<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Bahasa Aceh - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/bahasa-aceh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Bahasa Aceh - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh</title>
		<link>https://cekricek.id/bahasa-aceh-generasi-muda-kosakata/</link>
					<comments>https://cekricek.id/bahasa-aceh-generasi-muda-kosakata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Lesmana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 05:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272877</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/bahasa-aceh-generasi-muda-kosakata/" title="75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kubah dan menara Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh 1"></a><p>Survei 30 responden muda Aceh menemukan pemahaman kosakata daerah berkisar 53,6-75 persen, sementara pemakaiannya di media sosial tinggal 26,7 persen.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/bahasa-aceh-generasi-muda-kosakata/" title="75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kubah dan menara Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-baiturrahman-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Angka 75 persen adalah batas atas dalam sebuah survei bahasa daerah di Aceh. Batas bawahnya cuma 53,6 persen. Selisih 21,4 poin itu memisahkan kata yang masih hidup dari kata yang nyaris hilang di mulut anak muda.</p>
<p>Angka-angka itu berasal dari riset tiga peneliti Universitas Syiah Kuala: Maulinar Sari, Rostina Taib, dan Muhammad Iqbal. Judul kajian mereka <em>Penurunan dan Pemahaman Penggunaan Kosa Kata Bahasa Daerah Aceh di Kalangan Generasi Muda: Studi Sosiolinguistik</em>. Kajian ini dimuat Jurnal Ilmu Budaya, Volume 14 Nomor 1, tahun 2026. Objeknya 30 responden muda, diuji dengan 15 kosakata daerah Aceh.</p>
<p>Bahasa Aceh sendiri sudah lama disebut media transmisi nilai leluhur, bukan sekadar alat komunikasi harian. Sensus Penduduk 2020 versi BPS Provinsi Aceh mencatat penurunan pemakaian bahasa daerah pada kelompok usia muda dibanding generasi tua. Survei baru ini mencoba mengukur seberapa jauh penurunan itu lewat angka, bukan lewat kesan semata. Metodenya kualitatif deskriptif, lewat kuesioner yang dibagikan langsung ke responden muda di wilayah Aceh.</p>
<p>Sinyal penurunan ini sebenarnya bukan temuan baru. Alamsyah, pada 2011, sudah mencatat penurunan bahasa Aceh paling terasa di generasi Z perkotaan. Azwardi, tujuh tahun berikutnya, mencatat pergeseran serupa di kalangan masyarakat urban Aceh secara lebih luas. Survei 30 responden ini menambah angka pasti pada pola yang sebelumnya baru berupa pengamatan kualitatif.</p>
<h2 class="wp-block-heading">15 Kosakata, Satu Celah 21,4 Persen</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w.webp" alt="Bangunan Masjid Tuha di Ulee Kareng, Kota Banda Aceh" class="wp-image-273247" title="75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-masjid-tuha-ulee-kareng-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Masjid Tuha, Ulee Kareng, Banda Aceh. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Lima belas kata dipilih karena diduga jarang dipakai anak muda Aceh sehari-hari. Tiga puluh responden diminta mengaku, tahu atau tidak tahu, memakai atau tidak memakai. Hasilnya menyebar dari 53,6 persen sampai 75 persen. Tidak ada satu pun dari 15 kata itu yang dikenali seluruh responden.</p>
<p>Pecah angkanya: 75 persen didapat tiga kata sekaligus &#8211; Yum, Pungui, dan Geulawa. Ketiganya duduk di posisi puncak pemahaman, jauh di atas rata-rata seluruh daftar. Di ujung yang lain ada lima kata yang cuma menyentuh 53,6 persen: Mablien, Calitra, Aleue, Ngui, dan Lhuet.</p>
