<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Risale-i Nur - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/risale-i-nur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Risale-i Nur - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi</title>
		<link>https://cekricek.id/mahabbah-said-nursi-cinta-ilahiyah/</link>
					<comments>https://cekricek.id/mahabbah-said-nursi-cinta-ilahiyah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Risale-i Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Said Nursi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272881</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/mahabbah-said-nursi-cinta-ilahiyah/" title="Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Deretan jilid kitab Risale-i Nur berjajar di rak dengan potret kecil di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi 1"></a><p>Kajian semantik menelusuri konsep mahabbah dalam pemikiran Said Nursi, dari partikel terkecil hingga galaksi, sains hingga tasawuf.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putri/">Putri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/mahabbah-said-nursi-cinta-ilahiyah/" title="Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Deretan jilid kitab Risale-i Nur berjajar di rak dengan potret kecil di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-risale-i-nur-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Partikel terkecil yang hanya tampak lewat mikroskop dan galaksi yang membentang jutaan tahun cahaya sama-sama terikat, menurut satu pemikir Turki, oleh satu energi yang sama: cinta.</p>
<p>Gagasan itu ditulis Fausiah dan Nurul Atira Muqmin dari Universitas Negeri Alauddin Makassar dalam <em>Mahabbah dalam Pemikiran Said Nursi: Analisis Semantik terhadap Bahasa Cinta Ilahiyah</em>, dimuat Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026. Keduanya menelusuri konsep mahabbah atau cinta dalam pemikiran Bediuzzaman Said Nursi, ulama kelahiran 1876 di Turki yang menulis mahakarya tafsir Al-Qur'an setebal 6.000 halaman berjudul Risale-i Nur.</p>
<p>Dua pandangan dunia yang selama ini dianggap berseberangan disandingkan dalam kajian ini. Yang satu adalah materialisme, yang memisahkan sains dari spiritualitas dan cenderung menjauhkan manusia dari nilai ketuhanan. Yang lain adalah tasawuf, yang justru menaruh hati sebagai pusat pengenalan pada Tuhan. Fausiah dan Nurul Atira menulis bahwa Nursi menolak memilih salah satu; ia mengintegrasikan keduanya, dengan alasan bahwa penemuan sains sebenarnya mempertegas kebenaran agama, bukan membantahnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Laboratorium dan Ruang Sunyi: Dua Jalan yang Menurut Nursi Menuju Titik yang Sama</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w.webp" alt="Potret Said Nursi mengenakan sorban, foto paspor tahun 1918" class="wp-image-273239" title="Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-said-nursi-1918-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Said Nursi dalam foto paspor tahun 1918. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Semasa muda di Van, Nursi menguasai fisika, kimia, dan astronomi secara otodidak, sembari tetap menghafal sembilan puluh kitab referensi utama ilmu agama. Di titik itulah dua jalan yang tampak berlawanan mulai bertemu dalam satu kepala: yang satu jalan akal yang diukur lewat eksperimen, yang lain jalan hati yang diukur lewat perenungan. Ia bahkan mencanangkan visi mendirikan Madrasatuz-Zahra, universitas yang menurut catatan penelitian ini menggabungkan ilmu pasti dengan ilmu agama dalam satu atap.</p>
<p>Sel penjara dan mimbar akademik sama-sama menjadi tempatnya menulis. Ia menyusun sebagian besar Risale-i Nur justru di masa pengasingan &#8212; di Burdur, Isparta, hingga Barla &#8212; bukan di ruang kuliah yang tenang. Fausiah dan Nurul Atira mencatat bahwa lebih dari dua puluh tahun hidup Nursi dihabiskan di penjara dan pengasingan karena dianggap mengancam sistem sekuler Turki, namun ia tetap menulis dan menyebarkan ajarannya lewat jaringan murid yang disebut Sistem Pos Nurcu.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/">Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel</a></p>
