<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Relief Yeh Pulu - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/relief-yeh-pulu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Aug 2026 04:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Relief Yeh Pulu - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit</title>
		<link>https://cekricek.id/relief-yeh-pulu-tri-hita-karana/</link>
					<comments>https://cekricek.id/relief-yeh-pulu-tri-hita-karana/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rola Cantika]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Cagar Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Relief Yeh Pulu]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Hita Karana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272020</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/relief-yeh-pulu-tri-hita-karana/" title="Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?fit=1200%2C675&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dinding batu alam memanjang berukir relief naratif yang menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat Bali kuno" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit 1"></a><p>Sembilan panel Relief Yeh Pulu di Gianyar dibaca ulang sebagai representasi Tri Hita Karana, sementara pengunjung datang hanya untuk memotret dindingnya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/relief-yeh-pulu-tri-hita-karana/" title="Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?fit=1200%2C675&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dinding batu alam memanjang berukir relief naratif yang menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat Bali kuno" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-j03-relief-yeh-pulu.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Rombongan itu datang, berhenti di depan dinding batu sepanjang kurang lebih dua puluh lima meter, mengangkat ponsel, lalu pergi. Adegan itu berulang di situs Relief Yeh Pulu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Dan justru adegan itulah yang direkam sebuah penelitian sebagai masalah utamanya. Bukan batunya yang retak. Yang retak adalah jaraknya &#8212; ukiran itu dilihat, difoto, ditinggalkan, tanpa satu pun ceritanya ikut terbawa pulang.</p>
<p>Penelitian tersebut dikerjakan Ni Luh Wika Kristina, Aman, dan Rhoma Aria Dwi Yuliantri dari Universitas Negeri Yogyakarta, terbit dengan judul <em>Relief Yeh Pulu sebagai Warisan Sejarah Bali Kuno: Representasi Filsafat Tri Hita Karana</em> di jurnal Purbawidya Vol. 14 No. 2 pada 2025. Pendekatannya kualitatif deskriptif: studi kepustakaan, observasi langsung di situs, dan wawancara semi-terstruktur pada Januari 2025 dengan informan kunci yang disebutkan sebagai tokoh adat Desa Bedulu, pemangku atau penjaga pura, budayawan lokal, dan arkeolog.</p>
<p>Di meja wawancara itulah persoalannya mengeras. Seorang pensiunan dosen bernama I Wayan Parta mengakui bahwa narasi yang biasa disampaikan di lokasi lebih menyoroti bentuk relief ketimbang maknanya. I Ketut Muada, dosen yang juga diwawancarai peneliti pada Januari 2025, mengatakannya lebih terang lagi: &#8220;sebagian besar wisatawan yang datang hanya menikmati aspek visual dan estetika tanpa memahami konteks historis dan kulturalnya&#8221;. Kalimat itu, dalam laporan penelitian, berdiri sebagai keprihatinan &#8212; bukan sebagai keluhan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Sembilan Panel yang Dibaca Peneliti Sebagai Satu Cerita Berurutan</h2>
<p>Mundur sebentar ke dinding batunya. Relief Yeh Pulu dipahat langsung pada dinding batu alam, membentang sekitar dua puluh lima meter, dan menurut penelitian ini merupakan salah satu relief terpanjang sekaligus paling utuh yang masih terjaga di Bali. Ia dikaitkan dengan masa kejayaan Kerajaan Bedahulu, salah satu kerajaan Hindu-Buddha terakhir sebelum pengaruh Islam dan kolonialisme memasuki Nusantara. Soal usianya, artikel ini sendiri tidak tunggal: badan tulisan menyebut rentang abad ke-8 hingga ke-14 Masehi &#8212; periode yang disebut menandai peralihan dari era klasik Hindu menuju masa pra-Majapahit di Bali &#8212; sementara abstrak dan simpulannya menyebut abad ke-14. Keberadaan relief itu sekaligus dibaca sebagai penanda berkembangnya kerajaan Hindu-Buddha di pulau tersebut.</p>
