Bajak Laut Somalia Bunuh Lima Awak Kapal Tanker Honour 25

A A

Keluarga awak asal Pakistan dari kapal tanker Honour 25 berunjuk rasa menuntut pemulangan kerabat mereka di Karachi, Pakistan, 13 Mei 2026. [Foto: Akhtar Soomro/Reuters, arsip]

  • Bajak laut membunuh lima awak tanker MT Honour 25 sebelum kapal dibebaskan pasukan keamanan Puntland.
  • Korban tewas terdiri atas tiga warga Pakistan, satu warga Myanmar, dan satu warga India.
  • Pasukan Puntland menangkap 16 terduga bajak laut dalam operasi penyelamatan.
  • Sedikitnya 15 serangan bajak laut dilaporkan di lepas pantai Somalia sejak April.

Cekricek.id — Bajak laut membunuh lima awak kapal tanker minyak berbendera Palau, MT Honour 25, di lepas pantai Somalia sebelum pasukan keamanan berhasil membebaskan kapal tersebut, menurut otoritas Somalia.

Kematian para awak diumumkan pada Selasa, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (30/9/2026). Kasus ini tampaknya menjadi kematian pertama di tangan bajak laut Somalia dalam lebih dari satu dekade, di tengah kebangkitan pembajakan yang menurut para ahli sebagian dipicu dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

MT Honour 25, yang menurut otoritas mengangkut 18.500 barel minyak, dibajak di lepas pantai Somalia pada 21 April. Kementerian Informasi Puntland, wilayah semiotonom Somalia, menyatakan misi penyelamatan telah membebaskan kapal dan menangkap 16 terduga bajak laut.

Tiga Awak Pakistan di Antara Korban Tewas

“Sebelum operasi dimulai, bajak laut di atas kapal membunuh lima awak. Di antara yang tewas terdapat tiga orang dari Pakistan, satu dari Myanmar, dan satu dari India,” bunyi pernyataan kementerian itu. Empat awak lain, tiga warga Pakistan dan satu warga India, terluka.

Kedutaan Besar India di Kenya menyatakan “sangat berduka” atas terbunuhnya awak asal India. “Seluruh pelaut India lainnya di kapal dilaporkan selamat, termasuk mereka yang berada di MT Sibu 1 dan MT Eureka, yang juga baru-baru ini diselamatkan,” tulis kedutaan.

Menteri Perikanan dan Sumber Daya Kelautan Puntland Mohamed Abdulkadir Salah mengatakan kepada Al Jazeera, “Banyak yang meragukan kemampuan Puntland mengatur dan mengamankan perairannya sendiri. Dengan operasi Pasukan Polisi Maritim Puntland ini, kami membuktikan kami mampu melakukannya, dan kami tegaskan akan terus melakukannya.”

Operasi ini menyusul pembebasan tanker Sibu 1 pekan lalu, kapal yang dikenai sanksi AS dan dibajak pada Agustus. Namun 28 dari 41 bajak laut yang ditangkap dalam operasi itu kabur saat dipindahkan ke penjara. Sedikitnya 15 serangan dilaporkan di lepas pantai Somalia sejak April. Kepala kantor koordinasi keamanan Puntland Mohamed Mubarak menyebut kapal MT Asana, yang dibajak pada Juli, masih ditahan di perairan negara bagian Galmudug di dekat kota Ceel Huur. Gelombang pembajakan sebelumnya pada 2008 sampai 2014 mengganggu salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia.

Bagikan

Baca Juga

Lapid Tuding Netanyahu Tebar Ketakutan Jelang Pemilu Israel
Hegseth Pangkas 20 Persen Jabatan Jenderal dan Laksamana AS
Pegawai Negeri Prancis Mogok Nasional Tuntut Kenaikan Gaji
Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Koridor Hijau Bogotá: Warga Catat 702 Hambatan di 7th Street
Guboow Somalia: Luka Bakar Disengaja untuk Obati Nyeri Anak