<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Seni Rupa - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/seni-rupa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2026 02:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Seni Rupa - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189108407</site>	<item>
		<title>Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei</title>
		<link>https://cekricek.id/lukisan-kulit-kayu-asei-sentani-papua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rola Cantika]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2026 16:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nuansa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jayapura]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=268917</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/lukisan-kulit-kayu-asei-sentani-papua/" title="Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dua orang menaiki perahu kayu bermesin di Danau Sentani dengan rumah panggung dan perbukitan berkabut di kejauhan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei 1"></a><p>Peneliti BRIN menelusuri pergeseran lukisan kulit kayu Kampung Asei, Sentani: dari baju sakral Ondoafi, sempat berhenti, lalu hidup kembali sebagai produk komersial.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/lukisan-kulit-kayu-asei-sentani-papua/" title="Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dua orang menaiki perahu kayu bermesin di Danau Sentani dengan rumah panggung dan perbukitan berkabut di kejauhan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/danau-sentani-kampung-asei.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> — Dulu lukisan kulit kayu di Kampung Asei hanya boleh menempel pada satu benda: baju kepala suku. Sekarang ia ada di topi, tas, dompet, wadah ponsel, taplak meja, dan penutup lampu.</p>
<p>Perjalanan itu ditelusuri Amurwani Putri, Hari Suroto, dan Gusti Made Sudarmika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam Berkala Arkeologi Volume 45 Nomor 1, Mei 2025, halaman 77–95. Penelitiannya dikerjakan pada 2024 di Kampung Nolokla, Pulau Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, dengan pendekatan etnoarkeologi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Malo, Baju Kulit Kayu Milik Ondoafi</h2>
<p>Sebelum kain tekstil dikenal, orang Asei memakai pakaian dari kulit kayu yang disebut malo. Menurut Corry Ohee, narasumber di Kampung Asei, malo dipakai untuk empat keperluan: pakaian ketua suku Ondofolo atau Ondoafi, pembungkus bayi yang baru lahir, penutup tubuh perempuan yang sudah menikah, dan pembungkus jasad orang meninggal.</p>
<p>Motif pada baju Ondoafi bukan hiasan. Ia menandai status pemakainya sebagai pimpinan adat tertinggi di Sentani. Riwayat penciptaannya sendiri berpangkal pada kisah dua putri Dewa Robongholo, Ayokhoy dan Hebheayko. Motif pada baju keduanya dikenal sebagai Iuwga, yang berarti keagungan, dan Kheleauw, yang berarti hakiki.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/songket-minangkabau-pendidikan-perempuan/">Benang Emas yang Merajut Pendidikan: Kisah Tersembunyi di Balik Songket Minangkabau</a></p>
<p>Iuwga berbentuk spiral atau melingkar, melambangkan kehidupan yang berkesinambungan, kesuburan, dan siklus alam. Ia dipakai sebagai pelengkap upacara adat: perkawinan, kematian, dan memasuki rumah baru. Kheleauw berupa garis lengkung yang saling tumpang tindih, bermakna kekayaan dan kemakmuran.</p>
<p>Ada satu motif lagi yang khusus, yoniki — lingkaran yang berpusat pada satu titik. Maknanya lugas: setiap siklus kehidupan masyarakat Sentani berpusat pada Ondoafi. Motif itu diyakini yang tertua, karena bentuk yang sama ditemukan pada tiang batu atau menhir di Asei. Pada versi gabungannya, bagian tengah menggambarkan kejantanan yang menunjukkan kepemimpinan, motif jari-jari menggambarkan kekuatan, dan lingkaran menggambarkan gelang batu — harta berharga yang juga berfungsi sebagai mas kawin.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Ditebang Saat Bulan Gelap, Dikupas dari Sisi Barat</h2>