<p>Nursi sendiri melewati dua periode yang tampak bertolak belakang. Pada periode Said Lama, ia aktif dalam politik dan pertahanan militer, bahkan memimpin brigade sukarelawan melawan invasi Rusia. Pada periode Said Baru, ia menarik diri sepenuhnya dari politik praktis dan memusatkan seluruh energinya pada penulisan Risale-i Nur. Fausiah dan Nurul Atira mencatat bahwa kedua periode itu, meski tampak berlawanan arah, sama-sama digerakkan oleh satu keyakinan: bahwa keruntuhan iman, bukan serangan fisik, adalah ancaman sesungguhnya bagi umat manusia.</p>
<p>Dalam upaya membangkitkan dunia Islam, Nursi menyebut tiga musuh yang harus dilawan sekaligus: kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan. Yang pertama dihadapi dengan pendidikan, yang kedua dengan kerja keras, yang ketiga dengan persatuan. Fausiah dan Nurul Atira mencatat bahwa ketiganya dilawan tanpa kekerasan, lewat metode yang disebut Nursi sebagai Jihad Manevi atau jihad spiritual &#8212; jalan yang menurutnya lebih menakutkan bagi kekuasaan otoriter dibanding pemberontakan fisik, sebab ia menyerang akar keyakinan, bukan sekadar permukaan kekuasaan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Partikel dan Galaksi: Ukuran yang Berbeda, Cinta yang Sama</h2>
<p>Nursi memandang cinta bukan sebagai perasaan yang pasif, melainkan energi aktif yang mengikat seluruh struktur alam semesta, dari partikel terkecil hingga galaksi yang luas. Segala aktivitas dan pertumbuhan di kosmos, tulisnya, adalah bentuk kerinduan makhluk terhadap cinta Ilahi itu. Ukurannya berbeda jauh &#8212; satu tak kasat mata, satu lainnya tak terjangkau pandangan &#8212; tetapi keduanya, menurut kajian ini, sama-sama tunduk pada hukum yang sama.</p>
<p>Alam semesta, dalam kerangka yang dibangun Nursi, berfungsi sebagai cermin raksasa yang memantulkan Nama-Nama Ilahi atau Asmaul Husna. Setiap makhluk diciptakan dengan keunikan khusus untuk merefleksikan sisi tertentu dari sifat Tuhan &#8212; sebagaimana satu cermin kecil dan satu cermin besar sama-sama memantulkan cahaya yang sama, hanya dengan sudut pantul yang berbeda. Fausiah dan Nurul Atira menulis bahwa keragaman makhluk justru menunjukkan betapa tak terbatasnya sifat Sang Pencipta.</p>
<p>&#8220;Ketahuilah bahwa kebahagiaan yang paling tinggi bagi manusia dan jin, dan kenikmatan yang paling manis yaitu mahabbatullah, cinta kepada Allah, yang diperoleh melalui ma&#8217;rifatullah.&#8221; Begitu ditulis Said Nursi, ulama dan penulis Risale-i Nur, dalam salah satu risalahnya yang dikutip dalam kajian ini.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kerudung-soeara-aisjijah/">Kerudung Gaya Minang di Majalah Soeara Aisjijah</a></p>
<p>Nursi menjabarkan lima jenis cinta yang dimiliki manusia: cinta kepada makanan yang lezat, cinta kepada diri sendiri, cinta kepada orang tua dan anak istri, cinta kepada Nabi, dan cinta kepada segala sesuatu yang indah. Yang satu sederhana dan harian, yang lain agung dan abadi, namun kajian ini mencatat bahwa Nursi menilai seluruh jenis cinta itu tidak akan bermanfaat jika tidak disandarkan pada petunjuk Al-Qur'an dan atas nama Allah.</p>
<p>Mencintai Tuhan, menurut Nursi, mensyaratkan mengikuti Sunnah Nabi. Ia menyandingkan dua bentuk kecintaan yang berbeda arah: mencintai Allah secara langsung, dan mencintai Nabi sebagai kekasih yang dicintai Allah atau habibullah. Fausiah dan Nurul Atira mengutip sebuah ungkapan yang dirujuk dalam Risale-i Nur, al-mar'u ma'a man ahabba, seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya, sehingga mengikuti dan meniru sang kekasih menjadi jalan menuju derajat tertinggi yang sama-sama diinginkan oleh pencinta dan yang dicintai.</p>
