<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Strukturalisme - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/strukturalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:31:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Strukturalisme - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel</title>
		<link>https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/</link>
					<comments>https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Witrie Monica]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Asma Nadia]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Strukturalisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272836</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/" title="Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Bangunan Masjid Niujie di Beijing dengan atap bergaya Tionghoa" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel 1"></a><p>Kajian strukturalis membaca novel Assalamualaikum Beijing dari dalam dan menyandarkan empat nilai Islam pada tiga kalimat yang dicatat dari halamannya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/" title="Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Bangunan Masjid Niujie di Beijing dengan atap bergaya Tionghoa" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-masjid-niujie-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Tiga kalimat dicatat dari sebuah novel, dan tiga kalimat itu yang kemudian berdiri sebagai bukti. Satu tentang doa, satu tentang kesabaran, satu tentang kehilangan. Ketiganya diambil dari <em>Assalamualaikum Beijing</em> karya Asma Nadia, novel terbitan 2014 yang mengangkat nilai-nilai Islam dalam bingkai kisah cinta dan perjalanan spiritual tokohnya, oleh seorang pembaca yang menamatkannya secara menyeluruh dan mencatat bagian-bagian teks yang ia anggap memuat konstruksi nilai keislaman. Tidak ada wawancara, tidak ada survei pembaca, tidak ada satu pun angka. Yang ada hanya halaman novel dan catatan pembacanya.</p>
<p>Pembaca itu Fachrian Ramadhan, peneliti pada Fakultas Dirasah Islamiyah, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Catatannya menjadi artikel <em>Konstruksi Nilai-Nilai Islam melalui Unsur Intrinsik dalam Novel Assalamualaikum Beijing Karya Asma Nadia</em>, yang terbit di <em>Jurnal Ilmu Budaya</em> Volume 14 Nomor 1 tahun 2026, halaman 92 sampai 96. Pertanyaannya satu dan sempit: bagaimana nilai-nilai Islam dibangun di dalam novel itu, bukan sekadar apakah nilai itu ada di sana.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Membaca Novel Tanpa Keluar dari Novel</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w.webp" alt="Seorang perempuan membaca buku di meja dekat jendela" class="wp-image-273263" title="Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-membaca-buku-dekat-jendela-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca buku. Ilustrasi. (Foto: Pexels)</figcaption></figure>
<p>Perbedaan antara kedua pertanyaan itu tidak sepele. Mencari nilai Islam di dalam sebuah novel religi adalah pekerjaan yang hampir pasti berhasil, karena penulisnya memang menaruhnya di sana. Menanyakan bagaimana nilai itu dibangun berarti menuntut pertanggungjawaban yang lain: nilai tersebut harus bisa ditunjukkan tumbuh dari tema, dari watak tokoh, dari susunan peristiwa, dan dari latar tempat cerita itu berlangsung. Fachrian memilih pertanyaan kedua, dan memilih pula satu pendekatan yang membuat pertanyaan itu bisa dijawab tanpa keluar dari halaman novel, yaitu strukturalisme.</p>
