<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Sosiologi - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/sosiologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:26:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Sosiologi - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak</title>
		<link>https://cekricek.id/wisata-medis-indonesia-ke-malaysia/</link>
					<comments>https://cekricek.id/wisata-medis-indonesia-ke-malaysia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rola Cantika]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 00:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nuansa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Medis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272925</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/wisata-medis-indonesia-ke-malaysia/" title="Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Koridor rumah sakit dengan pasien dan tenaga kesehatan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak 1"></a><p>Riset sejarah kesehatan membongkar wisata medis Indonesia ke Malaysia sebagai tindakan sosial berlapis, bukan sekadar tren orang kaya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/wisata-medis-indonesia-ke-malaysia/" title="Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Koridor rumah sakit dengan pasien dan tenaga kesehatan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-koridor-rumah-sakit-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Kepergian orang Indonesia berobat ke luar negeri lazim dibaca sebagai gejala kemewahan, seolah hanya orang berpunya yang ingin fasilitas berkilau dan dokter berbahasa asing yang memilih jalan itu. Bacaan itu retak begitu ditelusuri lebih jauh, sebab pasien yang menyeberang ke Malaysia ternyata bukan melulu pemburu gengsi: ada buruh perkebunan tembakau di Sumatera Timur pada abad lampau yang dikirim berobat ke Penang karena klinik perkebunan tak sanggup menanganinya, ada pejabat yang jatuh sakit di tengah lawatan politik, dan ada warga kampung perbatasan yang justru lebih dekat ke rumah sakit tetangga negara ketimbang ke kota provinsinya sendiri. Riset Imas Emalia, Nurul Azizah, dan Lili Sudria Wenny dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, <em>Medical Tourism Masyarakat Indonesia ke Malaysia: Fenomena Tindakan Kesehatan di Tahun 2000-2020</em>, yang terbit di jurnal PURBAWIDYA volume 15 nomor 1 edisi Juni 2026, membongkar kebiasaan berobat ke Malaysia sebagai tindakan sosial yang jauh lebih tua dan lebih berlapis ketimbang sekadar tren kelas menengah kota besar yang sedang naik daun.</p>
<p>Ketiga peneliti memakai metode sejarah untuk merekonstruksi peristiwa itu, lengkap dengan empat tahap baku disiplin ini: heuristik, verifikasi, interpretasi, hingga historiografi. Data lisan mereka kumpulkan lewat wawancara sejarah, sebagian besar dilakukan melalui WhatsApp maupun telepon seluler kepada pelaku wisata medis, sementara data tertulis diambil dari buku, jurnal, situs berita, dan arsip surat kabar lama. Untuk membaca pola di balik data itu, mereka meminjam teori sistem tindakan Talcott Parsons yang dikenal dengan singkatan AGIL: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan laten, sebuah kerangka yang mengandaikan setiap tindakan manusia, sekecil apa pun, selalu tertanam dalam sistem budaya, sosial, kepribadian, dan organisme yang lebih luas. Dengan kerangka itu, berobat ke luar negeri bukan lagi impuls pribadi yang muncul begitu saja, melainkan hasil kalkulasi yang melibatkan norma, pengetahuan, dan kepercayaan yang dipupuk lama sebelum keberangkatan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Jarak yang Diperpendek oleh Kepercayaan, Bukan oleh Peta</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w.webp" alt="Penumpang menarik koper di ruang keberangkatan bandara" class="wp-image-273229" title="Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-keberangkatan-bandara-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ruang keberangkatan bandara. Ilustrasi. (Foto: Pexels)</figcaption></figure>
<p>Penjelasan paling gampang untuk kebiasaan berobat ke Malaysia adalah geografi: Penang dan Kuala Lumpur memang dekat dari Sumatera. Tapi penelitian ini menaruh kedekatan geografis sebagai satu dari sekian faktor, bukan penyebab tunggal, karena warga di Kampung Aruk, Sambas, yang tinggal persis di perbatasan dengan Malaysia Timur, sejak dekade 1970-an sudah terbiasa berobat ke Kampung Biawak atau Lundu di Sarawak dan diperlakukan sama seperti warga Malaysia sendiri di sana. Kedekatan itu berbaur dengan sejarah yang lebih panjang: sejak akhir abad ke-19, ketika industri perkebunan tembakau di Deli, Langkat, dan Serdang mendatangkan ribuan buruh kontrak dari berbagai penjuru Asia, perusahaan perkebunan maupun administrasi kolonial kerap mengirim buruh yang sakit parah ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di kawasan Straits Settlements, terutama Penang. Sejak masa itulah kota di ujung utara Pulau Pinang itu berfungsi sebagai pusat layanan kesehatan regional bagi Sumatera Timur, jauh sebelum kata &#8220;medical tourism&#8221; dikenal siapa pun.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/cedaw-australia-kekerasan-perempuan/">Australia dan CEDAW: 463 Kegiatan, 21 yang Tuntas</a></p>
<p>Bukti bahwa berobat ke Malaysia bisa lepas dari urusan geografi murni muncul lewat kasus yang tak biasa: pada tahun 1978, Menteri Penerangan Ali Murtopo dilaporkan Kompas berobat ke Kuala Lumpur setelah jatuh sakit di tengah muhibah politik ke Malaysia, sebuah peristiwa yang oleh penulis sendiri diakui &#8220;sangat tipis tergolong wisata medis karena lebih kepada alasan kenegaraan&#8221;. Kasus ini justru menegaskan bahwa batas antara kunjungan medis, urusan negara, dan komersialisasi layanan kesehatan lintas negara sudah kabur sejak sebelum istilah wisata medis dilembagakan secara resmi. Dua dekade kemudian, ketika krisis moneter 1997&#8211;1998 melemahkan nilai tukar ringgit, rumah sakit swasta di Penang dan Kuala Lumpur yang sejak awal 1990-an mulai membuka diri bagi pasien asing justru menuai untung, sebab pelemahan ringgit membuat biaya berobat di sana kian terjangkau bagi kantong orang Indonesia.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Angka yang Menumpuk di Balik Kata Puas</h2>
<p>Skala fenomena ini, menurut data yang dikutip penulis dari laporan tahun 2023, cukup besar untuk membuatnya sulit lagi disebut sekadar kebiasaan segelintir orang kaya: hampir dua juta warga negara Indonesia tercatat bepergian ke luar negeri untuk berobat pada tahun 2022, dengan sekitar satu juta di antaranya memilih Malaysia dan sekitar tujuh ratus lima puluh ribu memilih Singapura. Sebagian besar berasal dari kota besar, sekitar enam dari sepuluh dari Jakarta dan sisanya banyak dari Jawa Timur, tapi angka nasional itu tidak menjelaskan kenapa satu rumah sakit di Penang bisa mencatat lonjakan pasien Indonesia dari belasan ribu menjadi puluhan ribu orang hanya dalam setahun, seperti yang terjadi pada Rumah Sakit Lam Wah Ee dan Rumah Sakit Adventis sepanjang 2003 ke 2004 menurut catatan yang dipakai penulis, dengan mayoritas pasien berasal dari Kota Medan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/resiliensi-akademik-mahasiswa-unhas/">84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655</a></p>
<p>Riau punya cerita sendiri yang lebih gamblang soal kenapa orang rela membayar mahal demi berobat ke seberang. Kepala Dinas Kesehatan Riau kala itu, dr. Taswin Yacob, mengakui lewat majalah Tempo bahwa alasan utama warganya menyeberang ke Malaka adalah fasilitas kesehatan di Riau yang kurang memadai, dan biaya besar tidak menghalangi mereka karena pengobatan di sana bisa membuktikan kesembuhan. Pengakuan pejabat kesehatan daerah sendiri ini menjadi data yang jarang didapat dalam kajian semacam ini, sebab bukan pasien yang bicara soal kekurangan layanan di rumahnya sendiri, melainkan pejabat yang bertanggung jawab atasnya. Pada tahun 2006 saja, tercatat enam puluh ribu wisatawan medis asal Riau menyeberang ke Malaka, masing-masing menghabiskan dana puluhan juta rupiah, sebuah pola pengeluaran yang oleh penulis dibaca sebagai bukti bahwa keputusan berobat ke luar negeri sudah menjadi tindakan sosial yang terstruktur dan berulang, bukan lagi kejadian sesekali yang muncul begitu saja dari satu kasus darurat.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Ketika Dekan Kedokteran Sendiri Meragukan Dokter Dalam Negeri</h2>
