Cekricek.id — Prospek perdagangan sektor pertanian Indonesia menunjukkan arah yang semakin positif. Setelah mencatat lonjakan ekspor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada 2025, tren itu berlanjut pada semester pertama 2026 dengan nilai ekspor komoditas pertanian yang tetap terjaga, sementara ketergantungan terhadap impor terus menurun, demikian dikutip dari pertanian.go.id.
Indonesia bahkan mencatat momentum bersejarah pada Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah berhasil mencapai swasembada beras, Indonesia kembali membuka keran ekspor beras ke negara tetangga, Malaysia, dengan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor beras ke Malaysia menjadi bukti produksi pangan nasional kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki ruang memasok pasar internasional. “Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia,” ujar Mentan Amran.
Ekspor Naik, Impor Ditekan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor sektor pertanian sepanjang 2025 untuk produk segar dan olahan mencapai sekitar Rp756,69 triliun, meningkat Rp166,71 triliun atau 28,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, nilai impor turun menjadi sekitar Rp389,95 triliun atau berkurang Rp41,68 triliun (9,66 persen) dibandingkan 2024.
Kinerja tersebut menandai salah satu perbaikan struktur perdagangan pertanian terbesar dalam dua dekade terakhir. Pada 2003, nilai ekspor sektor pertanian baru mencapai sekitar Rp64,61 triliun, sedangkan pada 2025 telah meningkat lebih dari sebelas kali lipat.
Tren tersebut memperlihatkan dinamika yang menarik. Setelah ekspor mencapai Rp657,50 triliun pada 2022, nilainya sempat terkoreksi menjadi Rp552,39 triliun pada 2023 akibat perlambatan perdagangan global. Ekspor kembali pulih menjadi Rp589,98 triliun pada 2024 dan melonjak tajam pada 2025. Sebaliknya, impor yang mencapai puncaknya pada 2024 sebesar Rp431,63 triliun berhasil ditekan menjadi Rp389,95 triliun pada 2025.
Momentum Berlanjut pada 2026
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS, nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai US$2,59 miliar, meningkat 1,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2026 saja, nilai ekspor sektor tersebut mencapai US$485,8 juta.
Peningkatan itu ditopang membaiknya kinerja komoditas strategis, terutama minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang mencatat pertumbuhan ekspor 7,32 persen selama Januari–Juni 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan kenaikan harga CPO di pasar global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia sepanjang semester pertama 2026.
Secara nasional, total ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar.
“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” ujar Mentan Amran.
Hilirisasi Jadi Strategi Utama
Pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, dan rempah-rempah agar devisa yang diperoleh semakin besar. “Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Mentan.
Indikator fundamental sektor pertanian turut membaik. Total kenaikan pendapatan mencapai Rp437,25 triliun yang berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor. Indonesia juga menghemat impor hingga Rp34 triliun, dengan produksi beras naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen dan Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 5,2 juta ton.
Nilai Tukar Petani tercatat 127,84, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade, sedangkan Produk Domestik Bruto sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Capaian ekspor beras itu sendiri telah dilaporkan melalui pengiriman perdana 1.000 ton beras ke Malaysia lewat Entikong. Sebelumnya, Indonesia juga mencatat ekspor minyak atsiri senilai USD 348,7 juta dengan nilam sebagai andalan, serta memperoleh tambahan kuota ekspor pisang ke Jepang sebanyak 4.000 ton dengan tarif nol persen.
















