Kapal Perang India dan Pakistan Bertabrakan di Laut Arab

A A

Kapal perang PNS Tippu Sultan milik Angkatan Laut Pakistan dalam latihan multinasional AMAN di Karachi. [Foto: Shahzaib Akber/EPA]

Cekricek.id — Kapal perang India dan Pakistan bertabrakan di Laut Arab pada Selasa, memicu tuduhan saling balas dan pemanggilan diplomat kedua negara di New Delhi dan Islamabad.

Insiden itu menjadi pertemuan militer langsung pertama antara dua negara bersenjata nuklir tersebut sejak konflik empat hari pada Mei 2025, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (17/09/2026). Hingga kini rincian peristiwa masih dipersoalkan kedua pihak, dan tidak ada pemerintah yang merilis video, data lintasan, atau keterangan independen.

Pemerintah Pakistan memanggil diplomat utama India di Islamabad pada Rabu, beberapa jam setelah New Delhi memanggil kuasa usaha Pakistan dan menyampaikan protes atas insiden yang sama.

Dua versi tentang siapa yang bermanuver berbahaya

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Rabu malam, angkatan lautnya menggelar latihan dua tahunan SEASPARK-26 di dalam zona ekonomi eksklusifnya sejak 1 September. Zona ekonomi eksklusif sebuah negara membentang 200 mil laut atau 370 kilometer dari pantainya, sementara laut teritorialnya hanya 12 mil laut atau 22 kilometer.

Pakistan menyebut kapal India, yang diidentifikasi sebagai kapal perusak berpeluru kendali INS Kolkata, berulang kali berusaha memasuki area latihan sejak 7 September. Pada 15 September, kapal itu disebut mengubah haluan secara berbahaya hingga bersentuhan dengan kapal patroli lepas pantai Pakistan yang media setempat sebut PNS Hunain.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan menolak keras tindakan India tersebut dan menilainya melanggar perjanjian bilateral 1991 yang mewajibkan kapal perang menjaga jarak sekurang-kurangnya tiga mil laut di perairan internasional. Kementerian Luar Negeri India menyatakan kapal perangnya sedang melakukan pengawasan rutin di perairan internasional ketika sebuah kapal Pakistan mendekat dengan kecepatan tinggi dan bermanuver tidak aman.

Kedua pemerintah tidak menyebut nama kapal dalam pernyataan resmi masing-masing, dan India tidak mengonfirmasi maupun membantah identifikasi INS Kolkata. Tabrakan terakhir antara kedua angkatan laut terjadi pada Juni 2011 di Teluk Aden, dan perselisihan itu mereda dalam hitungan pekan.

Tidak ada saluran telepon langsung antarangkatan laut

Mantan Wakil Laksamana Angkatan Laut Pakistan Ahmad Saeed menilai pola dua kapal yang saling merapat tanpa niat menabrak mengingatkan pada insiden saling serempet era Perang Dingin antara kapal Soviet dan AS di Laut Hitam. Namun, menurut dia, India dan Pakistan berada pada posisi lebih buruk untuk mengelola insiden semacam itu, berbeda dari pola kerja sama kawasan yang tampak pada pertemuan para pemimpin di KTT SCO Bishkek.

“Tidak ada perjanjian bilateral Insiden di Laut, seperti yang ditandatangani AS dan Uni Soviet pada 1972, dan tidak ada saluran telepon langsung antarangkatan laut,” kata Saeed. “Pasal 10 menetapkan jarak, tetapi tidak memberi aturan manuver dan tidak memberi prosedur penyelidikan setelah insiden. Celah itulah yang membuat masing-masing pihak bisa saling menuduh.”

Saeed menyebut risiko yang lebih besar justru pada apa yang menyusul tabrakan, seperti penguncian radar pengendali tembakan atau penerbangan helikopter di atas kapal lawan, dan pada akhirnya kontak yang menimbulkan korban jiwa. Ia menilai keadaan kini lebih berisiko daripada 2011 karena publik kedua negara sudah terpantik konflik tahun lalu.

Analis keamanan dan maritim dari Lahore, Muhammad Shareh Qazi, berpendapat sebaliknya. Ia menunjuk perjanjian 1991 yang menurutnya mensyaratkan pemberitahuan tertulis 30 hari sebelum latihan militer, serta aturan internasional pencegahan tubrukan yang mengikat kedua negara sebagai penanda tangan konvensi hukum laut PBB.

“Kalau tabrakan ini benar-benar berpotensi meningkat secara militer, Anda pasti sudah melihatnya sekarang,” kata Qazi. “Ada alatnya, namanya chaff, ditembakkan tepat di atas haluan atau buritan semata-mata untuk memberi sinyal bahwa Anda bisa meningkatkan eskalasi kalau perlu. Tidak ada yang seperti itu di sini.”

Konfrontasi jarak dekat serupa makin sering terjadi antara Tiongkok dan Filipina di Laut China Selatan. Ketegangan kawasan laut juga menjadi perhatian negara lain, termasuk ketika Korea Utara meresmikan kapal perusak Kang Kon dan menyinggung kedaulatan laut.

Qazi menilai apakah tabrakan pekan ini berlanjut atau mereda seperti 2011 lebih ditentukan langkah diplomatik ketimbang manuver kapal. Jalur pelayaran lain di kawasan juga sedang menghadapi tekanan, termasuk pembicaraan mengenai Selat Hormuz yang tertunda.

Bagikan

Baca Juga

Misi PBB: Serangan AS di Iran Diduga Kejahatan Perang
Von der Leyen Dukung Kanada Jadi Anggota Asosiasi Uni Eropa
Rodrigo Duterte Hadir Langsung di ICC untuk Pertama Kali
21 Tewas, Termasuk 8 Anak, Akibat Gedung Runtuh di Gaza
The Fed Naikkan Suku Bunga AS, Pertama dalam Tiga Tahun
Lansia Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 100.000 Orang