Kesenian Sampelong Kini Diwariskan lewat Sekolah dan Sanggar

A A

Para pelaku Sampelong tampil dalam lokakarya Sampelong di Talang Maua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Oktober 2025. [Foto: GuciTigoAlua/Wikimedia Commons (CC0)]

  • Sampelong terbuat dari seruas bambu jenis talang yang dikeringkan, dengan empat lubang nada dan panjang 30 sampai 60 sentimeter.
  • Para peladang gambir menghadirkan Sampelong sebagai hiburan pelepas sehabis bekerja, terutama saat musim panen.
  • Pewarisan miring lewat jalur pendidikan formal dan nonformal disebut sebagai metode yang paling dominan.
  • Pengulangan berkali-kali di sanggar membuat peserta didik cepat bosan, sehingga diimbangi kegiatan pertunjukan.
  • Artikel tidak memaparkan keterbatasan kajian maupun jumlah siswa dan peserta sanggar yang belajar Sampelong.
Daftar Isi
  1. Bambu Talang
  2. Surau Mosojik Tongah
  3. Kelas di Mungka
  4. Panggung Kesenian Sampelong
  5. Delapan Narasumber

Cekricek.id — Ahmad Yuslim sudah mengenal kesenian Sampelong sejak masih kecil, karena lagu-lagunya dinyanyikan kepadanya sebelum tidur. Ayahnya, Islamidar, yang akrab disapa Tuen, adalah seniman Sampelong di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sejak Tuen meninggal pada 2022, Ahmad Yuslim yang dipanggil Oyong menjadi sosok penggantinya.

Oyong adalah satu-satunya anak laki-laki dari lima bersaudara. Kemampuan seni tradisi sebenarnya juga dimiliki keempat saudara perempuannya, tetapi kemampuan Oyong disebut hampir sama dengan almarhum ayahnya. Darah seni itu turun lagi ke cucu Tuen. Kemampuan mereka terus diasah hingga bisa memainkan saluang, gandang, talempong, bansi, termasuk Sampelong.

Kisah keluarga itu dicatat Nike Hanel, Syafniati, dan Firdaus, ketiganya dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dalam artikel Metode Pewarisan Kesenian Sampelong di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Artikel tersebut dimuat Jurnal Musik Etnik Nusantara Volume 5 Nomor 1, edisi Januari–Juni 2025, halaman 45–56, dengan tanggal terbit 1 Juni 2025.

Tujuan mereka mendeskripsikan sistem pewarisan kesenian Sampelong dan perkembangannya di Talang Maua dewasa ini. Abstrak artikel menyebut kesenian itu mengalami penurunan minat pada generasi muda di era globalisasi, sehingga dibutuhkan transmisi untuk mempertahankannya. Keluarga Tuen menjadi contoh jalur pertama dari tiga jalur pewarisan yang dipaparkan ketiga penulis.

Jalur itu disebut pewarisan tegak, yakni penurunan dari orang tua kepada anak cucu. Para penulis mengaitkannya dengan adat Minangkabau yang menurunkan warisan kepada kemenakan, baik gelar maupun harta, yang disebut sako dan pusako. Dalam jalur ini, Sampelong diajarkan kepada garis keturunan dengan memberikan keterampilan atau bakat secara lisan.

Bakat, menurut artikel, seolah menjadi penentu terbentuknya keterampilan bermain Sampelong. Bakat itu bisa terbentuk dengan sendirinya, sehingga generasi pewaris memiliki gaya pertunjukan yang diwariskan leluhurnya. Ketiga penulis menyebut gejala ini menunjukkan faktor genetik sebagai salah satu faktor terpenting dalam berlangsungnya sistem pewarisan. Oyong dan anak cucu Tuen adalah contoh yang mereka ajukan.

Bambu Talang

Alat yang diwariskan itu sederhana. Sampelong adalah alat musik tiup dari seruas bambu jenis talang yang sudah dikeringkan. Bagian kepalanya menjadi tempat meniupkan udara, sedangkan bagian badannya menghasilkan nada. Instrumen itu punya empat lubang nada, panjang 30 sampai 60 sentimeter, dan diameter 4 sampai 6 sentimeter. Biasanya satu orang meniup, sementara satu orang atau lebih mendendang.

Sampelong mempunyai lima nada. Bila dikonversikan ke musik Barat, nada itu mendekati tangga nada pentatonik sol, la, do, re, mi. Hajizar, tokoh musik tradisi Minangkabau berusia 69 tahun yang diwawancarai pada 19 Januari 2024, menyebut masyarakat Minangkabau menamai tangga nada ini Jalua Bukik.

Pada awal keberadaannya, tulis ketiga penulis, Sampelong adalah musik ritual padukunan yang memakai mantra untuk memengaruhi alam bawah sadar agar orang yang dituju jatuh cinta. Masyarakat setempat menyebutnya pakasiah. Ketika Islam masuk ke Minangkabau, kesenian ini mulai terpinggirkan karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Kegiatan itu sempat dilakukan secara sembunyi-sembunyi sebelum akhirnya punah.

