<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Serat Rama - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/serat-rama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Serat Rama - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya</title>
		<link>https://cekricek.id/asthabrata-serat-rama-generasi-z/</link>
					<comments>https://cekricek.id/asthabrata-serat-rama-generasi-z/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nadia Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Asthabrata]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Serat Rama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272878</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/asthabrata-serat-rama-generasi-z/" title="Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Siluet gunungan wayang kulit di depan layar yang disinari lampu" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya 1"></a><p>Haryo Untoro menautkan delapan watak dewa dalam Serat Rama karya Yasadipura I dengan pergulatan generasi Z yang sering disebut generasi stroberi.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/nadiaputri/">Nadia Putri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/asthabrata-serat-rama-generasi-z/" title="Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Siluet gunungan wayang kulit di depan layar yang disinari lampu" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-gunungan-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Haryo Untoro membuka kembali Serat Rama, karya pujangga Keraton Surakarta R. Ng. Yasadipura I, dan berhenti pada satu bagian yang menurutnya masih relevan bagi generasinya sendiri: ajaran Asthabrata, delapan watak dewa yang disampaikan Rama kepada Wibisana sebelum Wibisana naik takhta Alengka menggantikan kakaknya, Rahwana. Sebagai pembaca yang juga bagian dari generasi Z, Haryo menangkap kemungkinan bahwa delapan watak kuno itu bisa menjadi pijakan hidup bagi generasinya sendiri.</p>
<p>Masalah yang mendorongnya dimulai dari sebutan generasi stroberi, istilah yang menurut catatan Schott pada 2008 pertama muncul di Taiwan tahun 2007 untuk generasi yang dianggap rapuh dan menghindar dari beban. Generasi Z sendiri, menurut Gabrielova dan Buchko pada 2021, lahir antara tahun 1995 dan 2012, dan oleh Twenge pada 2017 disebut generasi teraman sepanjang sejarah namun juga generasi dengan tingkat depresi, kecemasan, dan kesendirian tertinggi.</p>
<p>Haryo tidak berhenti pada stigma itu. Gabrielova dan Buchko juga mencatat generasi Z sanggup terus memperbaiki diri dan belajar, sementara Half pada 2015 menilai mereka justru bekerja lebih keras dibanding generasi-generasi sebelumnya. Katingka pada 2023 bahkan menempatkan generasi Z sebagai penyumbang utama tenaga kerja Indonesia menjelang bonus demografi tahun 2045, alasan yang membuat Haryo enggan menyerahkan generasinya begitu saja pada label yang telanjur melekat.</p>
<p>Haryo juga mencatat keluhan yang lebih teknis dari sejumlah peneliti lain: Gould, Nalepa, dan Mignano pada 2019 menyebut generasi Z memiliki kemampuan berinteraksi langsung yang buruk, sementara Krishnan, Bopiah, Bajaj, dan kawan-kawan pada 2013 menilai mereka sulit dipahami generasi sebelumnya. Di sisi lain, riset Workforce Institute at Kronos tahun 2019 menemukan bahwa keseimbangan antara waktu bekerja dan menikmati hidup menjadi tujuan penting bagi generasi ini, sebuah kebutuhan yang menurut Haryo justru jarang disediakan tempat kerja atau tempat belajar mereka.</p>
<p>Haryo menuliskan kajian ini bersama dua rekannya, Daffa Pharaja Mustofa dan Miktahul Ulumudin, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada. Judulnya <em>Implementasi Konsep Asthabrata sebagai Landasan Hidup Generasi Z</em>, dimuat jurnal Arnawa Volume 3 Nomor 1 tahun 2025.</p>
