<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Bacan - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/bacan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Bacan - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan</title>
		<link>https://cekricek.id/empat-gunung-maluku-utara-bacan-ternate/</link>
					<comments>https://cekricek.id/empat-gunung-maluku-utara-bacan-ternate/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Maharani]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Bacan]]></category>
		<category><![CDATA[Maluku Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272874</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/empat-gunung-maluku-utara-bacan-ternate/" title="Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Gunung Gamalama di Pulau Ternate dilihat dari laut" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan 1"></a><p>Widjayengrono menghitung ulang angka-angka dalam catatan Prof. A. B. Lapian tentang Bacan, Ternate, Tidore, dan Jailolo di awal sejarah Maluku Utara.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/maharani/">Maharani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/empat-gunung-maluku-utara-bacan-ternate/" title="Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Gunung Gamalama di Pulau Ternate dilihat dari laut" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-ternate-maluku-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Tiga puluh tahun. Itu jarak waktu yang disebut sendiri oleh Prof. A. B. Lapian ketika ia mulai meneliti Maluku Utara, sebuah wilayah yang saat itu nyaris kosong dari catatan sejarah akademik. Ia menulisnya dalam artikel Batjan and the Early North Maluku History, terbit dalam buku Halmahera and Beyond, Social Science Research in the Moluccas suntingan L. E. Visser, KITLV, Leiden, 1994, di halaman 11 sampai 20.</p>
<p>Pheres Sunu Widjayengrono dari Universitas Khairun menuliskan tanggapan atas artikel itu, berjudul Catatan Kritis Mengenai Uraian Maluku Utara, dimuat Jurnal Pusaka Volume 4 Nomor 1 tahun 2024. Ia tidak menulis untuk membantah Lapian. Ia menulis untuk menghitung ulang, angka demi angka, tahun demi tahun, apa yang bisa dipertahankan dari tulisan perintis itu.</p>
<p>Prof. Lapian sendiri menulis, dalam kutipan yang dipertahankan Widjayengrono: &#8220;Sekitar 30 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali memasuki lapangan penelitian kesejarahan, perhatian saya ditujukan pada area yang kini disebut Maluku Utara.&#8221; Satu-satunya rujukan akademik yang ia miliki saat itu adalah disertasi linguistik. Satu-satunya buku pembanding adalah karya Katoppo tahun 1957 tentang Pangeran Nuku.</p>
<h2 class="wp-block-heading">1365: Nagarakertagama Menyebut Maluku</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w.webp" alt="Pulau Maitara dan Pulau Tidore dilihat dari kejauhan" class="wp-image-273253" title="Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-maitara-tidore-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pulau Maitara dan Pulau Tidore, Maluku Utara. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Angka pertama yang bisa dipegang adalah 1365, tahun ketika Mpu Prapanca menulis Nagarakertagama. Di situlah nama Maluku pertama kali tercatat, disamakan editor pertamanya, N. J. Krom, dengan Ternate. Namun satu nama tidak sama dengan satu kerajaan. Sejarawan lain, Pigeaud, mengulangi identifikasi yang sama pada 1962, hampir enam abad sesudahnya.</p>
<p>Sejak abad ke-7 hingga abad ke-8 masehi, jauh sebelum Nagarakertagama ditulis, orang Bacan sudah tercatat berdagang cengkeh sambil menempati Pulau Makian, asal tanaman itu menurut tradisi lokal. Mereka berbicara dialek Melayu, namun belum jelas apakah itu hasil migrasi orang Melayu dari barat kepulauan, atau sekadar bahasa yang mereka adopsi mengikuti jalur perdagangan rempah.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Empat Gunung, Dua Rumpun Bahasa</h2>
