<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Sepak Bola Komunitas - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/sepak-bola-komunitas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:26:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Sepak Bola Komunitas - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta</title>
		<link>https://cekricek.id/sepak-bola-komunitas-yogyakarta-filsafat/</link>
					<comments>https://cekricek.id/sepak-bola-komunitas-yogyakarta-filsafat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putri Riana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 04:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nuansa]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Guyub Rukun]]></category>
		<category><![CDATA[Sepak Bola Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272928</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/sepak-bola-komunitas-yogyakarta-filsafat/" title="Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pemain berebut bola dalam pertandingan sepak bola di lapangan kampung" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta 1"></a><p>Kajian filosofis mengungkap nilai guyub rukun dan kegembiraan sederhana di balik tujuh komunitas sepak bola Yogyakarta.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putririana/">Putri Riana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/sepak-bola-komunitas-yogyakarta-filsafat/" title="Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pemain berebut bola dalam pertandingan sepak bola di lapangan kampung" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-permainan-sepak-bola-kampung-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Riset tentang sepak bola komunitas di Indonesia selama ini lebih banyak berhenti pada dua ukuran: berapa komunitas yang tumbuh dan berapa jantung yang lebih sehat karena rutin berlari mengejar bola. Di lapangan Sonoraya, Yogyakarta, seorang penjaga lapangan berusia 63 tahun yang akrab disapa Mbah Bardi &#8212; responden tertua dalam sebuah kajian yang baru terbit &#8212; justru bicara soal hal yang jarang ditanyakan periset: kesepakatan lisan antartim menjaga sportivitas, bukan kontrak atau sanksi tertulis. Dari titik itu sebuah kajian filsafat, bukan sosiologi maupun ilmu keolahragaan seperti biasanya, mencoba membaca ulang apa yang sebenarnya terjadi di lapangan-lapangan kampung Yogyakarta.</p>
<p>Pembacaan ini datang dari Andhika Djalu Sembada, peneliti dari Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo, Yogyakarta, dalam artikel <em>Identification of Community-Based Football Activities in Yogyakarta: A Philosophical Review</em> yang terbit di jurnal JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Volume 10 Nomor 2 edisi Desember 2025. Sembada memakai pendekatan etnografi-filosofis: mengamati langsung tujuh komunitas dan lapangan di Yogyakarta &#8212; Jack&#8217;D FC, Big Reds Jogja, Senen Kemringet FC, QQ FC, Poenakawan Community Indonesia, serta lapangan Sonoraya dan YIS &#8212; selama sekitar lima minggu, mewawancarai 23 responden yang sebagian besar anggota komunitas, lalu membaca hasilnya lewat lingkaran hermeneutik, proses bolak-balik antara detail kecil dan makna besar yang menaunginya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Fuller sampai Pangestu: Sepak Bola sebagai Fakta Sosial</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w.webp" alt="Dua pemain sepak bola berebut bola di lapangan" class="wp-image-273221" title="Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-03-pertandingan-sepak-bola-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pertandingan sepak bola. Ilustrasi. (Foto: Pexels)</figcaption></figure>
<p>Sebelum Sembada turun ke lapangan, sepak bola komunitas di Indonesia sudah lama dibaca lewat kacamata sosial semata. Fuller (2015) menulis bahwa sepak bola tertanam dalam keseharian orang Indonesia, sesuatu yang hampir tidak bisa dipisahkan dari rutinitas warga di berbagai daerah. Pangestu dan koleganya (2024) mengamati antusiasme warga terhadap sepak bola lewat riset pengabdian masyarakat, sementara Sudharma dan Nurodin (2025) menunjukkan bagaimana sepak bola membentuk kepribadian anak dan interaksi sosial lewat peran yang mereka mainkan di dalam tim. Semua riset ini sepakat pada satu hal: sepak bola komunitas punya fungsi sosial. Namun tak satu pun bertanya soal makna yang lebih dalam &#8212; kenapa fungsi sosial itu terasa begitu penting bagi orang-orang yang menjalaninya, bukan sekadar apa fungsinya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Bangsbo, Sarmento, dan Xu: Sepak Bola sebagai Obat</h2>