Seiring bertambahnya pola pikir masyarakat, Sampelong bertransformasi menjadi seni hiburan. Jalannya bermula di ladang gambir, terutama saat musim panen. “Para peladang gambir menghadirkan kesenian Sampelong sebagai hiburan pelepas sehabis bekerja,” tulis Nike Hanel, Syafniati, dan Firdaus, dengan merujuk wawancara bersama Oyong pada 14 Oktober 2023.

Baca juga Migrasi Magis: Mantra Sijundai Jadi Teater Tari

Dari ladang itu, jumlah instrumen pendukung Sampelong bertambah, seperti gandang dan talempong. Pada 1966, Islamidar membentuk Sanggar Tolang Pitunang untuk mempertahankan sekaligus melestarikan kesenian Sampelong. Upayanya tidak berhenti pada generasi tua. Menurut artikel, Islamidar berusaha mewariskan Sampelong dari generasi ke generasi karena kesenian itu dianggap identitas nagari yang patut dipertahankan.

Surau Mosojik Tongah

Di luar keluarga Tuen, pewarisan juga berjalan mendatar. Jalur ini diperoleh lewat belajar dari teman sebaya yang bergabung dalam kelompok seni yang sama. Orang yang bukan anggota tetap pun bisa ikut, dan sebagian memiliki kemampuan setara karena belajar secara otodidak. Menurut artikel, keterampilan musikal dalam kebudayaan nonliterasi umumnya berlangsung lisan dan dipelajari lewat pendengaran.

Di Talang Maua, warga mendengar dan mengamati di setiap tempat pertunjukan Sampelong berlangsung. Salah satunya ketika Sampelong dipakai untuk arak-arakan pada kegiatan MTQ tahun 2023, menurut Bahari, warga berusia 70 tahun yang diwawancarai pada 5 Mei 2024. Dengan terus mengamati dan mendengar, seseorang disebut lama-kelamaan bisa menguasai musik Sampelong.

Ilustrasi seruling bambu tradisional di atas tikar pandan dalam surau kayu Minangkabau pada malam hari
Ilustrasi seruling bambu tradisional di atas tikar pandan dalam surau kayu Minangkabau pada malam hari. [Foto: Dibuat dengan AI]

Jalur yang sama dilalui orang di luar silsilah pewaris. Mereka belajar secara khusus di rumah guru dan ikut kegiatan pertunjukan hingga membaur di lingkungan kesenian Sampelong. Menurut M. Chevin Chaniago, mahasiswa pascasarjana berusia 26 tahun yang diwawancarai pada 12 Mei 2024, pemusik tidak cukup hanya mahir memainkan Sampelong, tetapi juga harus memahami tata cara tradisi masyarakat pemiliknya.

Kegiatan warga yang lain dikelompokkan para penulis sebagai pendidikan informal. “Proses pewarisan ini bersifat tidak terstruktur atau tidak terikat pada jadwal yang telah ditentukan,” tulis mereka. Setiap Sabtu malam selepas salat isya, warga menyanyikan logu Sampelong dengan iringan satu pemain Sampelong yang berperan sebagai guru. Tempatnya berpindah-pindah, bergantung pada kesepakatan guru dan anggotanya.

Pada bulan Ramadan, kegiatan itu berlangsung selama sebulan setelah salat tarawih di surau Mosojik Tongah, menurut keterangan Iyas yang diwawancarai pada 6 Mei 2024. Logu yang dinyanyikan di sana berbeda dari logu di sekolah dan sanggar. Logu dalam jalur informal menceritakan kematian seseorang, seperti Khabar Kanak-Kanak dalam Sarugo dan Hiduik Manjalang Mati.

Kelas di Mungka

Jalur ketiga, pewarisan miring, bertumpu pada lembaga pendidikan. Di Talang Maua, tulis ketiga penulis, jalur ini lebih efektif lewat pendidikan formal dan nonformal. Sekolah dipandang tempat yang tepat karena Sampelong disebut hampir mendekati kepunahan, khususnya di Nagari Talang Maua, sehingga dapat masuk kurikulum seni budaya. Pembelajarannya sudah berjalan di SD Negeri Mungka, SMP Negeri Mungka, dan SKB Labuah Silang.

Satu foto dalam artikel berketerangan kegiatan belajar Sampelong di SMP Negeri 1 Mungka, didokumentasikan Nike Hanel pada 12 Mei 2024. Di bagian kesimpulan, para penulis menyebut pembelajaran di sekolah memakai pendekatan Problem Based Learning, model yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Bagian pembahasan tidak menguraikan cara pendekatan itu dijalankan di kelas.

Di luar ruang kelas ada Sanggar Tolang Pitunang, yang dibuat hanya untuk pembelajaran seni tradisi. Menurut Ahmad Yuslim, belajar Sampelong di sana sangat efektif karena berfokus pada musik tradisi. Kesimpulan artikel menyebut sanggar memakai metode latihan: cara meniup Sampelong, teknik garitiak, teknik imbauan, dan kemampuan mengiringi logu. Kemampuan peserta diukur dari hasil latihan dan kecakapannya memainkan serta mengiringi lagu.