<p>Haryo dan timnya menuliskan sendiri alasan di balik kajian ini: &#8220;Sebagai bagian dari generasi Z sekaligus pembaca dari Serat Rama, penulis menangkap sebuah kemungkinan penerapan konsep kepemimpinan Nusantara, yaitu Asthabrata, sebagai kerangka nilai yang relevan untuk menopang kehidupan generasi Z.&#8221; Kalimat itu, ditulis Haryo di bagian pembuka, menjadi motivasi utama seluruh penelitian yang ia kerjakan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Haryo Membuka Kembali Serat Rama</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w.webp" alt="Siluet beberapa tokoh wayang kulit berjajar di depan layar" class="wp-image-273245" title="Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-wayang-kulit-tokoh-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tokoh wayang kulit dalam pertunjukan. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Menurut Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa tahun 1939, astha berarti delapan dan brata berarti tindakan. Wojowasito pada 1977 menjelaskan Asthabrata sebagai delapan perkara yang wajib diketahui seorang raja. Haryo melacak jejaknya sampai ke Manusmrti, sebagaimana diuraikan Olivelle pada 1999, sebelum konsep itu berkembang dalam tradisi Jawa dan mengambil bentuk delapan dewa dalam Serat Rama karya Yasadipura I: Indra, Surya, Bayu, Kuwera, Baruna, Yama, Candra, dan Brama.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/tabloid-carakita-aksara-jawa/">Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa</a></p>
<p>Sebelum Haryo, sudah ada peneliti lain yang menulis tentang Asthabrata, dari Andoko dan kawan-kawan pada 2022 yang menautkannya dengan kepemimpinan organisasi, Purnomo pada 2021 yang menautkannya dengan penanganan pandemi Covid-19 di Buleleng, hingga Saputri pada 2024 yang menautkannya dengan gaya kepemimpinan Ida Dalem Waturenggong di Kerajaan Gelgel, Bali. Suciartini pada 2018 menulis tentang Asthabrata sebagai landasan pendidikan antikorupsi, sementara Marwati pada 2022 menelusurinya lewat tokoh pewayangan dalam naskah Pakualaman, dan Rhohana pada 2022 memakainya untuk memperkuat sikap kepemimpinan dalam pembelajaran sejarah. Namun belum ada yang menautkan Asthabrata dengan generasi Z sebagai landasan hidup, celah yang kemudian diisi Haryo bersama timnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Haryo Menyandingkan Delapan Dewa dengan Generasi Z</h2>
<p>Haryo memakai metode deskriptif kualitatif dengan model analisis data Miles dan Huberman, sebagaimana dirujuk lewat Sugiyono pada 2020: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Ia membaca ulang naskah Serat Rama hasil alih aksara dan terjemahan Suyami tahun 2008, lalu mempertemukannya dengan literatur tentang watak generasi Z.</p>
<p>Untuk mempertautkan keduanya, Haryo memakai teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski, yang menjelaskan bahwa setiap wujud kebudayaan pada dasarnya bertujuan memenuhi kebutuhan manusia yang menciptakannya. Ia memadukannya dengan pendekatan pragmatik Abrams dari tahun 1953, yang menitikberatkan pada relasi antara karya sastra dan pembacanya, sehingga Haryo sendiri berperan sebagai pembaca yang mempertemukan Serat Rama dengan generasinya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Haryo Menimbang Setiap Watak Dewa</h2>
<p>Haryo memulai dari Dewa Indra, yang dalam terjemahan Suyami digambarkan gemar menghujankan wewangian dan dana secara merata ke seluruh dunia tanpa memilih orang. Ia menautkannya dengan temuan Half pada 2015 bahwa generasi Z bekerja lebih keras dibanding generasi sebelumnya, meski Twenge pada 2017 mencatat mereka juga generasi dengan tingkat depresi, kecemasan, dan kesendirian tertinggi.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/driyarkara-minteri-industrialisasi-pendidikan/">Driyarkara 1962: Pintar Tanpa Kesusilaan Jadi Minteri</a></p>
<p>Berikutnya Dewa Yama, yang menurut terjemahan Suyami berwatak keras terhadap kejahatan. Haryo mengutip terjemahan itu apa adanya: &#8220;Semua tindak kejahatan diuber dan diporak-porandakan. Kemanapun berlindung terus dibuntuti, dan begitu tertangkap langsung dibunuh.&#8221; Ia menautkan watak tegas itu dengan catatan Gould, Nalepa, dan Mignano pada 2019 tentang generasi Z yang kesulitan mengendalikan diri dari media sosial dan lemah dalam manajemen waktu.</p>
