Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod

Ilustrasi perekaman prasasti dengan kamera. Fotogrametri dipakai membaca sisi lapik arca Ganesa yang selama ini terlewat. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Satu sisi batu itu tidak pernah dibaca siapa pun. Ketika Machi Suhadi mendokumentasikan lapik arca Ganesa koleksi Museum Penataran, Blitar, pada 1996 dan 1997, sisi kanan balok batu tersebut ia lewati begitu saja karena huruf-hurufnya sudah terlalu aus. Hampir tiga dasawarsa kemudian, sisi yang dilewati itu ternyata menyimpan bagian yang paling menentukan: kalimat penutup prasasti. Di baris ketujuh terbaca /huwus sang hyang prasasti/ yang berarti berakhirlah sang hyang prasasti — penanda bahwa tidak ada lagi berita yang perlu disampaikan sesudahnya.

Pembacaan ulang itu dikerjakan Goenawan A. Sambodo dari Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Jawa Tengah dan dipaparkan lewat artikel Melengkapi Pembacaan Lapik Arca Ganesa Berprasasti di Museum Penataran Blitar dengan metode Fotogrametri, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara Vol. 2 No. 2 pada 2024. Alatnya bukan pahat, bukan kertas, bukan pula arang gosok, melainkan kamera dan komputer.

Objeknya adalah lapik arca bernomor inventaris XV/74, sebuah balok batu persegi setinggi 28,5 sentimeter, panjang 65 sentimeter, dan tebal 45 sentimeter. Keempat sisinya dipahati prasasti, masing-masing enam baris menurut laporan terdahulu. Lapik ini merupakan alas dari arca Ganesa, dewa berwujud manusia berkepala gajah, yang punggungnya sudah lebih dulu terkenal karena memuat Prasasti Kinewu. Prasasti Kinewu sendiri telah dibaca dan dialihaksarakan Brandes pada 1913, sedangkan prasasti pada lapiknya baru disentuh Machi Suhadi pada 1997 dan sejak itu tidak pernah ditengok lagi.

Sengketa Pajak yang Berumur Seribu Tahun

Isi Prasasti Kinewu berkisah tentang keluhan yang sangat membumi. Penduduk Desa Kinwu merasa keberatan atas beban pajak yang telah ditetapkan pangurang, lalu mengajukan permohonan agar luas tanah garapan mereka ditambah. Usul itu semula disampaikan kepada rakai Randaman karena Wanua Kinwu berada di bawah kekuasaannya. Sebelum usul diterima, rakai Randaman meninggal. Penduduk desa tidak menyerah; mereka mengajukan permohonan itu langsung kepada Raja Balitung melalui Samgat Momahumah Pamrata dan Prataya i Randaman. Permohonan dikabulkan, dan peristiwa itu diabadikan dalam prasasti bertanggal 12 suklapaksa bulan Marggasira tahun 829 Saka.

Asal-usul benda ini sempat kabur. Pengantar dalam laporan lama menyebut asal prasasti Kinewu tidak diketahui dan pertama kali dikenali ketika sudah menjadi koleksi Bupati Blitar serta ditempatkan di pendopo kabupaten. Penelitian belakangan mencatat lapik arca berasal dari Dukuh Klampok, Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Nasib benda semacam ini memang berpindah-pindah sebelum akhirnya berstatus benda cagar budaya dan masuk daftar koleksi museum.

Kamera, Bukan Cetakan Kertas

Cara lama membaca prasasti punya risiko yang jarang dibicarakan. Membuat cetakan kertas basah alias abklats, menjiplak aksara menjadi faksimile, atau menggosok permukaan batu dengan arsiran, semuanya menuntut sentuhan langsung. Pada batu yang sudah lapuk, sentuhan itu bisa melepaskan material sehingga bekas pahatan justru rusak dan pembacaan menjadi makin kacau. Fotogrametri menawarkan jalan lain: informasi diambil dari foto, tanpa menyentuh benda sama sekali.

