncak jaya sentosa&#8221; dan &#8220;Kita bersua dalam irama&#8221; berfungsi ekspresif: mengungkapkan kebanggaan dan optimisme penutur terhadap almamater tanpa menyatakan fakta apa pun yang bisa diperiksa benar atau salahnya. Perasaan itu tidak dilaporkan, ia justru dipertunjukkan lewat pilihan kata yang bernuansa emosional positif dan gaya bahasa puitis.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kata-serapan-korea-bahasa-indonesia/">52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu</a></p>
<p>Sementara itu, larik &#8220;Kita sepakat jalan bersama&#8221; dan &#8220;Kita bangunkan rona cemerlang&#8221; bekerja sebagai tindak tutur komisif, yang oleh Searle didefinisikan sebagai ujaran yang mengikat penutur pada tindakan di masa depan. Bedanya dengan sekadar melaporkan perasaan mirip beda antara berkata &#8220;aku bahagia&#8221; dan berkata &#8220;aku berjanji&#8221;: yang pertama melaporkan keadaan batin, yang kedua mengikat diri pada sesuatu yang belum terjadi. Mars Sastra Unhas memakai keduanya sekaligus, dan selalu lewat subjek jamak &#8220;kita,&#8221; bukan &#8220;saya,&#8221; sehingga janji itu bukan janji perorangan melainkan janji kolektif yang ditanggung bersama oleh siapa pun yang menyanyikannya setiap kali upacara digelar.</p>
<p>Pola serupa ditemukan pada lagu-lagu almamater lain. Wijayanti (2022) mencatat bahwa lagu institusi pendidikan banyak memakai direktif jenis motivational directive untuk menumbuhkan semangat kolektif, sementara Setiawan (2023) menegaskan tindak tutur komisif dalam lagu semacam ini mencerminkan kesetiaan dan janji membawa kejayaan lembaga. Fitriani (2024) menambahkan bahwa dalam lagu patriotik, komisif menegaskan tekad kolektif untuk mengabdi. Kasmawati dan Andi Meirling menemukan pola yang sama persis di Mars Sastra Unhas, hanya saja komitmennya diarahkan bukan pada negara, melainkan pada fakultas dan almamater.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Implikatur: Makna yang Tidak Diucapkan tapi Sampai</h2>
<p>Di atas empat tindak tutur itu, penelitian menemukan lapisan makna yang lebih diam-diam disebut implikatur, yaitu pesan yang tidak dinyatakan secara eksplisit tetapi tetap ditangkap pendengar lewat konteks. Implikatur pertama menyangkut identitas kolektif, yang tersirat dari larik &#8220;Barisan mahasiswa Fakultas Sastra,&#8221; &#8220;Sastra filsafat,&#8221; dan &#8220;Kita bangunkan rona cemerlang.&#8221; Ketiganya menyiratkan bahwa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya bukan sekadar individu yang menempuh pendidikan tinggi, melainkan bagian dari komunitas akademik yang menanggung solidaritas ilmiah dan kebanggaan bersama terhadap fakultas.</p>
<p>Implikatur kedua menyangkut kebersamaan dan solidaritas, yang tersirat dari larik &#8220;Kita bersua dalam irama&#8221; dan &#8220;Barisan mahasiswa Fakultas Sastra.&#8221; Dalam bacaan Kasmawati dan Andi Meirling, larik ini berfungsi sebagai ajakan halus agar mahasiswa bergerak dalam satu &#8220;irama&#8221; perjuangan yang selaras, menandakan kesatuan visi meski setiap mahasiswa datang dari latar yang berbeda-beda. Keberagaman individu, tulis keduanya, justru memperkuat harmoni kelompok, bukan mengancamnya.</p>
<p>Larik &#8220;Disemaikan di taman kejayaan bangsaku&#8221; secara harfiah hanya bicara soal menabur benih di taman. Namun dalam konteks lagu institusional yang dinyanyikan mahasiswa Sastra, frasa itu mengimplikasikan bahwa ilmu yang dipelajari di fakultas bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan benih yang harus tumbuh menjadi kontribusi nyata bagi bangsa. Implikatur serupa muncul dari larik &#8220;Mandaki puncak tinggi,&#8221; &#8220;Arungi laut dalam,&#8221; dan &#8220;Jauh langlang buana,&#8221; yang menyiratkan dorongan agar mahasiswa memiliki semangat pantang menyerah dan berani menghadapi tantangan akademik, bukan sekadar melukiskan perjalanan fisik ke gunung atau laut yang sebenarnya tidak pernah ditempuh siapa pun secara harfiah.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/danais-sayembara-sastra-yogyakarta/">Hadiah Sayembara Sastra Jogja Turun, Danais Naik</a></p>
<p>&#8220;Metafora yang terdapat dalam lirik lagu Mars Sastra Universitas Hasanuddin memiliki fungsi pragmatik yang signifikan, tidak hanya sebagai unsur estetika bahasa, tetapi juga sebagai sarana penyampai pesan ideologis dan nilai-nilai institusional,&#8221; tulis Kasmawati dan Andi Meirling dalam simpulan penelitian mereka. Dengan kata lain, lagu yang dinyanyikan tanpa banyak dipikirkan liriknya itu diam-diam bekerja sebagai alat pembentuk identitas, bukan cuma pengiring seremoni yang lewat begitu saja.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Di Mana Penjelasan Ini Berhenti</h2>
<p>Kasmawati dan Andi Meirling sendiri mengakui satu titik buta yang tidak bisa dipecahkan lewat analisis pragmatik saja: sampai sekarang belum ditemukan sumber resmi yang secara tegas menyebut nama pencipta Mars Sastra Unhas. Situs resmi Fakultas Ilmu Budaya Unhas hanya memuat teks lirik &#8220;Mars Sastra&#8221; tanpa keterangan pencipta, dan yang tersisa cuma keterkaitan historis dengan tokoh Fakultas Sastra seperti Mattulada dan Hamzah Daeng Mangemba, yang diketahui menciptakan Mars Universitas Hasanuddin ketika masih aktif di fakultas itu pada era 1950-an. Siapa pun yang benar-benar merangkai larik &#8220;Kita bersua dalam irama&#8221; tetap tidak diketahui pasti sampai penelitian ini ditulis.</p>
<p>Analisis ini juga bertumpu pada pembacaan teks semata, tanpa melibatkan mahasiswa yang benar-benar menyanyikannya untuk mengecek apakah tindak tutur direktif dan komisif yang ditemukan lewat teori Searle dan Yule itu benar-benar dirasakan sebagai ajakan dan janji oleh penyanyinya sendiri, atau sekadar dilantunkan sebagai rutinitas upacara yang sudah dihafal luar kepala. Larik &#8220;Kita bersua dalam irama&#8221; karena itu tetap dinyanyikan setiap tahun oleh mahasiswa yang tidak pernah tahu siapa menciptakannya, tidak tahu persis kapan lagu itu lahir, tapi tetap merasa sedang benar-benar bersua, dalam irama yang, secara harfiah, tidak sedang dimainkan oleh siapa pun.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/dinaadriana/">Dina Adriana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/mars-sastra-unhas-metafora-irama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
