Cekricek.id — Senat Amerika Serikat menyetujui paket sanksi terhadap Rusia dengan suara telak 86 berbanding 11 pada Jumat. Paket ini menghukum negara-negara yang terus membeli minyak, gas, dan komoditas ekspor Rusia lainnya, dengan tujuan memangkas pendapatan yang membiayai perang di Ukraina.
Mengutip Africanews yang memuat laporan Associated Press, Minggu (9/8/2026), undang-undang bipartisan ini merupakan hasil kampanye selama setahun oleh mendiang Senator Lindsey Graham. Ini juga langkah paling substansial sejauh ini pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump untuk mengubah dinamika perang yang kini sudah berlangsung empat tahun — lebih lama daripada Perang Dunia I.
Tarif untuk Lima Pembeli Terbesar
Isi paketnya luas. Presiden diberi kewenangan mengenakan tarif terhadap lima pembeli terbesar minyak atau gas alam Rusia di dunia, termasuk Tiongkok dan India. Ada pengecualian bagi negara yang mengimpor kurang dari 15 persen kebutuhan gas alamnya dari Rusia dan sedang mengambil langkah untuk menguranginya.
Undang-undang itu juga menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Vladimir Putin, para petinggi politik dan militer Rusia, lembaga keuangan Rusia, serta proyek-proyek energinya. Cakupan sanksi diperluas hingga menyasar kapal tanker minyak tua yang diganti benderanya — armada bayangan yang selama ini dipakai Rusia untuk menyiasati sanksi yang sudah berlaku. Gedung Putih tetap dapat mengesampingkan sanksi bila presiden menyatakan kepada Kongres bahwa hal itu demi kepentingan nasional.
Paket ini disahkan setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berkunjung ke Capitol pekan lalu, menemui senator dari kedua partai, dan menyaksikan langsung pemungutan suara prosedural pertama dari balkon.
"Hari ini Presiden Zelenskyy menyaksikan dari Ukraina, dan Putin menyaksikan dari Moskow," kata Senator Richard Blumenthal dari Connecticut, yang menggarap paket ini bersama Graham. "Hari ini kita berkata kepada rakyat Ukraina: kalian tidak sendirian. Dan hari ini kita berkata kepada Vladimir Putin: Anda tidak akan menaklukkan Ukraina."
Warisan Senator yang Meninggal Sehari Setelah Kesepakatan
Graham dan Blumenthal mengumumkan kesepakatan dengan Gedung Putih atas rancangan sanksi ini pada 10 Juli, setelah lebih dari setahun bernegosiasi. Graham, yang baru saja pulang dari Ukraina, meninggal mendadak keesokan harinya, diduga akibat robekan aorta.
Kursinya kini diisi saudara perempuannya, Senator Darline Graham dari South Carolina, yang ditunjuk gubernur negara bagian. "Undang-undang ini memukul Putin tepat di titik yang menyakitkan," katanya.
Senator Todd Young dari Indiana menyebut paket sanksi ini penting sebagai sinyal moral bagi negara yang lelah namun masih bertahan. Adapun Senator Jeanne Shaheen dari New Hampshire menilai pengesahan menjelang pemilu Rusia akan menekan Putin untuk kembali serius mempertimbangkan kesepakatan damai. "Kalau kita tidak bisa mematikan pendanaan mesin perang yang dipakai Rusia melawan Ukraina, mereka akan terus melanjutkannya," ujarnya.
Perdebatan soal Kewenangan Tarif
Bagian yang paling diperdebatkan justru bukan sanksinya, melainkan kewenangan tarif yang menyertainya. Sejumlah Demokrat dan sebagian Republik khawatir memberi Trump kewenangan luas mengenakan tarif akan mendorong harga barang naik di dalam negeri. Mereka yang menolak paket final sebagian besar adalah Demokrat progresif.
Senat menolak amendemen dari Senator Rand Paul dan Ron Wyden yang ingin mencabut kewenangan tarif baru itu, dengan hasil 32 berbanding 64. "Ada warga kita di Amerika yang sedang meniti tali ekonomi," kata Wyden.
Senator Raphael Warnock dari Georgia, yang sempat menahan pengesahan, menyatakan telah menerima komitmen tertulis dari pemerintahan Trump melalui Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer bahwa akan ada pagar pembatas: tarif dicabut begitu sebuah negara tidak lagi masuk daftar pembeli minyak dan gas Rusia atau pembantu penghindaran sanksi.
Paket ini selanjutnya bergerak ke Dewan Perwakilan, yang baru bersidang kembali akhir Agustus. Anggota Demokrat teratas di Komite Urusan Luar Negeri DPR, Gregory Meeks, memperingatkan rancangan itu memberi Trump terlalu banyak ruang mempersenjatai tarif dengan cara yang sedikit menggentarkan Rusia tetapi memberatkan warga Amerika.
Jalur Dampaknya ke Indonesia
Indonesia tidak termasuk lima pembeli terbesar energi Rusia, sehingga tidak berada di garis tembak langsung kebijakan tarif ini. Namun dua negara yang disebut secara eksplisit — Tiongkok dan India — adalah mitra dagang utama Indonesia. Tarif terhadap keduanya akan merambat ke bawah melalui rantai pasok, termasuk pada komoditas Indonesia yang masuk ke industri mereka.
Jalur kedua adalah pelayaran. Perluasan sanksi terhadap kapal tanker tua berbendera baru menyentuh praktik yang lalu lintasnya melewati perairan Asia. Ketika kapal, asuransi, dan perusahaan pelayaran masuk daftar sanksi, biaya angkut dan premi asuransi di jalur laut kawasan ikut terkerek — beban yang pada akhirnya menempel pada harga barang impor.
Jalur ketiga paling langsung: harga minyak. Setiap upaya memutus pendapatan energi Rusia berpotensi mengetatkan pasokan global, dan harga minyak dunia adalah salah satu asumsi utama dalam penyusunan APBN sekaligus penentu besaran subsidi energi. Ini datang ketika pasar sudah gelisah, seperti terlihat pada kewaspadaan investor terhadap dampak konflik Timur Tengah dan pada intervensi mata uang yang mengejutkan pasar Asia.
Terakhir, sanksi ini mempersempit satu opsi yang beberapa kali muncul dalam wacana kebijakan energi di Tanah Air, yaitu membeli minyak mentah Rusia dengan harga diskon. Selama ancaman sanksi sekunder berlaku, potongan harga itu datang bersama risiko yang harus ditanggung sistem keuangan dan pelayaran nasional. Semua ini berlangsung sementara perang di lapangan belum mereda, seperti terlihat pada serangan rudal Rusia di sekitar Kyiv yang menewaskan tiga orang termasuk seorang anak.



