Prinsipnya menyerupai cara mata manusia bekerja. Bila satu objek terekam dalam sekurang-kurangnya dua gambar dari sudut pandang berbeda, selisih sudut itu memungkinkan penarikan informasi tiga dimensi. Pemotretan dilakukan dengan kamera refleks komersial Canon EOS M6 beresolusi 24 megapiksel, mengikuti prinsip standar tumpang susun antargambar. Foto-foto itu diolah dengan perangkat lunak Agisoft Metashape menjadi model tiga dimensi, memakai komputer berprosesor AMD Ryzen 9 dengan RAM 32 gigabita dan kartu grafis Nvidia GeForce RTX 3070. Model yang terbentuk kemudian dipindahkan ke berkas OBJ dan diolah lagi dengan MeshLab, perangkat lunak sumber terbuka.

Pada tahap terakhir inilah huruf yang nyaris rata dengan permukaan batu dimunculkan. Teknik yang dipakai bernama radiance scaling, yakni memodifikasi intensitas cahaya yang dipantulkan berdasarkan kelengkungan permukaan sehingga cekungan dan cembungan menjadi lebih tegas. Penulisnya mencoba dua pilihan, Lambertian Radiance Scaling yang menyorot rongga dengan warna abu-abu dan Lit Sphere Radiance Scaling yang umumnya memberi hasil lebih baik, lalu membandingkan keduanya sisi demi sisi. Ketika keduanya masih kurang, ia menambahkan pewarnaan mesh. Pendekatan serupa mulai lazim dipakai untuk membongkar informasi tersembunyi pada benda kuno yang tak terbaca oleh mata telanjang.

Pertanyaan yang wajar muncul: mengapa prasasti yang sudah pernah dibaca perlu dibaca lagi. Menurut penulisnya, pembacaan ulang memang sering tidak menambah keterangan isi, kecuali bila pembacaan sebelumnya hanya menyasar bagian tertentu, misalnya penanggalannya saja. Namun pembacaan ulang hampir selalu memberi informasi yang lebih lengkap tentang kondisi fisik prasasti sekaligus isinya. Ia juga mengutip prinsip lama dalam epigrafi Indonesia bahwa kajian tidak terbatas pada prasasti yang belum diterbitkan, tetapi juga mencakup prasasti yang telanjur diterbitkan dalam transkripsi sementara. Persoalannya, pembacaan ulang kerap mustahil bila kondisi batu tidak berubah sejak pembacaan pertama, dan di titik itulah alat digital menawarkan jalan keluar.

Nama-Nama yang Muncul dari Batu Aus

Hasilnya bukan berupa cerita baru, melainkan tambalan pada bacaan lama, kata demi kata. Frasa yang dulu dibaca sebagai lang i tanah baguwak kini terbaca sama tanah maguwak. Bagian yang dibaca i sumung berubah menjadi wka sujung. Nama tempat luDadan ternyata huDadan. Dua kata yang dulu dipisah, rama marata, kini terbaca menyatu sebagai ramarata. Sejumlah aksara yang dahulu ditandai tidak terbaca kini bisa dimunculkan, meski tidak sedikit pula yang tetap kosong.

Yang paling terasa hasilnya adalah sisi kiri, tempat tertulis daftar jabatan desa lengkap dengan nama pemangkunya: winkas bernama sang malabwas, gusti bernama sang kudya, warigga bernama si gatuk, parujar bernama si kungak, mapkan bernama si catur, dan tuha buru bernama si balikuh. Nama-nama itu pada mulanya hanya deretan cerukan dangkal pada batu berumur lebih dari seribu tahun.

Satu bukti kunci ikut terangkat. Kata i kinwu, yang berarti di Kinwu, muncul setidaknya tiga kali pada lapik, ditambah nama tetua atau rama di Kinwu yang bernama bujang. Kemunculan itu menegaskan bahwa lapik dan arca memang satu kesatuan objek. Perubahan penyebutan dari kinwu menjadi kinewu, kata penulisnya, adalah gejala anaptiksis, yaitu penambahan satu bunyi di antara dua fonem untuk melancarkan ucapan, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai suara bakti.