<p>Titik paling tajam dalam penelitian ini justru datang dari mulut kalangan medis sendiri, bukan dari pasien yang kabur ke luar negeri. Penulis mengutip laporan Kompas.com tahun 2010 yang menampilkan pernyataan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Prof. Rusdi Lamsudin, soal kenapa dua ratus lima puluh ribu warga negara Indonesia berobat ke Malaysia setiap tahun. &#8220;Sebanyak 250.000 warga negara Indonesia (WNI) berobat ke Malaysia setiap tahun karena kurang percaya dengan kemampuan dokter dalam negeri,&#8221; katanya, sebelum menambahkan bahwa semakin banyak WNI berpenghasilan tinggi yang berobat ke luar negeri, kepercayaan terhadap dokter dalam negeri kian tergerus, entah karena alasan medis seperti peralatan yang lebih lengkap dan kemampuan tenaga medis, entah karena ada kecenderungan masyarakat sendiri kurang percaya pada kemampuan anak bangsanya.</p>
<p>Pernyataan seorang dekan kedokteran soal keraguan publik pada profesinya sendiri bukan sekadar keluhan, melainkan pengakuan bahwa persoalan ini tidak melulu soal alat dan biaya, melainkan soal kepercayaan yang dibangun lewat hal sekecil durasi konsultasi dan keterbukaan diagnosis. Penulis mencatat bahwa pasien di Malaysia rata-rata mendapat waktu sekitar lima belas menit untuk berkonsultasi, sebuah rincian kecil yang justru menjelaskan kenapa masalah bahasa yang berbeda tidak pernah jadi penghalang berarti bagi pasien Indonesia. Kontras ini menemukan bentuk kelembagaannya pada tahun 2009, ketika pemerintah Malaysia membentuk Malaysia Healthcare Travel Council di bawah kementerian kesehatannya untuk mengoordinasikan promosi wisata medis secara sengaja dan terstruktur, bahkan meneken nota kesepahaman dengan Ikatan Dokter Indonesia pada 2018 untuk program alih ilmu, sebuah langkah yang menempatkan ketidakpercayaan pasien Indonesia bukan sebagai kebocoran yang harus ditutup, melainkan sebagai peluang kerja sama yang bisa dikelola kedua pihak sekaligus.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Wawancara yang Tak Bisa Berbicara untuk Semua Orang</h2>
<p>Di balik angka-angka nasional yang besar itu, tulang punggung data primer penelitian ini sebenarnya jauh lebih kecil dan personal: hanya segelintir narasumber berinisial, seperti AM, SA, GAD, DR, DS, dan SN, yang dihubungi lewat WhatsApp maupun telepon sepanjang 2024 dan 2025, menceritakan alasan mereka sendiri atau keluarganya memilih berobat ke Penang atau Kuala Lumpur, mulai dari alat operasi laser yang rusak di dalam negeri, kepercayaan pada dokter tertentu, sampai hasil diagnosis yang dirasakan berbeda dibanding rumah sakit di Medan. Rentang antara segelintir kisah pribadi lewat pesan singkat ini dengan klaim hampir dua juta orang Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun adalah jarak yang tidak sepenuhnya ditutup oleh penelitian ini sendiri, sebab metode sejarah lisan dengan enam narasumber tak pernah dirancang untuk mewakili gelombang sebesar itu, betapapun konsistennya alasan yang mereka sampaikan satu sama lain.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/dear-me-beauty-model-pria-gender/">Dear Me Beauty, Model Pria, dan Pasar yang Dibidik</a></p>
<p>Kesenjangan semacam itu sebetulnya wajar dalam kajian sejarah yang mengandalkan data lisan terbatas untuk menjelaskan fenomena berskala nasional, dan penulis sendiri tampak menyadarinya dengan menempatkan wawancara itu sebagai ilustrasi pola, bukan bukti statistik. Yang tersisa dari bacaan ini adalah pertanyaan yang tidak sepenuhnya dijawab oleh kerangka AGIL yang dipakai: jika kepercayaan pada layanan kesehatan dalam negeri bisa tergerus sedemikian rupa hingga seorang dekan kedokteran mengucapkannya sendiri di depan wartawan, sistem apa dalam kerangka Parsons itu yang sebenarnya sedang gagal berfungsi, dan berapa lama lagi kegagalan itu bisa terus ditutupi oleh kesigapan negara tetangga menjemput pasien yang mulai ragu pada rumahnya sendiri.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rolacantika/">Rola Cantika</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/wisata-medis-indonesia-ke-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
