<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Universitas Udayana - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/universitas-udayana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Universitas Udayana - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga</title>
		<link>https://cekricek.id/kulkas-tosca-cerita-kulkas-semiotika/</link>
					<comments>https://cekricek.id/kulkas-tosca-cerita-kulkas-semiotika/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Witrie Monica]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nuansa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Kulkas]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Semiotika]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Udayana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272873</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kulkas-tosca-cerita-kulkas-semiotika/" title="Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pintu kulkas terbuka memperlihatkan botol dan wadah makanan di dalamnya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga 1"></a><p>Kajian semiotika Universitas Udayana membaca kulkas dalam novel Cerita Kulkas sebagai ikon, indeks, dan simbol kehidupan rumah tangga Kafka dan Nagita.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kulkas-tosca-cerita-kulkas-semiotika/" title="Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pintu kulkas terbuka memperlihatkan botol dan wadah makanan di dalamnya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-kulkas-terbuka-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Kulkas tosca itu berdiri di sudut dapur sepasang suami istri, Kafka dan Nagita, dan sejak dinyalakan pertama kali, kebiasaan itu langsung dimulai. &#8220;Begitu kamu menyala, hal pertama yang kamu lakukan adalah mengamati,&#8221; begitu novel Cerita Kulkas menuliskannya, seolah lemari es itu sendiri yang sedang bicara kepada dirinya sendiri. K dan N bolak-balik membawa belanjaan ke dapur, dan N memasukkan makanan serta minuman yang dikeluarkan K dari kantong plastik ke dalam badan kulkas itu, hari demi hari, tanpa ada yang mengumumkannya sebagai ritual.</p>
<p>Adegan sesederhana itu jadi pintu masuk bagi Eirenne Pridari Sinsya Dewi dan Ni Putu Vonny Cahyani, dua peneliti dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, dalam artikel <em>Visualisasi Emosi dalam Novel Cerita Kulkas: Kajian Semiotika</em>, terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026. Keduanya membaca novel karya Shindy Farrahdiba itu bukan sebagai kisah rumah tangga biasa, melainkan sebagai rangkaian tanda visual yang dibaca lewat semiotika Charles Sanders Peirce: ikon, indeks, dan simbol, tiga kategori dengan cara kerja yang berbeda-beda.</p>
<p>Untuk sampai pada pembacaan itu, Eirenne dan Ni Putu menempuh tiga tahap: mengumpulkan kutipan lewat teknik baca-catat sambil membaca novel itu secara intensif, mengklasifikasikan setiap kutipan ke dalam kategori ikon, indeks, atau simbol, lalu menafsirkan makna denotatif dan konotatifnya satu per satu. Setiap tanda, tulis keduanya, dianalisis lewat hubungan triadik antara representasi (bentuk tandanya), objek (apa yang diacunya), dan interpretasi (makna yang dihasilkan) -- kerangka yang membuat benda sesepele kulkas dapur bisa dibaca berlapis-lapis, bukan cuma sebagai latar cerita.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kulkas Tosca</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w.webp" alt="Seseorang membuka pintu kulkas di dapur" class="wp-image-273255" title="Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-membuka-kulkas-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membuka pintu kulkas. Ilustrasi. (Foto: Pexels)</figcaption></figure>
