Cekricek.id — Sebuah buku telat 150 tahun akhirnya kembali ke rak perpustakaan di Australia. Peminjamnya diduga seorang mantan tukang batu magang yang ikut membangun Gedung Parlemen Inggris di London.
Mengutip BBC, Sabtu (8/8/2026), buku berjudul Antiquities of Athens itu dipinjam dari perpustakaan lokal di Kiama — kota tepi laut sekitar 120 kilometer di selatan Sydney — pada pertengahan 1870-an. Buku tentang arsitektur klasik Yunani tersebut tersimpan dalam peti teh di balik perapian yang ditembok selama berpuluh tahun, sebelum ditemukan seorang anggota keluarga.
Dari Westminster ke Kiama
Ross Simmons, 77 tahun, menduga kakek buyutnya, John Simmons, meminjam buku itu untuk keperluan pekerjaan. John pernah menjadi tukang batu magang di Westminster pada pertengahan 1800-an sebelum menjadi arsitek di Australia.
Simmons, yang mengaku gemar menelusuri sejarah keluarga, mengatakan kakek buyutnya menempuh pendidikan di London pada 1839 hingga 1844. "Setelah studinya di London, ia magang pada tukang-tukang batu lain untuk membantu pembangunan Gedung Parlemen," ujarnya.
Pada 1857, di usia 27 tahun, John Simmons pindah dari Inggris ke Australia. Ia mula-mula tinggal di kawasan Newtown, Sydney, lalu pindah ke Kiama setelah memimpin pembangunan sebuah gereja batu pasir di kota pesisir itu.
"Ia punya minat besar pada arsitektur, konstruksi, dan bangunan," kata Simmons. Buku itu, menurutnya, "kemungkinan hanya tergeletak di rak rumahnya" dan dipakai sebagai rujukan.
Baca juga: Misteri Gulungan Laut Mati: Naskah Kuno 2.000 Tahun dari Gua Qumran
Peti Teh di Balik Perapian
Entah bagaimana, buku itu berakhir di dalam peti teh bersama catatan-catatan keluarga lain, lalu peti tersebut dimasukkan ke perapian yang kemudian ditutup rapat. Sekitar 30 tahun lalu, peti itu terbongkar saat renovasi rumah dan buku-bukunya diserahkan kepada Ross Simmons untuk disimpan.
Baru sekitar dua pekan lalu ia memeriksa buku-buku itu lebih teliti. "Saya membuka sampul depannya dan, tak dinyana, di halaman kedua ada stempel Perpustakaan Kiama," katanya.
Di sampul bagian dalam tertera syarat peminjaman zaman itu. Anggota hanya boleh meminjam satu buku sekaligus, kecuali bisa membuktikan ada enam orang melek huruf dalam satu rumah — barulah tiga buku boleh dipinjam. Siapa pun yang dalam keadaan mabuk dilarang meminjam, dan yang terlambat mengembalikan didenda tiga pence untuk setiap pekan keterlambatan.
Denda Rp300 Juta yang Diputihkan
Staf Perpustakaan Kiama menghitung total dendanya mencapai 97 pound — atau setara 28.000 dolar Australia (sekitar 20.000 dolar AS) dalam nilai sekarang setelah memperhitungkan inflasi. Untungnya bagi keluarga Simmons, denda itu diputihkan.
Manajer perpustakaan Kiama Council, Michelle Hudson, mengatakan temuan tak lazim ini menyedot banyak perhatian. "Orang-orang menempuh perjalanan 40 menit hanya untuk datang dan memegang buku ini... buku kecil yang indah dengan kisah luar biasa untuk diceritakan," ujarnya.
Volume berbalut kain itu mengalami sedikit kerusakan akibat air, tetapi selebihnya dalam kondisi baik. "Isinya ada ilustrasi-ilustrasi indah dan beberapa halaman lipat yang menunjukkan mereka memakai ukuran presisi dari sejumlah monumen di Yunani," kata Hudson.
Baca juga: Sanxingdui: Peradaban Hilang yang Ubah Asal-usul China
Menurut catatan ZME Science, buku itu berjudul lengkap The Antiquities of Athens and Other Monuments of Greece edisi 1858, setebal 149 halaman dengan 70 pelat ilustrasi, sebagian di antaranya berupa halaman lipat. Karya ini disusun James Stuart dan Nicholas Revett, yang pada 1750-an berkeliling Yunani untuk mengukur dan menggambar monumen-monumen kuno. Hasilnya kemudian memengaruhi gaya arsitektur Yunani di berbagai bangunan Inggris.
Buku Nomor 506
Hudson menuturkan, pada 1872 dewan kota menerima hibah 200 pound untuk mendirikan perpustakaan dan koleksinya saat itu kurang dari 1.000 buku. Buku yang telat kembali ini bernomor katalog 506.
Siapa persisnya yang meminjam dan kapan, tak akan pernah bisa dipastikan. Catatan peminjaman perpustakaan dari periode tersebut sudah lama hilang.
Buku itu kini tak lagi bisa dipinjam. Ia masuk koleksi benda khusus perpustakaan yang hanya boleh dilihat atas permintaan. "Buku ini tidak akan keluar lagi... kami tidak mau menunggu 150 tahun lagi sampai ia kembali," seloroh Hudson.
Baca juga: Krisis Literasi Remaja, Denmark Hilangkan Pajak Penjualan Buku
Soal kepulangan buku yang teramat terlambat itu, Ross Simmons yakin kakek buyutnya akan senang. "Saya rasa ia akan senang melihat buku itu kembali, dan mungkin akan tertawa kecil karenanya."


