<p>Yang membuat dinding itu tidak sekadar hiasan adalah susunannya. Peneliti mencatat sembilan panel utama yang, dalam pembacaan mereka, tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan membentuk struktur naratif linear &#8212; satu rangkaian yang bisa dibaca berurutan seperti cerita. Di sanalah letak argumen intinya: relief ini disebut bukan ornamen artistik, melainkan media penyampaian pengetahuan, norma, dan kearifan lokal lewat bahasa visual. Sebuah <em>visual storytelling</em>, kata artikel itu, yang sudah maju pada zamannya.</p>
<p>Panel demi panel dibaca dengan kerangka Tri Hita Karana, ajaran keseimbangan yang mencakup tiga hubungan: manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Adegan seorang laki-laki memikul cangkul, alat yang lazim dipakai mengolah lahan pertanian, dibaca sebagai Palemahan. Kehadiran flora dan fauna di berbagai adegan, menurut peneliti, memperkuat pembacaan itu: ada kesadaran ekologis yang sudah terpahat jauh sebelum isu lingkungan menjadi perhatian global. Palemahan sendiri, dalam ajaran Tri Hita Karana, merujuk pada harmoni antara manusia dan lingkungannya sebagai wujud rasa syukur sekaligus tanggung jawab spiritual.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/wisata-bersepeda-cagar-budaya-yogyakarta/">53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta</a></p>
<p>Adegan lain lebih ramai. Seorang laki-laki memberikan sesuatu kepada seorang perempuan. Sekelompok orang bekerja sama menyelamatkan teman mereka dari serangan binatang buas. Dua pria memikul seekor babi. Tiga adegan itu dibaca sebagai Pawongan &#8212; kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali kuno. Bukan simbol yang harus diterjemahkan dari kitab, melainkan pekerjaan biasa yang dipahat apa adanya di dinding batu.</p>
<p>Lalu bagian yang paling sunyi. Ada sosok laki-laki bersorban yang duduk dalam posisi meditasi, dibaca peneliti sebagai gambaran pertapaan dan kesucian spiritual. Ada pula figur Dewa Ganesha, dewa kebijaksanaan dan pelindung, yang duduk di atas tikar. Arca Ganesha itu, menurut artikel tersebut, terpahat pada adegan kesembilan &#8212; penutup rangkaian. Bagi peneliti, kehadirannya menegaskan bahwa dinding itu tidak berhenti pada catatan kehidupan sehari-hari, melainkan juga menanamkan fondasi kosmologi masyarakat Bali Kuno.</p>
<p>Pemangku kawasan suci Yeh Pulu, yang dalam catatan kaki penelitian dicantumkan bernama I Wayan Kereg, berusia 78 tahun, menyampaikannya dengan kalimat panjang yang tidak terburu-buru: &#8220;Relief yang ada di Yeh Pulu ini bukan sekadar peninggalan sejarah atau ukiran batu biasa. Relief ini punya makna yang dalam, karena sebenarnya menggambarkan ajaran tentang keselarasan hidup antara manusia, alam, dan spiritualitas.&#8221; Ia menekankan perlunya pendekatan edukatif berbasis lisan &#8212; tutur tradisi atau pentas budaya &#8212; untuk menjembatani pemahaman spiritual kepada publik. Kekhawatirannya konkret: makna yang tidak pernah dinarasikan lama-lama akan dilupakan juga oleh masyarakat setempat, bukan hanya oleh pendatang.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/pentingnya-minum-lebih-banyak-air-selama-puasa-ramadan/">Pentingnya Minum Lebih Banyak Air Selama Puasa Ramadan</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Ketika Yeh Pulu Disandingkan dengan Relief Majapahit di Jawa Timur</h2>
<p>Peneliti kemudian membawa dinding batu itu ke perbandingan. Relief sezaman di Jawa Timur pada masa Majapahit &#8212; Candi Penataran, Candi Jago, Candi Surowono &#8212; berasal dari periode yang relatif berdekatan, tetapi menampilkan gaya yang menurut artikel ini lebih simbolik, hieratis, dan kaku. Figur manusia maupun hewannya berpose formal, penuh dekorasi, dan menekankan narasi religius seperti kisah Ramayana, Krishnayana, atau Sudamala. Orientasinya, kata peneliti, simbolisme dan legitimasi kosmologis.</p>
<p>Yeh Pulu bergerak ke arah lain. Gaya seninya disebut ekspresif dan naturalis: ekspresi wajah, gestur tubuh, dan aktivitas harian yang realistis, dengan proporsi tokoh yang wajar dan detail ornamen yang halus. Perbedaan itu, dalam pembacaan penelitian ini, menandai kedekatan seniman dengan kehidupan masyarakat Bali sendiri, bukan dengan istana atau kitab. Nilai lokal tidak ditempelkan di atas ajaran Hindu. Ia dipahat menyatu dengan ajaran itu. Tokoh-tokoh mitologis pun, kata artikel tersebut, muncul dengan gaya dan konteks setempat &#8212; terbaca dari pakaian, gestur, dan aktivitas seperti bertani atau membawa kendi. Masyarakat Bali disebut tidak menerima ajaran Hindu secara pasif, melainkan mengolahnya menurut nilai dan pandangan hidup sendiri.</p>
