<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Ekologi Sastra - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/ekologi-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:31:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Ekologi Sastra - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung</title>
		<link>https://cekricek.id/geguritan-enggung-ekologi-sastra/</link>
					<comments>https://cekricek.id/geguritan-enggung-ekologi-sastra/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Ekologi Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Geguritan Enggung]]></category>
		<category><![CDATA[Lontar]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Bali]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272833</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/geguritan-enggung-ekologi-sastra/" title="Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Tumpukan berkas naskah lontar Bali tersimpan di sebuah ruang koleksi" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung 1"></a><p>Kajian ekologi sastra atas lontar Geguritan Enggung dari Desa Sibetan menghitung 18 entitas ekologis, dari pematang sawah sampai laut.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putri/">Putri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/geguritan-enggung-ekologi-sastra/" title="Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Tumpukan berkas naskah lontar Bali tersimpan di sebuah ruang koleksi" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lontar-bali-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Suaranya terlalu keras untuk diabaikan: berisik, tidak beraturan, mengadu giliran, padat bergema. I Katak mendengarkan ke sana kemari, keluar masuk lubang tempatnya tinggal, tidak bisa menahan gelisahnya, lalu samar-samar keluar sendiri. Ia menemukan asal suara itu di pematang sawah yang renggang.</p>
<p>Pematang itu &#8212; <em>punduk</em> dalam bahasa Bali &#8212; disebut tepat satu kali di sepanjang naskah. Sekali saja, dari puluhan bait. Namun di pematang itulah dua tokoh berjumpa dan seluruh konflik cerita mulai bergerak.</p>
<p>Hitungan itu dibuat I Wayan Kasu Wardana, mahasiswa Magister Kajian Budaya Universitas Udayana, dalam artikel <em>Representasi Lingkungan Hidup dalam Geguritan &#276;nggung: Kajian Ekologi Sastra</em> yang terbit di jurnal ARNAWA volume 3 nomor 2 pada 2025, halaman 88 sampai 101. Naskah yang dibacanya ditulis di atas daun lontar dengan aksara Bali, milik I Wayan Jenek, ditemukan di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, lalu disalin oleh Ni Ketut Sutarmi. Penulisannya selesai pada tahun &#347;aka 1916, atau 1994 Masehi, dan lontar itu kini tersimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Provinsi Bali. Yang dicari Wardana di dalamnya bukan alur ceritanya, melainkan tempat: pematang, sungai, gunung, telaga, laut, dan hewan-hewan yang tinggal di sana.</p>
<p>Geguritan sendiri adalah bentuk puisi Bali yang disusun dalam pupuh dan terikat aturan padalingsa &#8212; jumlah baris tiap bait dan bunyi akhir tiap baris. Karena bersifat musikal, geguritan biasanya dilagukan saat dipentaskan. Ia kerap terdengar dalam upacara adat. Jadi teks ini bukan bacaan diam; ia dibuat untuk dinyanyikan di depan orang.</p>
<p>Ceritanya sendiri tidak manis. I &#276;nggung, tokoh berjenis belentung (<em>Kaloula baleata</em>), adalah pemilik suara keras itu. I Katak mengajaknya berbincang dan berjalan-jalan. I &#276;nggung menolak, dengan alasan lingkungannya sepi dan tidak menarik. Penolakan itu melukai. I Katak marah dan sedih, lalu berdoa agar keinginannya terkabul, sementara I &#276;nggung merayunya kembali dengan kata-kata manis. Hubungan mereka sempat berlanjut, lalu berakhir setelah I &#276;nggung memilih tokoh lain, I Dongkang. Didorong sakit hati, I Katak berguru ilmu hitam kepada I Be Jagul, dan I &#276;nggung menderita sakit fisik berat sampai berlarian keluar rumah.</p>