Prasasti yang Dibaca dari Belakang

Rekonstruksi digital dengan menggabungkan dua model tiga dimensi — lapik dan punggung arca — memperlihatkan urutan membaca yang tidak biasa. Teks bermula di bagian akhir prasasti pada punggung arca Ganesa, berlanjut ke sisi depan lapik, lalu sisi kiri, dan berakhir di sisi kanan dengan kalimat penutup itu tadi. Isinya khas bagian akhir prasasti: daftar nama hadirin, desa asal mereka, serta pekerja yang tidak boleh memasuki tanah sima.

Tidak semuanya berhasil. Sisi atas lapik hanya menyisakan dua baris dengan potongan suku kata yang berjauhan, dan penulisnya memutuskan tidak melakukan alih bahasa sama sekali karena terlalu banyak bagian yang hilang sehingga artinya tak diketahui. Pada sisi kanan, alih bahasa pun ia beri catatan bahwa hasilnya tidak dapat dikerjakan dengan baik. Kejujuran semacam ini penting, sebab teks yang hilang tidak bisa dipulihkan hanya dengan alat yang lebih canggih, sebagaimana pengalaman membaca naskah kuno yang tinggal berupa serpihan.

Batas Alat dan Sebuah Usulan untuk Museum

Penulisnya tidak menjual metodenya sebagai obat mujarab. “Teknologi digital memiliki kelemahan ketika menemui huruf dengan tingkat keausan yang tinggi, sehingga tidak terbaca sama sekali,” tulisnya. Ia juga mengingatkan bahwa mutu hasil sangat bergantung pada tahap paling awal: “Teknik pengambilan foto yang kurang tepat akan menghasilkan hasil pemodelan 3D yang juga tidak sempurna.”

Soal seberapa besar sumbangan pembacaan ini, ia menakarnya sendiri dengan hati-hati. “Hasil pembacaan ulang dari prasasti Kinewu yang dilakukan melalui teknik fotogrametri tidak mengubah, mengurangi, atau menambah inti dari isi prasasti Kinewu yang telah dibaca oleh ahli epigrafi sebelumnya,” tulisnya. Yang bertambah adalah kelengkapan, bukan pokok beritanya. Ia menyarankan teknik yang sama dicoba pada prasasti lain, terutama pada bagian sambandha, karena keterbatasan keterbacaan saat pembacaan pertama sangat mungkin terjadi pada banyak prasasti.

Ada satu usulan praktis yang ia sampaikan kepada pengelola Museum Penataran. Saat ini lapik arca disimpan di ruang penyimpanan koleksi, sedangkan arca Ganesa dipajang di ruang pamer gedung utama, padahal keduanya satu benda dan satu teks. Kendalanya teknis: bagian dasar arca Ganesa tidak rata sehingga perlu cara khusus agar bisa berdiri seimbang di atas lapiknya. Sebagai contoh penataan, ia menunjuk penempatan arca Surya di museum yang sama, yang sandarannya memuat pahatan figur laki-laki. Sementara itu, di Desa Jiwut, tempat lapik itu berasal, warga setempat masih mempercayai desa mereka sebagai petilasan Ken Angrok, dan laporan lama dari awal abad ke-20 mencatat adanya temuan saluran air berornamen, makara, serta umpak dari batu andesit di sana.

Baca Juga

Ilustrasi ruang tamu rumah kayu tradisional dengan jendela menghadap perbukitan
Trailer Ngeri-Ngeri Sedap Beredar Lewat Grup WhatsApp Marga Batak
Ilustrasi rahang bergigi di meja laboratorium bersanding dengan mikroskop
Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
Ilustrasi jalan kota pada malam hari dengan lampu kekuningan dan garis cahaya kendaraan
Relawan Info Cegatan Jogja Baru Turun Setelah Bengkel Tutup
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Punggung Google Pixel 11 Pro warna oranye muda dengan bilah kamera hitam
Google Rilis Pixel 11 dengan Tensor G6 dan Zoom 120 Kali
Jensen Huang dan Kwang Mo Koo berjabat tangan di markas Nvidia, Santa Clara
LG Gandeng Nvidia Bangun Robot Humanoid dan Pusat Data AI