<p>Untuk sampai ke sana, peneliti memakai dua pisau sekaligus. Semiotika dipakai membaca tanda visual &#8212; gestur tokoh, atribut, komposisi panel &#8212; dengan merujuk pendekatan Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes, terutama dalam memisahkan denotasi atau makna literal dari konotasi atau makna kultural. Teori interaksi simbolik dipakai memahami bagaimana makna sosial terbentuk lewat interaksi antarindividu dalam budaya Bali kuno. Validitas datanya diperkuat lewat triangulasi sumber dan metode.</p>
<p>Pilihan itu tidak lahir dari ruang kosong. Artikel ini menyebut kajian terdahulu cenderung berhenti pada aspek arkeologis dan estetika. Pratama, Susanti, dan Hudaidah pada 2025 memaparkan identifikasi sembilan panel Yeh Pulu sebagai penggambaran berbagai aktivitas masyarakat Bali Kuno. Adnyana, Remawa, dan Sari pada 2019 menekankan nilai realisme dan kepahlawanan lewat pendekatan ikonografi. Sudiarta pada 2021 membahas Tri Hita Karana dalam pengelolaan situs budaya, tetapi tidak menghubungkannya langsung dengan artefak visual seperti relief. Celah itu yang hendak diisi: hingga penelitian ini ditulis, belum banyak kajian yang secara spesifik menyambungkan simbol-simbol pada Relief Yeh Pulu dengan ajaran Tri Hita Karana.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kain-pasek-pasek-sima-mpu-sindok/">Dua Kain yang Hanya Boleh Dimiliki Raja pada Masa Mpu Sindok</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Masih Menggantung Setelah Wawancara Januari 2025 Ditutup</h2>
<p>Di sinilah temuan itu perlu diletakkan pada ukurannya sendiri. Ini penelitian kualitatif deskriptif atas satu situs, dan artikelnya menyatakan sendiri bahwa metode semacam ini tidak bertujuan menguji hipotesis. Wawancaranya dilakukan pada satu bulan, Januari 2025, dengan sejumlah informan kunci yang jumlah persisnya tidak dirinci dalam artikel. Pembacaan panel bersandar pada penafsiran semiotik &#8212; sebuah interpretasi yang masuk akal dan bertriangulasi, bukan pembuktian bahwa pemahat abad silam memang berniat menuliskan Tri Hita Karana.</p>
<p>Rentang penanggalannya pun masih lebar. Delapan abad jarak antara batas bawah dan batas atas yang disebut artikel ini bukan detail sepele bagi siapa pun yang ingin memastikan pada masyarakat mana persisnya adegan-adegan itu merujuk. Di luar itu, artikel ini juga mengutip pengamatan bahwa simbol-simbol budaya Bali kian dikomersialkan seiring berkembangnya pariwisata massal, sehingga makna aslinya perlahan terpinggirkan &#8212; kondisi yang membingkai seluruh kekhawatiran para narasumbernya.</p>
<p>Toh dari batas itu peneliti tetap menarik satu garis panjang ke masa kini. Nilai Parahyangan mereka sebut relevan di tengah tantangan sekularisme dan krisis moral. Nilai Pawongan ditawarkan sebagai alternatif kultural atas individualisme yang meningkat di kawasan urban dan fragmentasi sosial yang menyertainya. Nilai Palemahan disandingkan dengan eksploitasi sumber daya alam berlebihan, polusi, dan perubahan iklim. Peneliti juga mengutip kajian lain yang menyebut penurunan kesadaran spiritual berpotensi memicu krisis moral dan psikologis, serta kajian yang mencatat globalisasi mendorong gaya hidup individualistis pada masyarakat modern. Bukan resep, melainkan pembacaan atas apa yang sudah lebih dulu terpahat di batu.</p>
<p>Ujung usulannya sederhana. Artikel ini menempatkan Relief Yeh Pulu sebagai bahan pendidikan karakter berbasis budaya yang bisa membantu generasi muda memahami keseimbangan spiritual, sosial, dan lingkungan secara konkret. Pengembangan situsnya sebagai destinasi wisata budaya yang mengangkat filosofi Tri Hita Karana, menurut peneliti, berpotensi membuat pengunjung tidak berhenti pada keindahan seni rupanya. Ida Ayu Indrayani dari Balai Pelestarian Kebudayaan, salah satu narasumber penelitian ini, menyebut penyajian informasi di lokasi masih bersifat tekstual dan konvensional sehingga belum menghidupkan narasi yang semestinya melekat pada relief itu. Ia mengusulkan penyajian yang lebih interaktif dan kontekstual, serta kolaborasi antara arkeolog, seniman, dan pemangku kepentingan budaya.</p>
<p>Dinding batu itu sendiri tidak bergerak. Panelnya tetap sembilan, tetap berurutan, tetap ditutup sosok Ganesha yang duduk di atas tikar. Rombongan berikutnya akan datang, berhenti, mengangkat ponsel. Foto-fotonya bertambah.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/relief-yeh-pulu-tri-hita-karana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">272020</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 33/39 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-08-24 12:57:23 by W3 Total Cache
-->