Cekricek.id — Sedikitnya tujuh orang tewas dalam penembakan di sebuah sekolah menengah di Provinsi Nonthaburi, pinggiran utara Bangkok, Thailand, pada Jumat (7/8/2026). Pelakunya seorang siswa berusia 14 tahun yang lebih dulu menembak kakek dan neneknya di rumah sebelum melanjutkan serangan ke sekolahnya sendiri.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan belasungkawa tak lama setelah peristiwa itu.
“Ini mengerikan, sampai hal seperti ini terjadi,” kata Anutin, Jumat (7/8/2026). “Saya sedih untuk mereka yang meninggal, dan sedih hal semacam ini terjadi di negara kita.”
Mengutip laporan The Express Tribune, Jumat (7/8/2026), dua korban tewas di rumah pelaku dan lima lainnya di lingkungan sekolah. Sebanyak 23 orang mengalami luka-luka, sembilan di antaranya dalam kondisi kritis.
Serangan terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Distrik Bang Kruai. Seperti dikutip dari Al Jazeera, sekolah tersebut menampung sekitar 3.100 murid dan 147 guru pada tahun ajaran 2025. CNN menyebut peristiwa ini sebagai penembakan sekolah paling mematikan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir.
Kesaksian murid di dalam sekolah
Seorang murid berusia 18 tahun yang berada di lokasi menuturkan suasana saat tembakan pertama terdengar. Ia mengaku sempat tidak menyadari apa yang terjadi.
“Awalnya saya tidak mengira itu suara senjata,” ujarnya. “Ada banyak tembakan: dor, dor, dor. Lalu senyap. Lalu mulai lagi.”
Murid-murid berhamburan keluar kelas begitu menyadari ada penembakan. NPR melaporkan sebagian luka yang tercatat bukan akibat peluru, melainkan karena korban terjatuh saat menyelamatkan diri.
Dari rumah ke ruang kelas
Remaja itu tinggal bersama kakek dan neneknya. Ia menembak keduanya di rumah, lalu bergerak ke sekolah dan melepaskan tembakan di dalam lingkungan sekolah.
Juru bicara Kepolisian Kerajaan Thailand, Trairong Piwpan, menyatakan senjata yang dipakai diambil dari anggota keluarga pelaku dan motif serangan masih diselidiki, seperti dikutip dari NPR, Jumat (7/8/2026).
Masih mengutip NPR, Wakil Menteri Dalam Negeri Polapee Suwunchwee menyampaikan bahwa lima guru tewas dalam serangan tersebut. Serangan berlangsung singkat sebelum aparat mengamankan gedung sekolah. Pelaku mengakhiri serangan dengan melukai dirinya sendiri.
Angka korban masih berubah
Hingga Jumat malam waktu Bangkok, angka korban yang beredar belum seragam. The Express Tribune menyebut tujuh korban tewas, terdiri atas dua orang di rumah pelaku dan lima orang di sekolah yang seluruhnya guru dan staf.
Sementara itu, Open The Magazine melaporkan enam korban tewas di sekolah dengan rincian tiga guru dan tiga murid, sehingga total menjadi delapan orang termasuk pelaku. Laporan awal Al Jazeera bahkan hanya menyebut satu korban tewas dan empat orang terluka, angka yang terus bertambah seiring masuknya keterangan resmi.
Menteri Kesehatan Thailand Pattana Promphat termasuk pejabat yang menyampaikan perkembangan jumlah korban, seperti dikutip dari NPR. Otoritas Thailand belum merilis nama-nama korban. Open The Magazine menyebut sebagian besar korban berusia antara 12 hingga 17 tahun.
Senjata milik kakek
Fakta bahwa seorang anak 14 tahun bisa mengambil senjata api dari dalam rumahnya sendiri menjadi sorotan utama di Thailand. Mengutip The Express Tribune, pelaku menggunakan pistol milik kakeknya dan melepaskan sedikitnya 26 peluru. Petugas juga menemukan 34 butir amunisi lain.
Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api sipil tertinggi di Asia Tenggara. Open The Magazine mencatat terdapat sekitar 10,3 juta pucuk senjata api di tangan warga sipil, atau kira-kira 15 pucuk untuk setiap 100 penduduk.
Secara hukum, aturan Thailand sebenarnya ketat. Seperti dikutip dari Al Jazeera, kepemilikan senjata api ilegal diancam hukuman hingga 10 tahun penjara. Pemerintah juga mewajibkan pemeriksaan kesehatan sebagai syarat pembelian dan perpanjangan izin senjata.
Persoalannya bukan pada ketiadaan aturan, melainkan pada jumlah senjata yang sudah beredar dan bagaimana senjata itu disimpan di rumah. Pola ini berulang di banyak negara. Di Amerika Serikat, misalnya, lebih dari 4.000 anak tewas setiap tahun akibat senjata api.
Bukan yang pertama di Thailand
Thailand telah beberapa kali diguncang penembakan massal dalam satu dekade terakhir. Seperti dikutip dari Al Jazeera, pada Oktober 2022 seorang mantan anggota kepolisian menyerang tempat penitipan anak di Provinsi Nong Bua Lamphu dan menewaskan puluhan orang, sebagian besar anak-anak balita.
Al Jazeera juga mencatat penembakan pada Februari 2026 di Distrik Hat Yai yang menewaskan seorang guru dan melukai seorang murid. Open The Magazine menambahkan, penembakan pernah pula terjadi di sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok pada 2023. Serangan Jumat ini merupakan insiden penembakan di lingkungan sekolah kedua di Thailand sepanjang 2026.
Di luar Thailand, penembakan di lingkungan pendidikan juga terjadi di negara-negara yang selama ini dianggap aman. Pada 2023, sebuah penembakan di Rotterdam, Belanda, menewaskan tiga orang. Pola serupa muncul di ruang publik lain, seperti penembakan saat perayaan Super Bowl di Kansas City yang melukai lebih dari 20 orang.
Janji aturan baru
Anutin menyatakan pemerintahnya akan mendorong undang-undang pengendalian senjata api yang lebih ketat, serta menjanjikan bantuan bagi korban dan keluarga.
Janji pengetatan serupa pernah disampaikan setelah tragedi Nong Bua Lamphu 2022. Sebagian ditepati lewat kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi pemohon izin. Namun jutaan senjata yang sudah berada di rumah-rumah warga tetap berada di luar jangkauan aturan pembelian.
Pihak berwenang Thailand belum mengumumkan identitas pelaku maupun para korban. Penyelidikan atas motif masih berlangsung.

















