<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Sungai Batanghari - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/sungai-batanghari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:31:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Sungai Batanghari - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim</title>
		<link>https://cekricek.id/sungai-batanghari-sejarah-maritim/</link>
					<comments>https://cekricek.id/sungai-batanghari-sejarah-maritim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Lesmana]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 05:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Maritim]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Batanghari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272829</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/sungai-batanghari-sejarah-maritim/" title="Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Permukaan Sungai Batanghari yang lebar dengan cahaya senja" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim 1"></a><p>Kajian maritim Indonesia sibuk dengan laut dan selat, sementara Sungai Batanghari sepanjang 775 kilometer nyaris tidak dihitung sebagai bagian dunia bahari.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/sungai-batanghari-sejarah-maritim/" title="Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Permukaan Sungai Batanghari yang lebar dengan cahaya senja" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-sungai-batanghari-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Di dasar Sungai Batanghari ada sedikitnya 100 titik harta karun. Angka itu datang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala setempat. Isinya disebut peninggalan kebudayaan Melayu Jambi sampai Cina, dari abad ke-7 Masehi hingga masa perang dunia.</p>
<p>Keterangan itu dicatat Sri Haryati Putri, dosen Universitas Khairun, dalam <em>Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari: Rupa Bumi nan Kaya Sejarah</em>. Tulisan itu terbit di Jurnal Pusaka Vol. 4 No. 1 pada 2024. Ia tidak menyelami sungai itu. Ia memakai angka tersebut untuk satu keberatan.</p>
<p>Keberatannya begini. Kajian maritim di Indonesia sibuk dengan ruang perairan luas: samudra, laut, selat, dan teluk. Sungai nyaris tidak dihitung sebagai bagian dunia bahari, padahal perdagangan di banyak daerah bersandar padanya.</p>
<p>Metodenya metode sejarah. Tahapannya empat: heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, lalu historiografi. Bahannya buku, arsip, dan wawancara dengan pelaku sejarah, bukan penggalian baru di lapangan.</p>
<p>Kritik sumber dibagi dua. Kritik ekstern menguji keaslian sumbernya. Kritik intern menguji kebenaran isinya. Penulis merujuk sejarawan Mestika Zed, yang menyebut metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis rekaman peninggalan masa lampau secara kritis.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Satu Sungai, Empat Provinsi</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w.webp" alt="Perahu penyeberangan tradisional bersandar di tepi Sungai Batanghari" class="wp-image-273277" title="Batanghari, Sungai yang Luput dari Sejarah Maritim 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-01-penyeberangan-batanghari-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penyeberangan tradisional di Sungai Batanghari. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Batanghari mengaliri empat provinsi. Sekitar 76 persen daerah alirannya berada di Provinsi Jambi. Sisanya terbagi ke Sumatera Barat 19 persen, Sumatera Selatan 4 persen, dan Riau 1 persen.</p>
<p>Di Jambi, sungai ini menyentuh delapan kabupaten dan satu kota. Penulis menyebut Kota Jambi, Kerinci, Merangin, Sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tebo, dan Bungo.</p>
<p>Bagian Sumatera Barat melewati Solok, Solok Selatan, Sawahlunto/Sijunjung, dan Dharmasraya. Bagian Sumatera Selatan ada di Musi Rawas. Bagian Riau ada di Indragiri Hulu. Empat provinsi itu berbagi satu ekosistem yang sama, dari hulu sampai muara.</p>
<p>Penulis menyebut ekosistem itu satu kesatuan. Hulu, tengah, dan hilir saling menyambung. Karena itu peran daerah aliran ini disebut vital bagi pembangunan ekonomi Provinsi Jambi sampai sekarang.</p>
