Cekricek.id — Di pasar maupun dapur, ubi jalar dan uwi — yang di dunia internasional disebut yam — kerap dianggap kembar dan namanya saling tertukar. Padahal secara ilmu tumbuhan, keduanya bahkan tidak berkerabat dekat.
Mengutip laporan Live Science yang ditulis Clarissa Brincat, Sabtu (8/8/2026), ubi jalar (Ipomoea batatas) termasuk keluarga kangkung-kangkungan alias morning glory (Convolvulaceae). Adapun uwi bernaung di keluarga Dioscoreaceae dengan 11 spesies yang dibudidayakan.
“Secara botani, ubi jalar dan yam tidak berkerabat dekat, karena keduanya berasal dari keluarga tumbuhan yang berbeda,” kata Phillip Wadl, peneliti di U.S. Vegetable Laboratory, sebagaimana dikutip Live Science.
Beda Akar, Beda Batang
Perbedaannya sampai ke level struktur. Ubi jalar adalah dikotil dengan dua daun lembaga, sementara uwi monokotil dengan satu daun lembaga. Bagian yang kita makan pun beda asal-usulnya: ubi jalar menyimpan cadangan makanan pada akar yang membesar, sedangkan uwi membentuk umbi batang di bawah tanah.
Dari tampilannya, ubi jalar lebih pendek dan gempal dengan ujung meruncing, berkulit tipis dan halus dalam warna oranye, kuning, ungu, atau putih. Uwi berbentuk panjang silindris, berkulit kasar seperti pepagan kayu, dengan daging putih, ungu, atau kemerahan — kadang bercabang seperti jemari.
Rasa dan Gizi
Soal rasa, ubi jalar umumnya lebih manis dengan tekstur lembap dan lembut, sementara uwi cenderung lebih berpati, lebih kering, dan rasanya lebih tanah. Dari sisi gizi, ubi jalar oranye unggul dalam beta-karoten, vitamin C, serat, dan kalium; uwi tetap menyumbang kalium, vitamin C, mangan, dan serat, tetapi beta-karotennya jauh lebih sedikit.
Kekacauan Nama Warisan Sejarah
Kerancuan nama ini punya akar sejarah yang kelam. Yam dari Afrika Barat dahulu menjadi bekal pangan orang-orang yang diperbudak dalam pelayaran lintas Atlantik. Karena yam Afrika tak bisa tumbuh di Amerika Utara, ubi jalar menjadi penggantinya — dan sebutan “yam” pun melekat pada keduanya. Industri ubi jalar AS belakangan sengaja memasarkan varietas oranye dengan label “yam” demi pembeda dagang.
Pangan umbi-umbian sendiri punya tempat istimewa dalam sejarah Nusantara — termasuk singkong yang pernah menjadi penyelamat di masa krisis, seperti kami kisahkan dalam sejarah lahirnya gizi publik di Hindia Belanda.
Baca juga: UNP Latih Warga Sikabu Olah Jagung dan Kelapa Jadi Produk Bergizi Bernilai Jual


















