Trump Teken UU Sanksi Rusia atas Perang di Ukraina

A A

Donald Trump duduk dikelilingi sejumlah pejabat berjas gelap di Ruang Oval Gedung Putih. [Foto: Jim Watson/AFP]

  • Undang-undang menyasar Vladimir Putin, pejabat senior, oligarki, bank, serta sektor energi dan pertahanan Rusia.
  • Satu ketentuan memberi Trump wewenang mengenakan tarif hingga 100 persen kepada lima pembeli terbesar energi Rusia.
  • Beleid ini lolos Senat bulan lalu dan DPR pada Rabu dengan 58 anggota Demokrat menyeberang.
  • Ini menjadi beleid besar pertama terkait Ukraina yang lolos Kongres dalam lebih dari dua tahun.

Cekricek.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani paket sanksi luas terhadap Rusia atas perangnya di Ukraina, beberapa hari setelah Kongres mengirimkan rancangan itu ke Gedung Putih dengan dukungan lintas partai yang jarang terjadi.

Undang-undang yang diteken pada Jumat itu bernama Lindsey O Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Sabtu (19/09/2026). Namanya menghormati mendiang senator Republik yang lebih dari setahun merundingkan beleid tersebut sebelum meninggal mendadak pada Juli, dan naskahnya ditulis bersama Senator Demokrat Richard Blumenthal.

Undang-undang itu menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, pejabat senior, dan para oligarki, serta bank dan lembaga keuangan Rusia. Sasarannya juga mencakup sektor energi dan pertahanan Moskow, termasuk armada bayangan kapal tanker yang dipakai memindahkan minyak Rusia di luar jangkauan sanksi Barat.

Satu ketentuan kunci memberi Trump wewenang mengenakan tarif hingga 100 persen kepada lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia, langkah yang diperkirakan paling memukul China dan India sebagai dua importir terbesar minyak mentah Rusia. Beleid itu secara terpisah memperpanjang sanksi atas sektor energi dan persenjataan Iran.

Rancangan tersebut lolos di Senat bulan lalu, ketika Senat AS mengesahkan sanksi besar atas energi Rusia, lalu disetujui DPR pada Rabu dengan 58 anggota Demokrat menyeberang mendukungnya. Ini menjadi beleid besar pertama terkait Ukraina yang lolos Kongres dalam lebih dari dua tahun.

Zelenskyy menyebut beleid itu alat yang luar biasa kuat

Para pendukung menyatakan tujuannya adalah mengeringkan dana Kremlin yang menopang upaya perangnya dan mendorong Putin ke meja perundingan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang melobi anggota parlemen menjelang pemungutan suara, menyebut undang-undang itu “alat yang luar biasa kuat”.

Ketua DPR Mike Johnson menyatakan beleid tersebut menempatkan “tekanan maksimum” pada apa yang ia sebut “mesin perang Rusia”. Blumenthal menyatakan harapannya beleid itu membawa Moskow ke meja perundingan, seraya berkata kepada Putin: “Kami sudah tahu belang Anda.”

Tidak semua anggota Demokrat mendukung. Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menentang beleid itu dan memperingatkan wewenang tarifnya akan menaikkan biaya bagi keluarga Amerika, sekaligus menyebut ketentuan sanksinya penuh “celah”.

India dan China paling terpapar ancaman tarif baru

India, salah satu negara yang paling terpapar ancaman tarif baru itu, menyatakan pekan ini bahwa negaranya “tetap berkomitmen teguh menjamin keamanan energi bagi 1,4 miliar penduduknya”.

Keputusan Trump datang sekitar sepekan sebelum ia menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih.

Perang di Ukraina sendiri terus menelan korban sipil, termasuk ketika serangan rudal Rusia dekat Kyiv menewaskan tiga orang. Kekhawatiran terhadap Moskow juga meluas ke Eropa, seiring laporan intelijen Amerika Serikat soal ancaman Rusia ke NATO.

Bagikan

Baca Juga

Trump Klaim Dapat Kendali Permanen atas Greenland dari Denmark
Warren Buffett Mundur dari Kursi Ketua Berkshire Hathaway
Lula Naikkan Bolsa Familia 15 Persen Jelang Pemilu Brasil
Raja Charles Ingatkan Bahaya Eksistensial Kecerdasan Buatan
PM Swedia Mundur Setelah Blok Kiri Menang Tiga Kursi
Kapal Perang India dan Pakistan Bertabrakan di Laut Arab