- Bahaya terbesar pun ternyata tidak mengintai di lereng bukit pasir, melainkan di jalan aspal yang rata.
- Tidak seorang pun dari mereka pernah mengikuti kursus resmi mengendarai ATV.
- Mereka yang biasa melintas di aspal menanggung odds cedera kira-kira empat kali lipat dibanding yang tidak.
- Helm, menurut cerita itu, datang sesudah celaka dan bukan sebelum celaka.
- Pengendara yang mulai sebelum usia sepuluh tahun punya odds dirawat di rumah sakit yang jauh lebih rendah.
Daftar Isi
Helm dipasang supaya kepala selamat, dan anak yang terlalu dini memegang setang kendaraan bermesin lazimnya dianggap paling dekat dengan celaka. Di gurun Uni Emirat Arab, dua anggapan itu tampak terbalik. Pengendara motor ATV yang berhelm justru lebih banyak yang pernah cedera berat, sedangkan mereka yang mulai berkendara semasa kecil lebih jarang masuk rumah sakit. Bahaya terbesar pun ternyata tidak mengintai di lereng bukit pasir, melainkan di jalan aspal yang rata.
Kejanggalan itu muncul dalam riset Preetha Menon, Mohamed El-Sadig, Ibrahim Abdalla Alfaki, Marwan F. Albastaki, Humaid Alzaabi, Mansour Almehrzi, Saleh Alhammadi, Hamed Aljanaahi, Iffat Elbarazi, dan Michal Grivna berjudul Quad Bike Safety and Injury Risk in the United Arab Emirates: Insights from a Mixed-Methods Study, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah diterima yang belum bernomor volume. Sebagian besar penulisnya bekerja di United Arab Emirates University di Al Ain. Mereka mengamati 134 pengendara rekreasi dan mewawancarai 63 orang lain, termasuk orang tua dan polisi.
Hobi anak muda yang dipelajari tanpa guru
Motor ATV, kendaraan beroda empat bersetang yang dirancang untuk medan tak rata, di negeri itu adalah mainan anak muda. Dari seluruh pengendara yang ditemui para peneliti di gurun Abu Dhabi, Dubai, dan Sharjah, 84 persen berusia di bawah 30 tahun dan usia tengahnya hanya 19 tahun. Delapan dari sepuluh adalah warga Emirat, sisanya ekspatriat yang sudah menetap lebih dari setahun. Perempuan hanya 14 persen.
Yang lebih menarik adalah kapan mereka mulai. Kira-kira satu dari empat pengendara sudah naik ATV pada usia enam tahun atau lebih muda, 28 persen mulai antara usia enam dan sepuluh tahun, dan 26 persen antara sebelas dan enam belas tahun. Artinya, lebih dari separuh sudah memegang setang sebelum genap sebelas tahun, pada umur ketika keputusan soal mesin, tempat, dan waktu berkendara masih berada di tangan orang dewasa di sekitarnya.
Cara belajarnya pun sepenuhnya informal. Tidak seorang pun dari mereka pernah mengikuti kursus resmi mengendarai ATV. Sebanyak 42 persen belajar sendiri, dan bagian yang sama besar diajari anggota keluarga yang lebih tua, sehingga keluarga menjadi pintu masuk utama ke hobi ini. Motornya sendiri lebih sering pinjaman, sebab 55 persen memakai kendaraan milik keluarga atau teman dan 41 persen memakai milik sendiri. Saat diamati, hanya 22 persen yang mengenakan helm.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Bagaimana kendali lepas di lereng pasir
Celaka di gurun umumnya berawal dari satu hal, yakni kendali yang lepas. Para peneliti menggambarkan urutannya dengan sederhana: pengendara menghadapi lereng curam atau tikungan tajam, motor terguling atau terbalik, lalu tubuh pengendara terlempar dari kendaraan. Pengalaman kehilangan kendali itu dialami 56 persen pengendara. Hampir sepertiganya bahkan mengalaminya lebih dari tiga kali, sehingga tergelincir di pasir nyaris menjadi bagian biasa dari hobi tersebut.
Akibatnya tidak selalu ringan. Sebanyak 45 persen pengendara melaporkan pernah cedera yang memerlukan perawatan medis dalam setahun terakhir, yaitu 32 persen satu kali dan 13 persen lebih dari satu kali. Motor terguling diingat oleh 19 persen pengendara, terlempar dari kendaraan oleh 18 persen, dan bertabrakan dengan kendaraan lain di gurun oleh 8 persen. Empat orang harus dirawat di unit perawatan intensif, dan lima orang menjalani fisioterapi serta rehabilitasi.
Waktu kejadiannya juga berpola. Cedera terakhir paling sering terjadi pada sore atau petang, yakni 47 persen, sedangkan seperempatnya terjadi pada malam hari. Padahal berkendara malam bukan kebiasaan pinggiran, sebab kira-kira sepertiga pengendara mengaku selalu melakukannya dan sepertiga lagi kadang-kadang. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi seberapa sering mereka jatuh, melainkan kebiasaan mana yang paling erat menempel pada cedera.
Aspal yang membuat motor gurun rawan terguling
Jawabannya adalah jalan beraspal. Hampir semua pengendara, 99 persen, pernah membawa ATV ke jalan aspal, dan sepertiganya melakukannya secara rutin. Mereka yang biasa melintas di aspal menanggung odds cedera kira-kira empat kali lipat dibanding yang tidak. Untuk cedera yang berujung perawatan di rumah sakit, angkanya naik menjadi sekitar enam kali lipat dibanding pengendara yang hanya bermain di gurun. Dari semua kebiasaan yang diuji, inilah yang paling kuat.
Para peneliti menerangkan cara kerjanya lewat rancangan kendaraan itu sendiri. Menurut mereka, desain ATV ideal untuk medan kasar, tetapi rancangan yang sama menaikkan risiko terjungkal atau terguling di permukaan beraspal. Yang membuatnya rumit, di jalan raya pengendara harus mengimbangi arus lalu lintas, sehingga mereka kerap memacu motor melampaui batas rancangannya. Pada tikungan tajam, kendali pun lepas dan motor terguling.
Persoalannya, banyak pengendara tahu bahwa jalan umum terlarang bagi ATV dan tetap melanggarnya. Wawancara menunjukkan sebabnya lebih bersifat logistik ketimbang kenekatan: pengendara muda memakai jalan raya untuk mencapai area gurun ketika tidak ada kendaraan derek atau orang dewasa yang mengantar. Agen penyewaan yang menyediakan jasa derek, menurut catatan para peneliti, justru membantu mencegah hal itu. Empat pengendara dalam survei melaporkan pernah bertabrakan di jalan.
Helm yang datang sesudah celaka
Temuan soal helm adalah bagian yang paling melawan akal sehat. Dalam hitungan para peneliti, kebiasaan tidak berhelm berkaitan dengan odds perawatan rumah sakit yang 73 persen lebih rendah. Dibaca mentah-mentah, angka itu seolah menyatakan bahwa helm mengundang celaka. Namun, survei tersebut mencatat helm pada hari pengamatan, sementara cedera yang ditanyakan sudah terjadi sebelumnya, sehingga urutan sebab dan akibatnya bisa saja terbalik.
Wawancara memberi penjelasan yang masuk akal. Di sebagian emirat, polisi mendatangi keluarga pengendara yang pernah dibawa ke fasilitas kesehatan untuk memberi konseling dan peringatan risiko. Sesudah itu orang tua dan kerabat yang lebih tua mengawasi lebih ketat, dan helm mulai dipakai. Helm, menurut cerita itu, datang sesudah celaka dan bukan sebelum celaka. “Pemakaian helm yang lebih tinggi di antara pengendara yang cedera mungkin mencerminkan perilaku pascacedera, bukan efek perlindungan yang mendahului cedera,” tulis Preetha Menon dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Satu kaitan lain lebih sulit diterangkan. Perokok, yang mencakup 23 persen pengendara, menanggung odds cedera sekitar tiga kali lipat dibanding yang tidak merokok. Para peneliti menduga kebiasaan merokok pada anak muda berkaitan dengan longgarnya pengawasan orang tua, dugaan yang mereka sandarkan pada riset lain. Hanya saja, mereka mengakui tidak mencatat ada tidaknya pengawasan orang dewasa pada pengendara yang disurvei, sehingga dugaan itu belum dapat diuji.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Keluarga mengajar perlahan, teman memacu
Kejanggalan kedua, soal usia, bekerja dengan cara yang mirip. Pengendara yang mulai sebelum usia sepuluh tahun punya odds dirawat di rumah sakit yang jauh lebih rendah. Bandingannya adalah mereka yang baru mulai sesudah usia itu, dan selisihnya sekitar 70 persen. Para peneliti sendiri mencatat bahwa hasil ini berlawanan dengan beberapa riset terdahulu di Amerika Utara, yang justru menemukan anak yang mulai lebih dini lebih sering berkendara secara berisiko.
Penjelasannya terletak pada siapa yang berdiri di samping anak itu. Orang tua, paman, dan sepupu yang lebih tua memilih motor, menentukan ukuran mesin, dan memutuskan kapan seorang anak boleh berkendara sendiri. Seorang ayah memilih area piknik yang relatif datar untuk anak-anaknya yang masih kecil. Kerabat lain membangun area berdinding di dalam kebunnya supaya anak-anak hanya berkendara di situ, dan sejumlah paman melarang keponakannya keluar pada malam hari.
