<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Pencak Silat - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/pencak-silat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 10:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Pencak Silat - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan</title>
		<link>https://cekricek.id/cedera-pesilat-remaja-popda/</link>
					<comments>https://cekricek.id/cedera-pesilat-remaja-popda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dina Adriana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Atlet Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Cedera Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Pencak Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Riset Keolahragaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272061</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/cedera-pesilat-remaja-popda/" title="Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Ilustrasi dua atlet bela diri berseragam hitam bersabuk berlatih tendangan tinggi dan tangkisan di ruang latihan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan 1"></a><p>Survei potong lintang atas 142 pesilat remaja POPDA menemukan mayoritas cedera muncul di ruang latihan, bukan di gelanggang pertandingan.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/dinaadriana/">Dina Adriana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/cedera-pesilat-remaja-popda/" title="Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Ilustrasi dua atlet bela diri berseragam hitam bersabuk berlatih tendangan tinggi dan tangkisan di ruang latihan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/latihan-tendangan-bela-diri-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Selembar formulir persetujuan berpindah lebih dulu ke tangan orang tua atau wali. Baru sesudah itu kuesioner dibagikan. Para peneliti duduk mendampingi pesilat-pesilat remaja yang mengisinya, memastikan tiap pertanyaan dipahami sebagaimana maksudnya, lalu menyusulkan wawancara pendek yang tidak formal untuk mencocokkan jawaban tertulis dengan apa yang benar-benar diingat. Yang dikumpulkan di meja itu bukan catatan medali, melainkan daftar cedera.</p>
<p>Meja-meja itu berdiri di empat kabupaten &#8212; Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara &#8212; pada masa dan sesudah Pekan Olahraga Pelajar Daerah tingkat kabupaten yang berlangsung antara November 2024 dan Januari 2025. Catatannya dilaporkan Yudhi Teguh Pambudi dari Pendidikan Jasmani, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman, bersama lima rekan penulis, dalam artikel <em>Sports Injury Patterns and Incidence Among Adolescent Pencak Silat Athletes</em> di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 10 Nomor 2 tahun 2025.</p>
<p>Rancangannya survei potong lintang. Dari populasi 350 pesilat yang bertanding di POPDA tingkat kabupaten, 142 atlet masuk sebagai sampel lewat pengambilan purposif dengan dua syarat: punya riwayat cedera, dan pengalaman bertanding tingkat kabupaten yang masih minim. Kuesionernya diadaptasi dari pernyataan konsensus surveilans cedera susunan Fuller dan kawan-kawan (2007), lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Protokolnya disetujui Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed, nomor 2005/EC/KEPK/X/2025.</p>
<p>Seratus empat puluh dua remaja itu punya wajah statistik yang cukup seragam. Usia rata-rata 16,6 tahun dengan simpangan baku 1,2. Berat badan rata-rata 62,4 kilogram, tinggi 167,2 sentimeter. Mereka berlatih 3,5 sesi sepekan, masing-masing 60 sampai 90 menit. Bukan jadwal pemusatan latihan nasional, melainkan rutinitas yang oleh penulisnya disebut konsisten dan terstruktur untuk kelompok umur tersebut.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tempat Latihan</h2>
<p>Dari 142 atlet, 124 melaporkan cedera yang muncul saat latihan &#8212; 87,32 persen. Yang cedera saat bertanding 38 orang, 26,76 persen. Dua angka itu berjumlah lebih dari seratus karena sekitar 20 atlet, 14,08 persen, mengalaminya di kedua situasi. Artinya gelanggang bukan tempat paling sering melukai mereka. Ruang latihan yang melakukannya, hari demi hari, dengan gerakan yang itu-itu juga.</p>