<p>Aturan adat mengatur bahannya sampai ke detail waktu. Pohon khombow harus ditebang pada bulan gelap. Kalau ditebang saat bulan sabit atau purnama, kulit kayunya tipis dan mudah putus. Pengupasannya harus dari sisi matahari terbenam, yaitu sisi barat.</p>
<p>Pohon yang dipakai berusia tiga sampai lima tahun dengan diameter sekitar 15 sentimeter. Ditebang dengan parang, dikupas dengan pisau dan batang kayu yang ujungnya diruncingkan. Setelah kulit bagian dalam yang berwarna putih ditemukan, dibuat garis untuk memudahkan pelepasan. Lembaran itu lalu dipukul dengan batang kayu sowang beralas batu sampai tipis dan berwarna cokelat, kemudian dicuci, diperas, dan direntangkan di bawah matahari agar kering merata dan tidak mudah robek.</p>
<p>Warnanya tiga: hitam dari arang atau jelaga dasar alat masak, putih dari kapur kulit kerang yang digerus, dan merah dari biji rambutan atau tanah liat merah yang ditumbuk. Kuning, bila diperlukan, dibuat dari tumbukan kunyit yang dicampur minyak kelapa. Bagi orang Sentani, putih menggambarkan kebesaran, merah melambangkan keperkasaan, dan hitam mencerminkan kehidupan di bumi yang tidak kekal. Kuasnya dibuat dari tangkai buah kelapa atau akar pohon yang sudah kering.</p>
<p>Seluruh proses itu dulu hanya boleh dikerjakan laki-laki. Ada pamali bila perempuan yang mengerjakannya; perempuan hanya diizinkan mewarnai, bukan melukis.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/perahu-paledang-lamalera-motif-tenun-ikat/">Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Ketika Tradisi Itu Berhenti</h2>
<p>Pada awal abad ke-20, pakaian kulit kayu berlukis sudah tidak terlihat lagi dipakai. Ekspedisi militer pada 1909 di kawasan Danau Sentani diyakini memperluas peredaran kain komersial. Howard (2000) mencatat pakaian kulit kayu di sekitar Danau Sentani telah punah seluruhnya saat Perang Dunia II.</p>
<p>Faktor keduanya datang dari mimbar. Agama Kristen masuk ke Kampung Asei pada 1928 — ditandai sebuah tugu peringatan — dan Gereja Asei atau Philadelphia dibangun di bukit tertinggi kampung pada 1930-an, dengan sepuluh tiang yang mewakili sepuluh marga: Asabo, Pouw, Ohee/Asei, Ongge, Pepuho, Nere, Puhiri, Kere, Modow, dan Yepese. Misionaris memandang motif tertentu sebagai penghormatan kepada keturunan dewa, yang dianggap berhala.</p>
<p>Melukis tidak hilang sama sekali; ia pindah media. Orang Asei tetap melukis pada tifa, perahu, dayung, gagang kapak, jubi atau panah penangkap ikan, dan tiang rumah.</p>
<p>Nama kampungnya pun berubah di masa itu. Dulu tempat ini disebut Kampung Ohee, karena hampir seluruh penduduknya keturunan marga Ohee. Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda 1944–1962, pelafalan orang Belanda mengubah ’Ohee’ menjadi ’Asei’.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Dihidupkan Lagi, Lalu Dilanggar Seorang Perempuan</h2>
<p>Tradisi itu kembali karena sebuah penelitian. Arnold Clemens Ap, antropolog Universitas Cenderawasih, menelusuri catatan dari masa pemerintahan Hindia-Belanda yang menyebut Asei pernah punya tradisi melukis kulit kayu. Penelusuran itu berlangsung sekitar 1975.</p>
<p>Titik balik berikutnya terjadi pada 1980-an. Seorang perempuan Asei melanggar aturan adat dan melukis kulit kayu, agar warisan orang tuanya tidak hilang begitu saja. Ia menyelesaikan lukisannya tanpa disertai kejadian yang tidak lazim. Peristiwa itulah yang kemudian dianggap memicu keyakinan bahwa tidak ada pantangan melukis kulit kayu bagi perempuan.</p>
<p>Pada 1992, lukisan kulit kayu dipromosikan lewat pameran di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih dan pameran seni rupa di Jakarta, menampilkan karya pelukis tertua, Seru Ongge. Sejak itu palet warnanya melebar dari merah-putih-hitam ke cokelat dan kuning. Pada 2000-an, pembeli dari luar Asei tidak hanya membeli, tetapi juga ingin tahu makna motifnya. Dan pada 2014, orang Asei membuat lukisan kulit kayu sepanjang 100 meter di Festival Danau Sentani, yang kemudian tercatat sebagai rekor MURI lukisan kulit kayu terpanjang di Indonesia.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Khombow yang Makin Jauh</h2>