<p>Strukturalisme memandang karya sastra sebagai sebuah struktur yang berdiri sendiri. Makna tidak dicari di belakang teks, melainkan di dalam hubungan antarunsur yang membentuknya. Konsekuensinya tegas dan dipilih dengan sadar: pemaknaan dilakukan tanpa mengaitkan teks secara langsung dengan faktor di luar teks, seperti latar belakang pengarang atau kondisi sosial masyarakat. Artinya Asma Nadia sebagai orang, sebagai penerbit, sebagai penulis yang punya pembaca setia, sengaja ditinggalkan di luar pagar. Yang tersisa hanya cerita dan hubungan antarbagiannya. Instrumen yang dipakai untuk membaca hubungan itu ada lima: tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, serta amanat &#8212; unsur pembangun karya sastra yang berasal dari dalam teks itu sendiri, dan yang dalam kajian ini sengaja tidak diperiksa satu-satu, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/perilaku-menyimpang-novel-purple-prose/">Penculikan dan Narkoba dalam Novel Metropop Purple Prose</a></p>
<p>Metodenya kualitatif deskriptif. Data primernya satu, yakni teks novel itu sendiri. Data sekundernya buku teori sastra, artikel jurnal, dan rujukan ilmiah lain tentang strukturalisme serta kajian nilai keislaman dalam sastra. Teknik pengumpulannya dua kata yang terdengar sederhana, baca dan catat, tetapi dua kata itulah seluruh instrumen penelitiannya. Kutipan yang sudah tercatat kemudian diklasifikasikan menurut unsur intrinsik, lalu ditelaah keterkaitannya satu sama lain. Dari telaah keterkaitan itulah kesimpulan disusun.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Nilai yang Tidak Pernah Dikhotbahkan</h2>
<p>Ada alasan mengapa cara kerja seperti itu dianggap perlu. Dalam bagian kajian teori, Fachrian menolak anggapan bahwa nilai keagamaan dalam karya sastra bisa dihitung seperti mencacah kata. Nilai ketauhidan, kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman, tulisnya, tidak selalu disampaikan secara eksplisit atau bersifat normatif, melainkan sering kali dikonstruksikan melalui peristiwa, konflik, dan sikap tokoh dalam cerita. Dari sanalah ia menarik tuntutan metodologisnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Kajian nilai-nilai Islam dalam sastra memerlukan pendekatan yang mampu menelusuri bagaimana nilai tersebut dibangun secara naratif melalui struktur cerita, bukan sekadar mengidentifikasi keberadaannya secara tekstual,&#8221; tulis Fachrian Ramadhan, peneliti Fakultas Dirasah Islamiyah Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta itu. Kalimat tersebut menjelaskan sekaligus mengikat. Ia menjelaskan mengapa lima unsur intrinsik dipakai sebagai alat, dan ia mengikat penulisnya untuk tidak berhenti pada daftar temuan.</p>
<p>Unsur pertama yang ia periksa adalah tema. Menurut pembacaannya, tema utama novel ini tidak berhenti pada kisah cinta. Ada lapisan kedua berupa perjalanan spiritual tokoh utama dalam memahami makna keimanan, dan di lapisan itulah nilai ketauhidan dibangun secara bertahap sepanjang cerita. Ketauhidan tidak disampaikan dalam bentuk nasihat, melainkan lewat peristiwa yang menuntut tokoh berserah pada kehendak Tuhan. Penanda tekstualnya satu kalimat: tokoh utama belajar menerima bahwa &#8220;tidak semua hal dapat ia kendalikan selain dengan doa&#8221;.</p>
<p>Kalimat itu dibaca bukan sebagai khotbah yang disisipkan pengarang ke dalam cerita, melainkan sebagai hasil dari tekanan peristiwa. Dengan begitu keimanan dalam novel ini tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang statis. Ia diuji lewat pengalaman dan konflik, dan justru karena diuji, ia bisa ditunjukkan tumbuh. Tema novel ini pada akhirnya dibaca sebagai simpul yang mengaitkan tiga hal sekaligus, yaitu cinta, penderitaan, dan keyakinan kepada Tuhan sebagai pusat kehidupan tokoh.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kesabaran yang Tidak Instan</h2>
<p>Tekanan yang sama dipakai untuk menjelaskan nilai kedua. Tokoh utama digambarkan menghadapi tiga hal berturut-turut, yaitu penyakit, kehilangan, dan ketidakpastian masa depan, dan nilai kesabaran dibangun dari cara ia merespons ketiganya. Bukan lewat penjelasan langsung, melainkan lewat perubahan watak. Fachrian mencatat pengakuan tokoh itu bahwa &#8220;kesabaran adalah satu-satunya cara agar hatinya tetap kuat&#8221;, lalu membacanya sebagai hasil dari satu proses panjang, bukan sebagai sifat bawaan yang sudah lengkap sejak halaman pertama. Perkembangan tokoh dari pribadi yang rapuh menjadi lebih kuat secara spiritual dipakai sebagai buktinya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kata-serapan-korea-bahasa-indonesia/">52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu</a></p>
