Cekricek.id — Harapan segera terbukanya kembali Selat Hormuz meredup. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan pembukaan jalur pelayaran paling vital bagi energi dunia itu sama sekali tidak terkait kerangka kesepakatan yang tengah dirampungkan dengan Oman, melainkan bergantung pada satu hal: Amerika Serikat menerima seluruh syarat Iran.
Mengutip laporan Al Jazeera, Sabtu (8/8/2026), juru bicara IRGC Sardar Mohebi menyampaikan pendirian itu lewat kantor berita Iran, Tasnim. Menurutnya, pembukaan selat tunduk pada mekanisme dan syarat khusus Iran yang tak berhubungan dengan perundingan Oman.
“Bagi kami, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan ekonomi, melainkan bagian dari kekuatan geografis dan strategis,” kata Mohebi.
“Kapan pun AS menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka,” tegasnya.
Pernyataan itu datang justru ketika juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran mengonfirmasi bahwa kerangka umum kesepahaman dengan Oman telah tercapai dan tinggal menunggu persetujuan tingkat tinggi. Desakan menjadikan selat ini senjata sudah muncul sejak fase awal perang, seperti pernah kami laporkan dalam tuntutan blokade Selat Hormuz kepada Khamenei.
Rudal Menghantam Tanker ADNOC
Ketegangan di selat justru meningkat pada hari yang sama. Sebuah kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dihantam rudal saat melintasi Selat Hormuz. Kantor berita resmi UEA, WAM, menyebut serangan itu tidak menimbulkan korban dan situasi berhasil dikendalikan.
Kementerian Luar Negeri UEA mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya pelanggaran terang-terangan atas Resolusi 2817 Dewan Keamanan PBB tentang kebebasan navigasi. Dalam pernyataannya, kementerian itu menegaskan penargetan kapal dagang dan penggunaan Selat Hormuz sebagai alat penekan atau pemerasan ekonomi merupakan aksi pembajakan oleh Garda Revolusi Iran sekaligus ancaman langsung bagi stabilitas kawasan dan keamanan energi global.
Ekspor Minyak Irak Anjlok 75 Persen
Dampak blokade kian terasa di negara-negara tetangga. Menteri Perminyakan Irak Bassem Mohammed Khudair mengungkapkan ekspor minyak negaranya melalui Selat Hormuz merosot 75 persen sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah. Sebelum perang, Irak mengekspor sekitar 3,4 juta barel per hari; kini produksinya 2,7 juta barel dengan ekspor hanya 1,5 sampai 1,7 juta barel.
Khudair menyebut ada dialog dengan Iran agar minyak Irak diizinkan melewati selat, tetapi belum berjalan. Ia juga menegaskan Irak menolak segala serangan terhadap perusahaan minyak di negaranya dan siap memberi kompensasi jika ada kerugian.
Dari 90 Kapal Sehari Menjadi Empat
Betapa dalamnya cengkeraman Iran atas selat itu terbaca dari data IMF PortWatch yang dikutip analisis Mohammad Reza Farzanegan untuk Al Jazeera: dalam sepekan hingga 2 Agustus, rata-rata hanya sekitar empat kapal per hari yang melintasi Selat Hormuz — bandingkan dengan sekitar 90 kapal pada pekan yang sama tahun lalu. Volume angkut anjlok dari 3,5 juta ton menjadi sekitar 143 ribu ton per hari, merosot kira-kira 96 persen sejak blokade dimulai 28 Februari.
Sementara itu, diplomasi kawasan terus bergerak menyusul pakta pertahanan Mekah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan yang diteken akhir pekan ini — persekutuan yang oleh para analis dibaca sebagai jawaban atas rentetan ancaman keamanan di sekitar Teluk.
Baca juga: Mengapa Sekutu Iran Bungkam Meski Amerika Serikat Ikut Serang Teheran?


















