<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Tenun Ikat - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/tenun-ikat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2026 02:30:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Tenun Ikat - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189108407</site>	<item>
		<title>Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun</title>
		<link>https://cekricek.id/perahu-paledang-lamalera-motif-tenun-ikat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Lesmana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2026 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nuansa]]></category>
		<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Maritim]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tenun Ikat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=268908</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/perahu-paledang-lamalera-motif-tenun-ikat/" title="Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Perahu nelayan kayu tradisional berlabuh di laut tenang dengan gugusan batu granit dan pulau kecil di kejauhan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun 1"></a><p>Penelitian etnoarkeologi UGM di Lamalera, Lembata, menunjukkan perahu Paledang dan motifnya pada kain tenun ikat adalah dua wajah dari satu sistem simbol.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/perahu-paledang-lamalera-motif-tenun-ikat/" title="Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Perahu nelayan kayu tradisional berlabuh di laut tenang dengan gugusan batu granit dan pulau kecil di kejauhan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/perahu-paledang-lamalera.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> — Di Desa Lamalera, Pulau Lembata, dua benda menyimpan cerita yang sama. Satu berlayar di Laut Sawu, satu lagi dipakai perempuan sebagai sarung. Perahu Paledang dan motif perahu pada kain tenun ikat dibaca warga sebagai dua wajah dari satu sistem simbol.</p>
<p>Kesimpulan itu ditulis Jesica Herlin Lerrick dan J. Susetyo Edy Yuwono dari Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada dalam Jurnal Arkeologi Nusantara (JANUS) Volume 3 Nomor 2 Tahun 2025, halaman 133–165. Artikel tersebut merupakan pengembangan skripsi Lerrick di Program Studi S1 Arkeologi UGM, dengan data lapangan yang dikumpulkan pada Januari 2025.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Perahu 7,5 Meter untuk Mamalia Laut Terbesar</h2>
<p>Paledang adalah perahu kayu tanpa mesin. Panjangnya 7,5 sampai 15 meter, lebarnya 2 sampai 3 meter, tingginya 1,5 sampai 2 meter. Layarnya dianyam dari daun pandan. Di sisi kiri dan kanan terdapat semacam cadik yang sengaja dibuat tidak menyentuh air: fungsinya menyeimbangkan perahu sekaligus menjadi pijakan kaki para pemburu.</p>
<p>Satu perahu memuat delapan sampai dua belas orang, berusia 16 hingga 55 tahun. Mereka dipimpin seorang lemafa, juru tikam yang juga harus paham cara berlayar. Alat berburunya tempuling — tombak bambu bermata besi — dan tali leo yang mengikat tempuling ke perahu.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/songket-minangkabau-pendidikan-perempuan/">Benang Emas yang Merajut Pendidikan: Kisah Tersembunyi di Balik Songket Minangkabau</a></p>
<p>Perbandingan ukuran itulah yang menurut peneliti melekat pada maknanya. Perahu kecil dan sederhana, tetapi dipakai menghadapi hewan yang jauh lebih besar daripada perahu dan seluruh awaknya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Dibuat Tanpa Satu Pun Paku Logam</h2>
