Cekricek.id — Wilayah besi cair yang mengalir di batas inti luar Bumi, sekitar 2.900 kilometer di bawah Samudra Pasifik, berbalik arah pada sekitar 2010. Sebelumnya aliran itu bergerak lemah ke barat; sesudahnya berubah menjadi aliran kuat ke timur. Perubahan sebesar itu terjadi hanya dalam hitungan satu dasawarsa, dan penyebabnya belum bisa dijelaskan.
Baca juga: Pusaran Plasma Mungil di Permukaan Matahari Terungkap
Analisis tersebut disusun Frederik Dahl Madsen dari School of GeoSciences, University of Edinburgh, bersama Isobel Howard, William Brown, dan Kathryn Whaler lewat artikel Principal component analysis of the 2010 reversal of core-surface flow beneath the Pacific Ocean dalam jurnal Journal of Studies of Earth's Deep Interior volume 2 pada 2026.
Dikutip dari sciencedaily.com, Jumat (7/8/2026), tim mengolah rekaman medan magnet Bumi yang dikumpulkan misi Swarm milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Misi itu terdiri atas tiga satelit yang mengorbit rendah sejak 2013 dan mengukur medan magnet secara terus-menerus. Karena medan magnet Bumi dibangkitkan oleh gerakan besi cair di inti luar, perubahan pola medan di permukaan dapat dibaca mundur menjadi gambaran aliran di kedalaman.
Membaca Inti dari Orbit
Metode yang dipakai adalah analisis komponen utama, teknik statistik yang memilah pola paling menonjol dari kumpulan data besar. Dari pemilahan itu muncul satu pola yang berubah tajam di sekitar 2010: arah aliran di bawah Pasifik berbalik dan kecepatannya meningkat.
"Pembalikan aliran berskala besar di bawah Pasifik memunculkan pertanyaan baru tentang perilaku bagian dalam Bumi," kata Madsen.
Madsen menambahkan, kemunculan aliran kuat ke timur di Pasifik itu terjadi pada masa yang sama dengan perubahan perilaku inti dalam Bumi. Inti dalam adalah bola besi padat di pusat planet yang sejak beberapa tahun terakhir diketahui mengalami perubahan laju putaran relatif terhadap mantel di atasnya, meski penjelasannya masih diperdebatkan.
Baca juga: Aurora Mars Ternyata Lahir dari Mekanisme Mirip Bumi
Yang Bisa dan Tidak Bisa Dijawab Data
Anja Stromme, Manajer Misi Swarm di ESA, menyatakan misi tersebut memberi liputan global yang berkelanjutan selama bertahun-tahun sehingga ilmuwan dapat menelusuri bagaimana dinamika inti berkembang dari waktu ke waktu. Ilmuwan Misi Swarm Elisabetta Iorfida menyebut studi ini memperlihatkan bahwa perubahan yang bersifat kewilayahan bisa muncul dengan cepat, hanya dalam satu dasawarsa.
Rekaman satelit yang dipakai hanya mencakup rentang beberapa dasawarsa, sedangkan proses di inti Bumi berjalan pada skala waktu jauh lebih panjang. Aliran yang direkonstruksi juga bukan pengukuran langsung, melainkan hasil perhitungan mundur dari medan magnet di permukaan, sehingga rincian di kedalaman selalu bergantung pada asumsi model yang dipakai. Kedua batas itu membuat tim berhenti pada penggambaran pola dan tidak mengajukan penyebabnya.
Kaitan dengan Medan Pelindung
Medan magnet Bumi menahan sebagian partikel bermuatan dari Matahari dan melindungi lapisan atmosfer. Perubahan aliran di inti berhubungan langsung dengan pergeseran medan itu, termasuk pergerakan kutub magnet utara yang sejak beberapa dasawarsa terakhir bergeser dari kawasan Kanada ke arah Siberia dengan laju yang berubah-ubah.
Misi Swarm dijadwalkan terus beroperasi untuk memperpanjang rangkaian pengukuran, dan tim menyatakan pembalikan di bawah Pasifik akan dipantau untuk melihat apakah polanya bertahan atau kembali berubah.



