<p>Keduanya bertemu lagi setelah ritual selesai. I &#276;nggung memohon agar sakitnya dihentikan dan meminta obat kepada I Katak. Permintaan itu dibalas ucapan sindiran yang menegaskan dendam dan luka batin I Katak belum habis. Cerita berhenti di sana, tanpa perdamaian.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Punduk, Pematang Sawah</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w.webp" alt="Dua lembar naskah lontar bertulisan aksara Bali terbentang di atas kain" class="wp-image-273269" title="Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-lembar-lontar-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lembar naskah lontar. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Pematang adalah pembatas lahan sawah, dipakai sebagai jalan sekaligus penahan air agar tidak keluar masuk berlebihan. Wardana membaca pilihan latar itu sebagai tanda kedekatan pengarang dengan lingkungan agraris Bali. Elemen alam di sini tidak berfungsi sebagai hiasan latar, melainkan sebagai ruang yang mendorong tokoh keluar dari liangnya dan mempertemukan mereka. Kegelisahan yang membuat I Katak menyeberang ke pematang, tulis Wardana, mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan ruang ekologisnya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/babad-buleleng-maritim-bali-utara/">Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng</a></p>
<p>Ciri hewannya juga tidak dihapus meski tokohnya berlaku seperti manusia. Bait pertama menyebut suara yang berisik tidak beraturan, mengadu giliran, dan padat bergema, sementara I Katak digambarkan mendengarkan ke sana kemari lalu keluar masuk lubangnya. Pengarang mempertahankan ciri ekologis tokohnya, seperti bunyi bersahut-sahutan dan gerak di sekitar liang, sekalipun mereka sudah diberi sifat, cemburu, dan dendam.</p>
<p>Pematang muncul lagi di bagian lain naskah. Seorang tokoh berjalan tanpa arah, membuang diri, sudah jauh menyusup di pematang, lalu bertemu I Gadagan &#8212; kodok &#8212; yang bertanya dengan suara manis. Wardana mencatat gadagan sebagai hewan amfibi yang biasa hidup di sawah, dan pematang sebagai tempat hidup kodok, katak, serta sejenisnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tibu Palakan</h2>
<p>Dari sawah, jalur cerita turun ke air. Yang disebut di bait ketiga adalah tibu &#8212; bagian sungai yang dalam &#8212; sebagai tempat bertandang, tempat berjalan-jalan. Belakangan nama itu muncul lebih spesifik sebagai Tibu Palakan, tempat yang dalam teks disebut terkenal karena ada yang memiliki minyak duyung, ilmu pengasihan yang tidak pernah dicoba dua kali. Yang menyebut tempat itu adalah I Udang, menjawab pertanyaan tentang dari mana cerita ilmu pengasihan itu berasal. Dalam tabel Wardana, I Udang muncul tujuh kali, mengantar Katak dan mendampinginya dalam ritual. Tibu Palakan sendiri muncul empat kali. Sungai yang dalam itu adalah habitat ikan air tawar dan udang, dan sekaligus rute perjalanan tokoh.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kosakata-sagu-halmahera/">Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera</a></p>
<p>Sepanjang jalur air itu ada juga I Nyalyan, ikan nyalian (<em>Rasbora argyrotaenia</em>), jenis ikan Bali yang biasa hidup di sungai dan danau. Dalam naskah ia datang tiba-tiba, berjumpa di tengah jalan, lalu bertanya dengan suara halus hendak ke mana. Wardana menempatkannya sebagai utusan dan penyampai pesan; namanya muncul tujuh kali.</p>
<p>Di ujung rute itu ada I Be Jagul, ikan sidat (Anguillidae), yang menjadi guru ilmu hitam dan pemberi jimat. Namanya muncul delapan kali. Sebelum sampai kepadanya, ada I Mametran yang menyelidiki dan berjongkok dengan ucapan halus di hadapannya. Semua tokoh itu hewan air, dan semuanya bergerak di ruang air yang sama.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Gunung, Telaga, Segara</h2>
<p>Arah ketiga menanjak. Dalam bait ketiga belas, ajakan pergi disebut boleh ke pantai atau ke gunung. Dalam bait kedua puluh tiga, I Pici-pici menghibur tokoh yang menangis dan menyarankan perjalanan ke gunung, tempat yang konon ada air suci, berdampingan dengan telaga kecil. Kesedihan diobati dengan perpindahan tempat. Bait berikutnya melanjutkan adegan itu. Tokoh mandi di tempat yang jernih dan agak tinggi, dihiasi banyak bunga, lalu bermalam di sana. I Pajawa, tokoh berjenis ikan, menambahkan dengan suara halus agar tuannya turun, sebab dari situ terlihat <em>sagara</em> yang <em>becik</em> &#8212; laut yang asri. Gunung, telaga, dan laut berbaris dalam satu perjalanan.</p>
