Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis

Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis

Adam Lay sedang melukis. [Foto: Istimewa]

Cekricek.id - Di Wonosobo, Jawa Tengah, pada tahun 1950, lahirlah seorang anak bernama Adam Lay. Sebagai putra keenam dari delapan bersaudara, Adam tumbuh dalam keluarga yang sederhana.

Dikutip buku Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (2000), Mbah Minto, seorang pecandu wayang kulit di kampung halamannya, menjadi sosok penting dalam perjalanan spiritualnya. Sejak remaja, Adam sering mengunjungi Mbah Minto untuk menikmati alunan merdu wayang kulit semalaman suntuk, ditemani kacang kulit dan jajanan sederhana.

Lebih dari sekadar hiburan, Adam menemukan kebijaksanaan dan kedamaian dalam diri Mbah Minto. Setiap kunjungan, Mbah Minto tak hanya menghibur dengan wayang, tetapi juga berbagi ilmu agama Islam dengan Adam dan teman-temannya. Bukan hanya sikap Mbah Minto yang menarik hati Adam, tetapi juga ajaran Islam yang universal dan penuh kedamaian.

Tergerak oleh ajaran tersebut, Adam pun memantapkan hatinya untuk memeluk agama Islam. Di bawah bimbingan Mbah Minto, Adam mengucapkan dua kalimat syahadat dan memulai babak baru dalam hidupnya. Sejak saat itu, Adam tekun menjalankan ibadah shalat lima waktu dan mempelajari agama Islam secara mendalam dari Al-Qur'an dan tafsirnya.

Adam Lay dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih. Orang tua dan saudaranya memberinya kebebasan untuk memilih agama yang diyakininya, yaitu Islam. Bahkan, jika Adam mendapat panggilan haji, mereka berencana untuk pergi bersama.

Sejak kecil, Adam sudah terbiasa bekerja keras. Sepulang sekolah, dia membantu orang tuanya yang membuka warung kecil. Setelah menamatkan SMP di kampung halamannya, Adam melanjutkan pendidikan ke SMA di Magelang karena di Wonosobo tidak ada SMA. Namun, karena keterbatasan biaya, Adam hanya mampu menyelesaikan pendidikannya sampai kelas dua SMA.

Orang tuanya hanya mampu mengirimkan uang sebesar Rp 5.000,- per bulan. Adam harus hidup prihatin. Setiap pagi, dia hanya sarapan bubur kacang hijau atau sedikit nasi ketan.

Meskipun hidup dalam kesusahan, Adam tidak pernah putus asa. Dia terus mengembangkan bakat seninya yang merupakan anugerah Tuhan. Bakat melukisnya diasah secara otodidak melalui sketsa-sketsa yang dibuatnya.

Adam ingin melukis dengan cat minyak di atas kanvas, tapi terhalang oleh keterbatasan modal. Di tahun 1965, harga cat minyak setara dengan biaya kost sebulan, membuatnya tak mampu membeli.

Kegigihan Adam tak surut. Ia berharap dengan usaha keras dan petunjuk Tuhan, kesulitannya akan berakhir. Suatu kali di Yogyakarta, Adam menemukan cat minyak murah di toko-toko kecil. Pepatah "biarlah tak ada rotan, akar pun jadi" menjadi pegangannya. Adam membeli alat lukis murah itu dan mulai melukis di atas kanvas tipis yang juga murah.

Kegigihan Adam membuka jalannya. Suatu hari, paman dari teman kosnya di Magelang tertarik dengan karyanya. Pemilik toko besar di Magelang itu ingin dibuatkan lukisan dengan alat lukis yang lebih baik. Dia membelikan Adam cat minyak dan kanvas berkualitas tinggi. Adam bersyukur atas karunia ini.

Sebagai imbalan, Adam menerima uang, cat, dan baju dari pemilik toko. Sejak itu, Adam yakin bahwa profesi apapun yang ditekuni dengan sungguh-sungguh akan bermanfaat. Dia menggunakan sisa cat dan kanvas untuk melukis dan menjualnya di toko-toko. Usaha ini mengantarkannya keluar dari dunia pelukis jalanan dan memasuki pasar yang lebih luas.

Adam Lay dikenal sebagai maestro seni lukis Indonesia dengan aliran realis-naturalistik. Keahliannya melukis tak tertandingi, meskipun ia tak menganggap dirinya sempurna. Baginya, menyelesaikan sebuah lukisan membutuhkan waktu dan ketelitian, tak seperti malaikat yang dapat menyelesaikannya dalam sekejap.

Lukisan realis-naturalistik yang digarapnya membutuhkan kecermatan tinggi. Tak heran, sebuah lukisan ukuran standar membutuhkan waktu seminggu atau lebih untuk diselesaikan. Hal ini membuat Adam tak bisa terburu-buru dalam mengadakan pameran tunggal. Persiapannya pun membutuhkan waktu minimal satu tahun.

Sebagai seniman kreatif, Adam tak bisa lepas dari cat minyak, kanvas, dan kuas. Ia meyakini bahwa seniman yang tak berkarya terus menerus adalah seniman mandul. Adam pun selalu tenggelam dalam dunianya, melukis tanpa terikat waktu.