<p>Dari luar, kulkas itu cuma benda fisik berwarna tosca. Tapi dalam bacaan Eirenne dan Ni Putu, warna dan bentuknya bukan hiasan. Kulkas dan isinya, kata mereka, berfungsi sebagai ikon: cerminan langsung kehidupan domestik pasangan itu, karena rutinitas hariannya benar-benar direpresentasikan lewat benda-benda yang keluar masuk dari dalamnya. &#8220;Beruntunglah, kamu kulkas yang pintar. Jadi, saat kamu dapat pemilik yang cerewet seperti N, dengan cepat kamu meng hafal kosa kata yang dia gunakan,&#8221; tulis novel itu, sebuah kalimat yang mengubah lemari es jadi saksi bisu yang ikut menghafal kebiasaan bicara pemiliknya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/perilaku-menyimpang-novel-purple-prose/">Penculikan dan Narkoba dalam Novel Metropop Purple Prose</a></p>
<p>Isi kulkas pun ikut bicara. Makanan, minuman, botol, sisa masakan yang berpindah keluar masuk setiap hari merepresentasikan gaya hidup dan rutinitas kecil sebuah pernikahan, bukan sekadar stok belanjaan. Bahkan tawaran sederhana seperti &#8220;Gimana kalau kita saling ninggalin pesan di kulkas? kita tulis sticky notes apa yang sudah habis dan&#8230;&#8221; sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana ruang dingin berisi makanan itu diam-diam berubah jadi papan komunikasi rumah tangga.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pintu yang Dibanting</h2>
<p>Dari benda, penelitian ini bergeser ke tindakan terhadap benda itu. Suatu hari, karena pesan-pesan N menumpuk di seluruh bagian pintu kulkas tanpa ada balasan dari K, kulkas itu melihat N protes. &#8220;Lalu N keluar dan masuk ke dapur hanya untuk mengeluh di depanmu karena tidak mencicil pekerjaan rumah tangga setiap hari,&#8221; tulis novel itu, adegan yang terulang cukup sering hingga kulkas itu sendiri seperti hafal iramanya. Pintu yang sering dibuka-tutup kasar, tulis Eirenne dan Ni Putu, berfungsi sebagai indeks: penanda langsung dari emosi tokoh, marah, kesal, dan lelah, bukan sekadar bunyi berdebam di dapur. &#8220;K menghela nafas, menyerah saling berhadapan dengan N,&#8221; sementara di baris lain kulkas menyaksikan &#8220;mereka sekarang berdiri di dapur. N menyilangkan lengannya di dada menghadap K yang duduk dengan sebal.&#8221;</p>
<p>Kekacauan fisik dan makanan basi, menurut kedua peneliti, menandakan ketidakharmonisan relasi sebelum tokohnya sendiri mengucapkan sepatah kata pun soal itu. Sebaliknya, ketika kulkas tertata rapi dan terisi teratur, itu mengindeks hubungan yang sedang stabil. &#8220;N setengah berdiri dari bangkunya untuk menutup bibir K deengan telunjuknya. Lalu dia cekikikan sendiri. Dasar genit manusia satu ini,&#8221; tulis novel itu pada momen yang lebih ringan, dan tak lama berselang, &#8220;Kemudian K muncul, masih dengan handuk melingkar di lehernya, membereskan piring kotor semalam tanpa mengeluh.&#8221; Dua adegan kecil itu, dalam kerangka semiotika Peirce yang dipakai penelitian ini, menandakan kerja sama dan komunikasi yang membaik, direkam bukan lewat dialog panjang, melainkan lewat keadaan dapur itu sendiri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Laci Sticky Notes</h2>
<p>Paling dalam, di balik pintu dan isi kulkas, ada laci tempat sticky notes berakhir. Di sinilah kulkas berhenti jadi sekadar benda dan berubah jadi simbol, kata Eirenne dan Ni Putu: ingatan dan saksi perjalanan pernikahan. &#8220;Pagi-pagi sekali N sudah duduk manis disepanmu sambil memegang ponselnya,&#8221; tulis novel itu, seolah kulkas jadi tempat N bersandar sebelum hari dimulai. Ketika hubungan mereka membaik, &#8220;kamu sudah melihat N berpakaian rapi. Dia nafsu sekali mencopot sticky notes yang selama ini dia tempel. &#8230; Tapi, dia menyimpannya di laci.&#8221;</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/nilai-islam-assalamualaikum-beijing/">Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel</a></p>
