<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Budaya Bugis - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/budaya-bugis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 11:03:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Budaya Bugis - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu</title>
		<link>https://cekricek.id/nisan-arca-bugis/</link>
					<comments>https://cekricek.id/nisan-arca-bugis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Witrie Monica]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Bugis]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nisan Arca]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272079</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/nisan-arca-bugis/" title="Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Ilustrasi nisan batu andesit berbentuk arca manusia bertopi datar dengan kalung manik dan kedua tangan bersedekap, berdiri di antara nisan lempeng tua berlumut di lereng perbukitan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu 1"></a><p>Kajian arkeologi BRIN membandingkan nisan arca pada tiga belas situs makam Islam di wilayah Bugis dengan arca menhir dari tradisi pra-Islam.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/nisan-arca-bugis/" title="Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Ilustrasi nisan batu andesit berbentuk arca manusia bertopi datar dengan kalung manik dan kedua tangan bersedekap, berdiri di antara nisan lempeng tua berlumut di lereng perbukitan" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/nisan-arca-makam-bugis-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, patung batu setinggi satu sampai tiga meter berdiri tanpa menandai makam siapa pun; di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, patung batu setinggi sekitar 40 sentimeter menandai makam seorang raja yang sudah memeluk Islam. Dua benda itu dipisahkan zaman, jarak, dan keyakinan pemakainya. Keduanya sama-sama dipahat dari bongkahan batu dan sama-sama berwujud manusia. Perbandingan semacam itulah yang disusun Nurul Adliyah Purnamasari bersama tiga rekannya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam <em>Penggunaan Nisan Arca: Wujud Pengaruh Budaya Pra-Islam pada Kompleks Makam Islam di Wilayah Etnis Bugis, Sulawesi Selatan</em>.</p>
<p>Artikel itu terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 1 pada 2024. Purnamasari dan Hasrianti tercatat di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, sedangkan Sritimuryati dan Tini Suryaningsi di Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas pada lembaga yang sama. Metodenya desk study. Seluruh data ditarik dari pustaka &#8212; laporan penelitian Balai Arkeologi, laporan penyelamatan, studi teknis dan zonasi Balai Pelestarian Cagar Budaya, artikel ilmiah, buku, skripsi, tesis, hingga disertasi. Tidak ada penggalian baru di dalamnya.</p>
<p>Dari penelusuran pustaka itu, tim mencatat nisan arca pada tiga belas situs kompleks pemakaman Islam yang tersebar di enam kabupaten: Barru, Bone, Pinrang, Sidrap, Enrekang, dan Luwu Timur. Angka itu bertumpu pada temuan sebelumnya, ketika Balai Arkeologi Sulawesi Selatan pada 2020 mendata nisan arca di 26 situs pemakaman Islam se-Sulawesi Selatan, di wilayah Etnis Bugis maupun Etnis Makassar. Yang membedakan penelitian 2024 ini, fokusnya diarahkan hanya ke sisi Bugis, sementara kajian-kajian terdahulu lebih banyak menyorot sisi Makassar.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Satu Bahan Batu, Dua Zaman</h2>
<p>Sisi pertama perbandingan adalah bahannya. Nisan arca di Kompleks Makam Raja-Raja Nepo dan Kompleks Makam Allakkang di Barru dipahat dari batuan andesit. Begitu pula nisan di Situs Watang Sawitto, Pinrang, yang disebut berbahan batuan beku andesit berwarna abu-abu, dan nisan di Makam Raja Sulewatang Sando Batu X, Sidrap. Di sisi lain, arca menhir dari tradisi pra-Islam yang dijadikan pembanding juga memakai andesit. Kesamaan bahan baku inilah salah satu pijakan tim untuk menghubungkan dua kelompok benda yang terpaut zaman itu.</p>
