Dosen Unand Gagas Penguatan Layanan Kesehatan Primer Berbasis Masyarakat di ICHS 2026

A A

Peserta The 4th International Conference on Health Sciences (ICHS) 2026 di Jakarta, 6-7 Agustus 2026. [Foto: Dok. Universitas Andalas]

Cekricek.id — Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Yulizawati, SST., M.Keb., memaparkan gagasan penguatan layanan kesehatan primer berbasis pemberdayaan masyarakat pada forum ilmiah internasional di Jakarta.

Dalam presentasinya, Yulizawati menekankan bahwa mutu layanan kesehatan dasar tidak hanya ditentukan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, persoalan kesehatan dasar kerap berakar pada perilaku dan pengetahuan keluarga, bukan semata ketersediaan fasilitas.

Dikutip dari laman resmi Universitas Andalas, unand.ac.id, Jumat (7/8/2026), Yulizawati tampil dalam International Conference on Health Sciences (ICHS) 2026 yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 6–7 Agustus 2026.

Konferensi tahun ini mengusung tema “Health Technology Innovation, Religiosity, and Multisectoral Collaboration: Advancing Equity and Sustainability toward the SDGs”.

Riset lapangan di Padang

Masih mengutip unand.ac.id, riset yang dipresentasikan berjudul “Strengthening Primary Health Care Through Community Empowerment and Cross-Sector Collaboration: A Community Engagement Initiative in Padang, Indonesia”.

Program tersebut dijalankan langsung di tengah masyarakat Kota Padang dengan menggandeng pemerintah daerah, puskesmas, kader kesehatan, dan organisasi kemasyarakatan.

Penguatan layanan kesehatan primer memang tengah menjadi perhatian nasional. Kementerian Kesehatan menempatkan layanan rumah sakit dan puskesmas sebagai fokus anggaran 2026 dengan alokasi mencapai Rp128 triliun.

Dari edukasi hingga kunjungan rumah

Sebagaimana dilaporkan unand.ac.id, program pengabdian masyarakat itu memadukan empat pendekatan: edukasi kesehatan, pelayanan terpadu, kunjungan rumah, dan kemitraan lintas sektor.

Hasilnya, pengetahuan masyarakat meningkat pada tiga hal, yakni pemanfaatan layanan kesehatan dasar, keluarga berencana, serta pemantauan tumbuh kembang anak.

Pendekatan berbasis data dan komunitas juga terbukti menentukan pada program kesehatan lain di Sumatera Barat. Di Padang, keakuratan data disebut sebagai kunci sukses program Makan Bergizi Gratis, sementara di Kabupaten Solok program serupa telah menyasar siswa sekolah menengah pertama.

Didanai LPDP lewat Program EQUITY

Kegiatan ini didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program EQUITY dengan nomor kontrak 4304/B3/DT.03.08/2025, seperti dikutip dari unand.ac.id.

Model yang bisa direplikasi

Unand menyebut model intervensi ini berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa untuk memperkuat layanan kesehatan primer yang berorientasi pada masyarakat.

Kehadiran Yulizawati pada forum internasional tersebut sekaligus memperkuat posisi Universitas Andalas dalam kolaborasi riset kesehatan lintas perguruan tinggi di Indonesia.

Bagikan

Baca Juga

Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara