<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Tokoh - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Feb 2024 05:17:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Tokoh - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189108407</site>	<item>
		<title>Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan</title>
		<link>https://cekricek.id/arahmaiani-pemberontakan-seni-dalam-memerangi-kekerasan-terhadap-perempuan/</link>
					<comments>https://cekricek.id/arahmaiani-pemberontakan-seni-dalam-memerangi-kekerasan-terhadap-perempuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Feb 2024 05:17:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Kebudayaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=264523</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/arahmaiani-pemberontakan-seni-dalam-memerangi-kekerasan-terhadap-perempuan/" title="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan 1"></a>Cekricek.id - "Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar madu … " Demikianlah potongan lirik dari ciptaan Ismail Marzuki yang mencerminkan dinamika kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Dahulu kala, kaum perempuan selalu mendapati diri mereka berada di bawah kendali kaum laki-laki. Contohnya, masa Kartini menunjukkan betapa sulitnya bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi seperti halnya laki-laki. Tidak hanya itu, mereka juga terbatas dalam hak untuk memilih atau menolak peran sebagai selir atau istri kedua. Hidup dalam keterbatasan yang memihak pada kaum pria. Meskipun era emansipasi kini sedang merajai, sikap diskriminatif terhadap perempuan masih tetap berlangsung. Di lingkungan kantor, masih terdapat jabatan-jabatan tertentu yang dianggap tidak pantas diisi oleh perempuan. Bahkan, pelecehan seksual, baik dalam bentuk perkosaan maupun bentuk lainnya, masih kerap terjadi. Ingatan kita masih terbayang dengan jelas peristiwa kerusuhan 14 Mei 1998, di mana banyak perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya, tindakan terhadap pelaku pelecehan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/arahmaiani-pemberontakan-seni-dalam-memerangi-kekerasan-terhadap-perempuan/" title="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T194912.647_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan 2"></a>
<p><strong>Cekricek.id</strong> - "Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar madu … " Demikianlah potongan lirik dari ciptaan Ismail Marzuki yang mencerminkan dinamika kekuasaan laki-laki terhadap perempuan.</p>



<p>Dahulu kala, kaum perempuan selalu mendapati diri mereka berada di bawah kendali kaum laki-laki. Contohnya, masa Kartini menunjukkan betapa sulitnya bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi seperti halnya laki-laki. Tidak hanya itu, mereka juga terbatas dalam hak untuk memilih atau menolak peran sebagai selir atau istri kedua. Hidup dalam keterbatasan yang memihak pada kaum pria.</p>



<p>Meskipun era emansipasi kini sedang merajai, sikap diskriminatif terhadap perempuan masih tetap berlangsung. Di lingkungan kantor, masih terdapat jabatan-jabatan tertentu yang dianggap tidak pantas diisi oleh perempuan. Bahkan, pelecehan seksual, baik dalam bentuk perkosaan maupun bentuk lainnya, masih kerap terjadi.</p>



<p>Ingatan kita masih terbayang dengan jelas peristiwa kerusuhan 14 Mei 1998, di mana banyak perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya, tindakan terhadap pelaku pelecehan sering kali tidak ada. Dalam keadaan seperti itu, perempuan hanya bisa menangis merenungi nasibnya. Seperti yang diungkapkan Arahmaiani, seorang perupa langka yang lebih sering mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan, "Tak ada cukup ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri."</p>



<p>Dikutip buku <em>Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (2000)</em>, salah satu contoh karya Arahmaiani yang berjudul "Aku Cinta Padamu" menciptakan gambaran hubungan akrab antara dua makhluk, namun lukisannya menggambarkan seorang pria telanjang di sofa, dengan sosok laki-laki bertopeng di belakangnya, memegang pisau, dan tangan kirinya mencekik leher seorang perempuan.</p>



<p>Hal serupa terlihat dalam karya "Halo Sayang," di mana seorang perempuan digambarkan setengah badan dengan laras pistol di pelipisnya, yang dipegang oleh tangan yang kekar. Meskipun judulnya menunjukkan kelembutan, gambarnya malah menggambarkan kekerasan terhadap perempuan. Yani, panggilan akrab bagi perempuan berusia 38 tahun itu, sengaja memberi judul tersebut untuk mempertegas keabsurdan tindakan kekerasan terhadap perempuan yang masih terus terjadi.</p>



<p>Karya-karya Yani memiliki keunikan, seperti penggunaan warna hitam putih dengan arang, gambar perempuan telanjang, pisau, pistol, bidang-bidang kosong, dan kepulan asap. Warna hitam putih menjadi simbol kecenderungan masyarakat untuk melihat segala sesuatu dalam dua dimensi hitam dan putih. Gambar perempuan telanjang mencerminkan kualitas yang sejati, karena pakaian hanya menjadi simbolis. Sementara itu, pisau dan pistol menjadi lambang alat yang digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan, memaksa mereka tunduk. Kepulan asap hitam putih menjadi gambaran ketidakpastian dalam kehidupan perempuan di masyarakat kita.</p>



<p>Sejak kecil, Yani telah menunjukkan jiwa pemberontak. Anak sulung dari tujuh bersaudara ini pernah bercita-cita menjadi nabi. Pada usia 14 tahun, dia meninggalkan rumah dan keluarganya, menjelajahi kehidupan yang penuh petualangan. Di perjalanan, dia menyaksikan penderitaan kaum perempuan yang tak tertahankan. Pengalaman pahit ini, bersama dengan pendidikan dan kecintaannya pada filsafat, puisi, sastra, dan sejarah, membentuk sikap perlawanan Yani terhadap realitas sosial perempuan. Semangat perlawanan ini kemudian dia tuangkan dalam karya-karyanya yang penuh makna.</p>



<p>Yani menempuh pendidikan seni di ITB, kemudian melanjutkan studinya ke Paddington Art School Sidney, Australia dan Academie voor Beeldende Kunst, Belanda. Dia juga menghabiskan satu setengah tahun di Thailand sambil menggelar pameran seni.</p>



<p>Bagi Yani, seni bukan sekadar alat untuk menuangkan keindahan. Karyanya merupakan perpaduan berbagai media seperti lukisan, gambar, fotografi, video, dan bahkan melibatkan disiplin lain seperti musik, tari, dan teater.</p>



<p>Yani sering menggunakan simbol-simbol dalam karyanya untuk memperkuat kritiknya terhadap isu-isu seperti monopoli modal, kemiskinan, dan diskriminasi yang diakibatkan oleh norma-norma dalam tradisi dan agama.</p>



<p>Arahmaiani, seorang perupa wanita, diakui sebagai sosok istimewa di kalangan pengamat seni. Ia dikenal sebagai salah satu dari sedikit perempuan yang berani menyuarakan pendapat berbeda dan menantang melalui karya seni, tulisan, dan pernyataannya (Marianto, 1998).</p>



<p>Karyanya merupakan manifestasi pemikirannya, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara dua elemen yang berlawanan, seperti lemah dan kuat, feminin dan maskulin, roh dan materi. Namun, dalam banyak karyanya, energi maskulin tampak lebih dominan, menciptakan ketidakseimbangan yang mencolok. Salah satu elemen menindas yang lain, sehingga hubungan harmonis dan saling mendukung menjadi tidak sehat.</p>



<p>Kondisi ini membuat Arahmaiani gelisah, dan keresahannya terpancar dalam karyanya yang dipamerkan di Galeri Milenium pada bulan Mei 1999. Pameran tersebut sarat dengan nilai-nilai politik, mengekspresikan kegelisahannya terhadap ketidakseimbangan antara kredo-kredonya dengan realitas kekerasan terhadap perempuan, terutama peristiwa kerusuhan 14 Mei 1998 yang menjadi inspirasinya.</p>



<p>Arahmaiani telah menyelenggarakan beberapa pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, ia menggelar pameran tunggal bertema "Seks, Agama, dan Coca Cola". Di luar negeri, ia berpartisipasi dalam pameran bersama seniman dari Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand dengan tema "Women Imaging Women" di Manila.</p>



<p>Gadis sederhana yang suka memberikan kejutan ini kini tinggal di sebuah kamar kontrakan sederhana di Jakarta Pusat. Ia meninggalkan kenyamanan untuk hidup di tengah orang-orang yang menghadapi ketidaksetaraan ekonomi dan berbagai masalah lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia menjalankan berbagai pekerjaan seperti memotong rambut, mendesain kaos, dan menerjunkan diri ke berbagai kegiatan. Satu hal yang selalu menjadi tujuan hidupnya adalah "menginginkan hidupnya bermanfaat bagi banyak orang, hidup yang memberi, karena esensi kreativitas adalah memberi."</p>



<p><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Baca <strong>Berita Riau Hari Ini</strong> setiap hari di <strong><a href="https://whatsapp.com/channel/0029VaJ0Pik545uqaSdu2G2b" rel="nofollow noopener" target="_blank">Channel Cekricek.id</a></strong>.</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/arahmaiani-pemberontakan-seni-dalam-memerangi-kekerasan-terhadap-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">264523</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis</title>
		<link>https://cekricek.id/menapaki-jejak-adam-lay-dari-pecinta-wayang-menjadi-maestro-lukis/</link>
					<comments>https://cekricek.id/menapaki-jejak-adam-lay-dari-pecinta-wayang-menjadi-maestro-lukis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Feb 2024 06:15:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Kebudayaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=264515</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/menapaki-jejak-adam-lay-dari-pecinta-wayang-menjadi-maestro-lukis/" title="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis 3"></a>Cekricek.id - Di Wonosobo, Jawa Tengah, pada tahun 1950, lahirlah seorang anak bernama Adam Lay. Sebagai putra keenam dari delapan bersaudara, Adam tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Dikutip buku Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (2000), Mbah Minto, seorang pecandu wayang kulit di kampung halamannya, menjadi sosok penting dalam perjalanan spiritualnya. Sejak remaja, Adam sering mengunjungi Mbah Minto untuk menikmati alunan merdu wayang kulit semalaman suntuk, ditemani kacang kulit dan jajanan sederhana. Lebih dari sekadar hiburan, Adam menemukan kebijaksanaan dan kedamaian dalam diri Mbah Minto. Setiap kunjungan, Mbah Minto tak hanya menghibur dengan wayang, tetapi juga berbagi ilmu agama Islam dengan Adam dan teman-temannya. Bukan hanya sikap Mbah Minto yang menarik hati Adam, tetapi juga ajaran Islam yang universal dan penuh kedamaian. Tergerak oleh ajaran tersebut, Adam pun memantapkan hatinya untuk memeluk agama Islam. Di bawah bimbingan Mbah Minto, Adam mengucapkan dua kalimat syahadat dan memulai babak baru dalam hidupnya. Sejak saat]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/menapaki-jejak-adam-lay-dari-pecinta-wayang-menjadi-maestro-lukis/" title="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T131336.669_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis 5"></a>
<p><strong>Cekricek.id</strong> - Di Wonosobo, Jawa Tengah, pada tahun 1950, lahirlah seorang anak bernama Adam Lay. Sebagai putra keenam dari delapan bersaudara, Adam tumbuh dalam keluarga yang sederhana. </p>



<p>Dikutip buku <em>Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (2000)</em>,  Mbah Minto, seorang pecandu wayang kulit di kampung halamannya, menjadi sosok penting dalam perjalanan spiritualnya. Sejak remaja, Adam sering mengunjungi Mbah Minto untuk menikmati alunan merdu wayang kulit semalaman suntuk, ditemani kacang kulit dan jajanan sederhana.</p>



<p>Lebih dari sekadar hiburan, Adam menemukan kebijaksanaan dan kedamaian dalam diri Mbah Minto. Setiap kunjungan, Mbah Minto tak hanya menghibur dengan wayang, tetapi juga berbagi ilmu agama Islam dengan Adam dan teman-temannya. Bukan hanya sikap Mbah Minto yang menarik hati Adam, tetapi juga ajaran Islam yang universal dan penuh kedamaian.</p>



<p>Tergerak oleh ajaran tersebut, Adam pun memantapkan hatinya untuk memeluk agama Islam. Di bawah bimbingan Mbah Minto, Adam mengucapkan dua kalimat syahadat dan memulai babak baru dalam hidupnya. Sejak saat itu, Adam tekun menjalankan ibadah shalat lima waktu dan mempelajari agama Islam secara mendalam dari Al-Qur'an dan tafsirnya.</p>



<p>Adam Lay dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih. Orang tua dan saudaranya memberinya kebebasan untuk memilih agama yang diyakininya, yaitu Islam. Bahkan, jika Adam mendapat panggilan haji, mereka berencana untuk pergi bersama.</p>



<p>Sejak kecil, Adam sudah terbiasa bekerja keras. Sepulang sekolah, dia membantu orang tuanya yang membuka warung kecil. Setelah menamatkan SMP di kampung halamannya, Adam melanjutkan pendidikan ke SMA di Magelang karena di Wonosobo tidak ada SMA. Namun, karena keterbatasan biaya, Adam hanya mampu menyelesaikan pendidikannya sampai kelas dua SMA.</p>



<p>Orang tuanya hanya mampu mengirimkan uang sebesar Rp 5.000,- per bulan. Adam harus hidup prihatin. Setiap pagi, dia hanya sarapan bubur kacang hijau atau sedikit nasi ketan.</p>



<p>Meskipun hidup dalam kesusahan, Adam tidak pernah putus asa. Dia terus mengembangkan bakat seninya yang merupakan anugerah Tuhan. Bakat melukisnya diasah secara otodidak melalui sketsa-sketsa yang dibuatnya.</p>



<p>Adam ingin melukis dengan cat minyak di atas kanvas, tapi terhalang oleh keterbatasan modal. Di tahun 1965, harga cat minyak setara dengan biaya kost sebulan, membuatnya tak mampu membeli.</p>



<p>Kegigihan Adam tak surut. Ia berharap dengan usaha keras dan petunjuk Tuhan, kesulitannya akan berakhir. Suatu kali di Yogyakarta, Adam menemukan cat minyak murah di toko-toko kecil. Pepatah "biarlah tak ada rotan, akar pun jadi" menjadi pegangannya. Adam membeli alat lukis murah itu dan mulai melukis di atas kanvas tipis yang juga murah.</p>



<p>Kegigihan Adam membuka jalannya. Suatu hari, paman dari teman kosnya di Magelang tertarik dengan karyanya. Pemilik toko besar di Magelang itu ingin dibuatkan lukisan dengan alat lukis yang lebih baik. Dia membelikan Adam cat minyak dan kanvas berkualitas tinggi. Adam bersyukur atas karunia ini.</p>



<p>Sebagai imbalan, Adam menerima uang, cat, dan baju dari pemilik toko. Sejak itu, Adam yakin bahwa profesi apapun yang ditekuni dengan sungguh-sungguh akan bermanfaat. Dia menggunakan sisa cat dan kanvas untuk melukis dan menjualnya di toko-toko. Usaha ini mengantarkannya keluar dari dunia pelukis jalanan dan memasuki pasar yang lebih luas.</p>



<p>Adam Lay dikenal sebagai maestro seni lukis Indonesia dengan aliran realis-naturalistik. Keahliannya melukis tak tertandingi, meskipun ia tak menganggap dirinya sempurna. Baginya, menyelesaikan sebuah lukisan membutuhkan waktu dan ketelitian, tak seperti malaikat yang dapat menyelesaikannya dalam sekejap.</p>



<p>Lukisan realis-naturalistik yang digarapnya membutuhkan kecermatan tinggi. Tak heran, sebuah lukisan ukuran standar membutuhkan waktu seminggu atau lebih untuk diselesaikan. Hal ini membuat Adam tak bisa terburu-buru dalam mengadakan pameran tunggal. Persiapannya pun membutuhkan waktu minimal satu tahun.</p>



<p>Sebagai seniman kreatif, Adam tak bisa lepas dari cat minyak, kanvas, dan kuas. Ia meyakini bahwa seniman yang tak berkarya terus menerus adalah seniman mandul. Adam pun selalu tenggelam dalam dunianya, melukis tanpa terikat waktu.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?resize=800%2C450&#038;ssl=1" alt="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis" class="wp-image-264516" title="Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis 4" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Sejarah-Indonesia-1_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Adam Lay. [Foto: Istimewa]</figcaption></figure>



<p>Kadang ia melukis di pagi hari, siang, atau malam hari, tergantung pada keinginannya. Tak jarang, setelah shalat subuh, ia langsung melukis hingga pukul 10 pagi, dan melanjutkannya lagi di sore atau malam hari. Bila di malam hari ia ingin melukis, ia tak ragu untuk langsung mengambil kanvas dan menuangkan idenya. Aktivitasnya melukis bisa berlangsung selama berjam-jam, bahkan tak jarang ia melukis sepanjang hari atau sepekan tanpa menyentuh kuas sama sekali.</p>



<p>Pada tahun 1983, setelah mengumpulkan modal yang cukup, Adam membeli tanah dan rumah di Cipanas. Rumah tersebut kemudian menjadi villa megah yang diibaratkan istana bagi Adam, istri, anak-anak, dan puluhan stafnya.</p>



<p>Sebelum hidup mandiri seperti itu, Adam pernah bekerja sebagai pelukis poster bioskop di bawah asuhan Michael Tanzil, seorang fotografer dan pelukis ternama. Saat itu, Adam bertugas sebagai fotografer dengan honorarium Rp. 4.000,- per bulan. Ia pun disibukkan dengan order foto dan lukisan.</p>



<p>Adam berkesempatan bertemu kembali dengan Richard Purwondo, seorang kenalan lama yang dulu pernah bekerja sama dengan Michael Tanzil. Richard Purwondo adalah orang yang mau mensponsori pameran solo pertama Adam Lay di Hotel Indonesia pada tahun 1979.</p>



<p>Adam Lay memiliki beberapa karya yang tampak seperti lukisan Basuki Abdullah, namun ia tetap Adam Lay, pelukis yang bangga dengan identitasnya. Ia menjadikan seni sebagai profesi utamanya, yaitu sebagai pelukis yang hidupnya sarat dengan romantisme. Setelah mengalami berbagai lika-liku sebagai pelukis jalanan dan fotografer, ia kini menorehkan namanya sebagai pelukis yang kurang idealis, yang telah mencoba semua gaya namun akhirnya setia pada ciri khasnya yang realis-naturalistik.</p>



<p>Sejak tahun 1962, Adam Lay sudah menjadi penggemar karya-karya Basuki Abdullah, pelukis besar Indonesia. Ia pertama kali terpesona oleh lukisan foto Bung Karno yang dibuat oleh Basuki Abdullah dan dipamerkan di Pekan Raya Yogya. Ia pun mulai meniru gaya melukis Basuki Abdullah, namun tidak selamanya. Dalam perjalanan kreatifnya, ia berhasil menemukan ciri khasnya sendiri. Hal ini wajar terjadi, sebagaimana yang dialami oleh Picasso sebelum menjadi pelukis terkenal. Meskipun Adam dan Basuki Abdullah sama-sama mengusung aliran realis naturalistik, tetapi ada nuansa yang berbeda di antara keduanya. Adam bukan Basuki, begitu juga sebaliknya. Setiap pelukis memiliki nurani yang berbeda-beda.</p>



<p>Adam mengaku tidak terlalu idealis dalam berkarya, ia berkata dengan jujur. Ia harus bertanggung jawab atas keluarga dan lebih dari 40 orang yang bergantung padanya. Ia melukis untuk mencari penghasilan yang halal. Namun, itu tidak berarti ia melukis asal-asalan dan mengabaikan kualitas. Ia tahu bahwa kualitas adalah kunci untuk menjual lukisan, ia berkata dengan tegas. Ia sadar bahwa konsumen tidak bodoh, mereka bisa memilih lukisan yang bagus dan buruk.</p>



<p>Salah satu lukisan Adam Lay yang terkenal adalah Ibu dan Anak, sebuah lukisan realis-naturalistik yang dipamerkan di Art Gallery Cipanas.</p>



<p><strong>Baca juga: </strong><a href="https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/">Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah</a></p>



<p>Adam Lay menghembuskan napas terakhirnya di usia 65 tahun di rumahnya di Kampung Balakang, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Jumat (4/4/2014). Ia meninggalkan dua orang anak laki-laki, yaitu Wahyu Purnawan dan Daminata.</p>



<p><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Baca <strong>Berita Riau Hari Ini</strong> setiap hari di <strong><a href="https://whatsapp.com/channel/0029VaJ0Pik545uqaSdu2G2b" rel="nofollow noopener" target="_blank">Channel Cekricek.id</a></strong>.</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/menapaki-jejak-adam-lay-dari-pecinta-wayang-menjadi-maestro-lukis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">264515</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah</title>
		<link>https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/</link>
					<comments>https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Lesmana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Feb 2024 05:39:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Kebudayaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=264507</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/" title="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah 6"></a>Cekricek.id - Abu Ridho, nama yang harum dalam dunia keramik kuno. Keahlian dan kepiawaiannya menaksir usia dan asal-usul keramik antik telah tersohor ke mana-mana. Profesi yang ia geluti selama berpuluh tahun ini menjadikannya pakar di bidangnya. Lahir di Desa Banjarsari, Jawa Timur pada 16 April 1927, Abu Ridho menempuh pendidikan yang tidak mudah. Selepas SLTP di Yogyakarta, ia bekerja di Jakarta sambil meneruskan pendidikannya di SMA Taman Madya pada sore hari. Lulus pada tahun 1954, ia mendaftar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Purbakala. Keinginannya terhambat karena kurangnya dukungan dari atasannya, De Flines, sehingga ia keluar setelah satu tahun. Kekecewaan tak menghentikan semangatnya. Abu Ridho mengambil kursus BI di Universitas Atmajaya, mendalami sejarah Asia Timur di sore hari. Keinginannya untuk memperkaya ilmu tak pernah sirna, ia pun melanjutkan studi di Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Namun, kuliahnya kembali terhenti akibat peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Dikutip buku Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/" title="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2024/02/Ck2-2024-02-04T123745.852_11zon.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah 7"></a>
<p><strong>Cekricek.id</strong> - Abu Ridho, nama yang harum dalam dunia keramik kuno. Keahlian dan kepiawaiannya menaksir usia dan asal-usul keramik antik telah tersohor ke mana-mana. Profesi yang ia geluti selama berpuluh tahun ini menjadikannya pakar di bidangnya.</p>



<p>Lahir di Desa Banjarsari, Jawa Timur pada 16 April 1927, Abu Ridho menempuh pendidikan yang tidak mudah. Selepas SLTP di Yogyakarta, ia bekerja di Jakarta sambil meneruskan pendidikannya di SMA Taman Madya pada sore hari. Lulus pada tahun 1954, ia mendaftar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Purbakala. Keinginannya terhambat karena kurangnya dukungan dari atasannya, De Flines, sehingga ia keluar setelah satu tahun.</p>



<p>Kekecewaan tak menghentikan semangatnya. Abu Ridho mengambil kursus BI di Universitas Atmajaya, mendalami sejarah Asia Timur di sore hari. Keinginannya untuk memperkaya ilmu tak pernah sirna, ia pun melanjutkan studi di Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Namun, kuliahnya kembali terhenti akibat peristiwa G30S/PKI tahun 1965.</p>



<p>Dikutip buku <em>Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (2000)</em>, perkenalan Abu Ridho dengan dunia keramik dimulai pada tahun 1950, saat ia bekerja di Museum Nasional bersama Flines. Ia bekerja sebagai Asisten Kurator dan Sejarah, meskipun menurut pengakuannya, ia lebih seperti pesuruh bagi De Flines. Tugasnya sehari-hari melayani penelitian dan pencinta keramik kuno, seperti mengambilkan buku di perpustakaan, membuka halaman yang ditunjukkan, dan membacakannya saat De Flines meneliti keramik.</p>



<p>Pengalamannya di Museum Nasional, meskipun penuh keterbatasan, membuka jalan bagi Abu Ridho untuk menjelajahi dunia keramik kuno. Kegigihan dan kecintaannya pada bidang ini mengantarkannya menjadi pakar yang disegani hingga saat ini.</p>



<p>Bekerja di museum membawa Abu Ridho pada dunia baru. Di waktu senggangnya, ia sering menyelami lembaran-lembaran buku di perpustakaan museum, membuka gerbang pengetahuan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semakin ia menyelami, semakin ia tertarik dan ingin tahu lebih banyak.</p>



<p>Awalnya, Abu Ridho tak pernah bercita-cita bekerja di museum, apalagi menjadi ahli keramik kuno. Namun, seiring waktu dan keakrabannya dengan pekerjaan itu, ia mulai jatuh hati pada bidang yang ditekuni atasannya. Ia semakin rajin membaca buku-buku di perpustakaan museum, dan tak jarang memberanikan diri untuk bertanya kepada De Flines, atasannya yang berkebangsaan Belanda.</p>



<p>Meskipun De Flines tak pernah menganggap Abu Ridho sebagai murid, ia tak pernah pula memandangnya rendah. Bagi De Flines, Abu Ridho tetaplah seorang pesuruh.</p>



<p>Pada tahun 1959, De Flines diusir dari Indonesia dan kembali ke tanah kelahirannya, Belanda. Ini terjadi akibat keretakan hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Belanda terkait persengketaan mengenai Irian Barat (Irian Jaya). </p>



<p>Seiring dengan peristiwa tersebut, Abu Ridho secara otomatis ditunjuk sebagai kurator penggantinya. Kepercayaan ini membawanya mengambil alih pengelolaan seluruh koleksi benda sejarah dan arkeologi di Museum Nasional, yang terdiri dari sekitar 5000 koleksi keramik kuno asing. Semua koleksi ini sebelumnya merupakan milik pribadi De Flines.</p>



<p>Dengan tanggung jawab yang baru diberikan, Abu Ridho melanjutkan tugas yang sebelumnya dilakukan oleh De Flines dengan melakukan pencatatan seluruh koleksi keramik asing di Museum Nasional. Koleksi keramik ini berasal dari berbagai negara, termasuk Cina, Vietnam, Thailand, Jepang, Timur Tengah, dan Eropa. Semua keramik ini ditemukan di berbagai lokasi di Nusantara.</p>



<p>Kemahiran Abu Ridho bagaikan memberi nyawa pada benda-benda keramik. Lewat buku-bukunya, ia menuangkan kisah mereka dengan transparan. Setiap jenis keramik temuan dibahas secara rinci, mulai dari bahan dasar, ragam hias, warna, teknik pengolahan, hingga perkiraan umur dan tempat asalnya.</p>



<p>Abu Ridho menjelaskan bahwa keramik-keramik tersebut diangkat dari dasar laut Pulau Buaya, Kepulauan Lingga, Riau. Jumlahnya mencapai 31.000 potong, berasal dari masa Dinasti Sung (960-1279 M). Beragam jenis keramik ditemukan, seperti cupu, mangkok, piring, pasu, kendi, tempayan, dan vas bunga. Jenis keramik ini tidak ditemukan lagi di dataran Cina.</p>



<p>Keahliannya dalam bidang keramik mengantarkannya pada julukan "keramalog". Kemampuannya pun diakui banyak pihak, terbukti dengan banyaknya permintaan untuk mengidentifikasi keramik kuno koleksi pribadi. </p>



<p>Pengetahuannya tentang keramik semakin kaya seiring dengan undangan untuk memberikan ceramah dan konsultasi di berbagai negara. Kesempatan tersebut juga ia manfaatkan untuk melihat koleksi keramik di museum-museum dunia.</p>



<p>Seiring waktu, Abu Ridho terus melangkah maju dalam dunia keramik. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya beberapa buku karyanya, seperti <em>Oriental Ceramic The Great Collections Volume 3</em> dan  <em>The Pulau Buaya Wreck</em>.</p>



<p>Buku <em>Oriental Ceramic The Great Collections Volume 3</em> membahas tentang koleksi keramik Museum Nasional yang dianggap sebagai salah satu yang terhebat di dunia. Buku ini diterbitkan di Jepang pada tahun 1977.</p>



<p><em>The Pulau Buaya Wreck</em> merupakan karya terbaru Abu Ridho yang ditulisnya bersama Mc Kinnon. Buku ini berisi sekitar 70 gambar dan uraian tentang barang kuno, terutama keramik dari zaman Dinasti Sung (960-1279 M). Keramik tersebut ditemukan di reruntuhan sebuah kapal Jung Cina di dasar laut Pulau Buaya, Kepulauan Lingga, Riau. Diperkirakan keramik muatan kapal ini berusia 600-700 tahun.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/temuan-arkeologi-unik-bata-kuno-mesopotamia-ungkap-misteri-fluktuasi-medan-magnet-bumi/" data-type="post" data-id="257034">Temuan Arkeologi Unik: Bata Kuno Mesopotamia Ungkap Misteri Fluktuasi Medan Magnet Bumi</a></p>



<p>Reruntuhan kapal ini ditemukan pada tahun 1989 oleh PT. Muara Wisesa Samudra, sebuah perusahaan yang bergerak dalam usaha pemburuan harta karun. Benda-benda arkeologis tersebut kemudian diangkat dan disimpan dalam gudang di Pulau Batam.</p>



<p><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em><em>Baca <strong>Berita Riau Hari Ini</strong> setiap hari di <strong><a href="https://whatsapp.com/channel/0029VaJ0Pik545uqaSdu2G2b" rel="nofollow noopener" target="_blank">Channel Cekricek.id</a></strong>.</em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/abu-ridho-pakar-keramik-kuno-yang-mengukir-jejak-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">264507</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S</title>
		<link>https://cekricek.id/kisah-brigjen-mustafa-sjarief-soepardjo-peran-penangkapan-dan-akhir-tragis-dalam-g30s/</link>
					<comments>https://cekricek.id/kisah-brigjen-mustafa-sjarief-soepardjo-peran-penangkapan-dan-akhir-tragis-dalam-g30s/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Dec 2023 07:08:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253205</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kisah-brigjen-mustafa-sjarief-soepardjo-peran-penangkapan-dan-akhir-tragis-dalam-g30s/" title="Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Cekricek.id - Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S 8"></a>Siapa Soepardjo? Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo, yang lahir pada 23 Maret 1923, adalah sosok militer yang memiliki jejak signifikan dalam sejarah Indonesia. Sebagai Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat, Soepardjo memiliki peran kunci dalam Gerakan 30 September (G30S). Sebelum keterlibatannya dalam G30S, Soepardjo memiliki riwayat militer yang cemerlang. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Siaga Dua di Bengkayang, Kalimantan Barat. Selain itu, ia juga terlibat dalam gerakan Ganjang Malaysia dengan misi penyerbuan ke Kuching. Pendidikannya pun tak kalah menarik, dimana ia sempat mengenyam ilmu di Sekolah Staf Tentara Pakistan di Quetta dan sekolah pelayaran calon Bintara AL Jepang di Cilacap. Tak hanya itu, Soepardjo juga pernah memimpin Resimen Divisi Siliwangi di Jawa Barat. Namun, peran terbesarnya datang saat G30S. Soepardjo, yang saat itu berada di bawah komando Untung, terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Ia bahkan terbang khusus dari Kalimantan ke Jakarta untuk berpartisipasi. Saat peristiwa berlangsung, Soepardjo menjadi sosok yang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kisah-brigjen-mustafa-sjarief-soepardjo-peran-penangkapan-dan-akhir-tragis-dalam-g30s/" title="Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Cekricek.id - Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/12/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo: Peran, Penangkapan, dan Akhir Tragis dalam G30S 9"></a>
<h2 class="wp-block-heading">Siapa Soepardjo? </h2>



<p><strong>Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo</strong>, yang lahir pada 23 Maret 1923, adalah sosok militer yang memiliki jejak signifikan dalam sejarah Indonesia. Sebagai Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat, Soepardjo memiliki peran kunci dalam Gerakan 30 September (G30S).</p>



<p>Sebelum keterlibatannya dalam G30S, Soepardjo memiliki riwayat militer yang cemerlang. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Siaga Dua di Bengkayang, Kalimantan Barat. Selain itu, ia juga terlibat dalam gerakan Ganjang Malaysia dengan misi penyerbuan ke Kuching. Pendidikannya pun tak kalah menarik, dimana ia sempat mengenyam ilmu di Sekolah Staf Tentara Pakistan di Quetta dan sekolah pelayaran calon Bintara AL Jepang di Cilacap. Tak hanya itu, Soepardjo juga pernah memimpin Resimen Divisi Siliwangi di Jawa Barat.</p>



<p>Namun, peran terbesarnya datang saat G30S. Soepardjo, yang saat itu berada di bawah komando Untung, terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Ia bahkan terbang khusus dari Kalimantan ke Jakarta untuk berpartisipasi. Saat peristiwa berlangsung, Soepardjo menjadi sosok yang melaporkan penangkapan jenderal-jenderal kepada Presiden Soekarno dan menerima instruksi langsung dari sang presiden untuk menghentikan gerakan demi mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.</p>



<p>Namun, nasib tragis menanti Soepardjo. Setelah menyadari kegagalan G30S, ia mencoba melarikan diri. Namun, pada tahun 1966, ia berhasil ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan militer, Mahmilub. Hasilnya, Soepardjo dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.</p>



<p>Penangkapan Soepardjo sendiri merupakan operasi intelijen besar-besaran yang diberi kode "Operasi Kalong". Pada 10 Januari 1967, berkat informasi dari Mayor KKO Adnan Suwardi, lokasi persembunyian Soepardjo terdeteksi di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Meski sempat melarikan diri, akhirnya pada 12 Januari 1967, Soepardjo berhasil ditangkap.</p>



<p>Kabar penangkapan ini segera sampai ke Panglima Kodam V/Jaya, Brigjen Amirmachmud. Pada 15 Mei 1970, sehari sebelum eksekusi, keluarga Soepardjo diberi kesempatan untuk bertemu dengannya untuk terakhir kalinya. Awalnya, Soepardjo meminta agar eksekusi dilakukan dengan mata terbuka, namun setelah berdiskusi dengan keluarga, keinginannya itu tidak jadi dilaksanakan.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/kisah-brigjen-mustafa-sjarief-soepardjo-peran-penangkapan-dan-akhir-tragis-dalam-g30s/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253205</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September</title>
		<link>https://cekricek.id/kisah-letnan-kolonel-untung-sutopo-pemimpin-gerakan-30-september/</link>
					<comments>https://cekricek.id/kisah-letnan-kolonel-untung-sutopo-pemimpin-gerakan-30-september/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2023 00:52:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Untung Sutopo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253246</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kisah-letnan-kolonel-untung-sutopo-pemimpin-gerakan-30-september/" title="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September 10"></a>Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo, tokoh sentral Gerakan 30 September 1965, lulusan elit akademi militer, dan hubungannya dengan Suharto. Siapa Untung Sutopo? Dikenal sebagai salah satu lulusan paling cemerlang dari akademi militer, Untung Sutopo bukanlah sosok yang asing di kalangan militer. Pernah berada di bawah komando Suharto saat penyerbuan Irian Barat, ia mendapat kepercayaan sebagai Panglima Mandala. Karir militernya semakin cemerlang saat ia ditunjuk sebagai Komandan Batalyon 545/Benteng Raiders yang bermarkas di Srondol, Semarang. Namun, tak lama setelah itu, ia dipindahkan ke Resimen Cakrabirawa. Namun, nasibnya berubah drastis setelah Gerakan 30 September mengalami kegagalan. Kabar beredar bahwa Untung Sutopo melarikan diri, dan menurut beberapa sumber, penangkapannya terjadi secara tak terduga. Saat Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) berlangsung, Untung dengan tegas menolak tuduhan bahwa ia berupaya menjatuhkan pemerintah yang sah. Meski demikian, ia mengakui telah memobilisasi beberapa individu untuk melakukan aksi pembunuhan yang terstruktur. Dengan menggali lebih dalam kisah Letnan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/kisah-letnan-kolonel-untung-sutopo-pemimpin-gerakan-30-september/" title="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/10/Sejarah-Indonesia-17-11-2022_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo: Pemimpin Gerakan 30 September 11"></a>
<p>Kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo, tokoh sentral Gerakan 30 September 1965, lulusan elit akademi militer, dan hubungannya dengan Suharto.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Untung Sutopo? </h2>



<p>Dikenal sebagai salah satu lulusan paling cemerlang dari akademi militer, Untung Sutopo bukanlah sosok yang asing di kalangan militer. Pernah berada di bawah komando Suharto saat penyerbuan Irian Barat, ia mendapat kepercayaan sebagai Panglima Mandala. </p>



<p>Karir militernya semakin cemerlang saat ia ditunjuk sebagai Komandan Batalyon 545/Benteng Raiders yang bermarkas di Srondol, Semarang. Namun, tak lama setelah itu, ia dipindahkan ke Resimen Cakrabirawa.</p>



<p>Namun, nasibnya berubah drastis setelah Gerakan 30 September mengalami kegagalan. Kabar beredar bahwa Untung Sutopo melarikan diri, dan menurut beberapa sumber, penangkapannya terjadi secara tak terduga. </p>



<p>Saat Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) berlangsung, Untung dengan tegas menolak tuduhan bahwa ia berupaya menjatuhkan pemerintah yang sah. Meski demikian, ia mengakui telah memobilisasi beberapa individu untuk melakukan aksi pembunuhan yang terstruktur.</p>



<p>Dengan menggali lebih dalam kisah Letnan Kolonel Untung Sutopo, kita dapat memahami lebih jauh dinamika politik dan militer Indonesia pada era tersebut.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/kisah-letnan-kolonel-untung-sutopo-pemimpin-gerakan-30-september/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253246</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Pacitan hingga Istana Presiden</title>
		<link>https://cekricek.id/susilo-bambang-yudhoyono/</link>
					<comments>https://cekricek.id/susilo-bambang-yudhoyono/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Sep 2023 01:14:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253202</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/susilo-bambang-yudhoyono/" title="Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Pacitan hingga Istana Presiden" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui pemilihan langsung, dan jejak prestasinya yang menginspirasi." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Pacitan hingga Istana Presiden 12"></a>Perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui pemilihan langsung, dan jejak prestasinya yang menginspirasi. Siapa Susilo Bambang Yudhoyono? Dari kota kelahiran Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949, Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang akrab disapa SBY, menorehkan sejarah sebagai pemimpin pertama Nusantara yang menduduki kursi presiden melalui pemilihan langsung. Dibalik namanya yang besar, ada sosok Raden Soekotjo dan Siti Habibah, orang tua yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. SBY, yang terkenal dengan kecerdasannya, berhasil menamatkan studi di AKABRI pada tahun 1973 dengan predikat lulusan terbaik. Tak hanya itu, ia juga mencatatkan namanya sebagai honor graduate dari Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, setelah menuntaskan pendidikan di sana antara 1982 hingga 1983. Pada 1989, kembali SBY menorehkan prestasi dengan meraih gelar lulusan terbaik dari Seskoad di Bandung. Tak berhenti di sana, gelar Master pun ia raih dari Webster University, Amerika Serikat. Karier SBY di ranah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/susilo-bambang-yudhoyono/" title="Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Pacitan hingga Istana Presiden" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui pemilihan langsung, dan jejak prestasinya yang menginspirasi." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-17_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Pacitan hingga Istana Presiden 13"></a>
<p>Perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui pemilihan langsung, dan jejak prestasinya yang menginspirasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Susilo Bambang Yudhoyono? </h2>



<p>Dari kota kelahiran Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949, Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang akrab disapa SBY, menorehkan sejarah sebagai pemimpin pertama Nusantara yang menduduki kursi presiden melalui pemilihan langsung. Dibalik namanya yang besar, ada sosok Raden Soekotjo dan Siti Habibah, orang tua yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.</p>



<p>SBY, yang terkenal dengan kecerdasannya, berhasil menamatkan studi di AKABRI pada tahun 1973 dengan predikat lulusan terbaik. Tak hanya itu, ia juga mencatatkan namanya sebagai honor graduate dari Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, setelah menuntaskan pendidikan di sana antara 1982 hingga 1983. </p>



<p>Pada 1989, kembali SBY menorehkan prestasi dengan meraih gelar lulusan terbaik dari Seskoad di Bandung. Tak berhenti di sana, gelar Master pun ia raih dari Webster University, Amerika Serikat.</p>



<p>Karier SBY di ranah pemerintahan Indonesia dimulai pada tahun 1999, saat ia mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. </p>



<p>Tak lama berselang, tepatnya setahun kemudian, ia menduduki posisi sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan di era Abdurrahman Wahid. </p>



<p>Di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, SBY kembali dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Namun, sebelum masa tugasnya selesai, SBY memutuskan untuk mengundurkan diri dan mendirikan Partai Demokrat.</p>



<p>Dengan bendera Partai Demokrat, SBY mengambil langkah berani dengan mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu Presiden pertama di Indonesia pada 2004. Hasilnya, SBY berhasil memenangkan pemilu dengan Yusuf Kalla sebagai pendampingnya. </p>



<p>Kepemimpinan SBY selama lima tahun pertama tampaknya berhasil menyentuh hati rakyat Indonesia. Hal ini terbukti saat pemilu presiden 2009, di mana SBY kembali terpilih sebagai presiden dengan dukungan mayoritas, kali ini bersama Prof. Budiono sebagai wakil presiden.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/susilo-bambang-yudhoyono/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253202</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri</title>
		<link>https://cekricek.id/widodo-budidarmo/</link>
					<comments>https://cekricek.id/widodo-budidarmo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Sep 2023 03:39:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253239</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/widodo-budidarmo/" title="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri 14"></a>Kisah perjalanan karier Jenderal Polisi Widodo Budidarmo, dari pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian hingga mendirikan Samsat untuk kemudahan pengurusan STNK dan BPKB. Siapa Jenderal Polisi Widodo Budidarmo? Dari kota kelahirannya, Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 1 September 1927, Jenderal Polisi Widodo Budidarmo menorehkan jejaknya dalam sejarah kepolisian Indonesia. Menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian pada tahun 1955, Widodo Budidarmo memulai langkah awalnya dalam dunia kepolisian dengan menjadi Kabag Organisasi Polisi di Purwarkarta dari tahun 1956 hingga 1959. Tak hanya di tanah air, Widodo Budidarmo juga memperluas wawasannya dengan menempuh pendidikan militer di US Coast Guard Officers Candidate School pada awal 1960 dan menyelesaikannya dalam waktu singkat. Setelah kembali dari Amerika, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Kabag Operasi Polisi Jakarta Raya. Karier Widodo Budidarmo terus menanjak dengan menjadi Panglima Korp Perairan dan Udara pada 1964, lalu Panglima Daerah Kepolisisan II Sumatera Utara pada 1967, dan Kadapol VII Metro Jaya]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/widodo-budidarmo/" title="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-16_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Kisah Inspiratif Jenderal Polisi Widodo Budidarmo: Dari Surabaya hingga Kapolri 15"></a>
<p><em>Kisah perjalanan karier Jenderal Polisi Widodo Budidarmo, dari pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian hingga mendirikan Samsat untuk kemudahan pengurusan STNK dan BPKB.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Jenderal Polisi Widodo Budidarmo? </h2>



<p>Dari kota kelahirannya, Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 1 September 1927, Jenderal Polisi Widodo Budidarmo menorehkan jejaknya dalam sejarah kepolisian Indonesia. </p>



<p>Menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian pada tahun 1955, Widodo Budidarmo memulai langkah awalnya dalam dunia kepolisian dengan menjadi Kabag Organisasi Polisi di Purwarkarta dari tahun 1956 hingga 1959.</p>



<p>Tak hanya di tanah air, Widodo Budidarmo juga memperluas wawasannya dengan menempuh pendidikan militer di US Coast Guard Officers Candidate School pada awal 1960 dan menyelesaikannya dalam waktu singkat. </p>



<p>Setelah kembali dari Amerika, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Kabag Operasi Polisi Jakarta Raya. </p>



<p>Karier Widodo Budidarmo terus menanjak dengan menjadi Panglima Korp Perairan dan Udara pada 1964, lalu Panglima Daerah Kepolisisan II Sumatera Utara pada 1967, dan Kadapol VII Metro Jaya antara 1970 hingga 1974.</p>



<p>Puncak karier Widodo Budidarmo adalah saat ia dilantik sebagai Kapolri. Dalam kepemimpinannya, ia memberikan inovasi dengan mendirikan Kantor Bersama Tiga Instansi (Samsat) yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam pengurusan dokumen kendaraan seperti STNK dan BPKB. Sayangnya, pada 5 Mei 2017, Indonesia kehilangan sosok inspiratif ini.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/widodo-budidarmo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253239</post-id>	</item>
		<item>
		<title>W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia</title>
		<link>https://cekricek.id/w-s-rendra/</link>
					<comments>https://cekricek.id/w-s-rendra/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Sep 2023 01:11:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[W.S. Rendra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253238</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/w-s-rendra/" title="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia 16"></a>Kisah hidup W.S. Rendra, aktor dan penyair legendaris Indonesia, pendiri Bengkel Teater, serta perjuangannya melawan tekanan penguasa. Siapa W.S. Rendra? Dalam dunia seni Indonesia, nama W.S. Rendra mendominasi sebagai simbol keberanian dan kreativitas. Lahir di kota Surakarta pada tanggal 7 November 1935, Rendra tidak hanya dikenal sebagai aktor tetapi juga sebagai sutradara dan penyair handal. Pada tahun 1968, dengan semangat yang membara, ia mendirikan Bengkel Teater. Namun, perjalanan awalnya tidaklah mudah. Penguasa saat itu seringkali membatasi ruang gerak Rendra dalam berkarya. Bahkan pada tahun 1977, pemerintah mengambil langkah ekstrem dengan mencekal Rendra, sehingga ia dilarang tampil di depan publik. Namun, Rendra tidak pernah menyerah. Ia bangkit kembali dan pada tahun 1985, Bengkel Teater Rendra kembali berdiri tegak. Sepanjang perjalanan hidupnya, Rendra telah menciptakan berbagai karya monumental. Beberapa naskah drama terkenalnya meliputi "Orang-orang di Tikungan Jalan", "Panembahan Reso", dan "Kasidah Barzani". Sementara di ranah puisi, "Nyanyian Angsa" dan "Sajak Rajawali" menjadi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/w-s-rendra/" title="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-15_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="W.S. Rendra: Aktor, Sutradara, dan Penyair Legendaris Indonesia 17"></a>
<p><em>Kisah hidup W.S. Rendra, aktor dan penyair legendaris Indonesia, pendiri Bengkel Teater, serta perjuangannya melawan tekanan penguasa.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa W.S. Rendra? </h2>



<p>Dalam dunia seni Indonesia, nama W.S. Rendra mendominasi sebagai simbol keberanian dan kreativitas. Lahir di kota Surakarta pada tanggal 7 November 1935, Rendra tidak hanya dikenal sebagai aktor tetapi juga sebagai sutradara dan penyair handal.</p>



<p>Pada tahun 1968, dengan semangat yang membara, ia mendirikan Bengkel Teater. Namun, perjalanan awalnya tidaklah mudah. Penguasa saat itu seringkali membatasi ruang gerak Rendra dalam berkarya. Bahkan pada tahun 1977, pemerintah mengambil langkah ekstrem dengan mencekal Rendra, sehingga ia dilarang tampil di depan publik.</p>



<p>Namun, Rendra tidak pernah menyerah. Ia bangkit kembali dan pada tahun 1985, Bengkel Teater Rendra kembali berdiri tegak. Sepanjang perjalanan hidupnya, Rendra telah menciptakan berbagai karya monumental. </p>



<p>Beberapa naskah drama terkenalnya meliputi "Orang-orang di Tikungan Jalan", "Panembahan Reso", dan "Kasidah Barzani". Sementara di ranah puisi, "Nyanyian Angsa" dan "Sajak Rajawali" menjadi bukti kejeniusannya. Menariknya, banyak dari karya-karyanya yang mendapatkan pengakuan internasional dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.</p>



<p>Sayangnya, pada 6 Agustus 2009, dunia seni Indonesia kehilangan salah satu pilar terbesarnya. W.S. Rendra meninggal dunia pada usia 75 tahun, namun warisannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi muda Indonesia.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/w-s-rendra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253238</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Wahid Hasjim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan</title>
		<link>https://cekricek.id/wahid-hasjim/</link>
					<comments>https://cekricek.id/wahid-hasjim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Sep 2023 00:40:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wahid Hasjim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253242</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/wahid-hasjim/" title="Wahid Hasjim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Telusuri perjalanan Wahid Hasjim, tokoh pendidikan Islam dan anggota penting BPUPKI serta PPKI, yang berdedikasi untuk pembaharuan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Wahid Hasjim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan 18"></a>Telusuri perjalanan Wahid Hasjim, tokoh pendidikan Islam dan anggota penting BPUPKI serta PPKI, yang berdedikasi untuk pembaharuan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Siapa Wahid Hasjim? Dibalik sejarah kemerdekaan Indonesia, terdapat nama-nama yang mungkin kurang dikenal namun memiliki peran penting. Salah satunya adalah Wahid Hasjim. Lahir di Jombang, 1 Juni 1914, Wachid adalah anak dari K. H. Hasyim Asy’ari, tokoh besar Pondok Pesantren Tebuireng. Dengan bekal ilmu dari pesantren di Jawa Timur hingga Timur Tengah, Wachid membawa angin segar pemikiran Islam modern ke Tebuireng. Tidak hanya itu, Wahid Hasjim memperkenalkan inovasi dalam sistem pendidikan di pesantren dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum. Ia mendorong santri untuk lebih aktif membaca dan berorganisasi. Sebagai bentuk dedikasinya pada pendidikan, ia mendirikan Madrasah Nizamiyah. Uniknya, madrasah ini mengajarkan pelajaran dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Belanda. Dengan 29 siswa awal, madrasah ini berdiri di serambi Masjid Tebuireng. Kiprah Wahid Hasjim tidak berhenti di dunia pendidikan. Di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/wahid-hasjim/" title="Wahid Hasjim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Telusuri perjalanan Wahid Hasjim, tokoh pendidikan Islam dan anggota penting BPUPKI serta PPKI, yang berdedikasi untuk pembaharuan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-14_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Wahid Hasjim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan 19"></a>
<p><em>Telusuri perjalanan Wahid Hasjim, tokoh pendidikan Islam dan anggota penting BPUPKI serta PPKI, yang berdedikasi untuk pembaharuan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Wahid Hasjim? </h2>