<p>Empat adalah angka yang mengorganisasi seluruh Maluku Utara: Maluku Kie Raha, empat gunung, terdiri dari Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Namun di balik angka empat itu tersembunyi angka dua yang lebih janggal. Bahasa Ternate, Tidore, dan Jailolo berasal dari rumpun non-Austronesia. Bahasa Bacan justru Austronesia, serumpun dengan Melayu di Selat Malaka.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/">Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706</a></p>
<p>Lapian menyebut fakta ini mengherankan. Empat kerajaan menyatakan diri satu kesatuan etnis, padahal dua rumpun bahasa mereka berbeda total. Ia menyimpulkan, seperti dikutip Widjayengrono, bahwa penyatuan politik mendahului penyatuan bahasa, bukan sebaliknya, sebuah urutan yang membalik logika yang biasa dipakai untuk membaca sejarah kerajaan kuno.</p>
<p>Penelitian Collins pada 1982 menemukan bahwa dialek Melayu Bacan justru lebih dekat dengan Melayu di Selat Malaka dan pesisir utara Borneo, dibanding Melayu Ternate yang jaraknya lebih pendek. Temuan ini ditopang prasasti abad ke-10 dari Laguna de Bay di Luzon, Filipina, berhuruf Kawi berbahasa Melayu Tua, bukti bahwa dunia berbahasa Melayu sudah menjangkau sejauh itu, delapan abad sebelum catatan Portugis pertama tentang Bacan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">1544: Mitos Empat Telur Naga</h2>
<p>1544 adalah tahun Portugis mencatat mitos tentang empat telur naga, cikal bakal empat raja Maluku Utara. Satu versi menyebut tujuh anak dari Sri Maha Radja Bacan, lima laki-laki dan dua perempuan, tersapu badai di Kasiruta. Hanya anak tertua yang bertahan dan menggantikan takhta ayahnya.</p>
<p>Dua saudara laki-laki lainnya, menurut mitos itu, muncul di Papua sebagai raja Misool dan raja Waigeu. Satu lagi menjadi penguasa Banggai. Yang keempat menjadi raja Loloda di Halmahera. Angka tujuh anak dalam mitos ini, tulis Widjayengrono, mengherankan karena justru menjelaskan jangkauan pengaruh Bacan yang sebenarnya, dari Seram di selatan sampai Raja Ampat di timur.</p>
<h2 class="wp-block-heading">1577: Raja Bacan Dibunuh Ternate</h2>
<p>Tujuh belas tahun sebelum tahun itu, tepatnya 1557, Raja Bacan menerima baptis Katolik dan mengambil nama Dom Joao, sebagai upaya memulihkan wibawanya dengan bantuan Portugis. Ia kembali memeluk Islam ketika Ternate menekannya. Pada 1577, Raja Baabullah dari Ternate membunuhnya, sebuah angka tahun yang menandai berakhirnya posisi Bacan sebagai kekuatan setara Ternate dan Tidore.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/migrasi-orang-tobelo-abad-19/">Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi</a></p>
<p>Anaknya, bernama baptis Dom Henrique, memilih jalan berbeda: memeluk Islam secara taat namun bersekutu dengan Portugis melawan Ternate. Widjayengrono mencatat ini sebagai indikasi lain bahwa Bacan, sejak akhir abad ke-16, sudah tidak lagi menerima posisinya sebagai kerajaan kelas dua di Maluku Kie Raha.</p>
<p>Satu peristiwa lain memperkuat gambaran ini. Pada 1581 sampai 1582, pelaut Miguel Roxo de Brito berlayar dari Bacan menuju Raja Ampat, termasuk Misool dan Waigeu, membawa dua perahu milik bawahan raja Bacan. Rute itu membuktikan pengaruh Bacan atas timur jauh masih hidup, seratusan tahun setelah mitos telur naga pertama kali dicatat.</p>
<p>Bukti lain datang dari 24 Desember 1610, ketika pejabat VOC Adriaen van der Dussen menulis kepada Ketujuhbelas Tuan-tuan di Belanda bahwa Papua terbagi tiga kerajaan, Waigeu, Misool, dan Waigama, dan ketiganya adalah bawahan raja Bacan yang gemar merampok pesisir Seram untuk emas dan budak. Hampir lima puluh tahun sebelumnya, pada Oktober 1563, Raja Bacan bahkan berlayar sendiri ke Ambon untuk menarik pulang rakyatnya dari Seram.</p>
<p>Loloda, kerajaan pertama Halmahera Utara yang tercatat sebagai kekuatan politik, hidup lebih singkat dari Bacan. Sebuah surat Yesuit bertanggal 19 November 1566 menyebutnya sekadar hum reizenho, seorang raja kecil, meski dahulu pernah berkuasa. Pukulan terakhir datang pada 1607 atau 1608, ketika pasukan Spanyol menghancurkan Loloda bersama beberapa tempat lain di Halmahera utara.</p>