<p>Sticky notes yang tidak dibuang, hanya dipindah ke laci, itulah yang oleh kedua peneliti dimaknai sebagai simbol tanggung jawab dalam pernikahan. Simbol yang sama muncul dari adegan lain: &#8220;K menyadari pintumu bersih. Lalu mengaduh sendiri,&#8221; tulis novel itu, tepat sebelum keluhan N terlontar, &#8220;Tapi kamu pilih-pilih. Cerita temanmulah, apalah yang gak penting. Tapi nggak pernah soal kamu.&#8221; Aktivitas menyimpan dan membersihkan kulkas, tulis Eirenne dan Ni Putu, menjadi simbol komitmen yang dijalankan lewat tindakan domestik, bukan lewat kata-kata yang diucapkan langsung satu sama lain.</p>
<p>Sikap kulkas yang selalu &#8220;diam&#8221; -- tidak pernah membalas protes N, tidak pernah ikut campur pertengkaran K dan N -- dibaca sebagai simbol kesabaran dan daya tahan menghadapi dinamika emosional pasangan itu. &#8220;Tiba-tiba K muncul dan meringis sambil memunguti potongan kaos yang ada di lantai dan bak cuci piring,&#8221; sementara di baris lain N justru menagih, &#8220;Terus apa bedanya sama sekarang? kamu diem-diem aja,tau- tau temenmu dipecat, nilai review-mu turun.&#8221; Kulkas yang diam itu tidak menjawab tuduhan itu, sebagaimana ia tidak pernah menjawab apa pun sepanjang cerita, dan justru dari situlah kesabarannya dibaca. &#8220;Kulkas sebagai objek utama dalam novel berfungsi tidak hanya sebagai ikon kehidupan domestik, tetapi juga sebagai indeks kondisi psikologis tokoh dan simbol memori, kesepian, serta kesabaran,&#8221; tulis Eirenne Pridari Sinsya Dewi dan Ni Putu Vonny Cahyani dalam simpulan penelitian mereka.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kembali ke Sudut Dapur</h2>
<p>Kedua peneliti sendiri menggarisbawahi batas bacaan mereka. Pendekatan yang mereka pakai, tulis keduanya, bertujuan memahami dan menafsirkan makna secara mendalam dan kontekstual berdasarkan data yang bersifat naratif, &#8220;bukan untuk menguji hipotesis atau melakukan pengukuran secara kuantitatif.&#8221; Artinya, pembacaan kulkas sebagai ikon, indeks, dan simbol dalam novel ini tetap satu tafsir yang terbuka untuk dibaca ulang oleh orang lain, bukan kesimpulan tunggal yang sudah teruji dan tertutup untuk diperdebatkan. Yang bisa dipastikan dari pembacaan itu, tulis Eirenne dan Ni Putu, hanya bahwa perubahan kondisi kulkas dan cara tokoh berinteraksi dengannya menunjukkan hubungan sebab-akibat yang mencerminkan dinamika emosi dan keharmonisan rumah tangga, bukan mengarang emosi yang tidak ada jejaknya di teks.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/dear-me-beauty-model-pria-gender/">Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik</a></p>
<p>Novel yang jadi sumber semua adegan ini, Cerita Kulkas karya Shindy Farrahdiba, terbit di Jakarta lewat penerbit Mediakita pada 2019, jauh sebelum Eirenne dan Ni Putu membacanya ulang lewat kerangka triadik Peirce enam tahun kemudian. Yang berubah bukan teksnya, melainkan cara membacanya: dari sekadar kisah rumah tangga jadi rangkaian tanda yang, kata kedua peneliti, berfungsi sebagai medium penyampai makna emosional, kritik sosial, dan kondisi psikologis tokoh lewat simbolisasi benda-benda rumah tangga yang sehari-hari terasa remeh.</p>
<p>Kulkas tosca itu tidak pernah pindah dari sudut dapurnya sepanjang cerita. Ia hanya menyala, menyimpan, mendengar pintunya dibanting lalu ditutup pelan-pelan lagi, dan sesekali menampung sticky notes yang berpindah dari pintu ke laci. Tidak ada satu kalimat pun dalam novel itu yang secara terang-terangan bicara soal kesepian atau kesabaran sebuah pernikahan. Kulkas itu hanya berdiri di sana, menyala, dan mengamati.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/kulkas-tosca-cerita-kulkas-semiotika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