<p>Dewa Surya, yang menurut Suyami mengajak kebaikan tanpa paksaan hingga rakyatnya tidak merasa sedang diarahkan, dipakai Haryo untuk membaca peran generasi Z sebagai pemengaruh atau influencer. Ia merujuk Sakdiyakom, Golubovskaya, dan Solnet pada 2021 yang mencatat generasi Z memiliki kepedulian tinggi pada kesejahteraan bersama, sifat yang menurut Haryo cocok dengan cara Dewa Surya menyebarkan kebaikan secara halus. Haryo menyebut contoh konkretnya: supporter, model, guru, dan influencer, sosok-sosok yang menurut Sakdiyakom dan kawan-kawan memang menjadi rujukan peran bagi generasi Z sehari-hari.</p>
<p>Dewa Candra, yang berwatak pemaaf dan menjaga suasana kerajaan tetap nyaman, ditautkan Haryo dengan kebiasaan generasi Z menyukai umpan balik untuk perbaikan diri, sebagaimana dicatat Randstad pada 2016. Haryo menambahkan bahwa umpan balik negatif tetap perlu diterima generasi Z sebagai bagian dari proses, bukan serangan pribadi, meski Gould, Nalepa, dan Mignano pada 2019 mencatat kecenderungan sebaliknya.</p>
<p>Dewa Bayu, yang mengintai dan mempelajari watak setiap makhluk agar bisa memahami rakyatnya, dipakai Haryo untuk membaca kebutuhan generasi Z membangun relasi sosial yang mendalam. Ia mengutip Fauzia dan Agustina pada 2021 yang menemukan bahwa generasi Z sesungguhnya memprioritaskan relasi sosial dibanding sekadar keseimbangan hidup dan kerja, meski sehari-hari mereka tampak lebih individualis.</p>
<p>Dewa Kuwera, yang menjaga kejujuran dan memperlakukan semua orang setara tanpa pilih kasih, ditautkan Haryo dengan riset Yuniarti, Andika, dan Rahayu pada 2021 tentang generasi Z yang sangat menjunjung keadilan distributif dalam pembagian kerja. Haryo menulis bahwa watak Kuwera ini paling dekat dengan tuntutan generasi Z terhadap tempat kerja yang adil, dan ia menambahkan catatan Adiyanto pada 2021 bahwa keadilan dalam kesempatan berkembang ikut memengaruhi kepuasan kerja generasi ini.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/maitrakanyaka-relief-borobudur/">Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan</a></p>
<p>Dewa Baruna, yang menurut Suyami selalu mengenakan senjata dan menimbang masalah dengan penuh kehati-hatian, dipakai Haryo untuk mengingatkan generasi Z agar waspada terhadap informasi di media sosial. Ia merujuk catatan Gould, Nalepa, dan Mignano pada 2019 bahwa generasi Z belum sepenuhnya mampu memilah informasi baik dan buruk, meski mereka menghabiskan waktu jauh lebih banyak berselancar di dunia maya dibanding berinteraksi langsung.</p>
<p>Dewa Brama menutup daftar delapan watak itu, digambarkan Suyami sebagai sosok yang bekerja keras mencari nafkah bagi seluruh rakyatnya hingga bait aslinya menyebut ia beristrikan Dewi Rarasati. Haryo membaca watak ini sebagai teladan generasi Z dalam memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membangun relasi yang tulus, nilai yang menurut Sakdiyakom, Golubovskaya, dan Solnet pada 2021 memang menonjol di kalangan generasi ini: universalisme, kebajikan, kemandirian, dan tekad mencapai keamanan diri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Haryo Kembali ke Generasi Stroberi</h2>
<p>Haryo menutup kajiannya dengan kembali ke istilah yang memicu penelitian ini sejak awal, generasi stroberi. Ia menegaskan bahwa delapan watak Asthabrata bukan jawaban tunggal atas label itu, melainkan satu dari sekian kerangka yang bisa dipakai generasi Z untuk memilih jalannya sendiri, sebuah cara pandang berkehidupan seperti yang ditulis Haryo dan timnya di bagian akhir kajian mereka.</p>
<p>Bagi Haryo, jarak antara sebuah tembang yang ditulis pujangga Surakarta dan keluhan generasi masa kini ternyata tidak sejauh yang ia kira ketika pertama membuka Serat Rama. Delapan dewa yang diwariskan Yasadipura I tetap berdiri di halaman yang sama, menunggu pembaca berikutnya yang bersedia menautkannya dengan zamannya sendiri.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/nadiaputri/">Nadia Putri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/asthabrata-serat-rama-generasi-z/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