<p>Luas daerah tangkapan airnya sekitar 4,5 juta hektare. Paper menyebutnya daerah aliran sungai terbesar kedua di Indonesia. Angka itu dikutip dari literatur, bukan hasil pengukuran penulis sendiri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Angka yang Bergeser</h2>
<p>Panjang sungai ditulis sekitar 775 kilometer. Angka itu muncul dua kali di bagian awal artikel. Di bagian penutup, angkanya berubah menjadi sekitar 800 kilometer.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/kapal-uap-reijnst-sagori/">Kapal Uap Reijnst, Bangkai yang Dikira Milik VOC</a></p>
<p>Selisihnya 25 kilometer. Paper tidak menjelaskan asal beda itu. Pembaca sebaiknya memakai angka 775 kilometer, yang disebut lebih dulu dan lebih sering.</p>
<p>Hulunya di Pegunungan Bukit Barisan. Muaranya di Selat Berhala. Anak sungainya antara lain Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tabir, Batang Tebo, Batang Bungo, dan Batang Suliti.</p>
<p>Kata &#8220;batang&#8221; di situ berarti sungai. Orang Melayu Sumatera juga memakai kata &#8220;air&#8221; untuk maksud yang sama. Nama Batang Kampar, Batang Kuantan, Batang Pasaman, dan Batang Arau memakai pola penamaan itu.</p>
<p>Anak-anak sungai itu bermuara ke Batanghari. Batanghari sendiri bermuara di Muara Sabak. Satu nama menampung banyak aliran, dan pola itu ikut menjelaskan kenapa kekuasaan lama terpusat di sepanjang badan sungai.</p>
<p>Sungai juga dipakai untuk hal yang paling sederhana. Tempat mandi, tempat mencuci, sumber air irigasi bagi sawah. Sungai kerap dipakai sebagai batas kampung dan batas wilayah. Beberapa dekade terakhir, aliran besar dipakai untuk pembangkit listrik tenaga air.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Lada dan Pelabuhan</h2>
<p>Jambi disebut penting bagi perdagangan internasional sejak 644 Masehi. Sebabnya lada yang berlimpah. Keterangan itu diambil penulis dari kajian Dedi Arman terbitan 2017.</p>
<p>Pada 1545, Jambi sudah dikenal sebagai penghasil lada. Pembeli dari Portugis dan Belanda berdatangan. Aktivitas pelabuhan Jambi kembali hidup setelah sempat sepi.</p>
<p>Hasil kebun dan sawah dari desa dibawa ke pelabuhan besar di hulu lewat air. Alat angkutnya perahu dayung, sesuai teknologi zamannya. Jalur itu membentang dari Solok Selatan sampai Muaro Sabak di Jambi, bahkan disebut sampai ke Malaysia.</p>
<p>Kawasan Dharmasraya disebut penulis dengan nama lamanya, Ranah Cati nan Tigo. Di situ rempah dikumpulkan sebelum turun ke hilir. Perdagangannya bersandar sepenuhnya pada sungai.</p>
<p>Pusat kekuasaan berpindah beberapa kali. Sejak 1183 Kerajaan Melayu lepas dari Sriwijaya dan berpusat di Ulu Batanghari. Pada abad ke-13 pusatnya bergeser ke pedalaman, ke Dharmasraya.</p>
<p>Sriwijaya sendiri menyusut pada abad ke-12. Wilayahnya tinggal sekitar Palembang. Kerajaan Melayu memakai kesempatan itu untuk berdiri sendiri, dan pada abad ke-13 Sriwijaya disebut benar-benar habis.</p>
<p>Penulis menyandarkan bagian ini pada kajian Ona Yulita terbitan 2020. Menurut kajian itu, Kesultanan Melayu Jambi berkembang sampai menggantikan Sriwijaya dalam menguasai perniagaan di Selat Malaka. Klaim sebesar itu hanya bertumpu pada satu rujukan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/babad-buleleng-maritim-bali-utara/">Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng</a></p>
<p>Kesultanan Melayu Jambi disebut berdiri dari 1460 sampai 1901. Sultan Thaha Saifuddin pemimpin terakhirnya. Sejak pertengahan abad ke-16, kesultanan itu berdagang rempah besar-besaran dengan Portugis, Inggris, dan VOC.</p>
<p>Pada masa awal, ekonominya belum bertumpu pada lada. Komoditas ekspornya kayu gaharu dan emas, keduanya hasil hutan dan tambang di hulu. Lada baru menonjol belakangan, dan barang-barang itu sama-sama turun lewat air.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Candi di Tepi Air</h2>
<p>Peninggalannya masih bisa dilihat hari ini. Ada Candi Koto Kandis, Muarajambi, Padang Roco, Pulau Sawah, dan Solok Sipin. Semuanya berdiri dekat aliran sungai.</p>