<p>Rantai riset berikutnya datang dari ilmu kesehatan olahraga, dan di sinilah sepak bola rekreasional mendapat perhatian paling besar. Bangsbo dan koleganya (2015) mencatat bahwa lebih dari 400 juta orang bermain sepak bola setiap tahun, dan latihan sepak bola rekreasional terbukti membantu kesehatan jantung pada pria yang sebelumnya tidak terlatih. Sarmento dan timnya (2020) merangkum tinjauan sistematis yang menunjukkan manfaat sepak bola rekreasional bagi penyakit tidak menular, mulai dari kesehatan jantung dan tulang, komposisi tubuh, diabetes tipe 2, hingga kanker prostat. Xu dan koleganya (2024) bahkan menguji langsung: intervensi permainan sepak bola berskala kecil selama 16 minggu terbukti memperbaiki komposisi tubuh dan kebugaran fisik orang dewasa muda yang sebelumnya jarang bergerak. Namun makin banyak angka kesehatan yang dikumpulkan, makin jelas ada satu pertanyaan yang tidak pernah masuk ke dalam kuesioner mana pun: apa yang membuat orang-orang itu memilih datang ke lapangan, bukan sekadar berolahraga di tempat lain yang sama sehatnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Belum Ditanya di Yogyakarta</h2>
<p>Sembada menyebut celah ini secara eksplisit: sejumlah riset sebelumnya tentang sepak bola komunitas di Yogyakarta sudah memakai ilmu sosial, tetapi belum ada yang memakai filsafat untuk membacanya. Ia lalu duduk bersama para pengurus dan anggota komunitas, mendengarkan cara mereka menjelaskan kenapa mereka datang setiap minggu. Dari komunitas Poenakawan, seorang pengurus bernama Haswin F. menjelaskan bagaimana kerja sama itu diatur tanpa struktur kaku. &#8220;Ada jadwal piket yang tetap, jadi semuanya dikerjakan bersama, saling membantu,&#8221; kata Haswin F., pengurus komunitas sepak bola Poenakawan Community Indonesia di Yogyakarta. Dari Senen Kemringet FC, seorang anggota bernama Yudhi P. mengaitkan alasannya bermain dengan sesuatu yang lebih personal. &#8220;Tujuan saya bergabung dengan komunitas sepak bola adalah untuk tetap sehat, tapi juga untuk mencari suasana yang menyenangkan,&#8221; kata Yudhi P., anggota komunitas sepak bola Senen Kemringet FC di Yogyakarta.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/resiliensi-akademik-mahasiswa-unhas/">84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655</a></p>
<p>Kalimat-kalimat semacam ini yang menurut Sembada tidak akan pernah muncul dari kuesioner kesehatan atau survei sosial biasa, sebab keduanya mengukur perilaku dan dampak, bukan alasan batin yang menggerakkan seseorang untuk terus datang meski permainan itu sendiri tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Dari QQ FC, seorang anggota bernama Muh. Agung Rifai P. bahkan mempertanyakan balik logika kompetisi yang selama ini dipakai untuk mengukur nilai sebuah pertandingan. &#8220;Sepak bola itu lebih soal kebersamaan, bertemu banyak teman. Saya heran kenapa masih ada orang yang main bola untuk senang-senang tapi tidak bersenang-senang,&#8221; kata Muh. Agung Rifai P., anggota komunitas sepak bola QQ FC. Bagi Sembada, keheranan semacam ini adalah pintu masuk filosofis: sebuah pertanyaan yang tidak pernah muncul dalam riset kesehatan maupun sosiologi olahraga, karena kedua bidang itu tidak dirancang untuk menampung pertanyaan sebesar itu.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Guyub Rukun dan Filsafat Epicurean</h2>
<p>Untuk menjawabnya, Sembada menautkan temuannya dengan dua kerangka filsafat yang jaraknya jauh secara geografis tapi dekat secara makna. Yang pertama adalah filsafat kebahagiaan ala Epicurus, yang menurut Prahasan (2024) menekankan kesederhanaan, keseimbangan, dan kenikmatan alami sebagai jalan menghadapi tekanan hidup modern. Yang kedua adalah filsafat guyub rukun ala Jawa, yang menurut Nando dan koleganya (2024) tercermin dalam ungkapan &#8220;Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul&#8221; &#8212; makan atau tidak makan, yang penting berkumpul &#8212; sebuah nilai budaya yang memperkuat solidaritas sosial dan menjawab persoalan segregasi sosial. Sembada menemukan kedua filsafat itu hidup berdampingan di lapangan-lapangan Yogyakarta, bukan sebagai teori yang diajarkan, melainkan sebagai kebiasaan yang dijalani tanpa perlu disebut namanya.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/mantra-pengobatan-sakit-perut-jomboran/">Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran</a></p>
