- Serangan udara Rusia menewaskan sedikitnya 15 orang di Zaporizhzhia, menurut kantor kejaksaan Ukraina.
- Zelenskyy menyebut Rusia menjatuhkan lima bom luncur ke gedung permukiman di kota itu.
- Pejabat AS, Ukraina, dan Eropa bertemu di Miami sehari sebelumnya untuk membahas proposal mengakhiri perang.
- Menlu AS Marco Rubio menyebut perang berada dalam kebuntuan yang berbahaya.
Cekricek.id — Serangan udara Rusia di Zaporizhzhia menewaskan sedikitnya 15 orang di kota di tenggara Ukraina itu pada Sabtu (10/10), menurut kantor kejaksaan Ukraina.
Serangan itu terjadi sehari setelah pejabat Amerika Serikat, Ukraina, dan Eropa bertemu di Miami, Florida, untuk membahas proposal mengakhiri perang Rusia-Ukraina, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Sabtu (10/10/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengaitkan serangan itu dengan pencabutan sanksi ekspor solar Rusia.
“Hari ini, Rusia menyampaikan terima kasihnya atas pencabutan sanksi ekspor solar dengan menjatuhkan lima bom luncur ke gedung-gedung permukiman di Zaporizhzhia,” tulis Zelenskyy di media sosial. Menurut dia, tim penyelamat masih mencari orang-orang di bawah reruntuhan.
Koresponden Al Jazeera di Kyiv, Audrey MacAlpine, melaporkan serangan siang hari makin sering terjadi di Ukraina. Pekan ini, sebuah bom luncur menghantam halte bus dan menewaskan 30 orang.
AS, Ukraina, dan Eropa Bahas Proposal Damai di Miami
Utusan AS Steve Witkoff mengatakan pertemuan di Miami pada Jumat menghasilkan “diskusi yang konstruktif” tentang kemungkinan jalan untuk meredakan dan mengakhiri perang dengan Rusia sebelum musim dingin. Ia menyebut pertemuan itu melibatkan E3, Komisi Eropa, Ukraina, dan NATO.
Menurut Witkoff, pembicaraan mencakup ketahanan energi, ekspor gandum, jaminan keamanan, serta pengaturan jangka panjang untuk keamanan Ukraina dan Eropa. Pertemuan itu juga membahas pembangunan kembali Ukraina pascaperang, termasuk aksesi ke Uni Eropa.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis mengatakan perang Rusia-Ukraina telah mencapai kebuntuan yang berbahaya, dan kegagalan mencapai penyelesaian lewat perundingan meningkatkan risiko eskalasi.
“Cara lain kebuntuan berakhir adalah melalui eskalasi,” kata Rubio, seraya memperingatkan konflik itu bisa meluas ke negara-negara NATO yang bertetangga.