<p>Persoalan terbesarnya justru bahan baku. Pohon khombow sudah tidak mudah ditemukan di hutan Asei. Pengrajin yang membutuhkannya harus berperahu ke kampung lain, satu sampai dua jam tergantung gelombang danau.</p>
<p>Sampai penelitian ini dikerjakan, belum ada usaha memetakan potensi tumbuhan khombow, apalagi membudidayakannya. Akibatnya pengrajin beralih ke kulit pohon sukun dan pohon bergetah lain seperti beringin, yang lebih mudah didapat dan kulitnya lebih gampang dikelupas.</p>
<p>Tekanan kedua datang dari pasar: tiruan lukisan kulit kayu dalam bentuk cetakan beredar bersama oleh-oleh khas Papua lainnya. Yang membedakan lukisan Asei yang asli, menurut peneliti, adalah warna alaminya dan guratan kuas tangkai kelapa. Karena itu pengrajin disarankan tidak berhenti pada keterampilan melukis, tetapi juga memahami komposisi pigmen warna yang mereka pakai.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/gua-karst-benau-punan-batu-bulungan/">Gua Karst Benau, Situs Arkeologi yang Masih Ditinggali Orang Punan Batu</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Ikan Hiu Gergaji dan Danau yang Pernah Berubah</h2>
<p>Salah satu motif tertua yang masih dilukis adalah ikan hiu gergaji, yang juga muncul pada batu-batu situs megalitik Tutari dan ukiran tiang rumah adat Obhe. Habitat asli ikan hiu gergaji (<em>Pristis microdon</em>) adalah perairan asin. Para ahli geologi menyebut adanya pengangkatan bagian tengah selat yang dulu memisahkan Danau Sentani dengan Pegunungan Cycloop, sehingga spesies itu diduga beradaptasi ke air tawar. Bagi orang Asei, ikan hiu gergaji melambangkan kehidupan yang mampu beradaptasi.</p>
<p>Motif lain punya rujukan yang sama membumi: kha atau ikan menandai mata pencaharian sekaligus bahan makanan utama, karang melambangkan kekuatan dan tempat perlindungan leluhur, perahu dan dayung menandai nelayan, dan lingkaran hitam-putih menunjukkan ikatan kekeluargaan yang tidak terputus.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Dibuka, Yang Tetap Dijaga</h2>
<p>Perbandingan yang disusun peneliti antara abad ke-20 dan sekarang memperlihatkan mana yang dilonggarkan dan mana yang tidak. Pelukisnya dulu terbatas pada Ondoafi, keturunannya, dan orang yang ditunjuk; kini siapa pun yang berbakat, laki-laki, perempuan, maupun anak-anak sanggar.</p>
<p>Tetapi satu batas tetap berdiri. Motif yoniki hanya diperuntukkan bagi Ondoafi dan keturunannya, dan hanya boleh dilukis oleh orang keturunan Asei. Motif lain boleh dipakai orang Sentani di luar Asei dan masyarakat umum — dipakai, bukan diakui sebagai milik.</p>
<p>Maknanya juga bergeser. Sebelum agama Kristen masuk, lukisan dianggap sakral, representasi kepercayaan dan kosmologi. Sesudahnya, ia dibaca sebagai gambaran hubungan manusia dengan alam dan sesamanya, termasuk peran dan tanggung jawab di dalamnya. Peneliti merekomendasikan kolaborasi masyarakat Asei dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk menyusun aturan produksi dan pemasaran lukisan kulit kayu Asei.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Warisan yang Diakui Milik Bersama</h2>
<p>Lukisan kulit kayu Asei, dengan segala pergeserannya, kini diakui sebagai karya seni milik masyarakat Asei. Peneliti menilai kolaborasi masyarakat dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura diperlukan untuk menyusun aturan produksi dan pemasarannya.</p>
<p>Sejarah lukisan ini sendiri diwariskan secara lisan, dari generasi yang pernah memproduksinya. Pergeseran sifat, makna, dan fungsi yang dialaminya tidak mengurangi nilai penting lukisan kulit kayu Asei, melainkan justru menambah alasan untuk melestarikannya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">268917</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-08-11 00:28:25 by W3 Total Cache
-->