<p>Nilai gotong royong misalnya tampak dalam cara Mbah Bardi, pengelola lapangan Sonoraya, menjaga kesepakatan antartim yang bertanding di lapangannya. &#8220;Lapangan kami sudah beberapa kali dipakai untuk turnamen dengan konsep Trofeo, dan kami selaku pengelola biasanya membuat kesepakatan dengan tim-tim peserta untuk menjunjung sportivitas demi menjaga persaudaraan,&#8221; kata Mbah Bardi, pengelola lapangan Sonoraya di Yogyakarta. Nilai yang sama juga menjelaskan sikap komunitas terhadap sponsor besar. Sandi H., pengurus komunitas Big Reds Jogja, menjelaskan bagaimana pendanaan komunitasnya dijaga tetap mandiri. &#8220;Apa pun itu, biasanya kami urunan bersama. Anggota dan bukan anggota kedudukannya sama,&#8221; kata Sandi H., pengurus komunitas sepak bola Big Reds Jogja di Yogyakarta. Penolakan terhadap sponsor besar ini, tulis Sembada, bukan sekadar keterbatasan akses dana, melainkan pilihan filosofis untuk menjaga kemandirian dan suasana kondusif komunitas.</p>
<p>Kegembiraan yang dibicarakan Epicurus pun muncul dalam bentuk yang sangat sederhana di lapangan Big Reds Jogja. &#8220;Menang atau kalah tidak penting, yang penting kita bisa tertawa,&#8221; kata Rangga DT, anggota komunitas sepak bola Big Reds Jogja di Yogyakarta. Kalimat pendek ini, menurut Sembada, meletakkan inti dari sepak bola komunitas: kemenangan bukan tujuan akhir, melainkan alasan bertemu untuk bersenang-senang bersama. Nilai yang sama juga mewarnai momentum perayaan bersama. &#8220;Saat merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, warga sekitar biasanya menggelar pertandingan persahabatan dengan mengundang beberapa tim lain dari luar,&#8221; kata Anggoro, pengelola lapangan Sonoraya di Yogyakarta, menggambarkan bagaimana gotong royong dan perayaan kebangsaan menyatu di lapangan kampung.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/nelayan-desa-saria-halmahera-barat/">Dari Kebun ke Pajeko, Catatan Desa Saria 2002-2017</a></p>
<p>Namun kebersamaan itu tidak selalu berarti mengorbankan ambisi untuk menang. Husni M., anggota komunitas Jack&#8217;D FC, menyeimbangkan kedua sisi itu dalam satu kalimat. &#8220;Semua orang di lapangan ingin menang, tapi persaudaraan lebih penting daripada kemenangan,&#8221; kata Husni M., anggota komunitas sepak bola Jack&#8217;D FC di Yogyakarta. Bagi Sembada, kalimat semacam ini menunjukkan bahwa guyub rukun bukan berarti absennya persaingan, melainkan persaingan yang ditempatkan di bawah nilai persaudaraan &#8212; sebuah keseimbangan yang menurutnya sulit ditemukan lewat pengukuran kuantitatif semata.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Batas yang Diakui Sembada</h2>
<p>Sembada sendiri membingkai studinya sebagai langkah awal, bukan kesimpulan tertutup. Risetnya hanya mencakup tujuh komunitas dan dua lapangan di satu kota, dipilih lewat sampling purposif dan kemudahan akses, dengan 23 responden yang didominasi laki-laki dewasa &#8212; sehingga nilai-nilai yang ia temukan di Yogyakarta belum tentu berlaku sama di kota lain dengan komposisi komunitas yang berbeda. Ia sendiri menyarankan penelitian lanjutan berupa studi perbandingan dengan komunitas sepak bola di daerah lain, sebuah pengakuan bahwa gotong royong dan guyub rukun yang ia baca di lapangan Yogyakarta adalah temuan yang terikat konteks, bukan hukum umum tentang sepak bola komunitas di mana pun.</p>
<p>Riset-riset sebelumnya sudah cukup menjawab berapa komunitas yang tumbuh dan berapa jantung yang lebih sehat karena rutin bermain bola. Yang tersisa, dan baru mulai dijawab oleh Sembada di lapangan-lapangan Yogyakarta, adalah pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: mengapa orang-orang itu tetap datang sore demi sore ke lapangan becek yang sama, bahkan ketika permainan itu sendiri tidak pernah benar-benar mereka menangkan.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/putririana/">Putri Riana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/sepak-bola-komunitas-yogyakarta-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
