- Pusat data memakai air untuk pendinginan, pembangkitan listrik, dan manufaktur perangkat
- Dampaknya bergantung pada lokasi, teknologi pendingin, dan kondisi air setempat
- Air daur ulang dan pendingin sirkuit tertutup disebut bisa menekan konsumsi
Cekricek.id — Operasional kecerdasan buatan (AI) bergantung pada pusat data yang mengonsumsi listrik dan air bersih dalam jumlah besar. Dosen Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR), Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD, menjelaskan bahwa server, prosesor, dan GPU di pusat data menghasilkan panas tinggi yang harus terus dibuang agar sistem tetap stabil.
“Hubungan antara pusat data dan konsumsi air terjadi melalui tiga jalur utama yakni penggunaan air langsung untuk sistem pendinginan, penggunaan tidak langsung melalui pembangkitan listrik, serta air yang digunakan dalam rantai pasok manufaktur perangkat keras,” jelas Yutika, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UNAIR, Jumat (16/10/2026).
Baca juga: Pusat Data AI Indonesia Diarahkan Memakai Listrik Energi Hijau
Menurut dia, air dipilih untuk pendinginan karena kemampuannya menyerap panas tinggi. Meski begitu, air daur ulang yang tidak layak minum, asalkan sudah diolah sesuai spesifikasi teknis, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan air minum.
Kebutuhan Warga Harus Diutamakan
Menanggapi kekhawatiran soal ketersediaan air bersih, Yutika menegaskan pentingnya kajian daya dukung lingkungan sejak tahap perencanaan pusat data. “Dampaknya sangat bervariasi bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, dan kondisi sumber daya air setempat. Kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan air,” tegasnya.
Baca juga: Pusat Data AI Kenya Picu Kekhawatiran Air Naivasha
Untuk menekan konsumsi air, ia menyebut sejumlah langkah dari hulu hingga hilir, yakni optimasi model komputasi, teknologi pendingin sirkuit tertutup (closed-loop cooling) atau pendingin cair langsung ke cip (direct-to-chip liquid cooling), penggunaan air daur ulang, hingga pemilihan lokasi fasilitas.
Yutika juga mengajak masyarakat memakai AI secara bijak tanpa ketakutan berlebihan, serta mendorong sinergi pemerintah, industri, dan akademisi. “Pemerintah dapat mendorong standar efisiensi, sementara perguruan tinggi seperti UNAIR dapat berperan melalui riset lintas bidang. AI bukan hanya teknologi yang terkendali dampaknya, namun juga dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca juga: Warga Gunungkidul Jual Singkong demi Air Bersih saat Kemarau















