Cekricek.id — Sebuah perusahaan minyak Amerika Serikat yang terhubung dengan Presiden Donald Trump bersiap mengebor sumur di kawasan terpencil Greenland, meski belum mengantongi izin dari otoritas setempat. Peralatan untuk persiapan pengeboran telah didaratkan di pesisir timur pulau itu dalam beberapa hari terakhir.
Mengutip The Guardian, Minggu (9/8/2026), pemerintah Greenland merespons dengan mengeluarkan "peringatan keras" bahwa tidak ada persetujuan yang pernah diberikan untuk mendaratkan perlengkapan tersebut. Seluruh urusan logistik pada masa depan, demikian pernyataan resmi itu, harus dikonsultasikan dan disetujui otoritas sumber daya mineral sebelum dilaksanakan.
Klaim Satu Triliun Dolar di Bawah Jameson Land
Greenland Energy, perusahaan asal Texas yang baru dibentuk tahun lalu, mengeklaim minyak mentah senilai US$1 triliun mungkin terpendam di bawah kawasan Jameson Land. Perusahaan itu mengumumkan rencana menghabiskan US$60 juta untuk mengebor dua sumur guna membuktikannya.
Greenland sebenarnya menghentikan penerbitan izin minyak baru sejak 2021 dengan alasan lingkungan. Namun perusahaan Inggris bernama 80 Mile sudah lebih dulu mengantongi hak eksplorasi di Jameson Land. Dokumen korporasi Greenland Energy menyebut perusahaan itu akan mengambil saham mayoritas dalam proyek tersebut sebagai imbalan atas pendanaan eksplorasi — tetapi tetap membutuhkan izin pemerintah untuk melanjutkan.
Yang membuat kasus ini tak biasa adalah cara perusahaan itu memoles citranya. Greenland Energy menggandeng Phil McGraw, mantan pembawa acara bincang-bincang yang dikenal sebagai Dr Phil dan pernah duduk di komisi kebebasan beragama bentukan Trump, untuk membuat serial dokumenter tentang misi mereka. Perusahaan itu juga mengangkat seorang veteran Angkatan Laut Amerika Serikat yang tengah menggarap Golden Dome — program pertahanan rudal yang menurut Trump menjadikan penguasaan atas Greenland sebagai hal vital — sebagai salah satu direkturnya.
Tongkang, Peti Kemas, dan Klaim yang Keliru
Larry Swets, ketua sekaligus pemegang saham besar Greenland Energy, tampak memiliki akses ke lingkaran Trump. Ia menyatakan proyek minyak tersebut tidak berkaitan dengan wacana aneksasi Amerika.
Pada Juni lalu, seorang perwakilan perusahaan sempat menyatakan secara keliru dalam pertemuan warga di Jameson Land bahwa pihaknya telah mengantongi izin mendaratkan peralatan pengeboran. Swets kemudian menjelaskan antusiasme terhadap proyek itu membuat mereka berkomunikasi dengan cara yang menimbulkan kebingungan.
Bulan berikutnya, warga di kawasan berpenduduk jarang tersebut melihat sebuah kapal tunda menarik tongkang ke pantai dan menurunkan selusin peti kemas. Media investigasi Denmark, Danwatch, mengutip pimpinan perusahaan pelayaran yang membenarkan pengiriman itu ditujukan untuk Greenland Energy.
Greenland Energy menolak menjawab pertanyaan The Guardian. Dalam surat kepada pemegang saham pada Kamis, perusahaan menyebut pertemuan tingkat tinggi dengan otoritas pengawas Greenland berlangsung konstruktif dan mereka optimistis terhadap kemajuan menuju persetujuan yang tersisa. Setelah pembicaraan itu, disebutkan hanya satu sumur yang akan dibor lebih dulu.
Pilihan Sulit Pemerintah Greenland
Sebagai wilayah semi-otonom Denmark, keputusan mengenai sumber daya alam Greenland berada di tangan pemimpin terpilih setempat. Mereka kini menghadapi pilihan yang tidak nyaman.
Memberikan izin berarti membuka pengeboran di lokasi yang tampaknya berada di dalam kawasan konservasi yang dilindungi Konvensi Ramsar tentang lahan basah. Menolak berarti — menurut sebagian pengamat — berisiko memberi Trump dalih untuk memajukan agenda teritorialnya. Dua hari setelah peringatan resmi dikeluarkan, Trump kembali mengunggah konten di Truth Social yang menampilkan dirinya menjulang di atas sebuah desa Greenland.
Pemerintah Greenland menyatakan menuntut pemindahan kembali peralatan itu "tidak akan proporsional", dan permohonan izin masih dalam proses. Sementara itu, perwakilan Greenland Energy menyebut kapal yang mengangkut 300 peti kemas peralatan pengeboran akan berlayar dari Kanada pada 12 September, dengan pengeboran dimulai Oktober. Jeff Landry, Gubernur Louisiana yang ditunjuk Trump sebagai utusan untuk Greenland, bahkan menyatakan Greenland bisa mulai memompa minyak tahun depan.
Kenapa Ini Relevan bagi Indonesia
Pola yang terlihat di Greenland bukan hal asing bagi Indonesia: perusahaan energi asing bergerak lebih cepat daripada proses perizinan, sementara pemerintah daerah terjepit antara janji pendapatan dan kewajiban menjaga kawasan lindung. Perbedaannya, di Greenland tekanan itu datang bersamaan dengan tekanan geopolitik dari negara adidaya.
Konvensi Ramsar yang disebut dalam kasus ini juga mengikat Indonesia. Sejak meratifikasinya pada awal 1990-an, Indonesia mendaftarkan sejumlah kawasan lahan basah — di antaranya Berbak di Jambi, Danau Sentarum di Kalimantan Barat, hingga Wasur di Papua Selatan — yang berarti standar perlindungan yang sedang diperdebatkan di Jameson Land adalah standar yang sama yang berlaku di dalam negeri.
Dari sisi pasar, tambahan pasokan minyak Arktik tidak akan mengubah harga dalam waktu dekat, karena pengeboran eksplorasi butuh bertahun-tahun sebelum menjadi produksi. Yang lebih cepat terasa adalah preseden diplomatiknya. Sebagaimana terlihat pada paket bantuan keamanan Amerika Serikat untuk Kolombia, Washington pada masa jabatan kedua Trump memadukan kepentingan sumber daya, keamanan, dan perdagangan dalam satu paket tawaran. Negara-negara kecil pemilik cadangan strategis adalah yang paling terdampak oleh pendekatan semacam itu.


