<p>Proses panjang itu memerlukan tempat untuk berlangsung, dan tempatnya adalah alur. Peristiwa disusun secara kausal dan kronologis, sehingga tokoh berulang kali dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai harapan. Nilai ketiga, keikhlasan, muncul di ujung rangkaian itu. Ia tidak hadir sebagai keputusan yang tiba-tiba, melainkan sebagai hasil dari peristiwa-peristiwa yang saling berkaitan. Satu adegan menyiapkan adegan berikutnya, dan pembaca bisa mengikuti proses batin tokoh justru karena urutannya tidak dipotong.</p>
<p>Nilai keempat memerlukan ruang, bukan waktu. Latar dalam kajian ini mencakup tiga hal sekaligus, yakni tempat, waktu, dan kondisi sosial. Kehadiran latar budaya yang berbeda dibaca sebagai tantangan bagi tokoh utama dalam mempertahankan identitas dan keyakinannya sebagai seorang Muslim, dan dari tantangan itu nilai keteguhan iman dikonstruksikan. Latar waktu dan suasana pun tidak diperlakukan sebagai pelengkap cerita. Situasi tertentu yang menuntut refleksi dan perenungan dianggap ikut memperkuat dimensi religius novel tersebut.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Tidak Bisa Dijangkau Struktur</h2>
<p>Unsur kelima tidak menghasilkan nilai baru. Amanat, dalam pembacaan ini, adalah hasil, bukan bahan. Ia tidak ditulis eksplisit di dalam novel, melainkan terbentuk dari hubungan antara tema, tokoh, alur, dan latar yang sudah diperiksa sebelumnya. Penandanya kembali berupa satu kalimat yang dicatat dari halaman novel, yaitu bahwa &#8220;Tuhan selalu memiliki cara terbaik di balik setiap kehilangan&#8221;. Pesan keislaman novel ini, menurut Fachrian, karena itu tidak berdiri sendiri sebagai tempelan, tetapi hadir sebagai kesimpulan dari perjalanan tokoh dan rangkaian peristiwa yang dialaminya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/historiografi-perempuan-indonesia/">Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah</a></p>
<p>Kesimpulan itu kuat di dalam pagarnya sendiri, dan pagarnya dipasang sejak bagian metode. &#8220;Penelitian ini tidak melibatkan pengumpulan data lapangan, melainkan menitikberatkan pada analisis teks sebagai objek kajian,&#8221; tulis Fachrian. Kalimat itu bukan basa-basi kerendahan hati. Ia menandai apa saja yang tidak akan pernah bisa dijawab artikel tersebut, betapapun rapi pembacaannya.</p>
<p>Yang tidak terjawab cukup banyak. Berapa banyak pembaca yang benar-benar menangkap empat nilai itu tidak diukur, karena tidak ada pembaca kedua yang diminta menguji ulang klasifikasi tersebut. Seberapa besar peran Asma Nadia sebagai pengarang, dengan seluruh riwayat dan posisinya dalam penerbitan novel religi Indonesia, juga tidak dihitung, karena strukturalisme memang meletakkan faktor itu di luar analisis. Daftar pustakanya lima entri: satu novel dan empat buku teori sastra karya Burhan Nurgiyantoro, Nyoman Kutha Ratna, A. Teeuw, serta Ren&#233; Wellek dan Austin Warren. Tidak ada satu pun laporan riset lapangan di dalamnya.</p>
<p>Batas itu juga membatasi klaimnya. Artikel tersebut tidak menyatakan bahwa novel ini mewakili novel religi Indonesia, dan tidak menyimpulkan apa pun tentang pembaca Indonesia pada umumnya. Objeknya satu judul, dan kesimpulannya berhenti pada satu judul itu: bahwa nilai ketauhidan, kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman dibangun secara menyatu lewat tema perjalanan hidup, pengembangan tokoh, alur cerita, serta latar sosial dan budaya yang saling berkaitan.</p>
<p>Sebuah pembacaan struktural memang bekerja seperti itu. Ia bisa menunjukkan bagaimana sebuah bangunan disusun, tetapi tidak bisa memberi tahu siapa yang tinggal di dalamnya. Yang bisa diperiksa ulang oleh siapa saja hanya tiga kalimat tadi, dan ketiganya masih berada di tempat yang sama, di halaman novel yang bisa dibeli siapa pun.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