Menapaki Jejak Adam Lay: Dari Pecinta Wayang Menjadi Maestro Lukis
Adam Lay. [Foto: Istimewa]

Kadang ia melukis di pagi hari, siang, atau malam hari, tergantung pada keinginannya. Tak jarang, setelah shalat subuh, ia langsung melukis hingga pukul 10 pagi, dan melanjutkannya lagi di sore atau malam hari. Bila di malam hari ia ingin melukis, ia tak ragu untuk langsung mengambil kanvas dan menuangkan idenya. Aktivitasnya melukis bisa berlangsung selama berjam-jam, bahkan tak jarang ia melukis sepanjang hari atau sepekan tanpa menyentuh kuas sama sekali.

Pada tahun 1983, setelah mengumpulkan modal yang cukup, Adam membeli tanah dan rumah di Cipanas. Rumah tersebut kemudian menjadi villa megah yang diibaratkan istana bagi Adam, istri, anak-anak, dan puluhan stafnya.

Sebelum hidup mandiri seperti itu, Adam pernah bekerja sebagai pelukis poster bioskop di bawah asuhan Michael Tanzil, seorang fotografer dan pelukis ternama. Saat itu, Adam bertugas sebagai fotografer dengan honorarium Rp. 4.000,- per bulan. Ia pun disibukkan dengan order foto dan lukisan.

Adam berkesempatan bertemu kembali dengan Richard Purwondo, seorang kenalan lama yang dulu pernah bekerja sama dengan Michael Tanzil. Richard Purwondo adalah orang yang mau mensponsori pameran solo pertama Adam Lay di Hotel Indonesia pada tahun 1979.

Adam Lay memiliki beberapa karya yang tampak seperti lukisan Basuki Abdullah, namun ia tetap Adam Lay, pelukis yang bangga dengan identitasnya. Ia menjadikan seni sebagai profesi utamanya, yaitu sebagai pelukis yang hidupnya sarat dengan romantisme. Setelah mengalami berbagai lika-liku sebagai pelukis jalanan dan fotografer, ia kini menorehkan namanya sebagai pelukis yang kurang idealis, yang telah mencoba semua gaya namun akhirnya setia pada ciri khasnya yang realis-naturalistik.

Sejak tahun 1962, Adam Lay sudah menjadi penggemar karya-karya Basuki Abdullah, pelukis besar Indonesia. Ia pertama kali terpesona oleh lukisan foto Bung Karno yang dibuat oleh Basuki Abdullah dan dipamerkan di Pekan Raya Yogya. Ia pun mulai meniru gaya melukis Basuki Abdullah, namun tidak selamanya. Dalam perjalanan kreatifnya, ia berhasil menemukan ciri khasnya sendiri. Hal ini wajar terjadi, sebagaimana yang dialami oleh Picasso sebelum menjadi pelukis terkenal. Meskipun Adam dan Basuki Abdullah sama-sama mengusung aliran realis naturalistik, tetapi ada nuansa yang berbeda di antara keduanya. Adam bukan Basuki, begitu juga sebaliknya. Setiap pelukis memiliki nurani yang berbeda-beda.

Adam mengaku tidak terlalu idealis dalam berkarya, ia berkata dengan jujur. Ia harus bertanggung jawab atas keluarga dan lebih dari 40 orang yang bergantung padanya. Ia melukis untuk mencari penghasilan yang halal. Namun, itu tidak berarti ia melukis asal-asalan dan mengabaikan kualitas. Ia tahu bahwa kualitas adalah kunci untuk menjual lukisan, ia berkata dengan tegas. Ia sadar bahwa konsumen tidak bodoh, mereka bisa memilih lukisan yang bagus dan buruk.

Salah satu lukisan Adam Lay yang terkenal adalah Ibu dan Anak, sebuah lukisan realis-naturalistik yang dipamerkan di Art Gallery Cipanas.

Baca juga: Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah

Adam Lay menghembuskan napas terakhirnya di usia 65 tahun di rumahnya di Kampung Balakang, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Jumat (4/4/2014). Ia meninggalkan dua orang anak laki-laki, yaitu Wahyu Purnawan dan Daminata.

Baca Berita Riau Hari Ini setiap hari di Channel Cekricek.id.

Baca Juga

Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Kisah Cinta dan Harta Oei Tiong Ham: Sugar Daddy Era Hindia Belanda
Kisah Cinta dan Harta Oei Tiong Ham: Sugar Daddy Era Hindia Belanda
Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan
Arahmaiani: Pemberontakan Seni dalam Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan
Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah
Abu Ridho: Pakar Keramik Kuno yang Mengukir Jejak Sejarah
Dari Barter hingga Uang Kertas: Mengungkap Sejarah Kemunculan Uang
Dari Barter hingga Uang Kertas: Mengungkap Sejarah Kemunculan Uang
Cekricek.id - Mengulik Jejak Bangsa Viking: Dari Skandinavia ke Newfoundland Kanada, Bagaimana Mereka Menaklukkan Dunia?
Mengulik Jejak Bangsa Viking: Dari Skandinavia ke Newfoundland Kanada, Bagaimana Mereka Menaklukkan Dunia?