<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Ekspo Dunia - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/ekspo-dunia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Ekspo Dunia - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970</title>
		<link>https://cekricek.id/paviliun-indonesia-expo-osaka-1970/</link>
					<comments>https://cekricek.id/paviliun-indonesia-expo-osaka-1970/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Editor Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspo Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Teknologi Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Seni Rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Rupa Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272872</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/paviliun-indonesia-expo-osaka-1970/" title="Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kompleks paviliun Expo 70 di Osaka dengan pengunjung dan kolam di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970 1"></a><p>Kajian ITB dan peneliti Jepang menelusuri jejak artefak seni Paviliun Indonesia di Expo Osaka 1970, dari pembelian di Bali hingga koleksi yang tersebar hari ini.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rahmi/">Rahmi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/paviliun-indonesia-expo-osaka-1970/" title="Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kompleks paviliun Expo 70 di Osaka dengan pengunjung dan kolam di depannya" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-expo-70-osaka-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Di Galeri Soemardja, kampus Institut Teknologi Bandung, berdiri sebuah patung kayu karya seniman Bali bernama Nongos. Patung itu pernah menyeberang Samudra Pasifik lebih dari setengah abad lalu, dipajang di sebuah paviliun di Osaka, Jepang, sebelum akhirnya pulang dan menetap di galeri kampus itu hingga sekarang.</p>
<p>Perjalanan patung Nongos ini &#8212; dan enam kategori karya seni lain yang menyertainya &#8212; ditelusuri Dikdik Sayahdikumullah dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung bersama Miyuki Anai, peneliti seni independen di Oita, Jepang, dalam artikel <em>Retracing Art Exhibition Artefacts of Indonesia Pavilion at Osaka Expo&#8217;70 Japan</em>.</p>
<p>Artikel itu dimuat jurnal PURBAWIDYA Vol. 14 No. 1 edisi Juni 2025. Sepasang peneliti ini mewawancarai 13 orang eksponen Design Center ITB, 14 staf Paviliun Indonesia, dan 12 orang Jepang yang mengalami langsung Expo Osaka 1970, untuk merunut ke mana saja karya-karya itu pergi dan dari mana asalnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Galeri Soemardja, ITB</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w.webp" alt="Bangunan paviliun negara peserta di arena Expo 70 Osaka" class="wp-image-273257" title="Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-paviliun-expo-70-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah satu paviliun negara peserta di Expo 70 Osaka. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Patung Nongos bukan satu-satunya jejak yang tersisa di galeri kampus ini. Di dinding dan sudut ruangnya, tersimpan juga karya But Mochtar berjudul <em>Balinese Girl</em>, lukisan cat minyak 80x60 sentimeter yang dibuat pada 1957 &#8212; tiga belas tahun sebelum Expo Osaka digelar.</p>
<p>Sebuah model kaca akrilik karya Mochtar Apin juga masih tersimpan di rumahnya. Apin, pelukis kelahiran 1923, memakai lembaran pleksiglas berlapis warna untuk membangun struktur ruang cahaya &#8212; gaya yang belakangan dinamai &#8220;patung grafis&#8221; dan kini jadi salah satu istilah seni rupa yang dipakai di Indonesia.</p>
<p>Semua karya ini pernah dipilih oleh satu lembaga: Design Center ITB, atau DCITB. Lembaga inilah yang mendapat mandat penuh dari Panitia Nasional Expo&#8217;70 untuk memilih, merancang, dan menata seluruh materi pameran di Paviliun Indonesia.</p>