<p>Frekuensinya kecil. Gunung dua kali, telaga satu kali, laut satu kali, pantai satu kali, air asin satu kali. Wardana tidak menaikkan angka-angka itu menjadi bukti tema. Ia menulis bahwa data frekuensi &#8220;tidak dimaksudkan untuk secara otomatis menetapkan tema utama teks, melainkan sebagai indikator pendukung yang memperlihatkan kepadatan leksikal unsur-unsur ekologis yang hadir sepanjang narasi&#8221;.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Lontar Desa Sibetan</h2>
<p>Yang dihitung Wardana secara keseluruhan ada delapan belas entitas ekologis, terbagi menjadi sebelas tokoh hewan dan tujuh elemen alam. Hewannya: &#276;nggung, Katak, Dongkang (bangkong kolong, <em>Bufo melanostictus</em>), pici-pici (onga jawa, <em>Radix rubiginosa</em>), ikan pajawa, kakul (keong sawah, <em>Pila ampullacea</em>), gadagan, udang, nyalyan, be jagul, dan mametran. Katak paling sering muncul, tiga puluh tiga kali, disusul &#276;nggung delapan belas kali. Selebihnya jarang: Dongkang lima kali, pici-pici enam, kakul dua, gadagan tiga, pajawa satu. Sebagian dari mereka, menurut deskripsi Wardana, memang hanya hadir sebagai saksi, muncul sekali lalu tidak dijelaskan sifatnya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/penanaman-porang-ngrayun/">Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika</a></p>
<p>Kerangka bacanya diambil dari Endraswara (2016), yang merumuskan ekologi sastra sebagai cara pandang untuk memahami persoalan lingkungan hidup lewat sastra, mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan, dan bagaimana sastra berperan memanusiakan manusia. Sari (2018) menambahkan tekanan pada saling ketergantungan dan keseimbangan hidup dalam satu ekosistem. Kesimpulan Wardana tidak berdiri di atas hitungan frekuensi, melainkan di atas posisi hewan dan elemen alam di dalam alur. &#8220;Alam tidak dihadirkan sebagai entitas pasif, tetapi sebagai ruang hidup yang membentuk tindakan, relasi, dan konflik tokoh,&#8221; tulis I Wayan Kasu Wardana.</p>
<p>Kajian sejenis lebih sering menyasar teks modern. Annisa dan kawan-kawan (2022) membaca lima cerita rakyat Jawa Timur, Amala dan Widayati (2021) membaca novel karya Kirana Kejora, Sundari dan kawan-kawan (2021) membaca novel Intan Andaru, sementara Apriani (2019) menelaah struktur naratif Geguritan Guru Bhakti. Wardana menempatkan artikelnya sebagai pengisi celah pada teks tradisional Bali yang berbasis lontar.</p>
<p>Batasnya perlu dicatat. Yang dibaca hanya satu naskah, dan hanya dua belas bait yang dijadikan korpus utama, dipilih dengan syarat menyebut hewan atau elemen alam secara eksplisit sekaligus punya peran semantis yang jelas. Wardana juga menyatakan artikel ini merupakan pengembangan dari skripsinya sendiri pada 2023. Satu lontar dari satu desa tidak mewakili sastra Bali tradisional secara keseluruhan. Penomoran baitnya pun tidak seluruhnya berurutan di dalam artikel &#8212; ada bait 01, 02, 03, lalu melompat ke 13, 17, 18, 23, 24, kemudian kembali ke angka satu, tujuh, sembilan, dan empat belas &#8212; tanpa keterangan pupuh yang membedakannya. Pembaca yang ingin memeriksa ulang harus kembali ke naskah aslinya.</p>
<p>Daun lontar itu sendiri sekarang berada jauh dari sawah tempat ceritanya bermula, tersimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Provinsi Bali, digurit tiga puluh satu tahun lalu. Di dalamnya pematang yang renggang itu tetap disebut satu kali saja, satu kata di satu larik, dan seekor katak masih keluar dari lubangnya untuk menghampiri suara yang mengganggunya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putri/">Putri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/geguritan-enggung-ekologi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