<p>Dua bentuk keimanan turut dibedakan dalam kajian ini. Iman taklid diperoleh tanpa penyelidikan, sekadar mengikuti keyakinan yang diwariskan. Iman-i tahqiqi, sebaliknya, lahir dari proses penyelidikan sendiri hingga menghasilkan keyakinan yang matang. Fausiah dan Nurul Atira menulis bahwa hanya mahabbah yang berlandaskan iman-i tahqiqi yang mampu melahirkan kebahagiaan sejati, sebab cinta yang lahir dari sekadar ikut-ikutan, menurut kajian ini, mudah goyah begitu diuji oleh kehilangan atau perpisahan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Al-Ajz dan Al-Faqr: Dua Kelemahan yang Menurut Nursi Menjadi Jalan Masuk</h2>
<p>Empat metode ditawarkan Nursi untuk menempuh jalan menuju cinta hakiki, dan dua yang pertama sama-sama berangkat dari pengakuan akan kekurangan. Al-ajz berarti kelemahan: seorang hamba yang mendapati dirinya kurang akan memuji Tuhannya yang Maha Kuasa. Al-faqr berarti kefakiran: seorang hamba yang menyadari kebutuhannya akan senantiasa bersandar kepada Allah, bukan kepada hawa nafsunya sendiri. Satu soal kekuatan yang tak dimiliki, satu lagi soal kebutuhan yang tak tertutupi, tetapi keduanya menuju arah yang sama: mengosongkan ego.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Al-Syafaqah dan Al-Tafakkur: Dua Arah Pandang Menuju Cinta yang Sama</h2>
<p>Dua metode berikutnya justru bergerak dari arah berlawanan: bukan dari pengakuan kurang, melainkan dari kekaguman. Al-syafaqah adalah kasih sayang, lahir dari kesadaran bahwa Tuhan Maha Pengasih sehingga seseorang menjauh dari sifat ujub dan bangga diri. Al-tafakkur adalah perenungan, memaksimalkan akal untuk membaca manifestasi Asmaul Husna dalam ciptaan-Nya. Fausiah dan Nurul Atira mencatat bahwa al-ajz dan al-faqr membuat manusia merasa butuh perlindungan &#8212; seperti anak kecil mencintai orang tuanya karena merasa bergantung &#8212; sementara al-syafaqah dan al-tafakkur membuat manusia kagum pada kebaikan, seperti seseorang yang jatuh cinta karena melihat keindahan budi pekerti orang lain.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/driyarkara-minteri-industrialisasi-pendidikan/">Driyarkara 1962: Pintar Tanpa Kesusilaan Jadi Minteri</a></p>
<p>Tasawuf yang diajarkan Nursi, menurut kajian ini, tidak bersifat ekstrem. Ia berbeda dari sebagian aliran tasawuf yang menolak dunia sepenuhnya, dan berbeda pula dari sikap materialistis yang menenggelamkan diri sepenuhnya dalam dunia. Lewat metodologi yang disebut Mana-i Harfi, Nursi memperbolehkan kecintaan terhadap dunia asal objek itu dicintai sebagai &#8220;huruf&#8221; yang menunjuk pada Penciptanya, bukan dicintai pada zat benda itu sendiri. Analogi yang dipakainya adalah pelukis dan lukisan: mencintai lukisan karena pelukisnya, bukan mencintai lukisan seolah ia berdiri sendiri.</p>
<p>Jarak antara manusia dengan Tuhan, tulis Fausiah dan Nurul Atira mengutip Nursi, bukanlah jarak fisik yang bisa diukur dengan meteran atau kilometer. Ia adalah jarak maknawi, ditempuh bukan dengan kaki melainkan dengan hati. Yang satu selesai dengan kendaraan dan peta, yang lain hanya selesai dengan penyucian jiwa atau tazkiyatun al-nafs. Dalam kajian ini, tazkiyatun al-nafs itulah yang dianggap sebagai thariqah, jalan yang membimbing seorang salik menuju ridha-Nya.</p>
<p>Kajian ini sendiri dibangun lewat studi pustaka atas teks-teks Risale-i Nur dan terjemahannya, dengan peneliti sebagai instrumen utama tanpa wawancara langsung terhadap Nursi yang telah wafat pada 1960. Fausiah dan Nurul Atira mengakui bahwa penafsiran atas istilah-istilah tasawuf semacam mahabbah, ma'rifat, dan tafakkur bergantung pada kategorisasi yang mereka susun sendiri dari sumber-sumber yang tersedia, sehingga interpretasi lain atas teks yang sama sangat mungkin terbuka.</p>
<p>Sains dan tasawuf, akal dan hati, partikel dan galaksi &#8212; kajian ini tidak menempatkan satu di atas yang lain. Keduanya, dalam pembacaan Fausiah dan Nurul Atira atas Nursi, adalah dua huruf dari bahasa yang sama, dua cermin yang memantulkan cahaya yang sama, hanya dari sudut yang berbeda.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putri/">Putri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/mahabbah-said-nursi-cinta-ilahiyah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
