<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Arsip - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/arsip/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:31:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Arsip - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706</title>
		<link>https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/</link>
					<comments>https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi Putra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip]]></category>
		<category><![CDATA[Maluku Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[VOC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272831</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/" title="Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Tembok batu Benteng Oranje di Ternate dengan halaman rumput di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706 1"></a><p>Memorandum Gubernur Ternate Pieter Rooselaar tertanggal 11 Juni 1706 mendata puluhan negeri di Maluku Utara, dari 2.000 jiwa sampai tujuh orang.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/" title="Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Tembok batu Benteng Oranje di Ternate dengan halaman rumput di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-benteng-oranje-ternate-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Tujuh orang. Itu jumlah penduduk yang dicatat untuk sebuah negeri bernama Senga di Pulau Taliabu. Di deret yang sama, negeri bernama Mada dicatat enam orang, dan negeri bernama Fagoedoe dicatat 2.000 orang. Ketiganya ditulis dengan format yang persis sama: nama tempat, lalu perkiraan jumlah jiwa.</p>
<p>Deret itu ditulis pada 1706 oleh Pieter Rooselaar, Gubernur Ternate yang sedang mengakhiri masa tugasnya. Ia tidak menulisnya sendiri. Pada 11 Juni tahun itu ia mendiktekannya, dan Sekretaris Gouvernement Ternate, J. Hermans, yang mencatat. Penerimanya satu orang saja: Jacob Claesz, penggantinya di kursi gubernur.</p>
<p>Memorandum itu dibedah Pheres Sunu Widjayengrono dan Rusli M. Said, keduanya dari Universitas Khairun, dalam artikel <em>Gambaran Singkat Wilayah Maluku Utara pada Awal Abad ke-17 Berdasarkan Catatan P. Rooselar</em>. Artikel itu terbit di <em>Jurnal Pusaka</em> Vol. 5 No. 1 tahun 2025, di halaman 90 sampai 103.</p>
<p>Ada satu selisih yang perlu disebut lebih dulu. Judul artikel itu menyebut awal abad ke-17. Catatan yang dibedah bertarikh 1706, yang berarti awal abad ke-18, dan abstrak artikel itu sendiri menulis abad ke-18. Selisih seratus tahun itu tidak dijelaskan di dalam teks.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Empat Puluh Sembilan Wilayah di Luar Maluku Utara</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w.webp" alt="Deretan bangunan kolonial berdinding kuning di dalam kompleks Benteng Oranje, Ternate" class="wp-image-273273" title="Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-bangunan-benteng-oranje-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bangunan kolonial di dalam kompleks Benteng Oranje, Ternate. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Rooselaar tidak berhenti di Maluku Utara. Ia mendaftar 4 wilayah di Filipina Selatan, 35 wilayah di Sulawesi, dan 10 wilayah di Papua. Kalau ketiganya dijumlahkan, ada 49 nama di luar Maluku Utara. Penjumlahan itu tidak tertulis di artikel; ia hasil hitung ulang atas daftar yang dimuat di sana.</p>
<p>Empat nama Filipina Selatan adalah Mangindanauw, Saranganiy, Kepulauan Talauwd, dan Kerajaan Sullok. Di Mangindanauw, penguasa yang dicatat bertahta adalah Kaisar Djalalul bin Riamial Anwar, dan kediamannya disebut berada 2 mil ke arah hulu sungai. Kediaman pendahulunya, di Sungai Simaay, sudah kosong tanpa permukiman.</p>
<p>Sepuluh nama Papua hampir seluruhnya berada di kawasan yang kini disebut Raja Ampat, ditambah Nieuw Guinea. Pada 1706 kata Papua memang hanya menunjuk gugusan itu. Sisanya, 35 nama, membentang dari Kepulauan Sangir sampai Banggai, melewati Manado, Gorontalo, Palu, dan Teluk Tomini.</p>
<p>Dua kawasan justru absen. Ambon dan Sunda Kecil tidak masuk daftar sama sekali. Widjayengrono dan Said menduga Ambon sudah menjadi wilayah mapan VOC dengan sistem administrasi tersendiri, sementara Sunda Kecil baru jatuh ke tangan Belanda antara akhir abad ke-19 dan 1916 &#8212; dua abad sesudah Rooselaar mendiktekan catatannya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">3.993 Jiwa dari Sembilan Belas Baris</h2>
