- Pusat data dunia memakai sekitar 485 terawatt jam listrik pada 2025
- Indonesia dinilai belum kuat di algoritma, tetapi unggul di data dan energi hijau
- Pemerintah diminta memperkuat tata kelola dan perlindungan data
Cekricek.id — Pusat data di seluruh dunia menyedot sekitar 485 terawatt jam listrik pada 2025, kira-kira 1,5 persen konsumsi listrik global, dan kebutuhan itu terus naik seiring pertumbuhan kecerdasan buatan (AI). Bagi Indonesia, angka tersebut dibaca Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie sebagai peluang.
Dalam paparannya di Bogor, Kamis (1/10/2026), Stella membagi AI ke dalam tiga unsur: algoritma, data, dan daya komputasi. Ia mengakui Indonesia belum kuat dalam pengembangan algoritma berskala besar. Kekuatannya ada pada dua unsur yang lain.
“Data penting bagi kita, dan kita bisa memiliki keunggulan tertentu, yaitu pusat data dengan energi hijau adalah keunggulan kita,” kata Stella, dikutip dari keterangan tertulis Kemdiktisaintek yang terbit Senin (5/10/2026).
Mendorong, Bukan Mengerem
Gagasannya adalah menyandingkan pembangunan pusat data dengan pembangkit energi terbarukan. Indonesia memiliki tenaga surya, panas bumi, dan sumber lain yang dapat memasok listrik bagi mesin-mesin komputasi itu. Angka konsumsi listrik yang ia kutip berasal dari International Energy Agency.
Stella tidak mengusulkan pembatasan jumlah pusat data demi menekan emisi.
“Strateginya adalah mendukung pertumbuhan, bukan membatasi pertumbuhan, dengan memberikan insentif dan dukungan sehingga kebutuhan energi untuk AI berasal dari energi terbarukan,” ujarnya.
Soal data, ia memberi catatan. Jumlah penduduk dan kegiatan digital yang tinggi membuat Indonesia memiliki data sangat besar, tetapi pemanfaatan dan perlindungannya belum optimal. Pemerintah dinilainya perlu memperkuat tata kelola data supaya kekayaan itu menopang riset dan inovasi dalam negeri.
Ia juga mengingatkan bahwa AI tidak otomatis membuat mahasiswa lebih pintar, dan pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan.
Baca juga: Belajar Dibantu AI Naikkan Nilai Latihan, Tidak saat Ujian
Baca juga: Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru
Baca juga: Talenta AI Indonesia Dituntut Mampu Mengevaluasi Keluaran Mesin















