Letak Tangan dan Jari Jemari Saat Shalat

Letak Tangan dan Jari Jemari Saat Shalat

Ilustrasi. [iStock]

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri berdasarkan hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad: “Manusia diperintahkan agar laki-laki meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri ketika shalat”. (HR. al- Bukhari).

Letak Tangan dan Jari Jemari Saat Shalat

Adapun posisi jari-jemari, berikut pendapat beberapa mazhab:

Mazhab Hanbali dan Syafi’i

Meletakkan tangan kanan di atas lengan tangan kiri atau mendekatinya.

Mazhab Hanafi

Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, bagi laki-laki melingkarkan jari kelingking dan jempol pada pergelangan tangan. Sedangkan bagi perempuan cukup meletakkan kedua tangan tersebut di atas dada (telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri) tanpa melingkarkan (jari kelingking dan jempol), karena cara ini lebih menutupi bagi perempuan.

Mazhab Hanafi dan Hanbali

Meletakkan tangan di bawah pusar, berdasarkan hadits dari Ali, ia berkata: “Berdasarkan Sunnah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di bawah pusar”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Mazhab Syafi’i

Dianjurkan memposisikan kedua tangan tersebut di bawah dada di atas pusar, miring ke kiri, karena hati berada pada posisi tersebut, maka kedua tangan berada pada anggota tubuh yang paling mulia, mengamalkan hadits Wa’il bin Hujr: “Saya melihat Rasulullah Saw shalat, ia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, salah satu tangannya di atas yang lain”. Didukung hadits lain riwayat Ibnu Khuzaimah tentang meletakkan kedua tangan menurut cara ini.

Mazhab Maliki

Dianjurkan melepaskan tangan (tidak bersedekap) dalam shalat, dengan lentur, bukan dengan kuat, tidak pula mendorong orang yang berada di depan karena akan menghilangkan khusyu’. Boleh bersedekap dengan memposisikan tangan di atas dada pada shalat Sunnat, karena boleh bersandar tanpa darurat. Makruh bersedekap pada shalat wajib, karena orang yang bersedekap itu seperti seolah-olah ia bersandar, jika seseorang melakukannya bukan untuk bersandar akan tetapi karena ingin mengikuti sunnah, maka tidak makruh. Demikian juga jika ia melakukannya tidak dengan niat apa-apa.

Pendapat yang Rajih (kuat) dan terpilih bagi saya (Syekh Wahbah az-Zuhaili) adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama: meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, inilah yang disepakati. Adapun hakikat Mazhab Maliki yang ditetapkan itu adalah untuk memerangi perbuatan orang yang tidak mengikuti sunnah yaitu perbuatan mereka yang bersedekap untuk tujuan bersandar, atau untuk memerangi keyakinan yang rusak yaitu prasangka orang awam bahwa bersedekap itu hukumnya wajib. [Syekh Wahbah az Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 2/62-6]

---

Sumber:
77 Tanya-Jawab Seputar Shalat, Ustaz Abdul Somad. Courtesy of Cekricek.id.

Dapatkan update terkini dari Cekricek.id melalui Google News.

Baca Juga

Hukum Membaca Doa Iftitah
Apa Hukum Membaca Doa Iftitah?
Batasan Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbiratul-Ihram
Batasan Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbiratul-Ihram
Hukum Melafazkan Niat Shalat
Hukum Melafazkan Niat Shalat
Cara Meluruskan Shaf dan Posisi Shaf Anak Kecil Saat Shalat Berjamaah
Cara Meluruskan Shaf dan Posisi Shaf Anak Kecil Saat Shalat Berjamaah
Hukum Perempuan Shalat Berjamaah ke Masjid
Hukum Perempuan Shalat Berjamaah ke Masjid
Apakah Shalat Harus Dilaksanakan Secara Berjamaah
Apakah Shalat Harus Dilaksanakan Secara Berjamaah?