Intervensi Yen oleh AS Kejutkan Eropa, Asia Waspada

Catatan bertuliskan To Do Buy Japanese Yen di depan papan nama Scott Bessent

Catatan di depan Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertuliskan rencana membeli yen Jepang senilai US$5-10 miliar. [Foto: Daniel Heuer/Reuters]

Cekricek.id — Ketika kabinet Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu di Camp David pekan lalu, Menteri Keuangan Scott Bessent meletakkan secarik catatan di hadapannya — cukup terbuka untuk terbaca para jurnalis.

"To Do," tulis catatan itu. "Buy Japanese Yen (JPY) $5 — $10 bil." Beli yen Jepang senilai lima sampai sepuluh miliar dolar.

Mengutip analisis Editor Urusan Global ABC News, Laura Tingle, Minggu (9/8/2026), Bessent bukan orang baru dalam permainan ini. Sebelum masuk pemerintahan, ia adalah bankir Wall Street yang biasa menempatkan taruhan besar di pasar mata uang untuk George Soros. Ia paham betul kekuatan sebuah sinyal, bahkan sebelum satu transaksi pun dilakukan.

Beberapa hari kemudian, Jepang dan Amerika Serikat mengumumkan intervensi bersama untuk menopang yen, yang sebelumnya jatuh ke titik terendah dalam 40 tahun.

Kepentingan Washington di Balik Yen yang Kuat

Bessent membingkai langkah itu sebagai tindakan sekutu yang membantu Jepang. Namun Amerika Serikat punya kepentingan besar sendiri atas yen yang menguat.

Yen yang lemah tidak hanya membuat produk Jepang sangat kompetitif terhadap produk Amerika. Ia juga mengancam pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Jepang adalah pemegang surat utang pemerintah AS terbesar di dunia. Jika Tokyo menjual obligasi itu untuk menopang mata uangnya, harga obligasi turun dan suku bunga jangka panjang Amerika justru naik.

Itulah salah satu alasan intervensi kali ini dilakukan dengan cara yang tidak lazim: Amerika Serikat menjual euro, bukan dolar, untuk membeli yen.

Frankfurt Baru Diberi Tahu Setelah Semuanya Selesai

Cara itu menimbulkan gesekan diplomatik tersendiri. Financial Times melaporkan pada Jumat bahwa penjualan euro oleh Washington untuk menopang yen mengejutkan Bank Sentral Eropa, yang baru diberi tahu setelah intervensi bersejarah tersebut dilakukan. Dalam operasi semacam itu, lazimnya Amerika Serikat memakai dolar.

Sejumlah pejabat senior ECB, menurut laporan itu, memandang keputusan memakai euro sebagai pelanggaran belum pernah terjadi terhadap konvensi kerja sama antarotoritas moneter Barat yang sudah berlangsung lama. Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan di kalangan pembuat kebijakan Eropa menyebut penjualan euro itu "sangat mencolok" dan "menyedihkan".

Bayang-bayang 1997

Ada dimensi kawasan yang membuat cerita ini terasa akrab bagi pembaca di Asia Tenggara. Kejatuhan nilai yen adalah salah satu faktor yang mengantar krisis keuangan Asia pada 1997. Gelombang devaluasi kompetitif di Asia Tenggara pada saat ini, tulis Tingle, bisa berujung buruk.

Krisis 1997 memang terutama berakar pada kelemahan struktural — sektor keuangan yang dideregulasi terlalu cepat dan arus modal jangka pendek yang mudah berbalik. Persoalan hari ini berbeda, tetapi tidak kalah rawan.

Korea Selatan menjadi contoh paling menonjol. Negara yang semestinya menikmati puncak kejayaan berkat dominasinya di pasar cip dan memori itu justru terguncang oleh volatilitas pasar saham yang dipicu investor dengan utang berlebih, ditambah bursa yang terlalu bergantung pada segelintir raksasa semikonduktor seperti Samsung. Nilai pasarnya anjlok 40 persen hanya dalam 27 hari, dan sepanjang 2026 sudah tercatat 33 hari dengan pergerakan minimal lima persen.

Indonesia pun ikut disebut. Menurut Tingle, Indonesia menghadapi persoalan yang bersumber dari program belanja pemerintah yang terlalu ambisius dan mahal.

Tidak semua kabar dari Asia buruk. Vietnam menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan dalam dua tahun terakhir, sekitar delapan persen per tahun, meski sempat menjadi salah satu sasaran utama tarif Trump tahun lalu. Malaysia dan Singapura juga melaju berkat posisi kuat mereka di perangkat keras teknologi informasi. Dana Moneter Internasional tetap memperkirakan Asia menjadi penggerak utama pertumbuhan global, dengan India dan Tiongkok menyumbang sekitar 70 persen di antaranya.