<p>Namun bahan tidak seragam di kedua sisi. Nisan arca di Situs Pemukiman Kuno Cenrana, Bone, terbuat dari batuan sedimen dengan permukaan yang mulai aus dan terkelupas. Nisan di Kompleks Makam Raja-Raja Alla, Enrekang, dipahat dari batuan karst. Pada kasus arca menhir, sebaran situsnya membentang jauh dari wilayah Bugis: Batu Barani, Kontara, Timo&#8217; Oni 1 dan Timo&#8217; Oni 2 di Kecamatan Rampi, Luwu Utara; Situs Borong Kapala di Bantaeng dengan sepuluh arca menhir; serta Situs Rante Kalua di Tana Toraja dengan lima patung, tiga perempuan dan dua laki-laki.</p>
<p>Latar keagamaannya juga berlapis. Masyarakat Sulawesi Selatan mulai menganut Islam sejak abad ke-17, ketika tiga ulama asal Minangkabau &#8212; Datuk Patimang, Datuk ri Bandang, dan Datuk ri Tiro &#8212; mengislamkan tiga kerajaan besar di wilayah itu. Sebelumnya, masyarakat Bugis mengenal kepercayaan kepada Dewata Seuwae yang jejaknya terekam dalam sure I La Galigo. Purnamasari dan rekan-rekannya menulis, &#8220;Walaupun demikian, masuknya Islam di wilayah Etnis Bugis tidak secara langsung mengubah tradisi, adat istiadat, tata nilai, dan tingkah laku masyarakat yang bersumber dari sistem kepercayaan lokal.&#8221;</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/nisan-kuna-berhias-lombok-tipologi-sasak/">Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Satu Wujud Manusia, Dua Maksud</h2>
<p>Sisi kedua perbandingan adalah fungsinya, dan di sinilah kedua benda berpisah. Dalam tradisi pra-Islam, arca menhir berdiri sebagai media upacara pemujaan kepada roh leluhur. Di Situs Rante Kalua, arca menhir berfungsi sebagai tanda bahwa upacara pemakaman telah dilaksanakan. Di kompleks pemakaman Islam wilayah Bugis, benda serupa berpindah tugas menjadi penanda makam. Perbedaan itu dirumuskan tim peneliti BRIN dalam satu kalimat, &#8220;Arca menhir adalah personifikasi roh nenek moyang, sedangkan nisan arca menggambarkan sosok tokoh yang dimakamkan.&#8221;</p>
<p>Pergeseran itu, menurut tim, berjalan tanpa pemutusan. Menurut mereka, tokoh penyiar Islam tidak merombak pranata yang sudah ada, melainkan mencarikan gantinya dan mengakulturasikannya secara bertahap. Masyarakat Bugis berhenti mendirikan media upacara, tetapi tidak berhenti memahat patung; aktivitas penyembahan kepada roh leluhur berganti menjadi tradisi ziarah dan mengirimkan doa. Konsep pemakaman dalam Islam sendiri, tulis mereka, diatur sangat sederhana &#8212; syariat melarang pendirian bangunan apa pun di atas makam, dan penanda cukup berupa batu pasif di bagian kepala tanpa hiasan.</p>
<p>Pada kasus bentuk, tim menyebut perbedaan yang cukup signifikan. Arca menhir dibentuk sangat sederhana dan cenderung mengikuti morfologi batuan aslinya; di Situs Borong Kapala, misalnya, pengarcaannya digambarkan kasar, tidak proporsional, dan tidak naturalistik, dengan mata, hidung, dan bibir yang hanya dibentuk goresan datar. Nisan arca digambarkan lebih kompleks, sebagian bahkan mendekati antropometri manusia pada umumnya. Tim tidak menempatkan salah satunya sebagai capaian yang lebih tinggi; perbedaan itu mereka kaitkan dengan perbedaan periode pembuatan dan dengan sosok yang hendak ditampilkan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/nurcholish-madjid-tafsir-inklusif-islam-pluralitas/">Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid</a></p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Terhitung: Tiga Belas Situs, Enam Kabupaten</h2>
<p>Di Barru, dua nisan arca berdiri di dua kompleks yang hanya berjarak sekitar satu kilometer. Nisan di Kompleks Makam Raja-Raja Nepo bermorfologi silindrik, berkepala bulat dengan mata menyerupai daun, telinga panjang, dan topi; badannya memakai kalung berbentuk tasbih, kedua tangan menyilang di atas perut sehingga menyerupai orang salat. Nisan di Kompleks Makam Allakkang berbentuk persegi panjang dan hanya utuh dari kepala hingga pinggul, tetapi mengulang atribut yang sama: topi, kalung tasbih, dan tangan menyilang di atas perut.</p>
<p>Di Bone, tiga situs memberi tiga gambaran berbeda. Nisan di Situs Pemukiman Kuno Cenrana hanya terdiri atas kepala dan setengah badan, dengan dua mata tertutup dan tonjolan menyerupai gelungan rambut di puncak kepala. Nisan di Kompleks Makam Jeramele&#8217;e, yang berada dalam satu kawasan dengan Cenrana dan dikelilingi 177 makam, digambarkan dalam posisi duduk dengan dua tonjolan bulat di dada. Nisan di Kompleks Makam Boccoe, dari kompleks berisi 26 makam berorientasi utara&#8211;selatan, berbentuk balok yang sisi utaranya menyerupai kepala manusia.</p>