<p>Dibalik sejarah kemerdekaan Indonesia, terdapat nama-nama yang mungkin kurang dikenal namun memiliki peran penting. Salah satunya adalah Wahid Hasjim. Lahir di Jombang, 1 Juni 1914, Wachid adalah anak dari K. H. Hasyim Asy’ari, tokoh besar Pondok Pesantren Tebuireng. </p>



<p>Dengan bekal ilmu dari pesantren di Jawa Timur hingga Timur Tengah, Wachid membawa angin segar pemikiran Islam modern ke Tebuireng.</p>



<p>Tidak hanya itu, Wahid Hasjim memperkenalkan inovasi dalam sistem pendidikan di pesantren dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum. Ia mendorong santri untuk lebih aktif membaca dan berorganisasi. </p>



<p>Sebagai bentuk dedikasinya pada pendidikan, ia mendirikan Madrasah Nizamiyah. Uniknya, madrasah ini mengajarkan pelajaran dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Belanda. Dengan 29 siswa awal, madrasah ini berdiri di serambi Masjid Tebuireng.</p>



<p>Kiprah Wahid Hasjim tidak berhenti di dunia pendidikan. Di usia muda, 25 tahun, ia sudah memimpin Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Melalui platform ini, ia berjuang untuk hak-hak guru agama yang dibatasi oleh Guru Ordonantie 1925. </p>



<p>Sebagai wakil Nahdlatul Ulama, Wachid juga berperan aktif dalam BPUPKI dan PPKI. Keterlibatannya dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menunjukkan dedikasinya yang mendalam untuk Indonesia.</p>



<p>Pada era pemerintahan Sukarno, Wahid Hasjim diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Agama Indonesia dan kemudian Menteri Agama Indonesia antara tahun 1949-1952. </p>



<p>Namun, nasib tragis menimpanya. Di usia 38 tahun, Wahid Hasjim menghembuskan nafas terakhir akibat kecelakaan di Cimahi, 19 April 1953.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/wahid-hasjim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253242</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Syafri Syamsuddin: Jejak Karier Militer hingga Puncak Dunia Politik</title>
		<link>https://cekricek.id/syafri-syamsuddin/</link>
					<comments>https://cekricek.id/syafri-syamsuddin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Sep 2023 08:12:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Syafri Syamsuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=253222</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/syafri-syamsuddin/" title="Syafri Syamsuddin: Jejak Karier Militer hingga Puncak Dunia Politik" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dalam perjalanan karier Syafri Syamsuddin, dari pendidikan AKABRI hingga posisi penting di Kementerian Pertahanan Indonesia. Temukan transformasinya dari militer ke politik." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Syafri Syamsuddin: Jejak Karier Militer hingga Puncak Dunia Politik 20"></a>Dalam perjalanan karier Syafri Syamsuddin, dari pendidikan AKABRI hingga posisi penting di Kementerian Pertahanan Indonesia. Temukan transformasinya dari militer ke politik. Siapa Syafri Syamsuddin? Dibalik nama besar Syafri Syamsuddin, terdapat jejak karier yang mengesankan. Lahir di Sulawesi pada 30 Oktober 1952, Syafri memulai perjalanan profesionalnya di dunia militer setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI Bagian Darat tahun 1974. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1976, ia dipercaya memimpin sebagai komandan Naggala X di Timor Timor. Tak lama, pada tahun berikutnya, ia mendapat tanggung jawab sebagai Komandan Nanggala XXI di Aceh. Ketika memasuki tahun 1997, Syafri mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Pangdam Jaya. Kemudian, antara tahun 2002 hingga 2005, ia diangkat menjadi Kapuspen TNI. Namun, panggilan dunia politik tampaknya tak bisa ia hindari. Mulai dari posisi sebagai wakil Menteri Pertahanan Indonesia pada periode 6 Januari 2010 hingga 20 Oktober 2014, Syafri kemudian menduduki kursi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia sejak tahun 2005. Selama]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/syafri-syamsuddin/" title="Syafri Syamsuddin: Jejak Karier Militer hingga Puncak Dunia Politik" rel="nofollow"><img width="800" height="475" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?fit=800%2C475&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dalam perjalanan karier Syafri Syamsuddin, dari pendidikan AKABRI hingga posisi penting di Kementerian Pertahanan Indonesia. Temukan transformasinya dari militer ke politik." style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2023/09/Sejarah-Indonesia-17-11-2022-13_11zon.webp?resize=150%2C89&amp;ssl=1 150w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Syafri Syamsuddin: Jejak Karier Militer hingga Puncak Dunia Politik 21"></a>
<p><em>Dalam perjalanan karier Syafri Syamsuddin, dari pendidikan AKABRI hingga posisi penting di Kementerian Pertahanan Indonesia. Temukan transformasinya dari militer ke politik.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Syafri Syamsuddin? </h2>



<p>Dibalik nama besar Syafri Syamsuddin, terdapat jejak karier yang mengesankan. Lahir di Sulawesi pada 30 Oktober 1952, Syafri memulai perjalanan profesionalnya di dunia militer setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI Bagian Darat tahun 1974. </p>



<p>Dua tahun berselang, tepatnya pada 1976, ia dipercaya memimpin sebagai komandan Naggala X di Timor Timor. Tak lama, pada tahun berikutnya, ia mendapat tanggung jawab sebagai Komandan Nanggala XXI di Aceh.</p>



<p>Ketika memasuki tahun 1997, Syafri mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Pangdam Jaya. Kemudian, antara tahun 2002 hingga 2005, ia diangkat menjadi Kapuspen TNI. </p>



<p>Namun, panggilan dunia politik tampaknya tak bisa ia hindari. Mulai dari posisi sebagai wakil Menteri Pertahanan Indonesia pada periode 6 Januari 2010 hingga 20 Oktober 2014, Syafri kemudian menduduki kursi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia sejak tahun 2005.</p>



<p>Selama menjabat sebagai Sekjen Kementerian Pertahanan, Syafri tak hanya sekadar menjalankan tugas administratif. </p>



<p>Ia berupaya keras melakukan inovasi dan pembenahan internal, khususnya terkait dengan pengadaan alat utama sistem persenjataan, demi meningkatkan kualitas pertahanan negara.</p>



<p><strong>Referensi:</strong> <a href="https://cekricek.id/kamus-sejarah-indonesia/">Kamus Sejarah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/syafri-syamsuddin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">253222</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-04-06 09:28:37 by W3 Total Cache
-->