Cekricek.id — Para menteri luar negeri anggota Forum Kepulauan Pasifik gagal menyepakati langkah bersama untuk menyikapi uji coba rudal balistik China pada Juli lalu di dekat zona ekonomi eksklusif Tuvalu. Perbedaan sikap itu mengemuka dalam pertemuan mereka di Suva, Fiji.
Mengutip PACNEWS yang bersumber dari TVNZ, Senin (10/8/2026), Kiribati dan Nauru menolak penerbitan pernyataan bernada keras. Penolakan tersebut membuat Selandia Baru dan sejumlah negara lain yang mendorong kesatuan sikap kawasan kecewa.
“Mereka sebenarnya tidak memaparkan alasan apa pun selain ketidaksetujuan mereka dan keinginan agar kami tidak membuat pernyataan yang tegas, misalnya bahwa kami menentang rudal ditembakkan ke Pasifik,” kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters.
Lintasan rudal melewati beberapa zona ekonomi eksklusif
Pertemuan tingkat menteri itu digelar untuk menyiapkan bahan bagi pertemuan para pemimpin Forum. Kegagalan menyepakati rumusan pernyataan membuat persoalan tersebut kini dibawa ke tingkat kepala pemerintahan.
Masih mengutip PACNEWS yang bersumber dari FBC News, lintasan rudal tersebut melewati zona ekonomi eksklusif sejumlah negara anggota Forum. Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, zona ekonomi eksklusif membentang sampai 200 mil laut dari garis pangkal pantai sebuah negara.
“Pentingnya, keseriusan uji coba itu, dan bagaimana lintasannya melewati wilayah udara beberapa negara anggota Forum. Itu benar,” kata Sekretaris Jenderal Forum Kepulauan Pasifik Baron Waqa. Ia mengakui menyatukan suara kawasan bukan perkara mudah. “Yang kami coba lakukan di sini adalah suara bersama. Dan itu sangat, sangat sulit,” ujarnya.
Waqa juga menyinggung deklarasi Samudra Perdamaian yang telah disepakati para pemimpin Forum. “Kami tahu bahwa semua orang menganggap penting untuk menghormati kawasan ini, Pasifik, kedaulatan kami atas Pasifik, Pasifik biru, dan kami punya deklarasi Samudra Perdamaian,” katanya.
Fiji dan Australia dorong sikap bersama
Fiji menyatakan dukungan atas rancangan pernyataan bersama yang menentang uji coba rudal. “Kita tidak bisa sejahtera di kawasan yang diliputi permusuhan dan perebutan kekuasaan, dan kami yakin penembakan rudal di kawasan ini tidak akan menyumbang pada kawasan seperti yang kita inginkan,” kata Menteri Luar Negeri Fiji Sakiasi Ditoka, seperti dikutip PACNEWS dari Fiji Sun.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong meminta Beijing memperhatikan kritik para pemimpin Pasifik. “Itu adalah uji coba yang mengguncang stabilitas, dan di kawasan tempat para pemimpin menyatakan menginginkan samudra perdamaian, sangat penting bagi para mitra untuk menghormati hal itu,” kata Wong.
Menteri Luar Negeri Papua Nugini Justin Tkatchenko menyampaikan keberatan senada. “Begini, kami tidak senang dengan apa yang terjadi — hal ini sama sekali tidak membantu siapa pun di kawasan. Ini menjadi hal negatif, bukan positif,” ujarnya.
Taiwan kembali hadir di pertemuan pemimpin
Akademisi Canterbury University Steve Ratuva menduga ada tekanan yang bekerja di balik layar sehingga rumusan pernyataan menjadi lunak. “Mungkin memberi ancaman-ancaman halus dalam berbagai bentuk adalah cara untuk memastikan pernyataan yang mungkin keluar tidak terlalu kuat,” katanya.
Pertemuan para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik akan berlangsung di Palau bulan ini. Mengutip PACNEWS yang bersumber dari AFP, Taiwan akan hadir setelah tidak diikutsertakan pada 2025, ketika Kepulauan Solomon menghalangi partisipasinya. “Taiwan adalah mitra pembangunan yang sangat penting,” kata Waqa.





