<p>Pembuatan Paledang dipegang kelompok khusus bernama Ata Mola. Gelar itu hanya turun dalam satu garis keluarga, sehingga tiap suku punya satu keluarga keturunan Ata Mola. Pekerjaannya tidak berhenti pada perahu: Ata Mola juga harus menjadi penasihat yang baik bagi sukunya, supaya keluarga tetap damai selama perahu dikerjakan.</p>
<p>Bahannya kayu keppa atau kepapa (Artocarpus sp.) untuk badan perahu dan kayu kena untuk lunas. Pemilihannya didahului ritual permohonan izin kepada leluhur dan penjaga hutan. Konstruksinya sama sekali tidak memakai paku logam, melainkan pasak kayu dan serat tumbuhan sebagai pengikat.</p>
<p>Tiap bagian perahu punya nama dan makna. Lunas dianggap tulang belakang, haluan dipersonifikasikan sebagai kepala yang memimpin perjalanan. Perahu dikerjakan di naje, rumah perahu. Masyarakat percaya pengerjaan yang keliru berbuah buruk bagi desa — perburuan gagal, atau orang di dalam perahu celaka.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Musim Lewa Dibuka di Batu Paus</h2>
<p>Musim berburu bernama Lewa. Rangkaiannya dimulai dari Tobo Nama Fatayang, pertemuan seluruh suku bersama tuan tanah Lamalera untuk membereskan persoalan kampung sebelum melaut. Syaratnya eksplisit: sebelum menjemput berkat di laut, warga harus hidup damai dan saling menyayangi.</p>
<p>Pada 29 atau 30 April digelar ritual ie gerek di Batu Paus, dipimpin tuan tana. Batu di gunung itu diyakini berwujud paus. Setelah doa, ritual berlanjut ke pantai Teluk Lamalera dengan tombak dan gong untuk memanggil ikan. Tanggal 30 April giliran doa arwah bagi laki-laki yang meninggal di laut. Sehari kemudian, 1 Mei, Misa Lewa dipimpin romo secara Katolik — Lamalera termasuk wilayah penyebaran Katolik paling awal di Indonesia oleh Portugis sekitar abad ke-16.</p>
<p>Paus yang boleh diburu adalah paus sperma (<em>Physeter macrocephalus</em>), yang disebut kotelema. Yang terlarang: paus sperma yang sedang hamil, paus yang sedang kawin, dan paus biru. Larangan terakhir bersandar pada mitologi setempat — paus biru diyakini pernah menolong leluhur Lamalera yang celaka di laut.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/nelayan-danau-kerinci-revolusi-biru-desa-jujun/">Dari Dayung ke Mesin, Perubahan Alat Tangkap Nelayan Danau Kerinci Sejak 1970</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Motif yang Baru Berumur Setengah Abad</h2>
<p>Di darat, simbol yang sama berpindah ke tangan perempuan. Menenun di Lamalera adalah pekerjaan perempuan, dan menurut penelitian ini bukan sekadar kegiatan ekonomi sampingan, melainkan cara merekam ulang perburuan itu ke lembar kain.</p>
<p>Yang menarik, motif perahu Paledang justru relatif muda. Para penenun menyebut motif Paledang, paus, dan ikan pari sebagai inovasi yang baru dituangkan ke kain sekitar setengah abad lalu.</p>
<p>"Motif perahu bisa dibilang itu baru, tidak ada dari dulu kayak motif tarumata. Itu nenek kami yang mulai buat waktu itu biar orang lain liat bapa bapa pergi ke laut, mama mama dong pakai," kata Mama Eti, penenun Lamalera, dalam wawancara pada 7 Januari 2025.</p>
<p>Tidak ada catatan tertulis soal tahun kemunculannya. Para penenun hanya menandai bahwa motif itu diperkenalkan pada masa hidup nenek mereka, kira-kira dua generasi sebelum penenun yang ada sekarang.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tuka, Heba, dan Hierarki dalam Selembar Sarung</h2>
<p>Kain tenun Lamalera dibedakan atas jumlah panelnya: Kewatek Nai Rua dengan dua panel simetris untuk keseharian atau upacara biasa, dan Kewatek Nai Telo dengan tiga panel untuk upacara adat penting atau pewarisan.</p>
<p>Panel tengah disebut tuka, berisi motif geometris rumit seperti patola atau taru mata, dan menempati posisi tertinggi sebagai penanda identitas suku, asal-usul, serta status sosial. Dua panel luar bernama heba, tempat motif naratif seperti Paledang, moku (pari atau paus), dan perahu kecil. Di antaranya ada ka&#8217;u atau belapit, pola kecil berupa garis, segitiga, atau pengulangan bentuk yang menjadi batas simbolik antarpanel.</p>
