Cekricek.id — Goresan pada pecahan cangkang telur burung unta dari Afrika bagian selatan sudah lama dikenal arkeolog, tetapi maknanya diperdebatkan. Sebagian menganggapnya tanda kepemilikan, sebagian lain sekadar hiasan. Pengukuran ulang atas 112 pecahan berumur lebih dari 60.000 tahun kini menunjukkan goresan itu mengikuti aturan ruang yang konsisten.
Baca juga: Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Kesimpulan itu disusun Silvia Ferrara, profesor pada Dipartimento di Filologia Classica e Italianistica, Università di Bologna, bersama Valentina Decembrini, Ludovica Ottaviano, Mattia Cartolano, dan Enza Elena Spinapolice dari Sapienza Università di Roma, lewat artikel Earliest geometries: A cognitive investigation of Howiesons Poort engraved ostrich eggshells dalam jurnal PLOS One volume 21 nomor 2 artikel e0338509 pada 2026.
Dikutip dari sciencedaily.com, Minggu (9/8/2026), pecahan yang diperiksa berasal dari tiga situs: Diepkloof dan Klipdrift di Afrika Selatan serta Apollo 11 di Namibia. Ketiganya termasuk dalam tradisi Howiesons Poort, fase teknologi batu di Afrika bagian selatan yang dikenal karena alat-alatnya yang seragam dan penggunaan bahan bukan batu.
Mengukur Goresan, Bukan Menafsirkannya
Tim tidak berangkat dari tafsir simbol, melainkan dari pengukuran. Setiap goresan dipetakan letak, arah, jarak, dan sudutnya, lalu susunan itu diuji secara statistik untuk melihat apakah polanya bisa muncul secara kebetulan. Lebih dari 80 persen susunan yang diperiksa menunjukkan pola ruang yang berulang dan tidak acak.
"Tanda-tanda ini memperlihatkan cara berpikir yang tertata dan geometris, dan itu mengejutkan," kata Ferrara.
Pola yang berulang mencakup garis sejajar yang berjarak seragam, garis-garis yang berpotongan pada sudut tertentu, dan susunan yang dibagi rata pada permukaan cangkang yang melengkung. Untuk menghasilkan susunan semacam itu pada bidang lengkung, pengukir harus memperhitungkan tempat setiap goresan sebelum pisau batu menyentuh cangkang.
Baca juga: Kehidupan Tak Terduga Ditemukan di Tubuh Mumi Otzi Berusia 5.300 Tahun
Rencana Sebelum Goresan Pertama
"Ada perencanaan ruang dan penglihatan yang nyata, seolah pembuatnya sudah memiliki gambaran utuh sosok itu di kepalanya sebelum mengukir," ujar Ferrara.
Cangkang telur burung unta pada masa itu dipakai sebagai wadah air. Ukurannya besar, dindingnya keras, dan permukaannya rata sehingga cocok digores. Sebagian pecahan menunjukkan pola yang sama di situs yang terpisah ratusan kilometer, yang menurut tim mengarah pada adanya kebiasaan bersama, bukan kreasi perorangan yang berdiri sendiri. Dua situs berada di Afrika Selatan dan satu lagi jauh di utara, di Namibia, terpisah oleh bentang gurun dan pesisir yang luas.
Batas yang Diakui Peneliti
Yang tidak bisa dijawab pengukuran adalah arti tanda-tanda itu bagi pembuatnya. Tim berhenti pada penilaian bahwa goresan tersebut terencana dan berulang, tanpa menyatakan bahwa pola itu membawa pesan atau berfungsi seperti tulisan. Jumlah pecahan yang bisa diperiksa juga terbatas pada apa yang selamat sampai sekarang, dan pecahan cangkang mudah hancur sehingga contoh yang tersedia belum tentu mewakili keseluruhan yang pernah dibuat.
Baca juga: Hoesein Djajadiningrat, Bangsawan Banten yang Menulis Islam Nusantara dengan Kacamata Leiden
Artikel tersebut terbit dalam terbitan Februari 2026, sementara keterangan resmi Università di Bologna baru disebarkan pada pekan kedua Agustus. Tim menyatakan langkah berikutnya adalah menerapkan cara pengukuran yang sama pada benda berukir lain dari periode yang berdekatan, termasuk pecahan oker bergores dari situs Blombos di Afrika Selatan.



