<p>Di Pinrang, perbandingannya jatuh antara kelengkapan dan kesederhanaan. Nisan di Situs Watang Sawitto memiliki kepala, badan, dan kaki sekaligus, lengkap dengan hiasan segitiga di atas kepala, konde di bagian belakang, hiasan menyerupai ikat pinggang, serta kaki segitiga berlubang segi empat. Di sisi lain, nisan di Situs Makam Raja IX Puang Tallutombinna &#8212; makam seorang perempuan yang menjadi Raja ke-IX Kerajaan Letta &#8212; hanya menampakkan kepala dengan mata tertutup dan setengah badan dengan tangan di kedua sisinya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/pardis-teknisi-elektronik-dprd-pesisir-selatan/">Dari Bengkel Servis TV ke Kursi DPRD, Tiga Kali Terpilih di Pesisir Selatan</a></p>
<p>Di Enrekang, Kompleks Makam Laiya Alla memuat tiga nisan arca bulat dari andesit di antara kurang lebih 250 makam. Yang pertama milik Puang Mariang, dikenal juga sebagai Nenek Lintik, raja pertama Kerajaan Alla yang menganut Islam; nisannya berdiri di atas jirat berbentuk perahu, berkepala oval bertopi, dengan telinga berbentuk bulan sabit. Yang kedua nyaris serupa, hanya tanpa topi. Yang ketiga tinggal bagian kepala dengan dua mata tak beraturan dan garis datar sebagai bibir pada batu yang sudah aus.</p>
<p>Kompleks Makam Islam Matano di Luwu Timur menutup daftar dengan dua nisan yang paling jauh dari pola. Nisan Makole La Makandiu berupa patung manusia berukuran tidak terlalu besar, kedua tangannya memegang senjata, posisinya duduk di atas binatang. Di sisi lain, nisan yang diperkirakan milik permaisurinya berkepala menyerupai ikan hiu yang menghadap ke belakang, berbadan pipih dengan pola hias garis lengkung yang menghubungkan enam lubang, tanpa lengan, dan berkaki lingga yang terpasang pada yoni persegi empat.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Tak Terhitung: Nisan Hilang dan Tokoh Tanpa Nama</h2>
<p>Tidak semua yang masuk daftar masih berdiri. Di Kompleks Makam Baroko, Enrekang, yang menurut cerita masyarakat setempat menyimpan makam Nenek Rano, suami Nenek Lintik, nisan arca itu pernah dilaporkan pada 1994 sebagai patung manusia dari batu kapur yang menghadap ke utara. Setelah survei 2014, nisan tersebut dinyatakan hilang dan digantikan sebuah nisan pipih. Deskripsi lain yang dikutip tim justru menyebut nisan bulat panjang dari batuan andesit, sehingga wujud pastinya tidak tunggal dalam pustaka.</p>
<p>Pada kasus kedua, yang hilang bukan bendanya melainkan identitasnya. Untuk nisan arca di Situs Pemukiman Kuno Cenrana, tim mencatat bahwa dalam seluruh penelitian yang telah dilakukan belum diketahui siapa tokoh pemiliknya. Nisan pertama di Kompleks Makam Buntu Tangla hanya berupa kepala bulat tanpa satu pun panca indera, sedangkan nisan di Kompleks Makam Raja-Raja Alla berdiri miring karena tanah di bagian dalam melesak, dengan permukaan muka yang tidak memperlihatkan atribut apa pun.</p>
<p>Keterbatasan itu melekat pada rancangan penelitiannya sendiri. Sebagai desk study yang sepenuhnya bersandar pada data sekunder, kajian ini menyusun ulang laporan orang lain yang dibuat pada tahun, standar pencatatan, dan tingkat kelengkapan yang berbeda-beda &#8212; termasuk laporan yang wujud objeknya sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan terakhir di lapangan. Tim juga tidak menyajikan penanggalan absolut untuk satu pun nisan. Kata yang mereka pakai untuk hubungan antara arca menhir dan nisan arca pun konsisten: diduga.</p>
<p>Perbandingan ini karena itu berhenti di tempat yang jujur. Arca menhir berdiri tanpa nama dan mewakili roh leluhur secara umum; nisan arca berdiri dengan nama dan mewakili satu orang yang dimakamkan di bawahnya. Yang pertama adalah media pemujaan, yang kedua penanda makam. Purnamasari dan rekan-rekannya tidak menempatkan salah satunya sebagai bentuk yang lebih murni atau lebih maju, dan tidak menyatakan salah satunya menggantikan yang lain sepenuhnya. Keduanya dibaca sebagai dua cara memahat batu untuk urusan yang sama tuanya: mengingat orang yang sudah mati.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/witrie/">Witrie Monica</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/nisan-arca-bugis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