<p>Kenapa Yum, Pungui, dan Geulawa bertahan di angka 75 persen, sementara lima kata lain runtuh ke 53,6 persen? Studi ini menduga jawabannya ada di frekuensi pemakaian. Kata yang sering muncul dalam obrolan sehari-hari, lagu tradisional, atau cerita rakyat cenderung tetap tertanam di memori kolektif anak muda, meski jarang dipakai secara aktif.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kosakata-sagu-halmahera/">Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera</a></p>
<p>Sebagian besar dari 15 kata yang diuji justru bertahan di atas 60 persen. Ceudah, Nyum, Ubong/Bubong, dan Peurumoh berada di angka 71,4 persen. Gaseh mengikuti di 67,9 persen, lalu Ceuprok/Caprok di 64,3 persen. Bahasa Aceh belum runtuh, tapi sudah pecah menjadi kata yang kuat dan kata yang goyah.</p>
<h2 class="wp-block-heading">56,7 Persen di Rumah, 26,7 Persen di Layar</h2>
<p>Di luar soal paham atau tidak paham, ada angka lain: seberapa sering bahasa Aceh benar-benar dipakai. Survei ini juga menanyakan kebiasaan harian responden. Hasilnya, 56,7 persen anak muda mengaku memakai bahasa Aceh setiap saat dalam keseharian mereka. Tambahan 26,7 persen lagi memakainya beberapa kali sehari. Sisanya, hanya 3,3 persen menjawab sehari pasti ada sekali, dan 13,3 persen mengaku jarang.</p>
<p>Angka itu turun jauh begitu pindah ke layar ponsel. Di media sosial, hanya 26,7 persen yang mengaku sering memakai bahasa Aceh. Mayoritas, 50 persen responden, memilih jawaban tengah: kadang-kadang. Sisanya, 23,3 persen, mengaku jarang memakainya sama sekali di sana.</p>
<p>Kesenjangan 30 poin antara pemakaian harian dan pemakaian di layar itu bukan sekadar soal platform. Hasjmy, dikutip studi ini dari tulisannya tahun 1977, menegaskan sesuatu yang jadi inti persoalan. &#8220;Kosakata bahasa daerah merupakan cerminan dari budaya dan sejarah masyarakatnya, sehingga pelestariannya sangat penting untuk menjaga keberlangsungan identitas lokal,&#8221; tulisnya. Ruang digital, tempat anak muda paling banyak menghabiskan waktu, justru jadi ruang paling jarang mendengar bahasa itu.</p>
<p>Konsep ini dikenal sebagai pergeseran bahasa, atau language shift, dalam istilah sosiolinguistik. Salah satu cirinya adalah menyempitnya bahasa daerah ke ranah informal saja. Ranah lain diambil alih bahasa yang dianggap punya nilai sosial lebih tinggi. Angka 56,7 persen pemakaian harian menunjukkan ranah informal itu masih bertahan, sedangkan 26,7 persen di layar menunjukkan ranah publik sudah lebih dulu berpindah.</p>
<h2 class="wp-block-heading">3 Sebab di Balik Angka yang Menyusut</h2>
<p>Studi ini mencatat, 5 dari 15 kosakata yang diuji dominan jarang diketahui responden. Sebab pertama yang diajukan peneliti adalah keterbatasan leksikal. Anak muda tidak menguasai cukup kata Aceh untuk topik modern. Mereka pun beralih ke bahasa Indonesia atau Inggris saat bicara soal teknologi dan budaya pop global.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kata-serapan-korea-bahasa-indonesia/">52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu</a></p>
<p>Sebab kedua soal lawan bicara. Interaksi sehari-hari secara alami menyediakan teman ngobrol berbahasa Aceh, entah di rumah atau di lingkungan sekitar. Ruang digital jauh lebih luas dan majemuk. Wajar bila cuma 26,7 persen anak muda yang tetap sering memakai bahasa Aceh di sana.</p>
<p>Sebab ketiga soal gengsi. Sebagian anak muda merasa bahasa Aceh terdengar kuno di ruang yang mereka anggap harus tampil modern. Studi lain di Banda Aceh tahun 2022 mencatat hal senada. Generasi Z di sana mengaku rendah diri memakai bahasa Aceh. Rasa malu yang sama ikut menjelaskan kenapa angka 26,7 persen tertinggal jauh dari 56,7 persen pemakaian harian.</p>
<p>Pola serupa juga muncul dalam pembagian wilayah. Anak muda di pedesaan Aceh disebut masih relatif mempertahankan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Di perkotaan, paparan budaya global jauh lebih deras. Kecenderungan berpindah ke bahasa Indonesia pun jauh lebih kuat di sana, sejalan dengan celah 30 poin yang muncul di angka penggunaan media sosial tadi.</p>
<p>Transmisi antar-generasi juga ikut disorot dalam kajian ini. Banyak keluarga disebut mulai memakai bahasa Indonesia di rumah, bukan bahasa Aceh, terutama saat anak-anak masih berusia dini. Pola ini, menurut kajian sosiolinguistik lain yang dirujuk, jadi salah satu penyebab utama kenapa satu generasi bisa kehilangan sampai 5 dari 15 kosakata dasar sekaligus.</p>
<h2 class="wp-block-heading">3 Platform, Satu Upaya Bertahan</h2>
<p>Di tengah angka yang menyusut itu, ada juga upaya melawan arus. Kajian-kajian lain yang dirujuk studi ini mencatat anak muda memakai 3 platform sekaligus untuk mempromosikan bahasa Aceh: Instagram, TikTok, dan YouTube. Festival budaya lokal juga jadi ruang tambahan tempat bahasa itu masih dipakai secara sadar, bukan sekadar warisan tanpa fungsi.</p>
<p>Tantangannya, menurut kajian-kajian itu, bukan sekadar hadir di tiga platform tadi. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan frekuensi pemakaian sehari-hari. Sesekali mengunggah konten berbahasa Aceh belum cukup mengangkat angka 26,7 persen itu. Dibutuhkan pemakaian yang konsisten, bukan simbolis, supaya bahasa daerah tidak sekadar jadi hiasan identitas di akun media sosial.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/tabloid-carakita-aksara-jawa/">Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa</a></p>
<p>Upaya ini belum tentu mengubah angka 26,7 persen secara langsung dalam waktu dekat. Tapi ia menunjukkan bahwa penurunan bukan proses satu arah yang tak bisa dibalik. Sebagian anak muda memilih memakai bahasa Aceh justru karena sadar bahasa itu sedang terancam, bukan karena terpaksa oleh lingkungan keluarga semata.</p>
<h2 class="wp-block-heading">30 Responden, Satu Angka yang Harus Dibaca Hati-hati</h2>
<p>Seluruh angka di atas berdiri di atas dasar yang harus disebut jujur: hanya 30 responden. Studi ini sendiri mengakui, temuan dengan jumlah sampel sekecil itu baru bisa disebut indikasi awal. Bukan potret utuh seluruh generasi muda Aceh yang jumlahnya jutaan orang. Studi ini juga tidak merinci dari kabupaten atau kota mana persisnya ke-30 responden itu berasal.</p>
<p>Artinya, 75 persen dan 53,6 persen di atas bukan angka nasional, apalagi angka permanen. Keduanya cuma potret satu titik waktu dari 30 orang di satu wilayah survei. Penelitian lanjutan dengan responden lebih banyak, kata studi ini, masih dibutuhkan untuk memastikan ke arah mana pergeseran ini sebenarnya bergerak.</p>
<p>Studi ini secara eksplisit merekomendasikan penelitian lanjutan yang melampaui angka 30 responden tadi. Cakupan yang lebih luas dan representatif dianggap perlu untuk memahami transmisi bahasa antar generasi secara lebih menyeluruh. Sampai penelitian itu ada, angka 53,6 persen dan 75 persen tadi tetap harus dibaca sebagai indikasi awal, bukan kesimpulan akhir.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Angka Terakhir: 26,7 Persen</h2>
<p>Dari seluruh angka yang terkumpul, satu yang paling kecil justru paling mencemaskan. Angka itu 26,7 persen &#8211; anak muda Aceh yang masih sering memakai bahasa daerahnya sendiri di layar ponsel mereka sendiri. Angka itu bisa naik, bisa juga terus menyusut, tergantung siapa yang mau mengetik dalam bahasa itu besok pagi.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/bahasa-aceh-generasi-muda-kosakata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
