Cekricek.id — Sebuah bom mobil meledak di gerbang tol Jalan Raya Pan-American di Departemen Cauca, barat daya Kolombia, hanya sehari setelah Abelardo de la Espriella dilantik sebagai presiden. Dua petugas keamanan mengalami luka ringan.
Mengutip Al Jazeera yang mengolah laporan Associated Press, Minggu (9/8/2026), militer Kolombia menuduh serangan Sabtu itu dilakukan dua kelompok bersenjata yang memisahkan diri dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia atau FARC — bekas kelompok pemberontak yang meletakkan senjata setelah kesepakatan damai dengan pemerintah pada 2016.
Ditinggal Pergi dengan Sepeda Motor
Menurut keterangan otoritas setempat, sasaran serangan adalah gerbang tol di ruas Jalan Raya Pan-American, jalur utama yang menghubungkan wilayah pesisir barat Kolombia. Seorang saksi menyebut pelaku meninggalkan mobilnya di lokasi, lalu kabur menggunakan sepeda motor sebelum ledakan terjadi.
Pemerintahan de la Espriella langsung berjanji membalas keras. "Kolombia tidak akan bertekuk lutut di hadapan kekerasan, dan tidak akan membiarkan penghancuran infrastruktur yang menghubungkan wilayah-wilayah kita," kata Menteri Perhubungan Elsa Noguera dalam unggahannya di media sosial.
Noguera lalu merujuk pidato pelantikan presiden baru yang berjanji mengalahkan narkoterorisme. "Seperti dikatakan Presiden Abelardo de la Espriella kemarin, saatnya memulihkan ketertiban telah dimulai. Kami akan memulihkan keamanan, kendali atas wilayah kami, dan ketenangan warga Kolombia," ujarnya.
Ujian Pertama Janji Kampanye
Serangan ini datang sebagai ujian paling awal bagi janji kampanye de la Espriella. Pengacara berhaluan kanan itu memenangi pemilu putaran kedua pada Juni dengan selisih tipis — kurang dari satu persen suara — atas lawannya dari kubu kiri, Senator Ivan Cepeda. Ia dilantik pada Jumat setelah berkampanye dengan janji menumpas kelompok bersenjata.
Selama lebih dari enam dekade, Kolombia bergelut dengan konflik bersenjata internal yang melibatkan paramiliter sayap kanan, pemberontak sayap kiri, pasukan pemerintah, dan jaringan kriminal. Negeri itu juga merupakan produsen koka terbesar di dunia, bahan baku kokain sekaligus bahan obat tradisional Andes.
De la Espriella menyatakan akan mengakhiri pendekatan "Perdamaian Total" yang dijalankan pendahulunya, Gustavo Petro, presiden berhaluan kiri pertama dalam sejarah Kolombia. Strategi Petro bertumpu pada dialog dengan kelompok bersenjata, meski ia juga menggunakan kekuatan militer. Dalam pidato pelantikannya, de la Espriella menyebut opsi dialog sudah habis, dan berjanji mengembalikan Kolombia pada pendekatan yang lebih militeristik.
Dukungan Washington dan Kekhawatiran Hak Asasi
Presiden baru itu mendapat dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pemerintahannya menjanjikan bantuan keamanan senilai US$1 miliar setelah periode hubungan yang tegang dengan Petro.
Washington memang tengah memperluas keterlibatan militernya di Amerika Latin atas nama pemberantasan kejahatan dan perdagangan narkotika, sekaligus mendorong para pemimpin sayap kanan di kawasan itu mengadopsi taktik yang lebih keras. De la Espriella, misalnya, berjanji mengebom kapal dan pesawat yang dicurigai mengangkut narkotika — sejalan dengan kampanye serupa yang dijalankan Trump di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Taktik itu justru menuai kekhawatiran kelompok hak asasi manusia, yang memperingatkan potensi pelanggaran oleh aparat negara. Persoalannya klasik: menembak lebih dulu memang menurunkan angka kejahatan dalam jangka pendek, tetapi memindahkan beban pembuktian dari pengadilan ke lapangan.
Karena presiden Kolombia tidak dapat mencalonkan diri kembali, de la Espriella hanya memiliki empat tahun untuk membuktikan pendekatannya berhasil menghadapi persoalan yang mengakar selama puluhan tahun.



