Jepang di Simpang Jalan

Jepang berada di pusat tekanan ini. Bekas "ekonomi ajaib" era 1980-an itu bertahun-tahun berjuang keluar dari deflasi, hanya untuk kini menghadapi inflasi yang sebagian dipicu oleh suku bunga rendahnya sendiri — kebijakan yang menekan nilai mata uang dan mengerek harga di dalam negeri.

Bank of Japan sudah menaikkan suku bunga lima kali dari level terendah sepanjang sejarah, memangkas separuh selisihnya dengan suku bunga Amerika. Tetapi pilihan berikutnya sama-sama pahit: menaikkan bunga lebih jauh untuk menahan pelemahan yen dengan risiko mematikan pertumbuhan yang baru tumbuh, atau mengulur waktu.

Tidak seperti kebanyakan bank sentral lain, piagam BoJ mengharuskan kebijakannya selaras dengan kebijakan pemerintah. Barangkali itu sebabnya ia memilih membeli yen langsung di pasar — intervensi yang menurut perkiraan sejumlah analis mencapai 13,8 triliun yen atau sekitar US$87 miliar hanya dalam dua hari.

Independensi Bank Sentral yang Menipis

Di tengah sinyal ekonomi yang saling bertentangan, yang justru menonjol adalah tren menjauh dari kejelasan sinyal — dan dari independensi bank sentral itu sendiri.

Tingle mencatat Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yang disegani, mendadak mengundurkan diri bulan lalu dalam langkah yang membuat pasar gelisah, tepat ketika kebijakan anggaran pemerintah memicu inflasi. Kegelisahan yang lebih besar, tulisnya, justru datang dari Amerika Serikat.

Trump mengangkat Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed setelah berkali-kali menyerang pendahulunya, Jerome Powell, yang ia ancam pecat karena dinilai terlalu lambat memangkas bunga. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal Desember lalu, Trump menyatakan ia ingin Ketua The Fed berkonsultasi dengannya soal penetapan suku bunga. "Saya suara yang cerdas dan layak didengarkan," katanya.

Pekan ini WSJ melaporkan Trump berulang kali berbicara dengan Warsh sejak yang bersangkutan menjabat tiga bulan lalu. Warsh sendiri mengumumkan strategi komunikasi baru yang tidak memberi petunjuk ke mana arah kebijakan moneter akan bergerak — dan itu sama sekali tidak menenangkan pasar. Tekanan serupa terlihat pula pada upaya Gedung Putih memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook.

Yang Perlu Dicermati dari Jakarta

Bagi Indonesia, intervensi yen bekerja lewat beberapa jalur sekaligus. Yang paling langsung adalah utang: sebagian pinjaman proyek pemerintah Indonesia berdenominasi yen, sehingga pergerakan mata uang itu mengubah beban pembayaran dalam rupiah tanpa satu pun keputusan diambil di Jakarta.

Jalur kedua adalah perdagangan dan industri. Jepang tetap pemasok utama komponen otomotif dan barang modal bagi manufaktur Indonesia, sehingga nilai yen ikut menentukan struktur biaya pabrik-pabrik di dalam negeri.

Jalur ketiga yang paling perlu diawasi adalah arus modal. Ketika arah kebijakan The Fed makin sulit ditebak dan mata uang besar Asia bergejolak, dana global cenderung menarik diri lebih dulu dari pasar negara berkembang. Di sinilah ruang manuver Bank Indonesia diuji, sebagaimana terlihat ketika BI mempertahankan suku bunga acuan sambil menjaga ruang pertumbuhan.

Koordinasi kawasan pun menjadi penting. Forum seperti pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN — yang antara lain membahas ketahanan keuangan bersama, sebagaimana dibahas dalam pertemuan AFMGM — dirancang justru untuk situasi semacam ini: ketika keputusan besar diambil di tempat lain, dan negara-negara di kawasan hanya menerima akibatnya.

Baca Juga

Influencer Meksiko Cesar Gastelum dalam foto swafoto yang diunggah di akun Instagramnya
Pembunuhan Influencer Marak di Meksiko, Kartel Disorot
Warga memegang poster bergambar dokter Hussam Abu Safia dalam aksi solidaritas di Ramallah
Kepala Dinkes Gaza Serukan Penyelamatan Dokter Hussam Abu Safia
Pegunungan bersalju dan gunung es di kawasan Jameson Land, Greenland
Greenland Beri Peringatan Keras ke Perusahaan Minyak Terkait Trump
Erdogan, Mohammed bin Salman, dan Shehbaz Sharif memegang dokumen pakta pertahanan di Makkah
Pakta Pertahanan Makkah: Perisai Baru atau Sinyal Strategis?
Lambang Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve Amerika Serikat
Gedung Putih Kembali Berupaya Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook
Tentara Suriah era Bashar al-Assad berdiri di atas kendaraan bak terbuka di Deir Az Zour
Lebanon Tahan Jenderal Era Assad, Timbang Serahkan ke Suriah