<p>Penjelasan penulisnya bersandar pada apa yang berlangsung di ruang latihan: jam yang panjang, teknik yang diulang, dan kewaspadaan yang menurut mereka lebih longgar dibanding saat bertanding. &#8220;Selain itu, sesi latihan melibatkan gerakan berulang seperti tendangan, bantingan, dan tangkisan, yang berujung pada tumpukan tekanan pada sistem muskuloskeletal,&#8221; tulis Yudhi Teguh Pambudi, dosen Pendidikan Jasmani Unsoed sekaligus penulis korespondensi laporan itu, bersama rekan-rekannya. Tumpukan itu tidak lahir dari satu tendangan.</p>
<p>Ada keterangan yang lebih spesifik soal kapan cedera latihan itu paling banyak muncul. Menurut penulisnya, cedera semacam itu terutama terjadi pada fase persiapan khusus dan fase prakompetisi, ketika latihan anaerobik berintensitas tinggi dijalankan di bawah arahan pelatih. Pada fase tersebut kontak fisik di dalam sesi latihan jadi sering: pukulan, tendangan, elakan, dan teknik lain saling menyusul, dan risiko cedera atlet ikut naik bersamanya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/simulasi-pembentukan-bumi-bukan-kebetulan/">1.000 Simulasi: Kelahiran Bumi Bukan Kebetulan Kosmis</a></p>
<p>Pola kedua muncul di kolom berikutnya. Cedera kronis mendominasi &#8212; 121 kasus, 85,21 persen. Cedera akut hanya 21 kasus, 14,78 persen. Sebagian besar keluhan yang berpindah ke lembar kuesioner itu, dengan kata lain, bukan cedera yang terjadi di depan mata wasit, melainkan nyeri yang sudah lama menemani. Penulisnya mengaitkannya dengan beban latihan berkepanjangan dan waktu pulih yang tidak memadai.</p>
<p>Pemicunya, dalam kerangka yang mereka pakai, terbelah dua. Faktor dari dalam diri atlet mencakup hal fisiologis seperti kurang istirahat, kondisi tubuh yang tidak sehat, dan kelelahan; hal psikologis seperti stres, cemas, dan rasa takut; serta hal sosial seperti tekanan saat bertanding dan kurangnya perhatian pelatih. Faktor dari luar mencakup sarana olahraga, peraturan pertandingan, dan watak pencak silat sendiri yang menuntut kewaspadaan tinggi.</p>
<p>Perbandingan dengan cabang lain dipakai untuk menegaskan bahwa polanya tidak ganjil. Laporan tentang taekwondo, judo, karate, dan wushu yang mereka kutip juga menemukan cedera lebih banyak terjadi pada sesi latihan ketimbang pertandingan. Yang membedakan pencak silat adalah kombinasi tekniknya sendiri, dan justru di titik itu data spesifik selama ini paling tipis, terutama untuk kelompok usia remaja di kompetisi tingkat daerah.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Lutut, Pinggul, Pergelangan Kaki</h2>
<p>Turun dari kolom situasi ke kolom anatomi, peta cedera bergerak ke bawah pinggang. Ekstremitas bawah menjadi wilayah paling terdampak: 110 kejadian, 77,46 persen. Ekstremitas atas 42 kejadian, 29,57 persen. Sekitar 10 atlet, 7,03 persen, mengalami keduanya sekaligus, sehingga dua angka itu kembali melampaui seratus persen bila dijumlahkan. Sebaran itu, tulis penulisnya, sejalan dengan dominasi teknik tendangan dan kerja kaki dalam pencak silat, sementara cedera tubuh bagian atas lebih dikaitkan dengan gerakan menangkis dan memukul.</p>
<p>Yang menarik bukan besarnya angka tungkai, melainkan sebarannya. Di tubuh bagian bawah tidak ada satu titik yang menonjol sendirian. Lutut 29 kejadian atau 26,36 persen. Pergelangan kaki dan telapak 27 kejadian, 24,55 persen. Pinggul 26 kejadian, 23,64 persen. Area lain 28 kejadian, 25,45 persen. Empat angka yang nyaris sama tinggi, berdiri berdampingan tanpa ada yang benar-benar menang.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/olahraga-kerja-fisik-risiko-demensia/">Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia</a></p>
<p>Penulisnya menghubungkan sebaran itu dengan perbendaharaan gerak pencak silat sendiri: tendangan sabit, guntingan, dan gerak bertahan yang menumpukan beban besar pada sendi lutut, sehingga membuka risiko regangan ligamen, cedera meniskus, serta kerusakan akibat pemakaian berlebih. Kategori tanding sendiri adalah pertarungan kontak penuh: dua pesilat dari sudut berlawanan saling berhadapan dengan tendangan, pukulan, tangkisan, dan bantingan, dan karena itu dinilai berisiko lebih tinggi ketimbang kategori seni. Di sana tungkai adalah alat kerja utama. Tungkai pula yang paling sering menanggung ongkosnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Bahu</h2>