<p>Kepulauan Sula dicatat paling rinci, dengan 19 baris angka penduduk. Delapan baris untuk Taliabu, tiga baris untuk Mangoli, dan delapan baris untuk Sula Besi.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/migrasi-orang-tobelo-abad-19/">Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi</a></p>
<p>Taliabu memuat angka-angka terkecil. Samada 200 orang, Waiyo 200, Liootobiy 90, Taliabo 30, Liudo 20, Cabiawa 10, Senga 7, dan Mada 6. Totalnya 563 orang, seluruhnya di bawah seorang Sangaji bernama Calahay.</p>
<p>Mangoli lebih ringkas: negeri Mangoli 110 jiwa, Waytimo 70 jiwa, dan Sappaloeloe 25 jiwa. Dua negeri terakhir disebut didirikan oleh Sangaji dan berada langsung di bawah otoritas Ternate.</p>
<p>Angka terbesar berkumpul di Sula Besi. Fagoedoe 2.000 orang, Beega 400, lalu Falau dan Cabauw masing-masing 300. Ipa 120, Calabay 40, Falla Matta 40, serta Fokweu dan Faguame 25. Totalnya 3.225 orang, hampir empat kali lipat seluruh Taliabu dan Mangoli digabung.</p>
<p>Tiga total itu, bila dijumlahkan, menghasilkan 3.993 jiwa untuk seluruh Kepulauan Sula. Angka itu hasil hitung ulang, bukan angka yang tertulis di artikel. Rooselaar sendiri tidak pernah menuliskan totalnya; yang ia kerjakan hanya mendaftar.</p>
<p>Yang janggal bukan angka 2.000, melainkan angka 7 dan 6. Negeri sekecil itu tetap dicatat dengan format yang sama seperti negeri berpenduduk dua ribu jiwa. Alasannya terbaca pada kalimat Rooselaar sendiri, yang menyebut &#8220;pulau-pulau yang menjadi asal mula rempah-rempah ini harus kita jaga dan kelola dengan baik dan seksama&#8221;. Tujuh orang di Senga tetap masuk inventaris karena pulaunya yang dihitung, bukan orangnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Dua Puluh Orang di Benteng Zeeburg</h2>
<p>Angka personel jauh lebih kecil daripada angka penduduk. Di benteng tua Portugis bernama Zeeburg, di sisi utara Pulau Makian, VOC menempatkan 20 orang: seorang sersan sebagai komandan, seorang ahli bedah, 2 kopral, 14 pasukan garis depan, seorang penebang pohon, dan seorang guru pribumi.</p>
<p>Guru itu bertugas mengajarkan agama Kristen kepada penduduk animis dan orang Alfur. Satu orang, untuk sebuah pulau yang di catatan yang sama memuat 19 negeri di bawah Sangaji dan Kimelaha.</p>
<p>Di Sula Besi kekuatan itu lebih tipis lagi: seorang kopral dan 4 serdadu di sebuah benteng kecil bernama Cloverblad, di pesisir timur pulau. Pejabat tertinggi di sana justru bukan orang VOC, melainkan Kamuaya dari Ternate, Salahakan yang berdiam di negeri Ipa. Dari pulau itu VOC mengambil kayu, balok, dan hasil hutan lain, dan sebagian besar wilayahnya disebut tidak berpenghuni. Di Toseho, Halmahera, ada seorang kopral dan 6 serdadu. Di Taliabu, sejak sekitar 1705, hanya seorang kopral dan seorang serdadu &#8212; dan Rooselaar menambahkan bahwa keduanya kemungkinan sudah pindah.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/ekonomi-cengkeh-tidore/">Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani</a></p>
<p>Bacan dicatat sedikit lebih ramai. Kepulauannya terdiri dari Labouha atau Batchian Besar, Tawali Besar, Dito Kecil, dan Latta Latta; hanya Batchian Besar yang berpenghuni. Di selatan pulau, di antara 25 negeri, berdiri benteng VOC yang kurang terurus dan dipakai penduduk sekitarnya sebagai kediaman dan gudang. Personelnya seorang letnan sebagai komandan, 4 sersan, dan seorang penebang kayu. Di sekelilingnya tinggal 35 sampai 40 orang desa Kristen, dengan seorang sersan sebagai pemimpin bila mereka harus bertahan.</p>
<p>Dua deret angka itu berdiri berhadapan. Di Sula, 3.993 jiwa diawasi oleh 7 personel militer di dua titik, dan dua di antaranya mungkin sudah tidak ada di tempat. Di Obi hitungannya lebih ganjil lagi: seorang kopral ditempatkan bersama serdadunya dan 4 pekerja yang sedang mencari tempat bermukim yang lebih baik, dan setelah 3 bulan kopral itu naik pangkat menjadi sersan di Rosewan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">1.200 Orang di Pattani, 400 di Gebe</h2>
<p>Di Halmahera penduduk dicatat per distrik. Weda didahulukan, dengan teluk besar yang pelabuhannya disebut aman dan menyenangkan disinggahi sepanjang tahun. Di bawahnya tercatat 4 wilayah kekuasaan Tidore: Wayle, Kia, Sumala, dan Messa. Messa, yang penduduknya disebut Sawai, diperkirakan 800 sampai 1.000 jiwa. Pattani 1.200 orang. Gebe 400 sampai 500 orang, tersebar di 3 desa bernama Senopo, Gojepo, dan Omero.</p>