<p>Motif Paledang jarang berdiri sendiri. Ia biasanya dikelilingi paus (koteklema) dan pari (mala), kadang ditambah matahari, bintang, atau motif geometris khas Lamaholot.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/buruh-perempuan-perkebunan-teh-pecconina-baru-solok-selatan/">Buruh Perempuan Pemetik Teh di Solok Selatan dan Mesin yang Datang pada 2021</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Benang Toko dan Harga yang Turun</h2>
<p>Alat tenunnya disebut tenane pola vulo gurokajo, alas kayu sepanjang sekitar satu meter. Ada selaga untuk mengikat benang dan membentuk pola, faniduang untuk merapikan motif, kedaje yang menopang kaki penenun, dan sligu sebagai sandaran tubuh. Dulu rangkaian alat ini ditanam di tanah agar kokoh; kini sudah portabel.</p>
<p>Bahannya juga bergeser. Benang dulu dibuat sendiri dari kapas, kulit kayu, atau sutra. Sekarang benang nilon dan katun mudah dibeli di toko di kota. Para penenun mengakui perubahan itu menurunkan nilai kain — semakin alami bahannya, semakin tinggi harganya. Kain bermotif perahu di Lamalera banyak dibuat dengan benang toko, dan menurut mereka hal itu hanya memengaruhi nilai jual, bukan makna motifnya.</p>
<p>Doa pun tidak selalu menyertai. Menurut Nina Hariona, penenun asli Lamalera, kain yang dibuat dengan doa hanya kain bermotif ata dika — motif manusia yang modelnya berbeda di tiap suku — atau kain untuk anak perempuan yang akan menikah.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kain untuk Belis Balik, Kain untuk yang Berpulang</h2>
<p>Kain bermotif Paledang dipakai sehari-hari sebagai sarung, juga saat ibadah, ritual, pergi ke pasar, dan ketika perempuan menunggu suami mereka pulang melaut di pantai.</p>
<p>Dalam pernikahan, keluarga perempuan memberikan kain itu kepada pihak laki-laki sebagai lambang bahwa laki-laki tersebut yang akan menghidupi anak perempuan mereka lewat perahu dan hasil laut. Peneliti menegaskan hal ini bukan tanda kekerabatan matrilineal: Lamalera tetap patrilineal, dan belis utama tetap datang dari pihak laki-laki berupa babi, kuda, hasil laut, atau barang bernilai tinggi. Kain dari pihak perempuan berstatus belis balik — penghormatan dan penyeimbang adat.</p>
<p>Kain yang sama juga dipakaikan kepada orang yang meninggal, sebagai tanda bahwa identitas Lamalera akan selalu melekat ke mana pun ia pergi.</p>
<p>Di luar laut, ekonomi desa bersandar pada pasar barter sepekan sekali tiap Kamis pagi. Warga pegunungan turun membawa jagung, umbi-umbian, dan pisang; warga pesisir membawa ikan kecil, pari kering, paus, dan lumba-lumba.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Satu Sistem Simbol, Dua Wujud</h2>
<p>Peneliti meringkas temuannya dalam beberapa kalimat. Perahu Paledang dan motif Paledang pada kain tenun adalah dua ekspresi dari sistem simbol yang sama. Perahu menjadi simbol maskulinitas, mobilitas, dan hubungan dengan laut; kain menjadi simbol feminin, pewarisan, dan jaringan sosial. Keduanya hidup dalam ritus, struktur sosial, dan media visual yang menjaga memori kolektif masyarakat Lamalera.</p>
<p>Laki-laki dan perempuan, dalam pembacaan itu, memiliki peran yang saling melengkapi dalam merawat, menampilkan, dan mewariskan identitas budaya mereka. Motif perahu pada kain bukan sekadar hiasan, melainkan proyeksi visual dari makna Paledang dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">268908</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-08-10 21:25:54 by W3 Total Cache
-->