<p>Letak itu bukan kebetulan. Hampir semua permukiman lama dibangun menghadap sungai. Kalaupun tidak persis di tepi, rumah tetap didirikan di kawasan yang punya akses ke air.</p>
<p>Kompleks Candi Muarojambi jadi contoh yang paling sering disebut. Letaknya sejalur dengan aliran Batanghari di Kabupaten Muaro Jambi. Di situ, menurut penulis, jejak Kerajaan Melayu dan Sriwijaya bisa dilihat bersamaan.</p>
<p>Beberapa titik bahkan dipilih penguasa Melayu sebagai pusat pemerintahan. Sungai memberi dua hal sekaligus: jalan keluar ke laut dan jalan masuk ke hulu. Ia juga disebut sumber otoritas antara hulu dan hilir, sekaligus tempat ritual peribadatan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Sejak 1970-an</h2>
<p>Jalan raya dan stasiun kereta mengubah arah hidup orang. Permukiman baru tumbuh di tepi jalan, bukan di tepi air. Sungai perlahan berhenti dipakai mengangkut orang dan barang.</p>
<p>Pergeseran itu menguat sejak dekade 1970-an. Pada masa yang sama hutan ditebang besar-besaran. Izin diberikan kepada pengusaha untuk mengolah kayu dan membuka perkebunan.</p>
<p>Penulis menyebut pemanfaatan Batanghari sebagai sarana transportasi terus berkurang dari tahun ke tahun. Bahkan, tulisnya, sampai tidak ada sama sekali. Kalimat itu tidak disertai data volume angkutan.</p>
<p>Empat taman nasional kini berada di daerah aliran ini. Taman Nasional Kerinci Seblat berada di kawasan hulu. Bukit Duabelas dan Bukit Tigapuluh di bagian tengah, sedangkan Berbak berada di bagian muara.</p>
<p>Kualitas airnya disebut makin keruh. Penulis menduga penyebabnya aktivitas manusia. Dugaan itu tidak disertai hasil uji air di dalam artikel.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Belum Ditulis</h2>
<p>Kebijakan bergerak ke arah yang sama dengan kajian. Tol laut, tol Sumatra, jalan trans di beberapa pulau, sampai pembentukan kementerian koordinator bidang kemaritiman. Sungai tidak masuk daftar itu, padahal ia bagian dari dunia kemaritiman juga.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/prasasti-tanduk-kerinci-dipati-diupah/">Tanduk Kerbau Kerinci dan Dipati yang Diupah</a></p>
<p>Penulis mengusulkan satu hal konkret. Batanghari dan peradabannya perlu dilindungi sebagai budaya kemaritiman dunia. Usul itu ditujukan antara lain kepada badan pelindungan kebudayaan di bawah Kemendikbudristek.</p>
<p>Satu buku sudah lebih dulu membuka jalan itu. Judulnya <em>Sungai dan Sejarah Sumatra</em>, terbit 2016, ditulis Gusti Asnan, profesor yang oleh penulis disebut salah satu yang pertama membahas sungai di Sumatra.</p>
<p>&#8220;Tidak ada negeri lain di dunia yang dilimpahi dengan air, seperti pantai barat Sumatra,&#8221; tulis Gusti Asnan. &#8220;Mata air selalu ditemukan di manapun, dan jumlah sungai tidak terkira banyaknya.&#8221;</p>
<p>Bahasan buku itu dinilai masih umum. Alasannya, sungai di Sumatra terlalu banyak untuk dibahas dalam satu buku. Gusti Asnan sendiri berharap bukunya merangsang minat sejarawan lain untuk mengkajinya lagi secara komprehensif.</p>
<p>Harapan itu belum banyak terjawab. Karya tertulis tentang sungai tetap sedikit jumlahnya. Penulis menyebut sejarawan perlu melirik sungai sebagai kajian yang layak didokumentasikan.</p>
<p>Artikel ini punya batas yang diakui sendiri. Kajian sungai dalam sejarah Indonesia disebut masih terbatas dan belum banyak tergarap. Penulis menempatkan tulisannya sebagai ajakan, bukan sebagai pembuktian.</p>
<p>Sebagian pernyataannya memang longgar. Klaim bahwa Kesultanan Melayu Jambi mengambil alih kekuasaan di Semenanjung Malaka disebut tanpa rincian arsip. Kata &#8220;dipercaya&#8221; dan &#8220;konon&#8221; dipakai beberapa kali.</p>
<p>Yang bisa disimpulkan pun terbatas. Batanghari memang kaya jejak sejarah, dan sebagian jejak itu masih bisa dilihat hari ini. Seberapa besar perannya dibanding jalur laut belum dihitung di dalam artikel ini.</p>
<p>Seratus titik harta karun itu masih tertinggal di dasar sungai, dan riwayatnya belum banyak ditulis orang.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/arilesmana/">Ari Lesmana</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/sungai-batanghari-sejarah-maritim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