<p>Kerajaan Moro bernasib serupa. Ia eksis pada abad ke-16 di timur laut Halmahera, sempat dikunjungi misionaris Fransiskus Xaverius, namun nyaris tidak ada yang diketahui tentang struktur sosial atau asal-usulnya. Menjelang akhir abad itu, kekuatan Muslim Jailolo mengalahkannya, dan kini nama Moro hanya bertahan sebagai nama satu pulau, Morotai. Satu-satunya jejak lain yang tersisa adalah sebutan Batucina de Moro dalam sumber Portugis, nama yang oleh sebagian peneliti justru dibaca sebagai kekeliruan ucapan dari kata Bacan sendiri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">1682: Bacan Kehabisan Orang</h2>
<p>1682 adalah angka paling suram dalam catatan Widjayengrono. Pada tahun itu, penduduk Bacan berpindah dalam jumlah besar hingga raja tak lagi punya cukup orang untuk mengawaki satu korakora, perahu perang tradisional Maluku. Raja, menurut sumber Belanda yang dikutip, sampai membuat sendiri perabot rumah dan perahu kecilnya karena tidak ada lagi urusan kerajaan yang bisa dikerjakan.</p>
<p>Sepanjang abad ke-15, kawasan ini memasuki apa yang oleh Anthony Reid disebut Zaman Perdagangan, ketika jaringan maritim Asia Tenggara meluas dan konversi Islam berlangsung lebih berhasil dibanding abad-abad sebelumnya. Folklor setempat, dicatat Manguin, mengenang masa itu lewat kisah Dampu Awang, pangeran atau pedagang asing yang datang dengan satu jung sarat, kadang karam, membawa kekayaan bagi penduduk yang ia nikahi anak perempuannya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/ekonomi-cengkeh-tidore/">Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani</a></p>
<p>Hanya Ternate dan Tidore yang benar-benar makmur dari era baru ini. Pada abad ke-16, pengaruh Bacan di Banggai, Sulawesi, Seram, dan Halmahera Selatan diambil alih Ternate, sementara wilayah timur seperti pesisir utara Seram dan Raja Ampat dilebur ke kekuasaan Tidore. Jailolo bernasib lebih buruk lagi, wilayahnya digabungkan penuh ke dalam kerajaan Ternate.</p>
<p>1797 membawa satu upaya pemulihan, lebih dari dua abad sesudahnya. Nuku, yang saat itu menjadi Sultan Tidore, memilih Muhammad Arif Bila, mantan sangaji dari Makian, untuk direstorasi sebagai Raja Jailolo, memulihkan keseimbangan empat gunung yang sudah timpang sejak Perjanjian Motir.</p>
<p>Satu kelompok lain ikut menjaga jalur laut ini tetap hidup: orang Bajau, pengembara laut yang ditemukan di empat titik sekaligus, Buton, Banggai, Bacan, dan pesisir utara Sulawesi maupun Borneo. Lapian mempertanyakan apakah persebaran di empat titik itu kebetulan, atau bukti bahwa Bajau ikut menyebarkan bahasa Melayu di kepulauan sebelah timur selama berabad-abad.</p>
<h2 class="wp-block-heading">30 Tahun yang Belum Selesai</h2>
<p>Widjayengrono sendiri mengakui satu batas jelas dalam catatannya: belum ada satu pun bukti arkeologis tentang pusat pemukiman Bacan di Kasiruta, sekalipun dugaan Lapian tentang lokasi itu masuk akal secara tekstual. Ia juga menulis bahwa sejauh mana pengaruh Loloda sebenarnya meluas ke wilayah lain tidak diketahui, sebuah angka yang justru tidak pernah bisa ditulis karena sumbernya memang tidak ada. Dua ketidaktahuan itu, tulisnya, sebaiknya diakui terbuka daripada ditutup dengan tafsir yang terlalu percaya diri.</p>
<p>Tiga puluh tahun setelah Lapian pertama membuka lapangan itu, angka-angka yang ia kumpulkan masih dipertahankan, diperiksa ulang, dan sebagian dipertanyakan oleh Widjayengrono. Yang tersisa bukan kesimpulan tunggal tentang siapa yang lebih dulu berkuasa di Maluku Utara, melainkan satu angka yang tidak berubah sejak awal: empat gunung, dua bahasa, dan satu pertanyaan tentang bagaimana keduanya pernah bisa menjadi satu.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/maharani/">Maharani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/empat-gunung-maluku-utara-bacan-ternate/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
