Cekricek.id — Libur musim panas di China tahun ini diisi oleh guru les jenis baru: mesin. Perangkat belajar bertenaga kecerdasan buatan yang sanggup memeriksa dan menjelaskan soal secara otomatis sedang naik daun, dan orang tua yang berorientasi pendidikan tampak tidak terhalang oleh harganya yang kerap mahal.
Mengutip laporan Nikkei Asia dari Dalian, Sabtu (8/8/2026), perangkat semacam ini bisa memindai selembar pekerjaan rumah, memeriksa jawabannya, lalu menguraikan langkah penyelesaiannya. Harganya menembus 1.800 dolar AS untuk model teratas — dan tetap laku setelah pemerintah menertibkan industri bimbingan belajar.
Berawal dari Pemberangusan Bimbel 2021
Ledakan pasar tutor AI ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan "dua pengurangan" (double reduction) yang diberlakukan Beijing pada 2021. Sebagaimana dilaporkan Rest of World, kebijakan itu mencabut izin 96 persen lembaga bimbingan belajar luring dan 87,1 persen lembaga daring di China.
Kekosongan itulah yang kini diisi tablet dan mesin belajar. Riset Frost & Sullivan yang dikutip media tersebut memperkirakan pasar perangkat pendidikan China menembus 20 miliar dolar AS pada 2026.
iFlytek menjadi pemimpin pasar. Perusahaan itu membuka 768 gerai sepanjang 2022, dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Model T20 Pro miliknya dibanderol 8.999 yuan atau sekitar 1.255 dolar AS. Baidu ikut bermain lewat tablet yang dibangun di atas chatbot Ernie, sementara BBK menjadi pesaing lama di segmen ini.
Baca juga: Daftar Pekerjaan yang Hilang dan Tumbuh Cepat di Era AI 2025
4,7 Juta Unit dalam Setahun
Laporan mendalam Caixin Global mencatat penjualan mesin belajar di China mencapai 4,721 juta unit sepanjang 2023, naik 8,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Rentang harganya lebar, dari 4.000 hingga 10.000 yuan atau sekitar 550 sampai 1.375 dolar AS.
Selain iFlytek — yang menjual LUMIE10 Pro seharga 9.899 yuan — pemain lain berdatangan. TAL Education Group memimpin penjualan di antara perusahaan pendidikan pada kuartal pertama 2024, NetEase Youdao mengandalkan model bahasa AI-nya, sedangkan Readboy Education dan Guangdong Bubugao bertumpu pada jaringan ritel yang sudah mapan.
Namun Xiaodu Technology, unit Baidu, mengakui persoalan mendasar sektor ini: pasarnya sangat kompetitif tetapi produknya homogen.
Baca juga: Mendikdasmen Terapkan Larangan Game Roblox untuk Anak SD
Kecemasan Orang Tua, Hasil yang Belum Tentu
Yang mendorong pembelian sering kali bukan bukti efektivitas, melainkan kecemasan. Rest of World mengisahkan Lulu, bocah 11 tahun di Xiangyang, yang mulai memakai tablet iFlytek setelah nilainya menurun. "Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tertinggal sejak dini," kata ibunya, Yang Hongyi.
Seorang orang tua lain di Shandong bahkan membeli dua tablet untuk kedua putranya, dengan target materi mereka satu semester lebih maju dibanding kurikulum sekolah.
Di sisi lain, kalangan praktisi pendidikan menilai dampaknya di dunia nyata terbatas. Edward Wang, kontraktor persiapan ujian yang dikutip Rest of World, menyebut tingkat penyelesaian sebagian besar kelas video berada di bawah 10 persen. Yang Hongyi sendiri mengakui fitur pemindai esai pada perangkatnya hanya bekerja sekitar separuh waktu.
Caixin mencatat keluhan senada: akurasi masih menjadi masalah, jawaban yang tidak relevan kadang tetap lolos dengan nilai baik, dan kualitas perangkat AI domestik dinilai masih tertinggal. Regulator pun menegaskan bahwa alat semacam ini semestinya melengkapi, bukan menggantikan, guru manusia.
Baca juga: AI Revolusioner Memprediksi Rangkaian Kejadian Hidup hingga Kematian
Dengan kata lain, mesin-mesin ini menjual sesuatu yang lebih laku daripada pembelajaran itu sendiri: ketenangan hati orang tua.


