<p>Naik ke tubuh bagian atas, polanya justru berbalik. Dari 42 kejadian di ekstremitas atas, bahu sendirian menyumbang 24 kejadian atau 57,14 persen, sementara 18 kejadian sisanya &#8212; 42,86 persen &#8212; tersebar di area lain. Di bawah pinggang cedera menyebar; di atas pinggang ia memusat. Penulisnya menyebut kontras itu sebagai perbedaan antara cedera yang fokal dan cedera yang difus.</p>
<p>Penyebab yang mereka ajukan untuk bahu juga berasal dari gerakan yang berulang: tangkisan, teknik kuncian dan tarikan, serta mekanika jatuh yang tidak benar saat bergerak bertahan. Hal serupa, tulis mereka, terjadi pada judo dan gulat, tempat bantingan dan cengkeraman yang diulang terus-menerus berujung pada regangan bahu dan cedera rotator cuff. Sendi yang paling banyak bekerja adalah sendi yang paling sering rusak.</p>
<p>Dari temuan itu penulisnya menurunkan sejumlah anjuran yang alamatnya pelatih: pemanasan dan pendinginan yang tertata, perbaikan teknik dasar pada gerakan berisiko tinggi seperti tendangan dan bantingan, jeda pulih yang cukup antarsesi, serta program latihan berperiodisasi. Mereka juga menyinggung riset terdahulu soal pelindung tulang kering dan penyangga lutut yang dilaporkan mampu meredam gaya benturan tendangan berulang.</p>
<p>Faktor di luar tubuh atlet ikut disebut. Peraturan pertandingan Persilat yang diperbarui menambahkan aturan teknis baru, termasuk kuncian dan tarikan, dan pemahaman wasit serta juri atas aturan itu dinilai berpengaruh pada bagaimana pertandingan dikelola. Rujukan yang mereka pakai adalah kajian Tri Wahyuningtyas dan kawan-kawan (2024) di Kabupaten Ponorogo, yang mencatat naiknya kejadian cedera setelah aturan terbaru diberlakukan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/struktur-luar-struktur-dalam-bahasa-orang-dengan-skizofrenia/">Kalimatnya Utuh, Maknanya Bergeser: Riset Bahasa dan Skizofrenia</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Meja Kuesioner</h2>
<p>Sebelum angka-angka itu dibawa ke mana-mana, ada rambu yang dipasang penulisnya sendiri di bagian akhir laporan. &#8220;Pendekatan potong lintang hanya memberikan potret sesaat dari situasi, sehingga tidak dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat,&#8221; tulis Pambudi bersama Angger Widorotama, dosen Pendidikan Olahraga Universitas Samudra, dan rekan-rekan penulis lainnya. Survei ini memotret satu waktu di empat kabupaten. Ia tidak memperlihatkan apa yang menyebabkan apa, dan tidak menelusuri satu atlet pun sepanjang musim.</p>
<p>Rambu kedua menyangkut cara sampel dipilih. Karena purposif, hasilnya diakui belum tentu mewakili seluruh pesilat. Yang paling menentukan pembacaan: syarat masuknya adalah punya riwayat cedera. Seluruh 142 orang di meja itu memang atlet yang pernah cedera, sehingga persentase yang muncul menggambarkan sebaran cedera di antara mereka yang sudah cedera &#8212; bukan berapa persen dari 350 pesilat POPDA yang mengalaminya.</p>
<p>Rambu ketiga soal ingatan. Datanya berasal dari laporan diri, dan penulisnya menyebut ada kemungkinan sebagian atlet lupa atau salah menilai detail cederanya, meski wawancara pendek dipakai untuk mengurangi kemungkinan itu. Pembaca yang teliti juga akan menemukan bahwa beberapa angka di bagian pembahasan tidak persis sama dengan angka di tabelnya sendiri, khususnya untuk bahu dan lutut. Tabel adalah rujukan yang lebih aman.</p>
<p>Yang tersisa sesudah semua rambu itu tetap bukan hal kecil. Sebuah gambaran empiris tentang di mana tubuh pesilat remaja aus, dikumpulkan bukan di laboratorium melainkan di sela-sela sebuah kejuaraan pelajar, dari anak-anak yang rata-rata baru berumur 16,6 tahun dan berlatih tiga sampai empat kali sepekan. Angka semacam itu selama ini nyaris tidak ada untuk pencak silat.</p>
<p>Kembali ke meja tempat formulir persetujuan tadi ditandatangani. Yang diserahkan orang tua di situ sebenarnya bukan sekadar izin mengisi kuesioner, melainkan izin agar keluhan yang selama ini diam &#8212; lutut yang nyeri sesudah latihan, bahu yang tak pernah pulih benar &#8212; akhirnya tercatat di suatu tempat. Dari 142 lembar itu, 121 di antaranya berisi cedera yang sudah lama tinggal di tubuh pemiliknya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/dinaadriana/">Dina Adriana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/cedera-pesilat-remaja-popda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
