Cekricek.id — Sejumlah penilaian intelijen Amerika Serikat terbaru menyimpulkan Presiden Rusia Vladimir Putin bisa mencoba menguji ketetapan hati NATO dengan melancarkan serangan terbatas terhadap salah satu negara anggota dalam beberapa tahun ke depan. Ancaman Rusia ke NATO itu diungkapkan tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut.
Mengutip CNN, Jumat (7/8/2026), penilaian intelijen itu memetakan beberapa skenario eskalasi Rusia — mulai dari serangan siber hingga penyusupan berskala kecil. Tujuannya menggoyang soliditas NATO dan komitmen terhadap Pasal 5, yang menyatakan serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua, tanpa harus melewati ambang batas yang memicu respons kolektif.
Kapan dan bagaimana Putin akan melakukannya masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun salah satu sumber menyebut eskalasi paling mungkin diarahkan ke kawasan Baltik atau Polandia.
Pejabat AS dan NATO menilai Putin dapat memilih jalur eskalasi bila ia gagal mendapatkan jalan keluar yang menyelamatkan muka dari perang dengan Ukraina. Menurut sumber-sumber tersebut, rentang waktu bagi Putin untuk menentukan langkah berikutnya adalah dari sekarang hingga beberapa tahun mendatang. The Wall Street Journal lebih dulu memberitakan penilaian ini.
NATO: Kami Siap Menangkal dan Bertahan
Juru bicara militer senior NATO, Martin O'Donnell, menolak berkomentar mengenai penilaian intelijen yang bersifat rahasia. Ia hanya menyatakan bahwa NATO "selalu memikirkan dan bersiap untuk berbagai kemungkinan skenario".
"NATO terus mengawasi dan kami siap menangkal serta bertahan bila diperlukan, dan itu terus kami tunjukkan," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sudah berkali-kali Rusia menyerempet wilayah NATO. Pada Mei lalu, sebuah drone bermuatan bahan peledak menghantam gedung apartemen di Rumania saat pasukan Rusia menyerang pelabuhan Ukraina di dekatnya, melukai dua orang. September tahun lalu, jet-jet tempur NATO menembak jatuh sejumlah drone Rusia yang melanggar wilayah udara Polandia.
Baca juga: Serangan Rusia Tewaskan 4 Orang di Kyiv, Balita Ikut Jadi Korban
Drone Berbahan Peledak di Bandara Leipzig
Pekan ini, AS menyimpulkan bahwa drone bermuatan bahan peledak yang ditemukan di sebuah bandara di Jerman pada Rabu dini hari milik dinas intelijen Rusia. Hal itu disampaikan seorang pejabat pertahanan AS di Eropa kepada CNN. Drone tersebut membawa bahan peledak berkualitas militer dan ditemukan seorang petugas bandara di area terbatas operasi penerbangan kargo.
"Penampakan drone, ancaman drone termasuk dalam konteks hibrida, adalah hal yang kita kenal dari masa lalu," kata Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt kepada wartawan. "Tapi drone bersenjata bahan peledak di bandara adalah skenario ancaman yang baru."
Dobrindt kemudian mengisyaratkan drone itu bisa terkait "kekuatan asing", meski ia tidak merinci. Dewan Keamanan Nasional Jerman yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz menggelar rapat pada Jumat untuk membahas insiden itu. CNN menyatakan telah meminta tanggapan Kremlin, baik soal penilaian intelijen mengenai Putin maupun soal drone tersebut.
Menurut penelusuran Euronews, Bandara Leipzig/Halle bukan sasaran acak. Bandara itu merupakan salah satu pusat kargo terbesar di Eropa dengan lalu lintas lebih dari 2.500 ton barang per hari dan sekitar 23.600 penerbangan kargo setahun. Di sana beroperasi program Strategic Airlift International Solution (SALIS) milik NATO beserta pesawat angkut Antonov AN-124-100 yang melayani sembilan negara anggota, sekaligus menjadi basis utama Antonov Airlines di luar Ukraina sejak invasi Rusia.
Baca juga: Putin Meraih Kemenangan Lagi Pada Pemilu Rusia
Stok Amunisi AS Menipis
Penilaian intelijen ini muncul bersamaan dengan kekhawatiran atas cadangan amunisi AS yang terkuras cukup dalam akibat perang melawan Iran, serta meningkatnya korban sipil akibat senjata jarak jauh Rusia.
CNN sebelumnya melaporkan hampir 80 persen pencegat rudal THAAD — sistem pertahanan rudal andalan AS — telah terpakai dibanding tingkat sebelum perang, begitu pula sekitar separuh pencegat Patriot. Sementara itu PBB menyebut korban sipil akibat senjata jarak jauh Rusia naik 60 persen sepanjang Januari–Juni dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dalam satu malam serangan pekan ini, rudal balistik dan rudal antikapal Rusia menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai puluhan lainnya. Tidak satu pun rudal itu berhasil dicegat pertahanan Ukraina.
Kekhawatiran atas stok amunisi kini memengaruhi cara komandan militer senior AS menyusun rencana untuk potensi konflik di masa depan, termasuk eskalasi Putin terhadap NATO maupun perang dengan China di Pasifik.
Baca juga: Prabowo Tiba di Rusia, Ada Agenda Pertemuan Penting dengan Putin
Presiden Donald Trump disebut secara tertutup mengeluhkan laporan menipisnya stok tersebut dalam beberapa hari terakhir, termasuk pada rapat kabinet di Camp David pekan lalu, menurut enam sumber yang mengetahui pertemuan itu.
"AS punya amunisi dalam jumlah masif, terutama jenis-jenis tertentu," tulis Trump di Truth Social pada Kamis malam. "Selain itu, jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik dalam jumlah terbanyak sepanjang sejarah negara kita."
Penilaian intelijen ini juga muncul ketika upaya diplomatik pimpinan AS untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina menemui jalan buntu. Sanksi AS dan Eropa terhadap Moskow berdampak pada ekonomi Rusia, tetapi tidak menghentikan serangan Putin ke Ukraina.


















