Cekricek.id — Lebih dari 300 anak meninggal dunia akibat Ebola sejak wabah dimulai di Republik Demokratik Kongo. Angka itu disampaikan Wakil Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa Farhan Haq pada Jumat, mengutip data Dana Anak-anak PBB atau UNICEF.
Mengutip Africanews yang mengolah laporan AFP, Minggu (9/8/2026), anak-anak menyumbang hampir seperempat dari kasus terkonfirmasi, tetapi hampir sepertiga dari seluruh kematian. Perbandingan itu menunjukkan beban wabah tidak dipikul secara merata.
Empat Ribu Kasus dan Layanan Kesehatan yang Ditinggalkan
Wabah terus menyebar cepat di wilayah timur Kongo. Total kasus kini melampaui 4.000, dengan 1.850 kematian yang dilaporkan.
Dampaknya melebar jauh dari angka penderita Ebola itu sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan dasar terganggu parah. Di wilayah yang paling terdampak, pemanfaatan layanan kesehatan turun lebih dari 40 persen dalam beberapa bulan terakhir, karena warga takut tertular jika mendatangi fasilitas medis.
Perempuan hamil termasuk kelompok yang paling menanggung akibatnya. Menurut Dana Kependudukan PBB, angka kematian ibu di Provinsi Ituri nyaris berlipat ganda sejak wabah dimulai, dengan sekitar enam perempuan meninggal setiap pekan akibat komplikasi persalinan. Infeksi Ebola pada masa kehamilan sendiri hampir selalu berujung pada kematian janin.
Uji Klinis Vaksin dan 13 Ribu Petugas Komunitas
Kelompok Penasihat Teknis Organisasi Kesehatan Dunia untuk Riset Vaksin merekomendasikan uji klinis di Kongo guna mengevaluasi vaksin Ervebo terhadap virus Bundibugyo. Ervebo sejauh ini merupakan satu-satunya vaksin Ebola yang berlisensi. WHO menyatakan sedang bekerja bersama para mitra agar uji coba itu bisa dimulai secepatnya.
Dalam kunjungan ke Provinsi Ituri, pusat wabah, awal pekan ini, WHO menyerukan peningkatan mendesak pada respons yang dipimpin komunitas — mencakup deteksi dini yang lebih kuat, penelusuran kontak, serta akses perawatan yang lebih baik.
Untuk melawan ketakutan dan misinformasi, sebanyak 13 ribu petugas komunitas telah diterjunkan oleh Kementerian Kesehatan Kongo bersama WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, UNICEF, dan sejumlah mitra. Mereka telah menjangkau lebih dari 2,4 juta orang dengan informasi pencegahan dan deteksi dini, serta melakukan lebih dari 500 ribu kunjungan rumah.
Angka kunjungan rumah itu menjelaskan satu hal penting tentang penanganan Ebola: wabah ini tidak berhenti oleh obat semata, melainkan oleh kepercayaan. Selama warga menghindari fasilitas kesehatan, rantai penularan tetap tersembunyi dan kematian akibat penyakit lain ikut menumpuk.



