<p>Kepercayaan pemerintah kepada dosen-dosen seni rupa ITB ini tidak datang tiba-tiba. Jejaknya bisa ditelusuri sampai 1956, ketika sejumlah dosen ITB ikut serta dalam proyek mural di kantin Universitas Indonesia. Jejak yang sama berlanjut ke proyek gedung Conefo di Jakarta, yang dirancang Mr. Soejoedi Wirdjoatmodjo sejak 1965 &#8212; proyek yang ikut membuka jalan bagi gagasan mendirikan sebuah pusat desain di dalam kampus ITB sendiri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Dari Bandung ke Bali, 1969</h2>
<p>Untuk mengisi paviliun itu, tim DCITB turun langsung ke lapangan. Mr. Srihadi Soedarsono, Mr. Widagdo, Mr. Rustam Arief, Mr. Ma&#8217;mun Mulia, dan Ms. Siti Farida Srihadi &#8212; didampingi staf BAPPENAS, Mr. Rasjid Djauhari &#8212; menempuh perjalanan darat dari Bandung, melewati Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, dan Surabaya, sampai ke Bali.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/warna-ritual-toraja/">Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka</a></p>
<p>Di Surakarta, pada 1969, rombongan ini menemukan wayang beber, wayang golek, patung-patung, dan keris. Banyak barang dibeli tunai, langsung di tempat perajin atau seniman bekerja.</p>
<p>Srihadi Soedarsono, yang kelak menjadi salah satu dosen ITB, menceritakan perjalanan itu dalam sebuah wawancara pada 15 Mei 2016. &#8220;Dalam perjalanan ke Bali, kami membeli lukisan dan patung; saat itu saya berniat menemui Pak Cokot, pematung yang sangat senior,&#8221; kata Srihadi Soedarsono, mantan dosen Institut Teknologi Bandung. &#8220;Waktu itu patung-patung monolit kayunya terlihat sangat berbeda dari seniman lain, sangat ekspresif. Ia senang membuat patung yang dipesan khusus oleh panitia Indonesia untuk pameran itu.&#8221;</p>
<p>I Nyoman Cokot bukan satu-satunya perajin yang didatangi di Bali. Tim DCITB juga memesan karya dari seniman bernama Neka dan seorang pematung bernama Nongos &#8212; salah satu karya Nongos inilah yang kelak menjadi bagian dari koleksi permanen Soemardja Gallery.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tujuh Ruang di Paviliun Osaka</h2>
<p>Paviliun Indonesia sendiri lahir dari proses politik yang panjang. Pemerintah Indonesia mendekati Direktur Eksekutif Asosiasi Expo, Mr. Okumura, pada 1967, lalu resmi mendaftar sebagai peserta pada 24 Agustus 1968.</p>
<p>Presiden Soeharto menjawab undangan itu dengan menunjuk Panitia Nasional Indonesia untuk Expo&#8217;70 pada 7 Oktober 1968, hingga paviliun ini terdaftar resmi pada 11 November 1968. Ketua BAPPENAS, Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, ditunjuk sebagai ketua sekaligus koordinator panitia.</p>
<p>Rancangan bangunannya sendiri karya Mr. Robi Sularto Sastrowardoyo, dengan bentuk struktur yang mengulang keagungan dan kemegahan simbolis Candi Borobudur &#8212; kali ini hadir dalam konteks lingkungan dan budaya yang sama sekali berbeda, di sebuah taman pameran di Jepang. Konstruksi fisiknya dikerjakan Kajima Corporation dari kantor desain Osaka.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/maitrakanyaka-relief-borobudur/">Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan</a></p>
<p>Tema resmi yang diusung adalah &#8220;Unity in Diversity and Diversity in Unity&#8221;, merujuk pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Populasi Indonesia tahun 1970 tercatat 115.657.495 jiwa, sebagian besar hidup dari pertanian, di tengah infrastruktur dan industri yang belum berkembang.</p>
<p>Struktur kerja di dalam DCITB sendiri baru terungkap belakangan, lewat wawancara dengan Mr. Tjoek Atmadi, mantan Kepala Bidang Informasi Expo Osaka&#8217;70 yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pers dan Grafika di Departemen Penerangan. Atmadi adalah penghubung antara BAPPENAS dan para seniman ITB, dan dari catatannya diketahui bahwa Achmad Sadali (1924-1987) menjabat Kepala DCITB, dengan But Mochtar sebagai Direktur Operasional. Anggota lain, seperti Haryadi Suadi, ikut sejak tahap penilaian awal proyek hingga penataan seluruh kru paviliun.</p>
<p>But Mochtar sendiri, selain berkoordinasi dengan panitia pelaksana, menjalin kontak dengan Mr. Suwandono selaku Direktur Program untuk menyusun lebih dari delapan puluh tarian dari berbagai daerah &#8212; Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, dan Maluku &#8212; dipentaskan tiga sampai empat kali sehari. Materi promosi paviliun berupa poster, brosur, leaflet, buku panduan, dan katalog edisi terbatas, dirancang dengan gaya optical art khas 1960-an, memakai teks dwibahasa Indonesia dan huruf Katakana Jepang &#8212; salah satu contohnya, sebuah leaflet berlipat diagonal membentuk segitiga, kini tersimpan di Soemardja Gallery, ITB.</p>
<p>DCITB tidak bekerja sendirian. Beberapa institusi lain ikut menjadi bagian dari kerja bersama ini: Hotel Indonesia, Indharta atau Asosiasi Perdagangan Kerajinan dan Seni Indonesia, PT Department Store Sarinah, PT Gunung Agung, dan Koperasi Batik GKBI &#8212; masing-masing menyumbang tenaga untuk menerjemahkan konsep, desain, filosofi, dan presentasi paviliun ke dalam bentuk yang bisa dilihat pengunjung.</p>
<p>Di dalam paviliun, tujuh kategori karya seni ditata di ruang yang berbeda-beda. Karya kaca akrilik Mochtar Apin sendiri dipajang di ruang VIP, terpisah dari patung-patung kayu tradisional Bali yang ditata sebagai monolit di area luar ruangan.</p>
<p>Satu ruang lain, Ruang Pameran nomor 2, menampilkan ukiran kayu karya Rita Widagdo &#8212; perempuan kelahiran Jerman yang belajar modernisme di Eropa sebelum menjadi anggota DCITB. Ia terpikat pada motif dekoratif Papua dan mengubahnya menjadi relief tiga dimensi di dinding ruang itu.</p>
<p>Di sudut antara Ruang Pameran nomor 3 dan 4, berdiri patung perunggu aluminium karya Gregorius Sidharta Soegijo, tingginya lebih dari tiga meter, berbentuk dasar segitiga yang meruncing ke satu sumbu &#8212; melambangkan optimisme dan pertumbuhan.</p>
<p>Di dekat pintu masuk, sebuah mural besar dilukis langsung di dinding oleh Ahmad Sadali, yang disebut sebagai bapak lukisan abstrak modern ITB. Muralnya menggambarkan bayangan manusia yang hidup di dalam gua &#8212; sebuah citra tradisi Indonesia yang ia ubah jadi bentuk abstrak.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kawasan-batujaya-steam-kurikulum/">Dari 1980-an ke Kelas: Rencana STEAM untuk Batujaya</a></p>
<p>Di area panggung, hiasan ruang udara awalnya hanya berupa daun kelapa muda yang dipotong memanjang lalu digantung &#8212; bentuk dekorasi yang lazim dipakai dalam festival dan upacara keagamaan di Indonesia. Srihadi Soedarsono kemudian mengubah tradisi ini menjadi bentuk raksasa dari lempengan dan batang tembaga, tergantung di atas panggung teater.</p>
<p>Di ruang lain lagi terpasang lambang Garuda Pancasila serta papan nama &#8220;Indonesia&#8221; dalam huruf Latin dan huruf Katakana Jepang, terpasang pada saat upacara pembukaan resmi paviliun. Bahkan tas kertas suvenir yang dijual di sana, bertuliskan &#8220;Indonesian Souvenir and Expo &#8217;70&#8221; dan diproduksi PT Gunung Agung, ikut menampilkan sayap Garuda bermotif isen-isen berwarna putih.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kembali ke Galeri</h2>
<p>Setelah Expo Osaka&#8217;70 berakhir, seluruh materi pameran itu tidak kembali ke Indonesia dengan cara yang sama. Sebagian jadi koleksi kampus, sebagian jadi koleksi museum nasional, dan sebagian lagi terjual ke lembaga swasta.</p>
<p>Penelusuran Sayahdikumullah dan Anai mencatat bahwa posisi akhir seluruh artefak ini tidak sepenuhnya jelas. Pertanyaan etis soal ke mana karya-karya itu semestinya berpulang masih menggantung, belum terjawab tuntas oleh siapa pun, termasuk oleh eksponen DCITB sendiri yang meyakini seluruh artefak tersimpan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.</p>
<p>Lebih dari 47 tahun kemudian, generasi baru dosen seni rupa ITB baru mulai menelusuri, mencatat, dan merawat arsip serta koleksi yang tersisa dari pameran itu secara lebih tertata.</p>
<p>Kembali ke Galeri Soemardja: patung kayu Nongos masih berdiri di sana, di antara karya-karya lain yang sempat menyeberangi Samudra Pasifik dan kembali. Yang berubah bukan patungnya, melainkan apa yang diketahui orang tentang perjalanannya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/rahmi/">Rahmi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/paviliun-indonesia-expo-osaka-1970/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