<p>Distrik Maba lebih padat: 2.000 sampai 2.400 penduduk di wilayah kekuasaan Raja Tidore, tersebar di negeri Maba, Bitjoly, Wayamly, Qotte Waisy, dan Boely. Nama Maba muncul 2 kali, sekali di bawah Sangaji dan sekali di bawah Kimelaha. Penduduknya dibagi ke dalam dua kategori saja, Islam dan animis. Di Weda ada pula sebuah desa yang disebut berbahaya, dihuni orang bernama Cabauw Moedasaffy, 7 mil di bagian paling timur.</p>
<p>Jarak pun diangkakan. Pattani berjarak 24 mil dari Weda dan 20 mil dari Sibobo, pantainya berbatu dan tidak punya tempat berlabuh. Dari Mo-ar, 4 mil ke arah tenggara sudah sampai Pulau Gebe. Laut di utara Mo-ar dicatat sedalam 30 depa. Jalan setapak di Gebe disebut buruk dan berkelok sejauh 15 mil.</p>
<p>Tiga wilayah dicatat tanpa satu angka penduduk pun. Kau disebut bagian Halmahera yang paling padat, tetapi jumlahnya tidak ditulis. Morotai sebagian besar tidak berpenghuni, hanya didatangi orang Ternate dan Tidore untuk menangkap ikan dan memukul sagu. Kayoa juga sebagian besar kosong, dipakai orang Makian di sebelah utaranya untuk mengambil sagu dan membuat kebun.</p>
<p>Nama penguasa dicatat sesingkat angka. Raja Bacan disebut Kaicil Musa Malakidin, satu dari 3 raja yang dianggap terpenting di kawasan itu. Di Tidore ada Kaicil Ceram Hamza Faharroedin di Soa Sio, dengan sebuah benteng kecil yang masih berfungsi di dekat kediamannya. Raja Ternate yang sedang bertahta disebut Raja Tolloco, tanpa keterangan lain.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Delapan Mil dan 0 Derajat 51 Menit</h2>
<p>Posisi astronomis ikut dicatat. Ternate ditulis pada 0 derajat 51 menit lintang utara, dengan diameter 7 sampai 8 mil. Halmahera dicatat pada 0 derajat 22 menit di selatan khatulistiwa. Makian terletak sekitar 8 mil di selatan Ternate, dan Tidore sekitar 1,5 mil di utara Makian.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/pela-gandong-narasi-perdamaian-maluku/">Pela Gandong dan Damai yang Belum Selesai di Maluku</a></p>
<p>Batas kekuasaan dua kerajaan pun punya ukuran. Ternate dan Tidore dipisahkan di Halmahera oleh garis sepanjang 4 mil, pada titik daratan tersempit bernama Dodinga. Ada 2 tanggal yang dipakai sebagai patokan hak: Sula disebut berada di bawah Ternate sejak 9 Mei 1682, dan pemisahan wilayah dua raja di pesisir barat Halmahera dilakukan sekitar 1702, empat tahun sebelum catatan ini didiktekan.</p>
<p>Ternate berdiri di pusat semua ukuran itu. Kastil Orange berada di pesisir, menjadi kediaman gubernur dan pejabat utama VOC, dikelilingi pegawai perusahaan, kaum Mardijker, dan orang Cina. Di sisi utaranya ada kampung Makassar, lalu negeri-negeri Raja Ternate. Setengah jam berjalan ke utara dari kastil itu berdiri sebuah benteng di atas bukit, yang dalam arsip disebut Terlucco atau Toloko. Di selatan pulau tersisa reruntuhan kota Gammalamma, tempat orang Spanyol dulu berbenteng dan beribu kota.</p>
<p>Dua pulau kecil di dekatnya dicatat berbeda nasib. Maytara dihuni orang Tidore yang membuat kebun di sana. Hiri disebut tidak berpenghuni sama sekali, dan hanya diterangkan sebagai milik Raja Ternate. Tidore sendiri dicatat subur, kebunnya banyak, dan hasilnya dibawa ke Ternate untuk dijual &#8212; diolah penduduknya sendiri, tulis Rooselaar, tanpa bantuan buruh.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Satu Sumber, Nol Pembanding</h2>
<p>Di sinilah deretan angka berhenti bisa dipercaya begitu saja. Widjayengrono dan Said menyatakan artikel mereka hanya memaparkan data deskripsi wilayah, dan belum melakukan komparasi dengan dokumen sejaman, sebelumnya, maupun sesudahnya. Catatan kritis dan analisis geografis dijanjikan pada artikel lanjutan.</p>
<p>Artinya angka 2.000 di Fagoedoe belum diuji terhadap sumber lain. Begitu pula angka 7 di Senga. Semuanya perkiraan seorang pejabat yang sedang menyerahkan jabatan kepada penggantinya, bukan hasil pencacahan, dan tidak ada keterangan bagaimana ia sampai pada angka-angka itu.</p>
<p>Ejaannya pun bergeser. Widjayengrono dan Said mengingatkan bahwa pelafalan pada catatan 1706 berbeda dengan pelafalan sekarang, karena bahasa Belanda sendiri berubah. Sebagian nama masih bisa dipadankan: Macquian untuk Makian, Batchian untuk Bacan, Cauw untuk Kau. Sebagian lain, seperti pulau-pulau kecil di selatan Sangir yang oleh Rooselaar disebut tak teridentifikasi dan tak bernama, tidak pernah sampai ke peta mana pun.</p>
<p>Tujuh orang di Senga. Angka itu masih berdiri sendiri.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/catatan-rooselar-maluku-utara-1706/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