Jalur lewat teman sebaya berjalan sebaliknya. Laki-laki muda kerap berkendara berkelompok pada malam hari untuk menghindari panas sekaligus pengawasan orang tua, mencoba kecepatan dan aksi, serta membonceng teman demi gengsi. Sebagian merekam aksinya untuk menambah penonton di YouTube dan TikTok. Seorang partisipan yang dicatat para peneliti sebagai operator tur, laki-laki warga Emirat, mengatakannya begini dalam bahasa Inggris: “Sebagian orang suka aksinya; mereka tidak peduli pada keselamatan.”
Di titik ini para peneliti memasang rem pada tafsir mereka sendiri. “Memulai berkendara sejak dini di dalam keluarga tampak melindungi, meskipun bias penyintas tidak dapat disingkirkan,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Maksudnya, pengendara yang mulai sangat muda lalu cedera parah mungkin sudah berhenti berkendara, sehingga tidak lagi berada di gurun ketika para peneliti datang membawa daftar pertanyaan.
Gurun yang tak jelas siapa pemiliknya
Pengawasan dari luar keluarga ternyata berlubang. Polisi berpatroli di pintu masuk dan pintu keluar jalur gurun, mengirim pesan keselamatan lewat SMS dan WhatsApp pada awal musim, dan sering menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi kecelakaan. Akan tetapi, mereka tidak hadir di gurun bagian dalam, dan aparat sendiri menyebut wilayah di luar jalan umum berada di luar kewenangannya. Seorang responden sampai menyebut gurun sebagai tempat tanpa hukum.
Aturannya pun tidak seragam. Sebagian emirat mewajibkan helm dan melarang ATV di jalan umum, sebagian lain tidak. Para pembuat kebijakan yang diwawancarai mengakui belum ada standar dan spesifikasi kendaraan untuk pemakaian di gurun, sedangkan pendaftaran kendaraan hanya dilakukan sekali dan bersifat sukarela, sehingga banyak pemilik melewatkannya. Seorang pembuat kebijakan merangkum celah itu dengan pertanyaan tentang siapa sebenarnya pemilik gurun.
Di tengah celah tersebut, ada dua tempat yang bekerja seperti keluarga pengganti. Klub off-road, yang lebih banyak diikuti ekspatriat yang baru mengenal gurun, mengajarkan keterampilan sekaligus aturan keselamatan dan tidak menoleransi cara berkendara yang berisiko. Anggota baru dilatih di medan yang lebih mudah sebelum dibawa ke bukit pasir besar. Taman kendaraan off-road yang berdinding memisahkan motor bermesin kecil dari yang besar, dan karena itu disukai orang tua yang anaknya masih sangat muda.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Batas penjelasan dan angka yang perlu dicek
Penjelasan ini punya batas yang diakui para penulisnya. Jumlah pengendara yang berhasil disurvei lebih kecil daripada rencana, sehingga ketepatan angka-angkanya berkurang. Pengambilan data tidak dilakukan pada malam hari, cedera hanya bersumber dari ingatan pengendara tanpa dicocokkan dengan catatan rumah sakit, dan kasus perawatan rumah sakit hanya 18 persen dari seluruh pengendara. Karena itu, mereka meminta hasil hitungannya dibaca sebagai penjajakan, bukan sebagai kepastian.
Beberapa hal di dalam naskah juga bisa diperiksa pembaca. Uraian menyebut 5 persen pengendara diajari teman, sedangkan tabelnya mencatat 12 orang atau 9 persen. Tabel faktor rawat inap berlabel tidak memakai helm, sementara ringkasan dan pembahasan berbicara tentang pemakaian helm. Rincian hasil cedera berjumlah 138 orang, padahal pengendaranya 134. Naskah juga menulis kasus berkurang selepas pukul 12 siang, sedangkan petugas ambulans yang dikutip berbicara tentang tengah malam.
Dari seluruh temuan itu, para peneliti menarik usulan yang mengikuti mekanismenya. Mereka mengutamakan jalur masuk gurun yang lebih aman dan jasa derek yang mudah dijangkau supaya ATV tidak perlu lewat aspal. Usulan berikutnya adalah pelatihan keselamatan wajib bagi pengendara baru, pendampingan oleh klub off-road, penegakan aturan yang lebih kuat di jalan beraspal, serta kampanye media sosial yang menyasar anak muda dan keluarganya.
Maka dua anggapan di awal tadi tidak benar-benar runtuh. Helm tetap dipasang untuk melindungi kepala, hanya saja di gurun Emirat banyak pengendara baru mengenakannya setelah polisi dan keluarga turun tangan. Usia dini pun bukan jimat, sebab yang tampak melindungi adalah paman yang melarang keluar malam dan dinding kebun yang membatasi lintasan. Selebihnya, risiko terbesar motor gurun itu menunggu di tempat yang paling tidak mirip gurun, yaitu aspal.