Metode itu punya kelemahan. “Kekurangan dalam proses pembelajaran kesenian Sampelong cenderung membuat peserta didik cepat bosan karena pengulangan secara berkali-kali,” tulis Nike Hanel dan kedua rekannya. Jalan keluar yang mereka catat adalah memberi kegiatan pertunjukan, seperti acara pemerintah nagari, festival, atau alek nagari. Di sekolah maupun sanggar, logu seperti Ontak Tabuang dipelajari dengan mendengar, memahami, dan mempraktikkan.

Baca juga Dendang: Warisan Musikal Minang untuk Generasi Muda

Ketiga jalur itu, menurut para penulis, saling berkaitan. “Dari ketiga jenis tersebut, pewarisan miring atau melalui jalur pendidikan menjadi metode yang paling dominan, baik dalam bentuk pendidikan formal maupun nonformal,” tulis mereka dalam kesimpulan. Abstrak artikel juga menyebut pewarisan kesenian Sampelong dewasa ini lebih difokuskan ke pendidikan formal lewat program sekolah dan akademik.

Panggung Kesenian Sampelong

Di atas panggung, kesenian Sampelong ikut berubah. Dari sisi internal, yakni yang berasal dari masyarakat sendiri, Sampelong yang dahulu dipakai untuk guna-guna beralih menjadi pertunjukan hiburan. Menurut artikel, pertunjukannya dikembangkan sesuai selera masyarakat, antara lain dengan menggabungkan genre Talempong Goyang yang digemari warga Talang Maua. Sampelong juga digarap dengan musik modern dan genre seperti kontemporer serta world music.

Dari sisi eksternal, para penulis menyebut Sampelong mampu bertahan karena cukup fleksibel menyerap budaya populer yang disukai masyarakat. Pengaruh luar itu menjadikan Sampelong bahan penggarapan komposisi musik. Pertunjukannya pun tidak hanya menampilkan Sampelong, tetapi juga kostum yang sesuai alur komposisi, hiasan panggung, lighting, pengeras suara, serta tata letak posisi setiap pemain.

Pemerintah Kecamatan Mungka, menurut artikel, membuat program pelestarian dan pengembangan warisan budaya Minangkabau bagi generasi muda, serta perlombaan FLS2N yang memakai Sampelong untuk penggarapan komposisi karawitan. Artikel kemudian menyebut kesenian Sampelong sudah termasuk Warisan Budaya Tak Benda, disertai foto penyerahan sertifikat tahun 2023. Kegiatan 21 budaya tradisi itu disebut berlangsung di Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta.

Masyarakat Talang Maua, tulis ketiga penulis, secara umum menerima Sampelong secara positif. Kesenian itu hadir dalam arak-arakan, alek nagari, dan acara sakral lain, bahkan tidak jarang diundang tampil ke luar daerah. Warga secara sukarela menyediakan tempat, waktu, dan sumber daya untuk pertunjukannya. Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama pada regenerasi pelaku seni dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.

Baca juga Melodi Penutup Randai Kuantan Jadi Komposisi Baru

Delapan Narasumber

Kajian ini memakai metode kualitatif dengan studi deskriptif. Data primer diperoleh lewat wawancara dan pengamatan langsung, sedangkan data sekunder dari studi kepustakaan. Datanya dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi. Daftar wawancara mencantumkan delapan narasumber, dari mahasiswa berusia 26 tahun sampai warga berusia 70 tahun, termasuk seorang guru dan perangkat nagari, yang diwawancarai antara Oktober 2023 dan Mei 2024.

Artikel tidak memaparkan keterbatasan kajiannya. Naskah tidak menyebut jumlah siswa atau peserta sanggar yang belajar Sampelong, lama pengamatan di lapangan, maupun cara keterangan narasumber dicocokkan satu sama lain. Pendekatan Problem Based Learning serta teknik garitiak dan imbauan hanya muncul di kesimpulan, tanpa uraian di bagian hasil dan pembahasan.

Beberapa bagian naskah juga tidak saling cocok. Pembahasan membuka dengan pernyataan bahwa Sampelong di Talang Maua masih terpelihara dengan baik, tetapi beberapa paragraf kemudian menyebutnya hampir mendekati kepunahan. Narasumber bernama Iyas dikutip untuk kegiatan di surau, tetapi namanya tidak tercantum dalam daftar wawancara. Judul memakai kata metode, sedangkan abstrak dan bagian metode menyebut sistem pewarisan.

Dalam catatan ketiga penulis, lagu yang dinyanyikan kepada Ahmad Yuslim kecil sebelum tidur termasuk pewarisan tegak, jalur yang bergerak di dalam keluarga. Jalur yang kini disebut paling dominan justru berada di luar rumah itu: ruang kelas di SD dan SMP Negeri Mungka, SKB Labuah Silang, dan latihan berulang di sanggar yang dibentuk ayahnya pada 1966.

Bagikan

Baca Juga

Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka
Yung Caters dan Raissa Anggiani Rilis Siapa Yang Salah
Binaural Beats dan Gelombang Teta yang Diburu Terapis
Zikir Berdiri di Makam Sikaladi dan Mereka yang Tumbang