Ratusan Warga Ceuta Protes Penanganan Krisis Migran

A A

Seorang migran yang menyeberang dari Maroko tertidur di pantai kota otonom Ceuta, Spanyol, Minggu (2/8/2026). [Foto: Bernat Armangue/AP]

Cekricek.id — Ratusan warga Ceuta memadati Plaza de la Constitución pada Minggu (9/8/2026) sore. Mereka menuntut penyelesaian krisis migran di kota otonom Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko itu.

Mengutip Euronews, Minggu (9/8/2026), aksi tersebut digagas empat komunitas keagamaan kota — Kristen, Muslim, Yahudi, dan Hindu — yang ingin menyampaikan pesan bersama tentang persatuan dan hidup berdampingan.

Slogan yang diusung berbunyi “Cukup sudah, Ceuta tidak akan menyerah”. Dari kerumunan terdengar seruan “Ceuta tidak dijual. Ceuta adalah Spanyol” serta “Sánchez, mundur”, yang ditujukan kepada pemerintah di Madrid. Sebagian peserta menuduh pemerintah pusat melakukan pembiaran.

Sejumlah peserta melanjutkan aksi dengan berjalan menuju kantor Delegasi Pemerintah di kota itu. Ketegangan sempat muncul di Plaza de los Reyes ketika aktivis politik sayap kanan jauh Vito Quiles datang, dan sebagian massa menuduhnya hendak memecah belah warga Ceuta.

Baca juga: Kapal Imigran Asal Afrika Tenggelam di Antara Tunisia dan Lampedusa Italia, 37 Orang Hilang

1.342 Anak Migran Tanpa Pendamping

Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, menemui Menteri Pemuda dan Anak Sira Rego pada Sabtu. Rego datang ke kota otonom tersebut untuk menyoroti nasib anak-anak migran yang tiba tanpa pendamping.

Pemerintah sudah mengidentifikasi 1.342 anak, sementara sebagian lain belum terdata.

Seusai pertemuan, Vivas menegaskan sikap pemerintahannya bahwa anak-anak itu harus dipulangkan ke Maroko.

“Satu-satunya jalan keluar adalah Maroko lewat pos lintas batas Tarajal,” kata Vivas. Ia menyebut keadaan kotanya benar-benar tidak dapat dipertahankan dan meminta pemerintah pusat menambah sumber daya serta personel keamanan.

Kementerian Pemuda dan Anak menekankan hal yang berbeda, yakni perlindungan anak, dan berpendapat setiap kasus harus diperiksa satu per satu.

“Banyak anak lelaki dan perempuan migran tanpa pendamping tidak memiliki keluarga, sehingga dalam kasus semacam itu komunitas otonom harus bertindak sebagai wali dan menjamin hak-hak mereka,” kata Rego, yang tetap membela penyatuan kembali dengan keluarga sedapat mungkin.

Ia menambahkan pemerintah akan mengerahkan seluruh sumber daya yang diperlukan untuk proses penampungan, serta menjamin dukungan finansial, teknis, dan tenaga bagi Ceuta. Satu tim teknis kementerian sudah dikirim ke kota tersebut.

Titik Gesekan Berikutnya 13 Agustus

Komisi Sektoral Anak dan Remaja dijadwalkan bersidang pada 13 Agustus untuk membahas pemindahan anak-anak dari Ceuta ke wilayah lain.

Partai Vox mengumumkan para wakil presiden daerahnya yang membidangi urusan itu di Castilla y León, Extremadura, dan Aragón tidak akan hadir. Partai tersebut menolak skema pembagian dengan slogan “anak-anak bersama keluarganya”.

Vivas sendiri mengajak warga ikut serta dalam aksi Minggu dan menekankan kegiatan itu harus berada di atas perbedaan partai politik.

“Ini bukan aksi milik siapa pun. Ini bukan aksi partai politik mana pun. Ini bukan aksi untuk menguntungkan pihak tertentu,” ujarnya pada Sabtu. “Ini adalah seruan untuk menegaskan bahwa Ceuta tidak akan menyerah, bahwa Ceuta akan terus melangkah.”

Krisis ini turut memicu ketegangan politik menyangkut keputusan Spanyol memberlakukan sementara pemeriksaan di pelabuhan dan bandara bagi penumpang yang datang dari Italia. Langkah itu diambil setelah Roma menolak mencabut kontrol yang lebih dulu diterapkan terhadap penumpang dari Spanyol menyusul peristiwa di Ceuta pekan lalu.

Baca juga: Spanyol Balas Italia dengan Kontrol Perbatasan, Schengen Retak

Jalur penyeberangan menuju Eropa sendiri berulang kali memakan korban, seperti pada kapal yang tenggelam di dekat Cape Verde dan menewaskan lebih dari 60 orang.

Bagikan

Baca Juga

Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas